Ahmadiyah dan Budha

Anak Mirza Ghulam Achmad, Basirudin yang menjadi Kalifah kedua (setelah Mirza Ghulam Achmad meningggal tahun 1908) , mengemukakan bahwa Mirza Glulam Achmad adalah nabi. Barulah pada saat itu ada pertentangan antara Achmadiyah Qodian, dan Ahmadiyah Lahore. Perbedaan lain dari agama Islam adalah pernyataannya bahwa Nabi Isa A.S ( Yesus) tidak mati di Golgota, dia hanya pingsan, setelah dikuburkan sebenarnya masih hidup, kemudian dirawat oleh sahabat-sahabatnya, dan dia baru meninggal di Khan Yar, Srinagar. Kemudian dia. . . . . .

Berbagai ajaran Budha yang terpenting yang disampaikannya di Kusinagara diantaranya Janganlah membebani dirimu dengan beban yang tak berguna, percayalah pada dirimu sendiri, janganlah bergantung pada orang lain. Pikiran pada umumnya tidak murni, Segala sesuatu yang ada didunia ini tak kekal, Manusia harus bisa mengontrol mentalnya (emosinya). Hindarkan diri dari keserakahan, jagalah tingkahmu dengan benar,
dan seterusnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/05/04/ahmadiyah-dan-budha/

His Story of Sutan Iskandar (13)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Keesokan harinya pukul 8 pagi berangkatlah otobis “Lim” jang saya tumpangi dari Medan menuju Bukit Tinggi. Dan Dari Bukit Tinggi terus ke Pariaman. Perjalanan itu akan memakan tempo 4 hari. Beberapa jam kemudian otobis berhenti di depan kantor pos Pematang Siantar, kota itu biasa disebut Siantar pun nama kantor pos hanya tertulis Siantar. Kantor posnya kecil dan tidak begitu ramai, mungkin pegawai-pegawainya sedang makan siang, karena dinasnya selalu patah (gebroken dienst). Di Prapat dan Balige ditepi danau Toba yang indah, bis berhenti lama, untuk menikmati pemandangan yang permai, Sedang beberapa kantong-kantong pos dibongkar untuk diangkut ketempat lain diantaranya dikirim ke Sibolga. Kira-kira empat hari sesudah berangkat dari Medan, datanglah kami di Bukit Tinggi. Di kantor pos dibongkar pula kantong-kantong pos yang berasal dari Medan, Siantar, Balige, Sibolga dan Tarutung. Sayapun menuju kantor pos “Fort de kock”, yang ternyata kini sedang sibuk, rupanya ekonomi di Hindia Belanda mulai berputar lagi. Kantor pos di Bukit Tinggi tidak besar dibandinngkan dengan Jakarta dan Medan.

Setelah 9 bulan melanglang buana Sutan Iskandar kembali ke Pariaman. Kota dimana dia lahir. Dia tinggal di pengajian Surau ’Tapi Air’. Di Pariaman kebanyakan anak-anak muda yang belum menikah akan tinggal di surau. Surau itu kepunyaan kakaknya lain ibu yang bernama H. Sutan Darab.
Kepulangan ini menimbulkan bisik-bisik dari para orang tua gadis di Pariaman. Sutan Iskandar, anak cerdas (dia pernah loncat kelas dari Kelas III HIS, terus langsung kekelas V) dan tampan, tetapi pengangguran, walaupun masih pegawai Pos, pulang ke Pariaman. Mari kita ’japut’ (dipinang ) oleh orang tua gadis-gadis itu.
Ada satu keluarga yang, yang punya anak bernama Hamidiah, serius untuk menjaput Sutan Iskandar. Keluarga itu adalah Bagindo Abdul Hamid, yang bekerja di SS (perusahaan kereta Api) Aceh- Medan.
Pada waktu mau menjaput, maka tentu keluarga yang wanita, mengadakan rapat sambil mencari asal –usul dari Sutan Iskandar. Pada waktu rapat keluarga itu hadir Bagindo Abdul Hamid ( dari suku Mandailing) sedangkan keluarga ibu Hamidiah berasal dari suku Tanjung. Sebenarnya pada kebanyakan pertemuan seperti itu Bagindo Abdul Hamid sebagai menantu tidak boleh ikut bicara, akan tetapi Bagindo Abdul Hamid ini merasa bahwa dia nenek-neneknya dari Siregar, dari Kota-nopan, dimana Ayah yang berkuasa pada anak gadisnya.

Dikeluarga suku Tanjung, paman-paman dari Siti Hamidiah ada yang berasal dari Ahmadiyah, Muhamadiah, Dari Persis, dan ada yang Wahabi, ada yang Sunni, ada yang Syiah.

Paman yang Achmadiah yang paling menentang Sutan Iskandar, karena tujuan dia akan dicarikan suami untuk Siti Hamidiah, seorang Achmadiah. Menurut dia, dia Ahmadiyah Lahore, yang berbeda dengan Ahmadiayah Qodian. Ahmadiyah Lahore, tidak mempercayai Mirza Ghulam Achmad sebagai nabi. Mirza Ghulam Achmad sendiri tak pernah menyebut dirinya Nabi. Menurut Ghulam Achmad pada umur 50 tahun, dia menerima wahyu kelas 2 ( wahyu tidak dibawa oleh Malaekat Jibril tapi oleh malaekat lain) yang menyatakan dirinya adalah sebagai Al-Mahdi.

Anak Mirza Ghulam Achmad, Basirudin yang menjadi Kalifah kedua (setelah Mirza Ghulam Achmad meningggal tahun 1908) , mengemukakan bahwa Mirza Ghulam Achmad adalah nabi. Barulah pada saat itu ada pertentangan antara Achmadiyah Qodian, dan Ahmadiyah Lahore. Perbedaan lain dengan agama Islam adalah pernyataannya bahwa Nabi Isa A.S ( Yesus) tidak mati di Golgota, dia hanya pingsan, setelah dikuburkan sebenarnya masih hidup, kemudian dirawat oleh sahabat-sahabatnya, dan dia baru meninggal di Khan Yar, Srinagar. Kemudian dia mengumumkan bahwa dialah Al Masih saat ini, sehingga namanya Mirza Gulam Achmad, al Mahdi, al Masih.

Selain kedua masalah itu antara Ahmadiyah dan agama Islam tidak mempunyai perbedaan. Untuk menjadi anggauta Ahmadiah, harus dibaiat,. Paman dari Siti Hamidiah, tidak mengatakan bahwa dalam baiat, harta dari keluarga yang meninggal harus diserahkan pada Ghulam Achmad, atau organisasinya untuk dikelola.

Karena Sutan Iskandar, saat itu tidak punya harta, tidak punya pekerjaan, dia pengangguran, dia sedang jatuh, maka paman dari Achmadiayah menolak Sutan Iskandar dijadikan menantu. Tapi Bagindo Abdul Hamid mengatakan paman Sutan Iskandar (kakak ibunya) adalah Damang dari Pariaman, Sutan Darwis yang mendapat bintang dari Ratu Balanda melalui GG. Menurut Bagindo Hamid kalau Sutan Iskandar jatuh, maka dia akan jatuh ke Kasur atau ke Jaring, dan tidak akan jatuh ketanah, apalagi jatuhnya hancur-hancuran, kinipun tanpa kerja dia di bayar pemerintah, yang jauh lebih besar dari kebanyakan petani di Pariaman. (Sutan Iskandar menerima 40 gulden , 75% dari gaji resminya). Bagindo Abdul Hamid mengatakan dia percaya bahwa Sutan Iskandar akan menjadi suami yang baik dari anaknya (Siti Hamidia) dan bapak yang baik dari cucu-cunya.

Pamannya yang Syiah juga menentang, dengan alasan bahwa Sutan Iskandar, tidak pernah belajar di Surau pada masa kecil. Di Pariaman golongan Syiah sebenarnya banyak, tetapi tidak secara terbuka mengatakan dirinya Syiah, suatu sekte agama Islam yang mengagung agungkan Ali bin Abi Thalib. Di Pariaman gelar tertinggi adalah Sidhi, karena Sidhi adalah ulama (kaya Ayatulah di Parsi) tetapi berkuasa memveto Sutan (Yang biasanya jadi Raja). Orang dari Syiah itu mengatakan bahwa Sutan Iskandar baru belajar di Surau pada saat ini, bukan pada masa kecil. Lagipula keluarga Sutan Iskandar kebanyakan ke-Belanda-Belandaan, dirumah saja dia berbahasa Belanda. Mereka agen-agen dan kakitangan Belanda, seluruh keluarga dari Sutan Iskandar bersekolah Belanda, Mulo atau AMS atau HBS. Tidak ada dari keluarga Sutan Iskandar yang masuk sekolah melayu atau ke Pesantren, tetapi inipun dibantah oleh Bagindo Hamid yang mengatakan bahwa bekerja mencari uang dengan menjadi pegawai pemerintah Belanda, jangan dianggap kaki tangan Belanda. Kalau kerjanya menangkapi orang pribumi, atau memeras pribumi baru bisa disebut antek Belanda. Sutan Iskandar bekerja di Kantor Pos yang melayani semua orang, termasuk orang pribumi. . (Bagindo Abdul Hamid sendiri bekerja di SS (Jawatan Kereta Api) Aceh-Medan)

Hanya satu orang, yang membela Sutan Iskandar, yaitu ulama Wahabi (H.Ali) . Dia mengatakan bahwa Sutan Iskandar sedang belajar dengan H.Sutan Darab, kakak Sutan Iskandar dari lain ibu. H. Sutan Darab (juga aliran Wahabi) mustinya dipanggil Tuangku, karena hampir lima tahun berada di Mekah, mengajar agama di daerahnya mempelajari ilmu Al Quran, Bahasa Arab, Fikih, Tauhid dan Filsafat Islam (sufi). Menurut paman yang Wahabi, Sutan Iskandar fasih berbahasa Arab, tentunya akan gampang mempelajari Qur’an. Dan jangan lupa Kakek Moyangnya Sutan Iskandar, Tuangku Tagang Tunjuk juga ulama besar (Tuanku), yng wahabi, walaupun tidak sekeras Wahabi golongan Bonjol (maksudnya Imam Bonjol)

Tidak mudah untuk menikah di Pariaman, selain Sutan Darwis sebagai Damang, tentu akan meminta macam-macam pada pihak wanita, sedangkan keluarga pihak wanita, adalah bekas-bekas keturunan anak buah Imam Bonjol yang sulit mendapat pekerjaan di pemerintah Belanda waktu itu.

Siti Hamidiah sendiri saat itu memang sedang belajar mengaji, malahan jadi asisten pengajian di Surau Tapi Air. Dia mahir bahasa Belanda, karena sekolah di HIS dan Tammat, bisa bahasa Arab, dan mulai mengajar mengaji untuk anak-anak kecil, sambil belajar tafsir. Pengajian (surau) Tapi air setengah modern, dia mendidik wanita dan laki-laki, walaupun tempatya terpisah, tapi tak sulit untuk saling berhubungan. Jadi Sutan Iskandar sudah kenal dengan Siti Hamidiah, walaupun pada awalnya beberapa utusan menemui Sutan Iskandar, pada awalnya Sutan Iskandar menolak secara halus japutan itu, soalnya dia masih pengangguran

Di bulan November dia menerima surat dari Kantor Pos besar, untuk kembali aktif menjadi pegawai PTT, awal tahun depan. Pada bulan itu pula ada pertemuan antara Sutan Darwis, H. Sutan Darab, dan Bagindo Abdul Hamid dan H. Ali (dari pihak Siti Hamidiah yang Wahabi), menyimpulakan bahwa Siti Hamidiah akan dinikahkan dengan Sutan Iskandar pada bulan Desember 1934, dengan segala adat kebesaran yang sesuai dengan martabatnya, dengan biaya dari mereka berempat. Ini berbeda sekali dengan adat-istiadat orang Pariaman yang biasanya biayanya perkawinan dan uang japutan dikeluarkan oleh keluarga pihak wanita. Begitulah Sutan Iskandar pada awal Desember 1934 menikah denganSiti Hamidiah, dengan sederhana, karena Sutan Iskandar tidak ingin baralek gadang ( perkawinan besar-besaran).

Ketika Sutan Iskandar di Bis Lim dari kota Medan, melihat gunung-gunung dan bukit bukit yang Indah, Sutan Iskandar teringat pengalamannya di Siam (Thailand). Dia tak tinggal di Bangkok, tapi di kota kecil Mae Hong Song, 100 km diutara kota Bangkok dan berbatasan dengan Birma.

Sutan Iskandar mendapat titipan dari Bagindo Amir, untuk pergi ke suatu kuil Budha, didaerah Utara Thailand untuk melihat pengobatan orang – orang yang ketagihan Candu, tanpa obat. Didaerah Utara Thailand yang berbatasan dengan Birma, candu banyak ditanam. Tetapi hebatnya didaerah itu jarang orang menderita ke-canduan, malahan ada suatu kuil Budha yang dipakai untuk pengobatan orang kecanduan.

Thailand tahun 1930-an juga menderita depresi. Di kantor pos tak ada kerjaan, lagi pula dia tak bisa bahasa Siam, tak bisa membaca tulisan Siam, jadi tak mungkin bekerja di Kantor pos. Selain itu partai-partai di Siam sangat kecil dan mati segan, hidup tak hendak. Apalagi partai sosialis Thailand, waktu itu sangat-sangat kecil.

Thailand adalah satu-satunya negara di Asia tenggara yang tak pernah dijajah oleh orang asing.Thailand suatu negara yang subur, ada pertanian, dan ada pertambangan (timah yang menonjol). Dia dikelilingi di Selatan oleh Inggris yang menduduki Malaya, di Timur sejak 1860 Perancis telah menguasai IndoCina, (Vietnam, Laos dan Kamboja.) Disebelah Barat berbatasan dengan Birma yang juga dibawah Empire British – India, Mereka bukan tidak mau masuk Thailand, malahan sangat mengebu-gebu karena ingin menyatukan Malaya-Thailand, Birma dan India dibawah Empire British – India..

Tapi Thailand sejak pemerintahan Rama V (1851-1868) telah memodernisasi negara. Semua anak Raja dan Bangsawan harus belajar di Eropah. Ketika pulang maka mereka dijadikan pimpinan tentara dan pimpinan Birokrasi yang baik. Raja sangat dipercaya rakyat, tetapi Raja bergantung pada Militer dan Birokrasi yang pada umumnya baik dan tidak korup. Ada semacam parlemen, akan tetapi tak mempunyai arti apa-apa. Sampai tahun 1930-an politikus di Thailand tidak ada yang menonjol, tidak ada gerakan yang menarik rakyat..

Dengan demikian Sutan Iskandar tidak mungkin akan bekerja di Bangkok, atau tinggal lama-lama di Bangkok. Bangkok telah mulai modern, dan lebih baik dari Batavia, sedangkan biaya hidup disana cukup mahal.

Sutan Iskandar pergi ke pedesaan, rakyat yang bersahaja, dan kehidupan yang mudah dan murah. Dan dia mendapat keterangan bahwa ada kuil Budha yang merawat orang ketagihan candu dikota Mae Hong Son,

Cara pengobatan adalah sederhana, setiap hari si Pasien direndam di-air selama 4 jam, kemudian diharuskan melakukan meditasi, dan malamnya diberi pencerahan oleh para pendeta Budha.

Bagindo Amir ingin menerapkan cara pengobatan di Thailand dengan cara pengobatan Islam di Semarang. Seperti diketahui Keluarga Oey Tiong Ham, bisnis utamanya adalah mengelola Rumah Candu, tetapi dia meminta supaya Bagindo Amir membuat Rumah Sakit untuk yang kecanduan Candu.

Kedatangan Sutan Iskandar di kuil itu diterima dengan baik, karena mereka bekerja bukan berdasarkan uang. Tidak penting apakah pasien membayar atau tidak, yang mau sembuh mengikuti ritual yang umumnya ritual agama Budha . Mereka juga menerima orang yang mau belajar pengobatan dari kecanduan candu. Malam harinya pasien –pasien mendengarkan ceramah para pendeta, yang kebetulan waktu itu menceritakan bagaimana sejarah Budha lahir.

Sekitar 2600 tahun yang lalu , Ditepi sungai Rohini didaerah perbukitan Himalaya, ada suatu kerajaan dari clan Shakya. Dan Rajanya bernama Shuddhodana Gautama. Ibukota kerajaan adalah Kapilavastu. Permaisuri bernama Ratu Maya. Ratu maya masih sepupu dari Raja, masih satu clan.
Hampir 20 tahun mereka menikah, mereka belum dikarunai anak. Suatu malam Ratu bermimpi ditemui oleh Gajah putih, Raja kemudian memanggil para ahli nujum untuk menceritakan masa depan si Bayi. Dari para ahli nujum itu ada satu yang terkenal bernama Asita, yang meramalkan bahwa bila pangeran tetap di Istana , dia akan menjadi Raja yang adil, dan disegani oleh Raja raja lain dan akan menguasai dunia. Akan tetapi bila dia keluar dari Istana dan menjalani kehidupan religious, dia akan menjadi Budha (The Saviour of the World).

Dan setelah kandungan cukup bulan dia melahirkan seorang putra yang dinamakan Siddharta (yang artinya semua keinginan tercapai) Gautama. Sayangnya kebahagian dari Raja tak lama, setelah beberapa hari melahirkan, Ratu Maya wafat. Adik Ratu Maya, Mahaprajapati yang mengasuh Sidharta.

Pada mulanya raja bersuka cita dengan ramalan itu, karena dia akan mempunyai putra yang akan menguasai dunia, paling kurang tanah Hindustan. Akan tetapi sebaliknya dia mulai cemas bagaimana bila Siddharta meninggalkan istananya, dan hidup tanpa rumah dan tempat tinggal.

Sebagaimana anak-anak raja-raja pada umur muda 5-6 tahun dia mulai diajar menulis, membaca, ilmu pemerintahan dan ilmu militer. Akan tetapi pada umur muda pikiran Siddharta sering melayang kemana-mana, terutama dia ingin tahu bagaimana sebenarnya kehidupan diluar istana.

Suatu hari dia diajak berburu oleh ayahnya, dan dihutan dia melihat burung yang terbang dan kemudian menukik ke tanah dan memakan cacing. Siddharta berkata dalam hatinya, apakah didunia luar ini, setiap mahluk memakan mahluk lainnya demi hidupnya. Dia sangat berduka pada cacing yang lemah yang dimakan oleh burung. Inilah permulaan adanya luka spiritual yang membekas sampai dewasa.

Raja mulai khawatir, bahwa Siddharta akan meninggalkan istana, dengan segala cara dia mencoba untuk mempertahankan supaya Siddharta betah tinggal di Istana. Pada umur 19 tahun Siddharta dinikahkan dengan putri yang cantik yang bernama Putri Yashodhara, yang masih sepupu dengan Siddharta. Sepuluh tahun telah berlalu, Siddharta selalu diberikan hal hal yang menggembirakan, musik, tari dan nyanyian, tetapi dalam pikirannya selalu muncul penderitaan si lemah terhadap si kuat, dan dia ingin sekali mengetahui apa arti hidup yang sebenarnya. Segala kenikmatan ini apa gunanya, suatu waktu kita akan sakit, akan tua, dan kematian akan datang tanpa bisa dihindari oleh siapapun.

Pertempuran batin ini berjalan hampir 10 tahun, sampai putranya Rahula lahir. Setelah itu sampailah beliau pada suatu keputusan untuk meninggalkan istana, untuk mencari solusi yang benar dari dialektika spiritualnya, yang menurutnya tak mungkin didapat di Istana. Dia keluar rumah dengan kuda kesayangannya Kanthaka. Tentu saja hal ini tak diinginkan oleh para iblis jahat, yang membisikkan pada dirinya, sebaiknya kamu kembali ke Istana, untuk apa bersusah-susah diluar. Akan tetapi Siddharta tekadnya telah bulat untuk mencari penerangan dalam kegelapan spiritualnya. Dia memangkas rambutnya menjadi gundul dan berjalan kaki kearah selatan.

Banyak pendeta yang ditemuinya, dan dia belajar spiritual dari berbagai guru-guru besar, dan banyak yang mengajarkan bahwa meditasi adalah salah satu cara untuk mencapai pencerahan (Enlightenment). Enam tahun dia tinggal di hutan, dengan meditasi, untuk mencari pencerahan, dia berkata pada dirinya, darah bisa tertumpah, daging bisa membusuk, tulang bisa berantakan, akan tetapi saya tak akan meninggalkan tanah ini sebelum saya mencapai pencerahan.

Perjuangannya tak sia-sia, akhirnya dia mendapat jalan pencerahan, pada waktu diperkirakan bulan Desember tanggal 8, Siddharta pada umur 35 tahun menjadi Budha. Mulai saat itu Siddharta dikenal dengan berbagai nama diantaranya Budha, Pencerahan sempurna (Perfectly Enlightened One, Tathagata, atau Shakyamuni (pendekar dari clan Shakya )

Selama 45 tahun Siddharta mengajarkan ajarannya, dan ketika dia berumur 80 tahun di kota Vaisali dalam perjalanan dari Rjagriha menuju Shravasti dia sakit, dan Siddharta tahu bahwa ahir hayatnya telah dekat.

Berbagai ajaran Budha yang terpenting yang disampaikannya di Kusinagara diantaranya Janganlah membebani dirimu dengan beban-beban berat yang tak berguna, percayalah pada dirimu sendiri, janganlah bergantung pada orang lain. Pikiran manusia pada umumnya tidak murni, berasal dari spirit yang suci, segala sesuatu yang ada didunia ini tak kekal, manusia harus bisa mengontrol mentalnya (emosinya). Hindarkan diri dari keserakahan, jagalah tingkahmu dengan benar, mentalmu harus murni, kata-kata mu dapat dipercaya itulah jalan hidup untuk berbahagia.

Pikiran manusia bisa menjadi Budha (yang baik) atau menjadi Beast (yang jahat). Berbagai kesalahan membuat manusia menjadi setan, tapi pencerahan menjadikan manusia bergerak kearah Budha. Jadi sangatlah penting untuk mengkontrol pikiran dan tindakan untuk tidak jahat, tidak tamak, dan tidak takabur. Dengan sesama harus saling menghormati, jangan seperti minyak dan air yang sulit bersatu, tetapi jadilah air dan susu, yang bisa menyehatkan manusia. Jangan menghabiskan waktumu dengan hal-hal yang tak berguna, atau dengan pertengkaran yang tak berkesudahan. Hidup ini selalu berubah, tak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri. Didunia ini tak ada permanen, Tubuh manusia bisa mati, tapi kebijakan, kebajikan dan pencerahan akan tetap kekal.

Adanya Budhisme ini menghilangkan keperkasaan kasta Brahmana, yang sangat berkuasa di India, begitu juga kitab Veda mulai ditinggal orang, yang ada adalah ajaran Budha yang dia kembangkan selama 45 tahun, dan kemudian menyebar ke seluruh Asia, ke Jepang menjadi Zen-Budhism, ke China menjadi Tao-Budhism, dan ke Asia Tenggara, yang pada umumnya menjadi Hidu-Budhism..

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory)
Dr.Yul Iskandar., PhD.

3 Tanggapan to “Ahmadiyah dan Budha”

  1. Yusuf Sudjana Says:

    Kisah penghidupan almarhum Sutan Iskandar itu sangat menarik, beliau layak mendapat penghargaan atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara Indonesia.
    Wassalam.

  2. dryuliskandar Says:

    Dia hanya pegawai biasa, kisah hidupnya menarik, dia mungkin berjasa bagi keluarganya, tetapi untuk bangsa dan negara terlalu berlebihan.
    (Dr. Yul Iskandar., PhD, penutur Kisah Sutan Iskandar)

  3. cybermagnetik Says:

    What a great web log. I spend hours on the net reading blogs, about tons of various subjects. I have to first of all give praise to whoever created your theme and second of all to you for writing what i can only describe as an fabulous article. I honestly believe there is a skill to writing articles that only very few posses and honestly you got it. The combining of demonstrative and upper-class content is by all odds super rare with the astronomic amount of blogs on the cyberspace.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: