Pendidikan dan PRAKTEK PSIKIATRI,

Antara lain hal itu disebabkan karena tidak adanya dasar pikiran yang konsisten (dan oleh karena itu tidak adanya usaha-usaha praktek psikiatri yang konsisten pula) dari para guru yang mengajar psikiatri. Mereka terlalu nyaman dengan keadaan saat itu. Disamping itu ilmu-ilmu lain juga belum begitu berkembang di . . . . Pada tahun 1974 Prof. Kusumanto pergi ke Argentina mewakili Kelompok Studi Psikiatri Biologik Jakarta (KSPBJ). Seperti diketahui tahun itu perhimpunan yang ada adalah PNPNCh (Perhimpunan nasional untuk Neurologi, Psikiatri dan Neuro-Chirugi). Pemisahan organisasi pada saat itu bukan hal yang gampang. Masalahnya menyangkut pengakuan pemerintah, IDI, dan berbagai disiplin lainnya. Selanjutnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/05/23/pendidikan-dan-praktek-psikiatri/

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (64)
(Lanjutan Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (63)

Pendidikan dan PRAKTEK PSIKIATRI,

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini. Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

oooOooo

Pendidikan dan PRAKTEK PSIKIATRI,

Ilmu kedokteran jiwa di Indonesia tradisional berkembang dan terikat pada pusat-pusat perawatan dan pengobatan penderita-penderita gangguan mental atau rumah-rumah sakit Jiwa.

Sama halnya dengan perkembangan dan kemajuan pusat-pusat ilmu kedokteran yang juga terikat pada rumah-rumah sakit yang terkemuka. Tetapi, berbeda dengan perkembangan ilmu kedokteran modern, ilmu kedokteran jiwa hanya mampu memperkembangkan sayapnya secara berarti baru pada kira-kira sepuluh tahun terakhir. (Yaitu mulai tahun 1955 -1965 YI)

Antara lain hal itu disebabkan karena tidak adanya dasar pikiran yang konsisten (dan oleh karena itu tidak adanya usaha-usaha praktek psikiatri yang konsisten pula) dari para guru yang mengajar psikiatri. Mereka terlalu nyaman dengan keadaan saat itu. Disamping itu ilmu-ilmu lain juga belum begitu berkembang di Falkutas Kedokteran yang biasanya menjadi pendorong dan pelopor dari pada tiap-tiap cabang ilmu kedokteran.

Dengan sendirinya inaugurasi pendekatan psikiatri melalui eklektik holistik di lingkungan Falkutas Kedokteran UI, maupun didunia diharapkan telah diletakkan landasan yang lebih kuat bagi perkembangan ilmu kedokteran jiwa secara lebih berencana dan lebih teratur. Walaupun demikian ada beberapa hal, yang mungkin dapat dimasukkan dalam paham prasangka-prasangka yang tak menguntungkan (unfavorable prejudices), serta senantiasa masih saja menghambat kemajuan dan perkembangan Psikiatri.

Oleh karena itu, maka akseptasi dari ilmu kedokteran jiwa dikalangan khalayak ramai masih saja menghadapi perasaan yang kuat dicoraki ambivalensi. Dan kurang dihargai. Ada benarnya kalau kita introspeksi, sampai tahun 1965, berapa banyak psikiater yang berhasil dalam pengobatan pasien psikiatri-nya.

Mungkin praktek pribadinya dari para psikiater ( sebelum 1965), cukup ramai dan sangat banyak. Tetapi patut diragukan apakah mereka praktek psikiatri, atau memakai ilmu psikiatri untuk pengobatan pasien diluar bidang psikiatri.

Dengan sendirinya dapat dipahami, bahwa masing-masing bidang khusus dari pada praktek psikiatri , walaupun pada dasarnya menjadi tanggung – jawab dari pada seluruh divisi bagian psikiatri, pada taraf teknik tentu dibebankan pula masing-masing divisi atau sub bagian tertentu dalam bagian itu.

Pada umumnya dapat dilaporkan, bahwa pendidikan dalam mata pelajaran ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) telah memperoleh beberapa kemajuan penting sejak berakhirnya perang dunia ke-II. Dapat disebutkan, bahwa perkembangan materi dan sistematik pendidikan ilmu kedokteran jiwa telah mengalami perluasan dan pendalaman yang cukup berarti.

Mungkin salah satu tanda yang amat konkrit dan sangat khas ialah frekwensi soal-soal atau aspek-aspek psikiatri disebutkan dalam pelbagai pembahasan atau pembicaraan non psikiatri. Baik secara tersendiri maupun dalam kerjasama dengan bagian psikiatri, pelbagai diskusi ilmiah dibidang ilmu kedokteran menyinggung soal-soal mengenai mental emosional dari pada penderita yang sedang dibicarakan.

Angka jumlah jam pendidikan ilmu psikiatri, demikian pula sistem pendidikan pada taraf mahasiswa kedokteran praklinik dan klinik, telah mengalami perubahan radikal (tahun 1960-an, belum ada system SKS (YI). Dari pada kuliah-kuliah umum yang resmi, sekarang titik beratnya dialihkan kepada kuliah-kuliah non formal yang menekankan inter komunikasi antara dosen dan mahasiswa.

Inter komunikasi yang intensif itu dianggap baik bermanfaat, tetapi hanya akan efisien secara optimal jika tenaga-tenaga cukup tersedia, terlatih, berdedikasi, dan menguasai ilmunya dengan baik, dan demikian pula buku-buku ilmu psikiatri dan journal-journal baik dalam maupun luar negeri, tersedia dalam jumlah yang tidak kurang. Ilmu psikiatri sekarang merupakan suatu jaringan yang amat intensif, serta menghendaki agar tiap-tiap ahli psikiatri dapat bertukar pikiran dengan para ahli kedokteran lainnya dengan menggunakan unsur-unsur komunikasi, yang arti dan maknanya sedikit – banyak sama.

Tegasnya hal itu menghendaki adanya bahasa yang sama dalam ilmu pikiatri, dan ilmu kedokteran lainnya, dan untuk itu diperlukan paham-paham dasar yang sama dalam tiap-tiap pendidikan kedokteran jiwa di Indonesia yang bertanggungjawab.

Jikalau dahulu pendidikan kedokteran terikat pada rumah sakit, jadi dapat disebutkan sebagai sekolah rumah sakit (hospital schools), sejak 1945 falkutas-falkutas kedokteran secara progresif menjelma menjadi lembaga-lembaga pendidikan yang tersendiri dan yang sifatnya jauh lebih otonom. Oleh karena itu, maka pendidikan kedokteran sekarang jauh lebih sadar mengarahkan calon dokter itu tidak hanya untuk dapat bertindak sebagai seorang ahli praktek kedokteran (medical practitioner), melainkan juga sedapat-dapatnya memperlengkapi calon dokter itu dengan asas-asas, fakta-fakta dan substansi-substansi yang terletak dibidang ilmiah (medical science).

Oleh karena itu, corak sekolah rumah sakit ditinggalkan dan diganti ; dengan corak falkutas kedokteran yang memiliki fasilitas-fasilitas untuk pengamalan praktek, dan yang berbentuk rumah sakit : suatu rumah sakit falkutas kedokteran (university hospital). Perkembangan lebih lanjut telah membuktikan, bahwa tendensi untuk hanya menitikberatkan patologi organik dan seluler, perlu ditambah dan diperlengkapi dengan pengetahuan tentang manusia sebagai keseluruhan (holistic man concept) dengan kepribadiannya yang unik dan eksistensi individualnya yang tersendiri.

Dengan demikian, maka mulai nampak corak-corak dari pada pendekatan eklektik holistik yang dicocokkan untuk pendidikan kedokteran secara menyeluruh dan tidak hanya untuk pendidikan ilmu kedokteran jiwa saja. Manusia sebagai unitas organobiologi merupakan aspek yang perlu disesuaikan dengan aspek-aspek lain, yang letaknya dibidang psikodinamika dan eksistensi individualnya. Oleh karena itu konsep biologi yang diperluas dan disempurnakan harus disokong dan ditunjang , oleh karena konsep itu mengakui adanya faktor-faktor pengaruh yang letaknya dibidang interpersonal, psikodinamika dan budaya.

Paham totalitas (baik mengenai manusia maupun mengenai situasi ; baik dalam keadaan sakit maupun dalam keadaan sehat) merupakan sasaran yang patut dimasukkan dalam tiap-tiap kurikulum, tidak hanya mengenai pendidikan ilmu psikiatri tetapi terutama sekali dibidang ilmu kedokteran umum.

(Kusumanto Setyonegoro, 1966, Disertasi)

Perkembangan psikiatri Biologik.

Founded in 1974 in Buenos Aires, Argentina, the World Federation of Societies of Biological Psychiatry is a non-profit, international organization composed of over 63 national societies of biological psychiatry, representing over 4,500 professionals.
As a world authority on biological psychiatry, WFSBP is also highly committed to pioneering and promoting the highest levels of education and dissemination within the field.

Pada tahun 1974 Prof. Kusumanto pergi ke Argentina mewakili Kelompok Studi Psikiatri Biologik Jakarta (KSPBJ). Seperti diketahui tahun itu perhimpunan yang ada adalah PNPNCh (Perhimpunan nasional untuk Neurologi, Psikiatri dan Neuro-Chirugi). Pemisahan organisasi pada saat itu bukan hal yang gampang. Masalahnya menyangkut pengakuan pemerintah, IDI, dan berbagai disiplin lainnya. Yang pertama kali ingin memisahkan diri dari PNPNCh adalah dari bedah syaraf, dimana bahasa yang mereka pakai adalah bahasa yang menyangkut ilmu bedah. Pada saat itu Psikiatri dan Neurologi masih dalam kesepahaman, apalagi dalam pendidikan psikiatri harus menjalani magang di Bagian Neurologi 1 tahun, begitu sebaliknya.

Kemudian Neurologi lebih tertarik pada masyalah-masyalah Cardio-Vaskuler, Hypertensi dan tentu saja Stroke. Pembicaraan antara neurologi dan psikiatri mulai tidak nyambung, apalagi bila istilah psikoanalisis orthodox mulai dikemukakan. Ternyata setelah adanya obat obat psikotropik, para psikiater tidak nyambung dengan orang-orang psikiatri biologic yang jumlahnya juga tidak banyak.

Tahun 1974 kita mendapat undangan dari Perhimpunan Experimental Pharmacology di Singapura, dan Prof. Kusumanto pernah mengorganisir Kongress International di Jakarta yaitu First International Congress on Psychiatric Medication ditahun 1970.
Sekitar tahun 1974, setelah Dr. Yul Iskandar menjadi psikiater, Prof Kusumanto dan Yul Iskandar membuat organisasi yang dinamakan Kelompok Studi Psikiatri Biologik Jakarta. KSPBJ ini banyak sekali menerima undangan dari luar negeri, karena saat itu Psikiatri Biologik lagi booming.

Salah satu undangan itu dari awal untuk pembentukan WFBP, dari awal adalah suatu federasi untuk Perhimpunan Psikiatri Biologik Nasional. Ada dua Negara yang tak setuju adanya perhimpunan ini. Yang pertama USA, masalahnya pada saat itu untuk menjadi psikiater atau Prof. Bidang psikiatri, tidak perlu dokter, bisa dari psikolog, sosiolog, antropolog dsb. Yang kedua ditahun 1974 bidang psikiatri masih didominasi oleh psikiater psikoanalis atau psikiater psikososial.

Bila tertarik pada biologic, masuk saja bagian neurologi. Tetapi ternyata kemajuan-kemajuan dibidang psikiatri adalah bidang Psikofarmaka, USA dan Inggris membuat perhimpunan Psikofarmakologi. Dalam perhimpunan ini Prof. Oakley Rey (psikolog) di USA dan Prof. Hindmarch (Psikolog) dari Inggris menjadi lebih nyaman. Psikofarmakolog kemudian mempuat perhimpunan sendiri yang dinamakan CINP (Collegium Internasional Neuro Psycho-pharmacology). Bidang Psikofarmakologi adalah bidang yang wajib harus diambil bila ingin menjadi psikiater. (Dibeberapa Negara untuk menjadi clinical psychologist juga harus mendapat pendidkan psikofarmakologi.)

Saya dan Prof. K. masuk kedalah dua perhimpunan ini. CINP adalah organisasi individual, keanggautaan berdasarkan merit system, disertai dengan adanya sponsor. Keanggautaan diberikan bila ada sponsor, dan dianggap memenuhi syarat sebagai anggauta. Disamping itu iuran anggauta yang cukup mahal harus dibayar setiap tahun. Setelah dianggap mampu anggauta (ordinary member) bisa diangkat menjadi fellow member. Prof K. setelah 5 tahun tidak lagi menjadi anggauta CINP, menurutnya tak ada gunanya masuk. Bila di congress, anda sebagai Negara miskin cukup bayar 25% , sedang Member harus bayar penuh dengan discount sebanyaknya 20-25%. (Sejak 2010 Indonesia, China dan India dianggap Negara kaya atau setidaknya tidak miskin lagi).

WFBP mengadakan congress kedua di Spanyol 1978, yang pergi Prof. K. pergi dengan Dr. Bharja. Dr. YI masih berada di Australia. Ditahun 1981, Indonesia Resmi menjadi anggauta WFSBP, Dr. YI menjadi pimpinan delegasi, Prof.K menjadi anggauta, juga ikut ke Stockholm saat itu dr. Kedja Musadik (alm). Indonesia mengirim 3 orang (dengan biaya sendiri) sedangkan Malaysia mengirim 40 orang (dengan biaya pemerintah). Tapi disana Malaysia minta bergabung jadi satu, terutama pada acara social, dimana setiap negera diminta menyanyi atau menari klhas negaranya.
Pimpinan dari Malaysia umurnya baru 33 tahun, Doctor dibidang kedokteran, psikiatri dan Biochemistry, minta saya (umur 38 tahun waktu itu) menjadi wakil mereka, dengan mengatakan wakil dari Melayu. Yang dinyanyikan adalah Bengawan Solo dan Halo-halo Bandung, sebab orang Malaysia (saat itu) tak punya lagu-lagu yang praktis semua orang tahu.

(Dr. Yul Iskandar., PhD)

Satu Tanggapan to “Pendidikan dan PRAKTEK PSIKIATRI,”

  1. Makky Safna 'Kunyut' Says:

    wahhh.. psikiatri kelihatannya cuma sibuk banget ngurus organisasinya yaaa..???? kayak PSSI aja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: