G-30-S.

Cerita ini dari Brig.Jen Supardjo kepada Sutan Iskandar. Jendral Suparjo setelah G-30S, menghilang untuk beberapa bulan. Suatu hari Sutan Iskandar bertemu dengan saudaranya didaerah Pal merah dekat kebayoran lama. Rumah itu rumah adik Sutan Iskandar dari ibu lain, yang ternyata adalah perawat A (laki-laki), bekerja di Militer. Dia adalah perawat setia dari Suparjo. Suparjo tidak jauh-jauh amat larinya hanya ke daerah Pal merah. Ketika sedang berbincang dengan perawat A, Supardjo keluar. . . dan seterusnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/07/08/g-30-s/
. .


His Story of Sutan Iskandar (18)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Catatan Sutan Iskandar tahun 1942, Bunji sirene di Sukabumi meraung-raung di udara, rupanya ada serangan udara dari Jepang, pada kantor-kantor pemerintah Belanda. Pegawai-pegawai dengan kepala kantor pos Ckt. Grough lari tergopoh-gopoh masuk lubang perlindungan. Di dalam tempat bersembunji itu, kebetulan saya duduk berdampingan dengan Ckt. Grough jang amat ganas itu. Dia berkata : “Kenapa aku dilahirkan ? (was ik maar niet gebroken)” Saya menjawab, “Jangan Tuan berkata begitu, bukankah Tuan seorang Kristen jang percaja kepada Tuhan, seperti juga saya seorang Islam. Perkataan Tuan itu adalah mendurhaka kepada Tuhan (Godslastering), kita harus berterima kasih kepada Tuhan jang Maha Kuasa seru sekalian alam; Tuhan yang pengasih lagi penyayang, harus kita sembah, kita takuti. Tiada lain jang kita takuti di dunia ini selain dari Allah Subhana Wata’ala. Innalillahi Wainna Ilahi Rodji’un. Dari Dia dan kepada Nyalah kita kembali. Kita harus berani hidup dan takut kepada Tuhan”. Mendengar perkataan saya itu, keluarlah airmatanya seraya menepuk-nepuk seolah-oleh menyesal ia berkata tadi. Dia berterima kasih kepada saya. Ia jauh lebih tua dari saya dan tinggi pula pendidikannya. Seperti kontrolir P.T.T. harus keluaran H.B.S.V.dan acacademi P.T.T.

Di RSPAD ditahun 1974 Sutan Iskandar melompat bercerita tentang zaman Sukarno menjadi Presiden dan Syahrir sebagai Perdana Menteri, ketidak cocok-kan ini sering terjadi. Kalau ada matahari maka yang satu akan menerkam yang lain. Dan ini di ceritakan oleh Mr Andi Zainal Abidin. Dia sering di suruh oleh Syahrir (Perdana Menteri) untuk membawa surat yang ditanda tangani Presiden (Sukarno), dan nyatanya Sukarno punya kemauan lain. Mr Andi Zainal Abidin menjadi orang tumpuan kemarahan Sukarno, dan Sukarno tak mau menandatangani hal itu. Ketika dia kembali ke Syahrir, kini Syahrir yang marah-marah pada Mr Andi dan mengatakan tugas Presiden adalah menandatangani surat yang dibuat oleh PM. Sebagai orang ketiga Mr Andi sudah biasa ditekan oleh Sukarno dan ditekan oleh Syahrir, itu pada zaman 1945-1950.

Ketika setelah dekrit Presiden ditahun 1960-an, maka antara Sukarno dan Nasution, ada terbersit ketidak cocok-kan diantara mereka. Kini yang menjadi penghubung adalah Laksamana Muda Udara Maki Perdanakusuma. Yang mengalami kesulitan adalah Makki, akan tetapi dia lebih dipercaya oleh Sukarno dari pada Jendral-Jendral lainnya atau laksamana-laksamana lainnya.

Sering terjadi Makki setelah dipanggil oleh Sukarno, dan Nasution menanyakan apa pembicaraan antara mereka. Sebaliknya Makki sering di tanya oleh Omar Dani dan Sukarno, tentang sepak terjang dan kemauan Nasution

Inilah zaman Revolusi. Dalam revolusi selalu ada korban, dan yang paling berkorban adalah rakyat atau orang kecil yang tak tahu menahu. Beberapa puluh tahun kemudian (1965) ada revolusi lain yang dinamakan Gerakan Tiga puluh September (G30S). Gerakan ini dimpin oleh Letnan Kolonel Untung, seorang pengawal presiden dari Resimen Cakrabirawa. Sebenar yang punya skenario dari revolusi ini adalah wakil dari Untung, yaitu Brig.Jen Supardjo.

Cerita ini dari Brig.Jen Supardjo kepada Sutan Iskandar. Jendral Suparjo setelah G-30S, menghilang untuk beberapa bulan. Suatu hari Sutan Iskandar bertemu dengan saudaranya didaerah Pal merah dekat kebayoran lama. Rumah itu rumah adik Sutan Iskandar dari ibu lain, yang ternyata adalah perawat A (laki-laki), bekerja di Militer. Dia adalah perawat setia dari Suparjo. Suparjo tidak jauh-jauh amat larinya hanya ke daerah Pal merah. Ketika sedang berbincang dengan perawat A, Suparjo keluar kamar dengan jacket coklat, dan Sutan Iskandar mengenali Supardjo, ketika Sutan Iskandar bertugas di Tasik Malaya.

Pak Jendral Suparjo bukan, kata Sutan Iskandar. Ya, pak Sutan Iskandar saya Supardjo yang dicari-cari pemerintah. Dalam minggu ini saya akan menyerahkan diri dan akan mengiakan semua tuduhan pada saya. Beberapa bulan ini saya berpikir, tadinya saya mau kabur ke luar negeri, lewat Kalimantan Utara, tempat saya bertugas terakhir. Tapi saya punya keluarga, saya punya anak, saya punya istri, saya punya besan Jendral, dan Ustatz, maka sebaiknya saya menyerahkan diri, dan mengambil tanggung jawab pada saya sendiri, dan menolak ada orang lain yang membantu saya.

Lalu sutan Iskandar menanyakan, mengapa dia buat blunder seperti itu. Dia pernah sekolah Militer di AS, karirnya menonjol, kinipun dia adalah wakil dari Jendral Suharto, dari KOLAGA (komando Mandala Siaga.).

Menurut Supardjo ini bermula dia membaca buku Che Guavara, tangan kanan Fidel Castro. Dalam buku itu diceritakan bahwa Fidel Castro, hanya dengan dua kompi pasukan, bisa mengalahkan Batista. Dia mau meniru itu, dengan memakai orang –orang komunis, yang katanya siap untuk berevolusi.

Menurut Supardjo, tujuh Jendral itu sudah diperhatikan selama 3 bulan. Sudah 2-3 kali dilakukan rehersal, yaitu memanggil mereka untuk menghadap presiden melalui prajurit Cakrabirawa. Pada umumnya Jendral itu percaya saja. Ini pekerjaan Untung dari Cakrabirawa. Sukatno ketua pemuda Rakyat berkoar-koar bahwa dia sanggup mengumpulkan 10.000 pemuda rakyat (PR) hanya dalam satu jam.

Pada malam itu operasi dimulai, kelihatan berjalan mulus, semua Jendral yang dipanggil menurut dengan Cakrabirawa. Sebenarnya tak ada perintah pembunuhan, hanya sekedar disekap, nanti setelah Dewan Revolusi menang, para Jendral itu akan dikembalikan.

Pagi 1 Oktober aku (Jendral Supardjo), menuju istana dengan pakaian dinas upacara lengkap dengan bintang- bintang jasa yang ada. Ada yang tak dipehitungkan, Presiden Sukarno tak ada di Istana negara. Kalau ada tinggal disuruh pilih, ikut dewan Revolusi, atau pergi keluar negeri. Sama sekali tak diduga kalau Sukarno ada di Rumah Dewi, dan oleh sesuatu atau berbagai sebab dia tak ke Istana tapi ke Halim. Disana saya mencoba untuk membujuknya, tapi Sukarno sudah ddampingi petinggi Militer, malahan saya yang ditegur, dan menyuruh menyerahkan diri. Skenario seperti Fidel Castro dengan dua kompi tentara melakukan Coup pada Presiden, gagal total.

Ya saya besok akan menyerahkan diri, tak akan membawa siapa-siapa dan bertanggung jawab pada semua hal, dan akan mengakui baik yang saya kerjakan atau yang tidak saya kerjakan tapi dituduhkan pada saya, demi keluarga saya.

Cerita Sjahriar Rasad kepada Sutan Iskandar tentang, G30S. Prof, Sjahriar Rasad (SR) ahli Radiologi FKUI , anak dari Zainudin Rasad, , adalah keponakan Sutan Iskandar. Dari waktu ke waktu Sutan Iskandar sering mengunjungi beliau, baik di bagian Radiologi, atau di Rumahnya di Jl. Maluku. Beliau menjadi Pembantu Dekan FKUI (Panitera Fakultas) dari tahun 1960-1964, dan kemudian menjadi dekan FKUI dari tahun 1964-1970.
Inilah ceritanya mengenai G 30 S. Ketika awal terjadi G30S, SR dan Upik Rasad (istri SR) sedang berada di pulau Capri berlibur, setelah menghadiri Kongres Radiologi XI di Roma.
Ketika sedang makan pagi 1 Oktober 1965, terdengar dari Radio di hotel, bahwa Telah terjadi Revolusi di Indonesia. Presiden Sukarno dipaksa merombak kabinetnya. Telah terjadi tembak menembak semalam suntuk di Jakarta. Beberapa Jendral telah ditahan atau dibunuh. Demikian siaran radio BBC di Italia.

SR mengontak KBRI di Roma, dan mendapat jawaban: Keadaan telah aman, Dewan Revolusi dibawah Letnan Kolonel Untung telah menguasai keadaan. Pemerintah untuk sementara diambil alih oleh Dewan Revolusi.

Tidak puas SR mengontak Zairin Zain, sepupu SR, Dutabesar RI di Jerman Barat di Bonn. Zairin Zain tak ada ditempat, Untung bisa mengontak Didi Djajadiningrat, yang menjabat charge d’ affaires di kedutaan itu. Keterangan Didi berbeda dengan keterangan Duta Besar Indonesia di Roma. Menurut Didi, Pemberontakan dipimpin PKI, dengan mempergunakan Resimen Cakrabirawa dan Batalyon infantri Kostrad, yaitu yon Inf 454/ Raiders Jawa Tengah, dan yon –inf -530 Raiders Jawa Timur. Beberapa Jendral telah tewas diantaranya Jendral Jani, Haryono, Sutojo. Ada 6 Jendral yang tewas.Setelah mendengar keterangan dari Didi, maka SR mempercepat kepulangannya ke Indonesia.

Sutan Iskandar menanyakan bagaimana keadaan mahasiswa FKUI, karena salah satu anaknya sebagai mahasiswa FKUI. SR mengatakan jangan khawatir kami hanya melaksanakan perintah menteri PTIP no 2/ tanggal 11 Oktober 1965, tentang pembekuan CGMI dan Perhimi, tentunya anak Sutan Iskandar bukan dari kedua organisasi itu. Ternyata di FKUI hanya ada 48 orang, yang berindikasi CGMI/ Perhimi. Mereka tidak mau keluar dari CGMI/ Perhimi kecuali atas perintah PBR (Pemimpin Besar Revolusi) Bung Karno. Atas instruksi Menteri PTIP No 010, tanggal 24 Oktober 1965, semua anggauta CGMI/ Perhimi yang tak mau keluar, di keluarkan untuk sementara sebagai mahasiswa FKUI.

Anak Sutan Iskandar, Yul Iskandar aktif dalam masa tidak menentu itu menjadi Wakil Ketua Komando Aksi Penelitian & Penertiban Mahasiswa (KAPPEMA) FKUI. Pengangkatan ini resmi oleh Fakultas, dan Ditanda tangani oleh Dr. Partomo Alibazah (Pembantu Dekan bidang Mahasiswa dan Alumni= Pudek Mahalum), dengan tugas melakukan pengamanan kampus, screening mahasiswa yang terindikasi ikut G30S

Aksi mahasiswa dimulai bulan Oktober 1965 tujuannya adalah untuk membubarkan PKI, akan tetapi Sukarno berkeras tak mau membubarkan PKI, memuncak pada bulan Januari (dibulan puasa) 1966 , kini yang menjadi sasaran adalah pemerintahan dibawah Sukarno, (dengan tri tuntutan Rakyat Tritura). Di bulan Februari dimana salah satu mahasiswa FKUI yaitu Arief Rahman Hakim tertembak mati, dan bulan Maret, sampai keluar Surat perintah Sebelas Maret (Super Semar) dan akhirnya PKI dibubarkan oleh Suharto pada tanggal 11 Maret 1966 malam hari.

Malam pukul 11 maret 1966, anak buah Suharto diantaranya Sarwo Edhi, Sumitro, Kemal Idris ingin mengadakan pawai besar-besaran pada tanggal 12 Maret 1966, tentunya harus melibatkan mahasiswa dan pelajar. Pada awalnya Suharto keberatan untuk unjuk rasa seperti itu, karena takut seberapa besar kekuatan yang pro Sukarno. Bila yang pro Sukarno dan pro Suharto berhadapan maka akan terjadi pertumpahan darah besar. Hal ini ditakuti oleh Suharto.

Akan tetapi anak buah Suharto meyakinkan bahwa masalahnya bukan pro Sukarno atau pro Suharto tetapi anti PKI / G-30S yang telah dikampanyekan selama 6 bulan. Temanya adalah PKI telah dibubarkan, dan bukan konflik Suharto dan Sukarno. Praktis yang pro PKI masih banyak, tetapi tanpa kekuatan dan masih penuh ketakutan. Sebagaian Mahasiswa pro PKI telah di Skor dan tak boleh masuk sekolah atau kuliah oleh Menteri PTIP, Syarif Tayeb. Kekuatan PKI di buruh dan Tani juga sudah lumpuh, karena pimpinannya baik mengungsi maupun bersembunyi. Tanpa pimpinan maka mustahil mereka berani muncul. Anak buah Suharto meyakinkan bahwa unjuk rasa tanggal 12 Maret 1966 adalah momentum politik, pernyataan politik bahwa politik yang dipimpin oleh Suharto didukung oleh Rakyat. Kerja keras ini hanya 6 jam, yaitu mulai mengorganisasi pemuda, mahasiswa, pelajar dan rakyat untuk menyambut kemenangan Tritura.

Bagi mahasiswa ini dianggap kemenangan mahasiswa karena salah satu tuntutannya ternyata berhasil, yaitu bubarkan PKI. Bagi sebagaian orang yang merasa bahwa Orde lama adalah orde penuh dengan Tirani, ini adalah hari pembebasan, dan tak ada yang berpikir bahwa dari orde lama, akan muncul Orde Baru yang jauh kurang demokratis dibandingkan Orde lama. Pada zaman Sukarno, kekuasaan terbagi atas 3 kekuatan, yaitu militer, sipil yang di dominasi oleh PKI dan faktor Sukarno sendiri, yang sanggup memobilisasi Rakyat. Tapi ditahun 1966, kekuatan Sukarno, sudah jauh berkurang, baik karena fisik Sukarno yang sering sakit, maupun kaki – tangan Sukarno, seperti Subandrio, Chairul Saleh, Achmadi dll telah ditahan.

Sejak itu secara perlahan sinar kekuasaan Suharto meningkat sedikit demi sedikit, sedangkan sinar Sukarno meredup perlahan-lahan. Pada tahun itu mulai 1966, kekuasaan mulai dipegang dalam satu tangan, yaitu Suharto. Militer pasti menurut pada Suharto, karena Suharto berkali-kali menjadi pemimpin militer . Dalam penumpasan pemberontakan. Sebut saja, pemberontakan Andi Aziz, pemberontakan Kahar Muzakar, Pimpinan Trikora sehingga Irian Barat menjadi bagian Republik Indonesia dan Pimpinan Dwikora dalam mengganyang Malaysia. Dibawah pimpinannya korban Dwikora maupun Trikora tidak lah terlalu banyak.

