Uang di Indonesia.

Uang di Indonesia.
Arti uang dihancurkan oleh Jepang, karena Jepang dengan seenaknya mencetak uang. Tidak ada aturan, akhirnya uang telah begitu banyak. Tentu prangko mengikuti mata uang, sehingga biaya mengirim surat menjadi berlipat-lipat. Akan tetapi semua orang tahu surat yang dikirim tak akan pernah sampai, khususnya yang antar pulau. Hal disebabkan tak adanya kapal-kapal yang membawa muatan pos. Mata uang Jepang, pada saat itu paling tinggi sepuluh rupiah, akan tetapi harga sekilo beras bisa 10 000 rupiah. Bayangkan untuk membeli sekilo beras, diperlukan seribu lembar uang. Akhirnya uang itu dikarungkan saja, tidak dihitung lagi. Mulai saat itu rakyat Indonesia kurang menghargai mata uangnya.Selanjutnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/08/11/uang-di-indonesia/

His Story of Sutan Iskandar (20)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Sutan Iskandar menulis tahun 1943, Waktu pergi ke hutan nyaris saya digigit ular, karena iles-iles itu ialah tempat ular bergelung. Sesudah pulang mencari ubi beracun dan mencari buah jarak, kita mendapat hadiah “rokok faroka ” satu batang bukan satu bungkus. Pekarangan kantor dipacul bukan oleh tukang kebun tetapi oleh pegawai kantor untuk ditanami singkong, ubi jalar atau talas. Sesudah bekerja diberi pula “hadiah” kembang gula atau pepermunt, seperti anak-anak. Tugas di kantor pos hampir tak ada, ada surat tapi tak ada kendaraan pengangkut, ada kendaraan tak surat yang mau bibawa. Kekadaan kantor pos suatu negara mencerminkan negara itu.
Sebelum bekerja pukul tujuh pagi (waktu Tokyo atau pukul lima pagi waktu sekarang) harus sekolah (gakko) mempelajari bahasa Jepang dan huruf kanji. Sebelum sekolah harus membelakang ke kiblat, melihat terbitnya matahari, karena arah Tokyo bertentangan dengan kiblat dan secara terpaksa saya harus menyebut : Kyo joni taisi tatemasori saikerai! dan naore.

Ketika pergi ke hutan di Sukabumi inilah Sutan Iskandar teringat kota Bangkok, dan daerah pedalaman di Siam, yang mirip dengan di Indonesia. Dalam mengingat kota Bangkok Sutan Iskandar melihat disana sangat banyak pagoda. Diantaranya yang terkenal Wat Arun (the temple of Dawn), Tamnak Yai dan Tamnak Somdey, keduanya dinamakan Wat Phra Kaew, yang terletak didistrik Phra Nakhon. Agama yang dianut pada umumnya Budha. Di Asia Tenggara, Birma, Siam, Vietnam, Kamboja, Laos , dan di Asia, Cina dan Jepang pada umumnya mereka memeluk agama Budha. Agama Budha sendiri berasal dari India, akan tetapi berkembang di luar India, dan dahulu sebelum Islam masuk Indonesia juga berkembang di Indonesia. Candi Borobudur adalah salah satu peninggalan zaman Budhisme di Indonesia.

Tidak jelas benar mengapa di India Budhisme tidak berkembang, padahal agama ini lahir kurang lebih 2600 tahun yang lalu dari India.

Berbeda dari banyak pikiran orang Budhisme terutama memikirkan bagaimana menjadi orang baik, cinta damai, berbuat baik, tidak menganiaya manusia ataupun binatang, dia tak banyak berbicara tentang Mahadewa, atau sekelompok Dewa seperti orang Hindu. Dia juga membatalkan adanya Kasta, khususnya Brahmana yang mempunyai privilige khusus. Bahkan Sidharta mengajarkan ajarannya, yang meninggalkan kitab suci Veda dari Orang Hindu.

Dilihat secara sekilas, ada perbedaan besar antara Budha dan Hindu, akan tetapi sebenarnya perbedaan itu tidak besar benar. Agama Hindu seperti di India lebih mengutamakan hidup yang kekal nanti, dan didunia ini boleh saja menderita, sebenarnya Agama Budha juga tak berbeda, hanya dia lebih menekankan kehidupan di dunia yang nyata ini jauh lebih penting dari pada yang akan datang. Kalau di dunia kini berbuat baik, pastilah yang akan datang menjadi lebih baik. Benda dianggap sebagai impian dan kesesatan, panca indra harus dimati rasakan, semua nafsu harus dikendalikan kalau tak bisa dibuang, kalau kita ingin mencapai Nirwana. Tapi selama mengandung nafsu, maka Jasmani ini masih mengikat Rohani, makin buruk nafsunya masa kini, maka Karma nya akan menjadi bukan manusia, misalnya menjadi hewan dsb. Bagi Budha sendiri dia menasehati supaya manusia jangan sampai ketingkat extrem, yaitu extrem mengumbar nafsu duniawi, dan extrem lain menahan nafsu yang berlebihan. Tidak makan akan mengakibatkan pingsan dan penyakit karena menyiksa diri..

Begitulah kehidupan pada zaman Jepang, orang Jepang sendiri pada umumnya beragama Budha (tapi aliran Zen-Budhism) yang tak memperbolehkan orang untuk saling membunuh dan berperang. Akan tetapi ternyata mereka sangat agresif sekali malahan punya pasukan Harakiri, yaitu membawa kapal terbangnya untuk dihantamkan ke kapal perang musuh. Bom bunuh diri dilakukan oleh orang Jepang yang beragama Budha. Seharusnya orang-orang yang mengaku dirinya beragama Budha, seperti di Tibet, adalah orang yang tak mau membunuh binatang. Cacing saja tidak berani dibunuh oleh orang Tibet, apalagi manusia.
Pada zaman Jepang, tentara Jepang yang mengaku dirinya beragama Budha dengan mudah sekali membunuh rakyat (Indonesia), dan pembunuhan oleh tentara Jepang biasanya tidak ada konsekkuensi apa-apa bagi tentara Jepang.

Pada zaman Jepang segala pekerjaan menjadi lumpuh. Hampir tak ada komunikasi. Pekerjaan di kantor pos praktis nganggur, tak pekerjaan, karena tak ada surat-surat. Surat-surat tak bisa dikirim karena hampir tak ada transportasi. Kapal – kapal KPM yang biasanya reguler menghubungi kota-kota di Hindia Belanda praktis lumpuh. Anak saya yang berumur 3 tahun, pada tahun 1941 dibawa oleh neneknya ke Pariaman, tadinya hanya untuk beberapa bulan, ternyata tak bisa pulang sampai dia berumur 11 tahun. Pemerintahan sebenarnya praktis lumpuh, harga –harga membumbung tinggi. Mata uang hampir tak ada harganya. Orang menyimpan dalam bentuk emas atau benda berharga. Masalah uang yang tadinya di Hindia Belanda sangat berharga , bayangkan setengah sen artinya satu perduaratus gulden, bisa dipakai untuk membeli makanan. Uang pada zaman Belanda sangat berarti. Harga-harga biasanya tetap, oleh sebab itu sering dinamakan zaman normal.

Arti uang dihancurkan oleh Jepang, karena Jepang dengan seenaknya mencetak uang. Tidak ada aturan, akhirnya uang telah begitu banyak. Tentu prangko mengikuti mata uang, sehingga biaya mengirim surat menjadi berlipat-lipat. Akan tetapi semua orang tahu surat yang dikirim tak akan pernah sampai, khususnya yang antar pulau. Hal disebabkan tak adanya kapal-kapal yang membawa muatan pos.

Mata uang Jepang, pada saat itu paling tinggi sepuluh rupiah, akan tetapi harga sekilo beras bisa 10 000 rupiah. Bayangkan untuk membeli sekilo beras, diperlukan seribu lembar uang. Akhirnya uang itu dikarungkan saja, tidak dihitung lagi. Mulai saat itu rakyat Indonesia kurang menghargai mata uangnya.

Ketika Jepang kalah, maka ada dua mata uang yang beredar, yaitu mata uang yang dibuat Belanda (NICA= Netherland Indies Civil Administration) dari de Javashe Bank. Dan Mata uang Ori (Oeang Republik Indonesia). Nilai uang ori setara dengan uang Jepang, yang dikeluarkan oleh Bank Negara Indonesia (BNI), yang didirikan oleh Margono Djojohadikusumo, ayahanda dari Prof. Sumitro Djojohadikusumo.

Di Jakarta dan daerah yang dikuasai NICA beredar uang gulden, yang nilainya tinggi, karena 1 gulden sama dengan 1 gram perak. Sedangkan satu ringgit (dua setengah gulden) sama dengan 1 gram emas. Di beberapa provinsi, yang dikuasai RI, beredar pula uang lokal yang nilainya tak jelas.

Setelah kemerdekaan, maka uang dibuat oleh Bank Indonesia, yang mengambil alih dari De Javashe Bank. Sedangkan BNI berubah menjadi BNI-46, yang merupakan Bank pemerintah komersial, tapi tidak lagi mencetak uang. Setiap pergantian mata uang, maka prangko di kantor pos juga ikut mengikuti mata uang yang ada. Ketika uang menjadi sangat banyak, maka Gubernur BI Syafrudin Prawiranegara membuat prakarsa untuk menggunting uang ditahun 1950-an, khususnya pecahan besar yaitu satu rupiah keatas. Sebelah kiri (jadi nilainya tinggal setengah) masih sebagai alat pembayaran yang sah, tapi sebelah kanan menjadi simpanan wajib selama 10-30 tahun. Jadi uang yang beredar berkurang setengahnya dan setengahnya lagi merupakan simpanan wajib (semacam obligasi). Yang digunting adalah uang besar, dari satu sampai 10 rupiah, sedangkan uang kecil tidak digunting, artinya uang kecil yang ada pada rakyat kecil tidak menjadi masalah.

Yang menjadi masalah adalah prangko, yang nilainya besar, tentu prangko tidak kena gunting, sehingga yang menyimpan uang dalam bentuk prangko untung, artinya tidak punya kewajiban untuk disimpan dalam bentuk obligasi itu. Simpanan uang dalam bentuk obligasi itu dikerjakan di Kantor pos. Jadi dapat dibayangkan bagaimana repotnya setelah gunting Syafrudin ini efektif.

Ditahun 1965 ternyata uang yang beredar sudah sedemikian besar, maka Sukarno bersama Bank Indonesia membuat kebijakan bukan menggunting tapi menukar uang dari 1000 rupiah (lama) menjadi Satu rupiah baru. Kebijaksanaan ini tentunya menyulitkan karena ada beberapa transaksi misalnya cicilan rumah, yang waktu itu misalnya 10.000 rupiah (lama), menjadi 10 rupiah uang baru. Kedengarannya mudah, tapi banyak pengembang waktu itu keberatan, karena 10 rupiah uang baru nilainya lebih rendah dari 10.000 uang lama. Kekacauan terjadi karena aturan tak jelas, dan inflasi yang gila-gila an, sehingga nilai uang menjadi tak jelas. Lebih dari itu prangko yang mengikuti rupiah, sulit diantisipasi. Masalahnya tak jelas mana prangko dengan uang lama, dan mana prangko yang memakai nilai uang Baru. Salah satu penyebab kejatuhan Sukarno adalah karena tindakan politik ekonominya menukar uang lama menjadi uang baru.

Pada waktu Sukarno uang lama kalau ditukarkan dengan Dolar, punya dua harga, harga pasar gelap dan harga resmi. Harga pasar gelap di pasar Baru bisa 5-10 kali lipat dari harga resmi.

Harga resmi bisa ditukarkan di BLLD (Biro Lalu Lintas Devisa), dimana harga rupiah sesuai dengan kurs yang ditetapkan pemerintah. Akan tetapi penukaran itu memerlukan banyak sekali surat-surat dan tujuan, serta penggunaan uang asing untuk apa, sehingga praktis tidak ada pertukaran di BLLD itu. Resim devisa terkontrol ini lama-lama oleh Suharto dilikwidir, dan BLLD dimasukkan dalam unit Bank Indonesia (BI), sehingga pada waktu itu ditahun 1970-an tidak ada lagi uang yang dipejual belikan dipasar gelap.

Akan tetapi harga uang yang ditetapkan secara fix dengan nilai dolar, tiap tahun kedodoran 5-10%. Tiap 3-5 tahun terjadi penyesuaian kurs Dollar dengan rupiah. Prediksi Sutan Iskandar adalah mata uang rupiah yang nilainya tahun 1965, dengan cara system Suharto, maka setelah 25 tahun nilainya akan turun kira-kira 500%. 50 tahun setelah 1965 jadi tahun 2015, harus ada pnyesuaian karena nantinya harga 1 US Dollar, akan sama dengan 10.000 rupiah. Hitungan orang menjadi sangat besar, dan 100 dolar akan sama dengan 1.000.000,= rupiah. Hitungan ini sudah menjadikan sulit, karena akan menimbulkan masalah bilangan juta, milyard, triliun dan quadriliun (1000 triliun). Hal ini mungkin tak akan terjadi karena pada akhirnya Amerika sendiri menurunkan nilainya 2-5 % tiap tahun. Selain itu semua transaksi akan dilakukan dengan dolar, yang berapa banyak dicetak tak bisa dikontrol oleh orang luar kecuali oleh pejabat dari Amerika Sendiri. Dengan hitungan seperti itu maka 1 dolar Amerika pada tahun 2015, paling-paling 10.000 . Tetapi itu artinya telah terjadi penurunan nilai uang sebesar 1000 kali dalam waktu 50 tahun.

Supaya uang ada artinya menurut Sutan Iskandar, ada dua cara yang ditembuh, yaitu membuat uang baru, jadi seperti tahun 1965, 1000 rupiah lama = 1 rupiah baru. Tapi Indonesia telah trauma dengan cara itu, cara lain adalah mata uang dalam kawasan Asia Tenggara menjadi satu, misalnya Ringgit Malaysia atau Dolar Singapura, atau nama baru mislanya Melay. Cara ini akan lebih efektif sehingga pemikiran dari Tan Malaka, Yamin dll, tentang kawasan Aslia, akan terjadi ditahun 2015. Ditahun itu mata uang kawasan akan mungkin sekali menjadi satu, dan antara satu negara negara dengan negara lain di kawasan sudah tak ada lagi perbatasan.

Ditahun 1974, ketika Sutan Iskandar di rawat di RSPAD telah dipikirkan oleh Sutan Iskandar kemungkinan adanya satu mata uang kawasan, yang disebutnya Melay (mungkin dari istilah Melayu). Menurut Sutan Iskandar ditahun 2025 (jadi 50 tahun setelah Sutan Iskandar Meninggal), maka kawasan Cina akan bersatu, yaitu Cina, Hongkong, Taiwan dan Macau. Kawasan yang maju juga adalah India, karena orang orang India yang cerdas, yang ada di Inggris akan pulang kenegaranya dan membangun negaranya, daripada menjadi orang minoritas di Inggris dan menjadi bulan-bulanan terus kalau ada kerusuhan.

Kawasan yang maju juga adalah kawasan Asia Tenggara, yang nantinya berupa Konfederasi Asia Tenggara, bersama dengan Australia (Seperti ide dari Tan Malaka). Australia tak akan maju, selama dia berpikir sebagai orang barat, dan tak mau bercampur dengan orang Melayu. Kesulitan Energi dan makanan, serta air merupakan masalah bagi penduduk ASLIA. Ditahun 2015 hingga 2025.

Orang Jepang sangat konsisten, semua yang berbau Belanda dihilangkan. Dalam waktu 3 tahun, banyak orang yang lupa berbahasa Belanda. Sutan Iskandar dirumah masih berbahasa Belanda, akan tetapi dia juga fasih berbahasa Jepang dan Bahasa Cina.

Baginya bahasa bukan menjadi soal. Pada saat itu seluruh kosakata bahasa Melayu mulai bertambah dengan pesat, karena semua kata dari Bahasa Belanda atau bahasa Inggris diterjemahkan ke bahasa melayu (Indonesia).

Satu hal yang dilarang oleh Jepang adalah mendengarkan radio dari luar negeri terutama dari BBC London. Semua radio harus didaftar dan disegel sehingga hanya ada satu pemancar radio saja yang bisa diterima. Diluar tak tak ada yang tahu keadaan selain orang-orang yang suka mendengar radio gelap. Para pemuda dibawah Syahrir suka mendengarkan radio gelap itu. Kalau ketahuan dia bisa ditembak ditempat. Sutan Iskandar di kantor pos sering bercerita tentang kekalahan Jepang di perang pasific. Orang menyangka bahwa dia mendengarkan radio BBC, dan suatu saat rumahnya digeledah dan ternyata hanya punya satu radio yang sudah disegel. Sutan Iskandar membicarakan perang pasific, hanya dari nalarnya saja. Bagaimana mungkin tentara Jepang yang tak mempunyai persediaan minyak mentah dapat mengalahkan sekutu, yang bahan bakarnya serta pelurunya cukup.

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: