Para Buangan Politik (Belanda) di Sukabumi.

Para Buangan Politik (Belanda) di Sukabumi.
Pemerintah Belanda, dengan birokrasi yang ketat baru memberi tahu beberapa bulan sebelum Jepang mendarat di Indonesia tentang keputusan pemindahan ke Sukabumi, tidak jadi ke Sydney, Australia, karena tak ada pesawat angkut yang bisa membawanya ke Australia. Mereka hanya diberi waktu beberapa hari untuk bersiap. Masalahnya pemerintah Belanda tak punya kapal terbang angkut saat itu yang kosong selanjutnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/08/03/para-buangan-politik-belanda-di-sukabumi/. . . . ,


His Story of Sutan Iskandar (19)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Catatan Sutan Iskandar tahun 1942., Di kantor pos Sukabumi, kini kapala kantor pos adalah Yubinkyokutyo Isogai. Apakah jang dikerjakan oleh saudara tua kita itu ? Hanya memerintah saja; semua pekerjaan dilakukan oleh Sutan Iskandar. Orang Jepang sama sekali tidak bisa bekerja di kantor pos Indonesia, pertama sistem Kantor pos Jepang dan Belanda Tidak sama, Yang kedua Orang Jepang tak bisa berbahasa Asing, termasuk tidak bisa berbahasa Inggris. Yang ketiga orang Jepang kurang fasih dengan huruf latin, jadi yang bekerja keras, bekerja mati-matian kita bangsa Indonesia. Malam hari beberapa pegawai kantor pos harus membawa bantal dan tikar, tidur di kantor menjaga kantor bergiliran dua kali dalam sepekan. Penyebabnya tidak jelas, apakah takut pengikut Belanda, atau takut pada rampok.
Karena tak ada pekerjaan maka di siang hari beramai-ramai dengan keluarga dan pegawai-pegawai kantor lain, juga dengan keluarganya yang dipelopori oleh Raden Ayu (istri) Bupati Sukabumi pergi ke hutan mencari iles-iles semacam ubi beracun, maupun buah jarak untuk kepentingan perang Jepang. Hal ini disebabkan pekerjaan kantor yang tak begitu banyak selama pendudukan Jepang.

Ditahun 1974, Sutan Iskandar bercerita pada Dr. Yul Iskandar (di RSPAD), Keuntungan terbesar adanya Jepang adalah Bahasa Indonesia (dari bahasa Melayu) menjadi bahasa Utama. Pemuda-pemuda dilatih dalam kemiliteran. Bahasa Belanda dilarang, dan resminya bahasa yang digunakan adalah bahasa Jepang. Akan tetapi yang mampu berbahasa Jepang hanya segelintir orang. Bahasa Indonesia berkembang pesat pada zaman Jepang itu. Disamping itu Sutan Iskandar melihat sendiri kamp-kamp konsentrasi untuk Bangsa Belanda,

Satu hal lagi orang Jepang mempekerjakan tenaga dengan bayaran sangat murah. Kecuali tentara Jepang bangsa Jepang, tentara dan pekerja yang ikut militer Jepang, militansinya kurang, motivasi tak ada, karena bayaran yang sangat rendah. Orang harus hidup dengan cara korupsi atau mencuri. Tapi satu hal yang tidak dikerjakan oleh orang Jepang adalah memperkosa atau mengawini wanita-wanita Indonesia, atau wanita dimanapun dia berkuasa. Indo-indo Jepang sangat jarang, berbeda dengan tentara Amerika, Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda.

Orang Portugis dan Spanyol sejak datang ke Asia, mencoba membuat kantong-kantong yang berisi orang Portugis atau Spanyol. Para pimpinan militer atau para pelaut Portugis dan Spanyol sejak abad ke 16, sudah dianjurkan untuk memperistri penduduk pribumi. Kalau bisa tentu wanita anak kaum bangsawan. Mereka juga mengajarkan bagaimana cara makan. Istilah di waktu makan, misalnya meja (meza), tenda, jendela, boneka, martil, sendok, garpu dan piring asalnya dari bahasa Portugis. Belum lagi Istilah bendera, alketip (permadani), almari (lemari), ronda, pesta, perada, pantalon dsb. Jadi kebudayaan yang dibawa oleh orang Portugis dan Spanyol banyak melekat pada penduduk pribumi. Termasuk pula tidur siang (siesta) yang banyak dilakukan oleh orang Portugis dan Spanyol.

Orang-orang portugis dan Spanyol punya banyak anak-anak yang ditinggalkan. Mereka nantinya akan menjadi elite baru, yang merasa lebih dari para pribumi. Tentara Jepang dilarang memperkosa, atau mengawini penduduk pribumi, dan dia mempunyai suatu tempat tersendiri untuk melepas hasrat sex tentara jepang yang dinamakan Jugun Ianfu (wanita-wanita penghibur orang Jepang). Diluar Jugun Ianfu, kalau ketahuan tentara Jepang memperkosa atau mengawini perempuan pribumi, maka tentara Jepang itu akan dipancung. Secara relatif anak-anak Indo dari Jepang lebih sedikit dibandingkan dengan anak-anak indo Portugis (di Timor Timur), atau anak Indo spanyol di Filipina.

Karena 12 tahun intel-intel Jepang telah berada di Indonesia, dia sudah tahu siapa-siapa orang-orang yang bisa diajak kerja sama, dan dia tahu betul bagaimana supaya orang itu mau bekerja sama.

Dia tahu Sukarno dan kelemahan Sukarno. Kelemahan itu dipakai oleh Jepang supaya Sukarno mau memobilisasi Rakyat Indonesia dengan biaya murah. Hatta juga ikut Jepang oleh sebab yang tak dimengerti, katanya dia terpaksa ikut kalau tidak dia akan dibunuh. Sedangkan Syahrir, seorang demokrat sejati enggan bekerja sama dengan pemerintahan fasist, dia jarang muncul, dan dianggap anak muda yang sakit, sakit TBC atau sakit otak karena malaria setelah dibuang ke Digul. Sebenarnya saat itu Syahrir sehat-sehat saja, dia tinggal di Puncak, dan melakukan kegiatan diskusi dengan berbagai orang muda dikota-kota Bogor, Sukabumi, Bandung, Sumedang, Cirebon, Kuningan dll Sedangkan sahabatnya Djohan Sahruzah, bekerja di Jawa Timur. Ada beberapa anak muda yang ikut dengan Syahrir di Surabaya, diantaranya Yetty Noor (adik Zairin Zain, dokter gigi), Tjugito Listio, Djohan Syahruzah dan beberapa pemuda yang bergabung dalam PS (Pemuda Sosialis)= Pesindo.

Disamping itu ada pula Amir Syarifudin di Surabaya, yang mempunyai jaringan sendiri, dengan para pemuda-pemuda tersendiri. Mereka mengatakan bahwa gerakan mereka adalah gerakan bawah tanah, melawan fasis Jepang. Tapi gerakan itu sama sekali tidak bersenjata, hanya diskusi dan analisis situasi. Mereka tak punya pistol atau senjata lainnya. Walaupun mereka hanya berbincang-bincang saja, berbincang apa yang harus dikerjakan kalau merdeka, tapi nyatanya polisi rahasia Jepang, dapat menggerebek tempat diskusi dari Amir Syarifudin Cs. Dia disisksa dan dianiaya oleh Jepang, menanyakan dimana senjata-senjata disimpan, dan karena memang tak ada senjata maka tentu tak bisa mengatakan. Amir Syarifudin yang paling parah disiksa Jepang, tapi nyatanya dia yang paling tabah. Dia bisa keluar penjara, katanya atas inisiatif Sukarno yang meminta bantuan Angkatan laut Jepang untuk membebaskan Amir Syarifudin.

Pada awalnya kelompok Syahrir itu merupakan gabungan orang kiri, yang anti Jepang. Ada kiri –kiri sekali, yaitu orang komunis seperti Tjugito, ada yang kiri tengah seperti Amir Syarifudin dan ada yang kiri dikanan seperti A. Zainal Abidin. Pertemuan yang dilakukan Oleh Syahrir dilakukan dari rumah ke rumah, yang diikuti oleh 10-15 orang. Suatu kali pernah dilakukan dirumah Sutan Iskandar. Sutan Iskandar melapor ke atasannya orang Jepang, bahwa nanti malam, dia akan mengadakan pertemuan keluarga orang orang Padang (maksudnya orang Minang). Hal ini penting sebab kalau ketahuan ada pertemuan yang membicarakan soal politik, maka tak ada pengadilan, langsung akan dilibas oleh Kenpetai. Karena dia sudah melapor dan menganggap Sutan Iskandar bukan siapa-siapa, maka laporannya hanya diterima, artinya dia tidak akan dipanggil malam hari untuk jaga malam, atau akan didatangi oleh orang dari kantor pos. Atau mendapat tugas jaga kantor.

Pertengahan tahun 30-an Hatta yang baru pulang dari negeri Belanda, mengambil alih organisasi yang dibuat oleh Syahrir. Aktivitas ini hanya aktivitas diskusi, dan analisis kepemimpinan, dan tak ada maksud untuk berontak dengan bersenjata. Tapi oleh Belanda aktivitas politiknya dianggap membahayakan politik kolonial, Hatta dan Syahrir, selaku tokoh diskusi dan organisasi itu dibuang oleh Belanda. Mula-mula ke belantara Boven Digul yang ganas dan disatukan dengan orang-orang yang berontak bersenjata (parang), yaitu orang – orang komunis. Pemerintah Hindia Belanda menyama ratakan antara perjuangan bersenjata, dan perjuangan tanpa kekerasan senjata. Tapi kemudian mereka dipindah ke Banda Neira , disana sudah ada Dr. Tjipto Mangunkusumo. Di Banda Neira mereka dibuang hampir 6 tahun, dan tak mengetahui keadaan dunia luar. Penyerbuan Jepang ke Asia Tenggara di bulan Januari 1942, membuat pemerintah Belanda di Batavia berpikir untuk mengungsikan Hatta dan Syahrir ke Australia, supaya jangan dipakai oleh Jepang, tetapi tidak keburu , dia dipindahkan ke Jawa Barat, yaitu Sukabumi.

Pemerintah Belanda akhirnya menceritakan keadaan yang sebenarnya. Saat itu Hatta dan Syahrir belum tahu bahwa Jepang telah membombardir Pearl Harbour. Pemerintah Belanda menanyakan apakah mereka nanti bersedia bekerja sama dengan Jepang. Syahrir dengan tegas mengatakan tidak, menurutnya bila diberi pilihan untuk dibawah Belanda atau dibawah Fascis Jepang, dia masih memilih dibawah Belanda, walaupun nyatanya dia diperlakukan tidak adil.
Hatta tak bicara sesepontan Syahrir, dia hanya mengatakan bahwa tergantung pada apa yang ditawarkan Jepang kepada dirinya dan kepada Tanah air Indonesia. Bagi pemerintah Belanda Syahrir dan Hatta di Indonesia pada zaman Jepang, berbahaya, apalagi bila mereka diserahkan tugas memimpin Negara buatan Jepang. Ini akan berbahaya bagi Belanda dikemudian hari.

Pemerintah Belanda, dengan birokrasi yang ketat baru memberi tahu beberapa bulan sebelum Jepang mendarat di Indonesia tentang keputusan pemindahan ke Sukabumi, tidak jadi ke Sydney, Australia, karena tak ada pesawat angkut yang bisa membawanya ke Australia. Mereka hanya diberi waktu beberapa hari untuk bersiap. Masalahnya pemerintah Belanda tak punya kapal terbang angkut saat itu yang kosong, sehingga meminta bantuan AS untuk menerbangkan Hatta dan Syahrir dari Banda ke P.Jawa. Pada hari Minggu datanglah sebuah pesawat PBY-5A Catalina milik AL AS di Banda. Menurut Syahrir pesawat Catalina tersebut adalah “satu-satunya yang tinggal” dari enam pesawat terbang Amerika yang berpangkalan di Ambon. Yang membawa Syahrir dan Hatta dari Bandaneira adalah dua orang Guy Howard Jr. dan Harvey van Hop, pilot dari Skadron VP-22., Unit ini berangkat dari Hawaii pada awal Januari 1942 untuk memperkuat Patrol Wing Ten (Pat Wing-10), di Filipina. Saat itu Filipina sudah dapat direbut kembali oleh sekutu, dan dibuatlah kesatuan patroli amfibi AS yang berbasis di Filipina.

Mereka akan terbang malam menggunakan Catalina, mendarat di Banda dan kemudian terbang ke Surabaya. Penerbangan ini sangat menakutkan bagi Hatta dan Syahrir, karena inilah pertama kali dia naik pesawat, disamping itu Jepang sudah hampir menduduki Ambon, sehingga pesawat tempur mereka merajalela di kawasan tersebut. Hal lain perairan Banda, di mana mereka akan mendarat, sangat sempit dan terbatas. Halangan terbesar adalah take-off, sebagai akibat take-off yang tidak mulus, beberapa sekrup penyumbat terlepas. Kapten pesawat datang ke rumah Hatta, dan membawa “lima tahanan politik yang merupakan suatu keluarga” yang akan berangkat adalah Hatta (40 tahun) dan Syahrir (33 tahun) serta ketiga orang anak angkat Syahrir, dan ketiga anak angkat tersebut adalah keturunan Arab dari Banda: Lily , Mimi , dan Ali (Umur mereka brevariasi antara 3-14 tahun). Syahrir di Banda sering mengangkat anak, dan memerlihara serta mengajari anak-anak itu.

Hatta semula hendak membawa juga 10 peti berisi buku koleksinya, tapi ditolak Howard karena keterbatasan tempat di pesawat. Hatta akhirnya hanya membawa satu kopor pakaian ditambah satu tas berisi buku yang cukup berat. Dengan sedikit kesulitan sewaktu take-off, pesawat kembali mengudara selama 13 jam ke Surabaya.

Hatta tidak banyak bercerita tentang situasi selama perjalanan. Namun rupanya cepat terjalin suasana akrab di antara kedua pihak yang baru saja berkenalan, walaupun ancaman serangan pesawat Jepang tetap ada. Syahrir mengatakan tentang pilot AS itu., Mereka sama sekali tidak gugup ataupun tegang. Mereka bicara tentang perang dan pengalaman-pengalaman mereka dengan objektif dan lugas, seolah-olah mereka bicara tentang pekerjaan di pabrik atau kantor pos .. Sebagaimana orang Amerika yang polos, mereka menganggap sudah sewajarnya mereka berjuang untuk kemerdekaan dan menganggap bahwa pejuang kemerdekaan adalah Hero, , dan mereka geleng kepala ketika mendengar berapa tahun mereka hidup dalam pembuangan, tanpa pengadilan, tanpa jelas kesalahan mereka. Mereka Bicara dalam bahasa Inggris, sehingga si Amerika terpesona atas Bahasa Inggris mereka yang cukup baik, dan lebih heran pula bahwa kedua orang itu mampu berbahasa Inggris, Belanda, Perancis dan Jerman.

Mereka akan mendarat di Surabaya. Disana , rombongan dijemput oleh lima marinir Belanda di bawah pimpinan seorang opsir. Waktu mendarat ternyata cuaca sedang buruk, angin disertai hujan yang cukup deras. Opsir Belanda itu dengan kasar, masih menganggap bahwa bangsa pribumi (inlander) adalah bangsa kuli, jadi sudah sepantasnya rombongan dari Banda untuk membawa sendiri barang-barangnya.
Dengan putus asa Hatta dan Syahrir melihat bagasi mereka yang banyak dan bertumpuk-tumpuk dan baru saja diturunkan. Tidak mungkin bagi mereka untuk mengangkat barang-barang itu semua, apalagi bagi anak-anak angkat Syahrir (Ali baru berusia tiga tahun). Hatta dan Syahrir memprotes perlakuan ini dan berbicara dengan bahasa Belanda bahwa bahwa dia bukan inlander sembarangan. Kalau inlander sembarangan mengapa dia harus dibawa dari P. Banda ke P.Jawa..
Rupanya keributan itu menarik perhatian para pilot AS. Setelah mengetahui masalahnya, kemudian Kapten Amerika itu menggendong Ali dengan tangannya yang satu dan dengan tangannya yang lain ia mengangkat sepotong barang mereka, sambil memerintahkan dua orang anak buahnya sendiri yang waktu itu datang pula mendekat, untuk menolong mengangkat bagasi. Orang-orang Amerika itu melemparkan senyum geli kepada Hatta dan Syahrir waktu keduanya meninggalkan mereka. Salah seorang dari mereka sebenarnya seorang keturunan Belanda (Van Hop). Dari kerdipan matanya waktu berpisah, jelas bahwa ia menganggap saudara-saudaranya sebangsa yang bermental penjajah itu manusia-manusia bejat dan aneh.

Kesiap siagaan Jepang sangat tinggi. Pergantian dari Pemerintahan Belanda ke Pemerintahan Jepang di Indonesia dapat diselesaikan dalam hitungan hari, akan tetapi pengikut Belanda yang masih ada di Indonesia masih cukup banyak, paling kurang orang-orang yang menjadi merugi dengan kepergian Belanda, misalnya orang Indonesia yang disamakan kedudukannya dengan orang Belanda. Dia takut pada sabotase orang-orang itu, begitu pula situasi perang pasifik dimana secara perlahan-lahan serangan balik sekutu (AS, Inggris dan Australia) membuat Jepang sedikit terguncang.

Sebenarnya Jepang mau menguasai Indonesia karena berminat pada kekayaan alam dan minyak. Sayangnya bangsa Jepang walaupun telah menguasai Indonesia, dia tak mampu mengeluarkan minyak dari bumi Indonesia. Tenaga dan keahlian orang Jepang pada explorasi minyak bumi sangat minimal. Tarakan yang merupakan pusat minyak di Indonesia telah diledakkan oleh bangsa Belanda dan Inggris. Praktis kilang minyak tidak berfungsi, kecuali di Jawa di Cepu. Didaerah itu minyak masih bisa diproduksi. Mendampingi para buruh minyak itu Djohan Sjahruzah bekerja untuk mendekati para buruh minyak. Djohan Sjahruzah masih saudara Syahrir, dia sosialis tulen, dan pikirannya lebih dekat pada Tan Malaka, akan tetapi dia sangat loyal pada Syahrir. Di luar kota Cepu para ahli minyak, orang Belanda, Inggris dan kaum terpelajar Indonesia yang mampu mengexplorasi minyak telah lari ke Australia, salah satunya Tahiya yang nantinya akan menjadi Presiden Direktur Caltex di Indonesia. Karena keperluan perang, sedangkan minyak sulit, maka Jepang membuat tenaga alternatif, dengan membuat bio-fuel dari minyak jarak, sebagai bahan bakar untuk kendaraan beratnya. Pohon jarak biasanya tumbuh sebagai pagar hidup. Selain jarak juga dicari iles-iles, semacam umbi yang tak dimakan manusia dan binatang (karena beracun) untuk energi alternatif (Bio-fuel). Jepang telah berpikir bila singkong, jagung dan ubi jalar yang dijadikan energi alternatif, sedangkan makanan alternatif sangat diperlukan karena produksi padi zaman Jepang sangat merosot, karena irigasi tak berjalan serta pupuk tidak ada.

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s