Dipihak sipil, Suharto menciptakan bahwa politik itu busuk, dan medegradasi partai politik, dikebiri sehingga tinggal 3, mendekati bekas-bekas Masyumi yang moderat, mendekati orang –orang NU yang moderat, mendekati orang-orang PSI yang moderat, seperti Sujatmoko, dan malahan merangkul ex-PSI seperti Sumitro, mendekati orang –orang murba seperti Sukarni, Tri Murti, Adam Malik.

Orang-orang yang anti Suharto dibungkam atau dihilangkan atau dipenjarakan, seperti Subadio Sastrosatomo, Sarbini Somawinata, Syahrir, Marsilam, Hariman Siregar dll. Tapi orang-orang itu yang mau kerja sama diberi kedudukan ataupun disekolahkan dengan melalui tangan –tangan lain dari Suharto.

Birokrasi dipegang kuat, dibuat esolinisasi kekuasaan yang berbeda dengan sistem kepangkatan biasa. Seseorang bisa saja pangkatnya sampai IV e, tetapi tak ada kekuasaan. Sebab kekuasaan birokrasi dibuat dengan mulai paling tinggi Eselon I dan yang paling rendah Eselon IV. Eselon ini lah yang punya kekuasaan, dalam arti dapat mengeluarkan uang atau mengambil uang. Mulai Eselon II keatas, maka hanya Suharto yang menentukan. Jadi praktis Birokrasi dia sudah pegang. Maka lengkaplah kekuasaan Suharto, Militer dan Inteligen dibawah kontrol Suharto. Sipil dari partai politik dan Birokrasi dibawah kontrol Suharto. Mahasiswa dikebiri dibawah menteri dan rektor yang dipercaya pro Suharto. Apalagi biang kerusuhan anak – anak Universitas Indonesia dibuang jauh kedaerah pinggiran Jakarta, malahan sudah masuk Jawa barat yaitu di Depok.

Keuntungan besar pula pada awal zamannya, harga minyak naik tajam, dan produksi lebih besar dari konsumsi. Begitu juga Kayu dan hasil perkebunan sedang booming, jadilah Suharto seperti seorang pahlawan, pahlawan Politik (membubarkan PKI) pahlawan Ekonomi (bisa swasembana beras) dan Pahlawan Kebudayaan, dengan mempopulerkan pemakaian batik dan berbau kebudayaan nasional, lengkaplah dia untuk menjadi Bapak (Pahlawan) pembangunan.

Ada beberapa hal yang tak dikerjakan oleh Suharto, yaitu membuat suatu ideologi, yang mungkin tidak dimengertinya, karena dia percaya pada uang dan perut (makanan) lebih penting dari ideologi. Yang kedua tak ada tanda- tanda mempersiapkan putra mahkota, mungkin karena merasa bahwa hidupnya akan lama, dan biasanya putra mahkota malahan yang berkhianat.

Kekuasaan seperti itu menurut Sutan Iskandar akan berakhir dengan tragis, seperti di Spanyol dengan diktator Jendral Franko. dan Portugis dengan Diktator Salazar. Kekuasaan seperti itu akan bertahan paling lama 40 tahun, dan dengan sendirinya alam akan mengubahnya dengan caranya sendiri.

Setelah Suharto Jatuh, maka akan timbul pemerintahan transisi, yang biasanya tak akan berlangsung lama. Jumlah rakyat yang telah mencapai 200 jutaan, dan banyaknya pemikiran, tanpa adanya pemimpin pemersatu bangsa, maka dalam 10 tahun pemimpin setelah Suharto akan jatuh bangun dalam mengurus Republik ini.

(Catatan penulis (YI) kejatuhan Suharto tidak sampai 40 tahun, tapi 32 tahun, karena tidak sabarnya orang-orang yang anti Suharto, dengan demostrasi mahasiswa dan keadaan ekonomi dunia (Asia) yang memburuk. Mungkin pula AS dan Barat sudah tak suka pada Suharto, tapi kejatuhannya sebenarnya belum cukup matang sehingga tidak seperti Spanyol dan Portugal dengan revolusi bunganya yang tidak makan korban, malahan terjadi kemajuan yang luar biasa diberbagai bidang. Kejatuhan Suharto terlalu dipaksakan, atau malahan Suharto lebih cerdik lagi dari perkiraan orang).

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory)
Dr.Yul Iskandar., PhD.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: