Sukabumi, Zaman Normal.

Kantor pos Sukabumi meminta seorang postkomist karena seorang pegawai kantor pos disana dipecat dari pekerjaannya karena menggelapkan uang negara, kalau sekarang dinamakan orang “Corrupt”. Saya ingin dipindahkan ke Sukabumi, akan tetapi berpuluh-puluh teman sekerja. . . . . . Jerman mulai memperlihatkan giginya. Jerman menganexasi (mendudki) Austria, Italia mengambil dan menduduki beberapa negara Afrika, sedangkan Jepang telah bercokol di Korea, Mancuria, sebagian Cina. Tapi orang Indonesia tidak melihat itu, terlena dengan angin sorga, padahal dimana-mana ada warung-warung Jepang, ada toko-toko Jepang, dan banyaknya orang Jepang di Hindia . . . selanjutnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/05/31/sukabumi-zaman-normal/

His Story of Sutan Iskandar (14)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Sudah 5 tahun setelah kepulangan saya ke Batavia, artinya saya sudah bekerja 10 tahun, saya merasa tidak cocok lagi di Batavia dengan berbagai alasan.
Suatu hari ketika hendak pulang terbaca oleh saya pada pengumuman kantor, bahwa kantor pos Sukabumi meminta seorang postkomist karena seorang pegawai kantor pos disana dipecat dari pekerjaannya karena menggelapkan uang negara, kalau sekarang dinamakan orang “Corrupt”. Saya ingin dipindahkan ke Sukabumi, akan tetapi berpuluh-puluh teman sekerja ingin pula pindah ke kantor pos jang iklim kotanya amat sejuk itu. Diminta seorang komis post untuk dipindahkan ke kantor pos Sukabumi. Kenapa diminta, kenapa tidak dipindahkan saja ? Sekarang karena pengumuman itu, saya mempunyai berpuluh-puluh saingan (concurrent).

Akhirnya saja pergi ke kantor CA 1, kantor chef afdeling 1, jaitu inspektur P.T.T. untuk seluruh Jawa Barat di Bandung, jang sekarang bernama Kispos 1, dan minta dipindahkan ke Sukabumi dengan alasan mungkin tenaga saya lebih berguna disana, karena saya mampu 10 bahasa, mengenal ilmu bumi dengan baik, dan sudah 10 tahun bekerja di Jakarta sehingga ingin mengganti suasana. Kispos itu membalik-balik buku U5 saya yang hampir penuh dengan segala kesalahan tetek bengek, dan menanyakan kepada saya, apakah saya ada mempunyai hutang kepada negara atau kepada orang partikulir.

Sesudah beberapa hari diselidiki dan diperiksa terpilihlah saya, hanya karena saya tak punya hutang pada siapapun, tidak pada Bank, rentenir maupun pada kawan atau saudara. Ternyata hanya saya yang mampu hidup sesuai dengan pendapatan, sehingga tak memerlukan hutang. Itu penting karena saya akan menjadi pengganti saudara jang corrupt itu.

Barang-barang saya dipak oleh seorang emballeur, tukang mengurus barang-barang orang yang akan pindah Tuan R. Pramadio dikerjakannya dengan semestinya dan sangat menyenangkan hati karena tidak ada satu perabot rumah tangga yang hilanng atau rusak. Pekerjaan itu patut dipuji.

Ada beberapa hal yang menyebabkan saya ingin pindah ke kota kecil Sukabumi. Situasi dunia yang memanas, dan perang dunia II, sudah didepan mata. Tetapi orang-orang Indonesia kurang menyadarinya karena tak ada berita, dan semua berjalan baik, malahan jaman tahun 1934 – 1942, adalah zaman keemasan Penjajah Belanda. Bagi pegawai gaji cukup , bagi rakyat makanan dan perumahan tersedia. Banyak rumah-rumah disewakan dengan harga murah. Dengan uang 10 sen gulden bisa makan dengan baik 3 kali sehari. Keamanan sangat terjamin. Rumah tidak dikunci ditinggal begitu saja, tidak akan digarong. Orang- orang tua menyebutnya zaman itu zaman normal.

Tapi semua pemimpin politik yang suka agitasi semuanya telah disingkirkan. Tak ada Sukarno, tak ada Hatta tak ada Syahrir, tak ada Tan Malaka, tak ada pemimpin yang vokal, yang ada adalah priyayi-priyayi yang menurut pada Belanda. Tak ada hingar bingar rapat-rapat, atau rapat umum, tinggal di Hindia Belanda pada saat seperti di Sorga. Tidak bising semua berjalan dan berputar sesuai dengan kodratnya.

Rupanya yang dikehendaki orang Indonesia adalah seperti itu. Suara rakyat (demokrasi) diberangus, pemimpin dan calon pemimpin yang tidak menurut pada Belanda dibuang . Kalau Pemimpin itu tidak terlalu dikenal oleh rakyat, dia dibunuh saja. Tambang-tambang Emas (seperti di Cikotok, daerah Banten) dan berbagai daerah dimonopoli oleh Hindia-Belanda. Barang tambang lainnya seperti Timah, Minyak mentah, dimonopoli pemerintah Hindia Belanda. Perusahaan perusahaan besar berkolaborasi sebagai The Big Five dikendalikan oleh pemerintah hindia Belanda. Rakyat hanya boleh jadi pegawai, pedagang kecil, jadi Kuli, petani gurem dengan sawah kurang dari 3 Ha. Sekolah hanya boleh dimasuki dari kelas sosial tertentu. Sekolah bagi rakyat adalah sekolah yang gurem dan pendidiknya juga gurem. Tapi hidup terasa teratur, makmur, adil dan aman. 90% rakyak Hindia Belanda nyaman dengan keadaan itu, itulah sebabnya zaman itu disebut zaman normal.

Selama 5 tahun setelah kepergian Sutan Iskandar ke Eropah, Jerman mulai memperlihatkan giginya. Jerman menganexasi (mendudki) Austria, Italia mengambil dan menduduki beberapa negara Afrika, sedangkan Jepang telah bercokol di Korea, Mancuria, sebagian Cina. Tapi orang Indonesia tidak melihat itu, terlena dengan angin sorga, padahal dimana-mana ada warung-warung Jepang, ada toko-toko Jepang, dan banyaknya orang Jepang di Hindia Belanda sudah 10 kali lipat dari tahun 1928 dalam 10 tahun. Jepang mulai banyak di Hindia Belanda. Belanda pun terlena, karena keadaan aman – terkendali, tak ada protes-protes, dia tak menganggap bahwa Jepang akan menjadi ancamannya. Orang Belanda berpikir bahwa masalah Eropah adalah masalah Eropah, tidak akan sampai di Asia Tenggara.

Jerman , Italia dan Jepang sudah sangat agresif, dan hanya menunggu waktu saja untuk menyerang Asia, terutama Asia Selatan, sebagai sumber bahan mentah. Di kota besar seperti Jakarta pada keadaan itu pasti tidak aman. Hal lain Sutan Iskandar sudah punya anak 3 orang, yang lahir tahun 1935, 1937, dan 1938 dan ini akan sangat menguntungkan bila di kota kecil, dimana segala sesuatu sangat murah, terutama transport tentunya tidak semahal di Jakarta.

Ditahun 1930-an akhir keadaan Eropah sangat kacau. Pada awalnya pada pemilihan umum pertama NAZI di Jerman hanya mempunyai beberapa persen saja di Parlemen Jerman. Tak ada yang mau memilih partai itu. Akan tetapi partai Minoritas itu para anggautanya sangat militan dan displin, dan menurut hanya pada 1 komando yaitu Hitler. Demostrasi ada dimana-mana, dan akhirnya partai itu menang. Itu sebabnya di banyak negara partai kecil yang ikut pemilihan umum, tidak boleh ikut lagi bila tak mendapat suatu ambang tertentu (parlementary electrorall treshhold). Sejarah Nazi Jerman adalah pengalaman pahit dari dunia. Nazi adalah suatu partai yang bersifat Nasionalis Sosialis, tetapi pikirannya internasionalis (menguasai seluruh Eropah) dan tidak demokratis. Jadi nama partai tidaklah mencerminkan karakter partai, tapi mencerminkan preferensi karakter pemimpinnya.

Sutan Iskandar telah meramalkan (tahun 1938) bahwa perang tak bisa terelakan di Eropah, dan bila Eropah terbakar maka akan membakar juga Amerika, Australia dan tentu saja Asia. Jadi Sutan Iskandar merencakan untuk pindah dari Kantor pos Jakarta ke Sukabumi, kota kecil yang tenang di Jawa Barat. Pada akhir tahun 1930-an, peperangan belum dimulai walaupun manuvre Nazi terhadap negara kecil telah mulai. Dengan lihainya Austria, dia msukkan dalam Federasi Jerman. Inggris dan Amerika masih menahan diri atau tak peduli. Ini membuat NAZI menjadi kepala besar. Tentu alasan untuk pindah ke Sukabumi dengan alasan akan perang dunia ke II, akan ditertawakan oleh pimpinan kantor pos, karena siapa yang tahu akan ada perang dunia lagi, memangnya Sutan Iskandar paranormal. Perang Dunia I, telah membuat Jera beberapa negara untuk ikut perang, seperti Turki, Swiss dan Swedia di Eropah.

Selain itu kepindahan ini mempunyai arti bahwa Sutan Iskandar hendak berhenti berpolitik (maksudnya memikirkan atau berdiskusi politik), dia ingin menjadi suami yang baik, dan menjadi ayah yang baik. Dia melihat semua pemimpin politik keluarganya semua berantakan. Menjadi pemimpin politik, biaya mental sangat mahal, jadi dia ingin menjadi pegawai negeri saja dengan anak 3 orang.

Syahrir dan Hatta adalah Nasionalis tulen, dan mungkin sosialis, tapi komunis dan mau angkat senjata untuk berontak bukan tipenya. Tapi dia dibuang bersama-sama pemberontak komunis diakhir tahun 1920-an. Sukarno dan beberapa tokoh pergerakan seperti Dr. Tjipto Mangunkusumo juga dibuang oleh Belanda. Tan Malaka juga dibuang oleh Belanda, tapi dia dibuang kenegeri Belanda. Tidak ada pemimpin nasional pada saat itu.

Kehebatan Sukarno adalah memberi imajinasi akan adanya suatu negara yang kaya dan makmur dikemudian hari. Negara itu bernama Indonesia. Cokroaminoto berhasil mempersatukan seluruh tanah Jawa dibawah Syarikat Islam. Tetapi Sukarno berhasil memberi impian suatu negara yang merdeka, berdaulat, adil, makmur dan kaya raya. Impian ini terbawa oleh semua orang dari Aceh sampai Merauke. Dari Talaud sampai ke Timor. Sayangnya setelah semua pimpinan utama dibuang dan ditangkap, ternyata tidak timbul pimpinan generasi kedua. Indonesia seperti Ular naga, bila kepalanya dipotong, maka hilanglah kemampuan ular naga itu untuk hidup, dan bukan seperti cacing, yang dipotong maka akan hidup dua cacing..

Dalam situasi seperti itu maka pindah ke Sukabumi adalah pilihan yang tepat. Kotanya tak terlalu jauh dari Batavia (hanya 120 km), udaranya sejuk, orangnya tenang dan tak banyak hura-hura. Saya hanya perlu cari alasan bahwa kepindahan saya ke Sukabumi adalah karena kesehatan saya. Saya pergi ke dokter (Belanda) untuk minta surat keterangan seperti itu. Nyatanya Dokter Belanda bukan orang yang gampang diberi uang untuk membuat surat. Setelah diperiksa Dokter itu berkata bahwa saya sangat sehat dan sampai 30 tahun lagi masih akan kuat untuk bekerja di Batavia.

Tapi begitulah saya berusaha dengan berbagai cara, ternyata bahwa sifat saya yang tak mau minta tolong, tidak mau bekerja yang tak sesuai dengan saya, tak mau berhutang, ternyata itulah yang dilihat oleh Pimpinan saya, sehingga saya yang ditunjuk untuk pindah ke Sukabumi.

Pada suatu malam ketika saja berada di rumah saya di jalan Tjikiraj no. 10 Sukabumi, datanglah seorang Alim Ulama kaliber besar. Beliau adalah Dr. H.A. Karim Amrullah, ajah dari penulis Indonesia Hamka. Doctor Hadji Abdulkarim Amrullah adalah seorang buangan (interniran), dan ini yang orang pertama dibuang oleh Belanda ke Sukabumi. Tuduhannya dia aktivist politik. Padahal ia hanja seorang alim ulama. Diploma doktornja didapat di kota Bagdad. Ketika saya di Bagdad, saya bertemu dengan beliau. Beliau ialah doctor Fiddin, doctor dalam hal agama terutama agama Islam. Dia tinggal dirumah saya untuk beberapa hari sebelum mendapat tempat yang sesuai dengan seleranya.

Asistent Resident Belanda di Sukabumi mengajak dia berbahasa Belanda. Beliau menjawab dengan bahasa Arab, karena katanya dia belum pernah belajar bahasa Belanda, tetapi bahasa Arab, dan dalam bahasa itu pula beliau gepromoveerd sebagai doctor agama. Sutan Iskandar menterjemahkan dari Bahasa Arab ke bahasa Belanda. Dia tahu kalau berbicara dalam bahasa Indonesia, sedikitnya asiten Residen itu tahu artinya, tetapi kalau dalam bahasa Arab, Asisten Residen itu tidak akan mengerti. Beliau pernah mengajar beberapa tahun lamanya pada universitas “Al Azhar” sebuah perguruan tinggi Islam di Mesir..

Sutan Iskandar bertemu beliau di Bagdad, dalam perjalanan dari Iran ke Eropah, kereta api yang Sutan Iskandar tumpangi menuju Bagdad dulu. Dia adalah sahabat baik kakak saya ( dari lain ibu), yaitu Haji Sutan Darab. Pada saat itu dia baru saja menyelesaikan disertasinya mengenai ilmu-ilmu agama. Jadi dialah Doktor Indonesia pertama dalam ilmu agama keluaran Universitas Bagdad. Irak (Bagdad) pada tahun 1930-an, suatu kerajaan merdeka yang dilindungi (protektorat) Inggris, setelah merdeka dari kekaisaran Ottoman. Kotanya tua, dan banyak peningalan kuno yang bersejarah. Kotanya jauh lebih besih dari pada di Afganistan.

Yang datang ke rumash kami bukan hanya Dr.H.A.Karim saja, tapi banyak buangan-buangan politik yang dibuang kemudian ke Sukabumi, diantaranya Sutan Syahrir, Dr. Tjiptomangunkusumo dan banyak lagi yang datang kerumah kami. Rumah kami terbuka terutama untuk makan malam, karena istri saya suka sekali masak masakan padang. Restoran Padang belum banyak atau belum ada, jadilah tempat saya untuk kumpul-kumpul sambil makan makanan Padang.

Seperti sudah saya kemukakan saya ke Sukabumi melarikan diri dari hingar bingar politik, akan tetapi ternyata bahwa politik selalu datang pada saya. Saya mengerti bahwa berpolitik adalah suatu perbuatan mulia dan lux di-zaman itu. Semua yang aktif akan ditangkap Belanda dan tanpa pemeriksaan pengadilan akan dibuang kemana pemerintah suka. Salah satu tempat pembuangan politik yang disukai Belanda adalah Sukabumi. Mengapa dia memilih kota itu kita tak tahu benar. Sedikitnya 20 aktivis politik baik terkenal maupun tidak terkenal ada di Sukabumi pada akhir tahun 30-an atau awal tahun 40-an.

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory)
Dr.Yul Iskandar., PhD.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: