Tan Malaka–Sjahrir-Hatta-Soekarno.

Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Tan Malaka adalah anggauta aktif Sarekat Islam (SI). Dialah yang memberi motor kekuatan politik pertama yang berteriak lantang melawan para penguasa kolonial. Di SI banyak anak-anak muda . SI mengajak rakyat untuk melawan setiap kesewenang-wenangan. Diberi nama Sarekat Islam, karena agama ini menolak untuk menjadikan orang menjadi budak. Disinilah pertama kali selanjutnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/05/01/tan-malaka%E2%80%93sjahrir-hatta-soekarno/

… .

His Story of Sutan Iskandar (12)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Sutan Iskandar menulis pada tahun 1934, sesudah kira-kira 9 bulan meninggalkan Indonesia, kapal kami meninggalkan Roterdam menuju Batavia melalui Medan. Dinegeri Belanda musim gugur baru mulai, dingin dan kadang-kadang hujan. Saat itu belum ada salju. Eropah tahun 1934 sedang menggeliat, semua bekerja dan semua tahu, perang yang hebat akan datang, cepat atau lambat. Di Jerman mereka membangun jalan-jalan licin dan lebar yang mereka namakan autobahn. Pabrik-pabrik seperti pabrik mobil bekerja keras, dan mobil-mobil itu dengan mudah diubah menjadi panser. Barang tambang, perkebunan dan pertanian juga menggeliat. Roterdam dari kota hampir mati, menjadi kota yang sibuk. Kapal-kapal ke Hindia Belanda mulai banyak, dalam satu minggu selalu ada 1-2 kapal ke Asia, baik Hindia Belanda, atau ke China. Dalam keadaan demikian saya memutuskan akan pulang, karena tak mau terjebak dengan peperangan di Eropah.

Saya tak turun di Batavia, tetapi saya turun di Belawan ( Medan). Disana saja lihat truck besar-besar memuat dan mengambil kantong-kantong pos ke kapal dan dari kapal. Rupanya di Hindia Belanda telah mulai ada yang menggeliat, dan ini terlihat dari keaktivan di kantor pos. Sejak tahun 1930 pekerjaan di kantor pos makin berkurang, tetapi kini truck-truck mempunjai merk P.T.T. besar-besar mondar mandir mengambil barang kiriman dari Roterdam. Supirnja dan mandornja memakai merk P.T.T pula pada lengan bajunja jang terbuat dari benang emas. Girang pula hati melihat pegawai-pegawai Pos masih aktif dan ada dimana-mana.

Saja masih merasa sebagai seorang pegawai dan seorang pegawai adalah seorang yang mempunjai harta benda,(Wie een betrekking heft, heft eenbezitting). Dengan menumpang kereta api dan dalam kira-kira seperempat jam sampailah saja di ibu kota Tanah Deli (Medan).

Deli jang masjur dengan kebun tembakaunnja, hanya sayang kepunyaan orang asing dan buruhnya bangsa kita. Kantor besar pos Medan tidak lupa dijenguk. Beberapa kenalan jang dahulu pernah bekerdja di kantor pos Jakarta kelihatan sekarang di kantor pos Medan sedang menjiapkan ikatan lewat (passé bundle) dan sedang mengisi buku R.7 dan menulis R.6 dan menyiapkan kantong-kantong R. jang akan dikirim.

Di loket-loket tidak kurang sibuknya nona-nona manis pegawai P.T.T. jang masih muda juga yang laki-laki berpakaian bersih serta sopan santun layanannya. Menurut aturan umum (publiek), adalah raja, dan sebaliknya umumpun harus sopan santun pula terhadap pegawai P.T.T. yang sedang menjalankan tugasnya, kalau tidak, tentu bisa terjadi perselisihan. Di jalan raya di kota Medan orang kelihatan seperti pada waktu hari raya (lebaran) saja, karena laki-laki perempuan, tua muda orang-orang berpakaian bersih dan bagus-bagus, pakaian yang lazim dipakai raja-raja di tanah Melayu, dipakai di kota Medan setiap hari. Bukankah hal ini satu dari “Deli macam”.
Kawan-kawan di Medan waktu bertemu dengan Sutan Iskandar menanyakan dari mana saja. Tentu tak diceritakan bahwa dia telah melanglang buana sampai Eropah selama 9 bulan.

Diawal tahun 1920-an di Semarang ada Kongress Sarekat Islam (SI). Oey Tiong Ham melalui Bagindo Amir mengumpulkan orang –orang minangkabau yang ikut congress SI ini di suatu restoran Belanda.

Oey Tiong Ham, adalah raja gula dari Jawa, sebenarnya keberuntungan dia dimulai ketika dia diangkat menjadi ‘letnan’ Cina di Semarang. Dia berhasil mengumpulkan orang –orang Cina, dan dia juga diberi wewenang mengelola Candu, dan membuat rumah Candu di Semarang. Dari hasil itu dia mulai merambah ke bisnis perkebunan seperti karet, tembakau dan gula. Karena keberhasilannya dia dinaikkan pangkat menjadi Kapten oleh Belanda. Sumber keuangan terbesar adalah dari Candu, dari sana dia memberikan sumbangan untuk sekolah sekolah di Indonesia dan di Singapura. Di Singapura dia melaui agennya Lee Hoon Leong, memberikan sumbangan 15.000 Gulden tiap bulan untuk bantuan pada Rumah Sekolah Raffles. Dia paling suka menyumbang pada Rumah Sekolah dan Rumah Sakit.

Dari yang ikut kongress itu, Sutan Muhamad Zain, mewakili dari Persatuan Guru, Zairin Zain dan Sutan Iskandar ikut Sutan Muhamad Zain. ,Pada pertemuan SI itu ada pemuda Minang yang kelihatannya cerdas dia adalah Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Tan Malaka adalah anggauta aktif Sarekat Islam (SI). Dialah yang memberi motor kekuatan politik pertama yang berteriak lantang melawan para penguasa kolonial. Di SI banyak anak-anak muda . SI mengajak rakyat untuk melawan setiap kesewenang-wenangan. Diberi nama Sarekat Islam, karena agama ini menolak untuk menjadikan orang menjadi budak. Disinilah pertama kali Sutan Iskandar mengenal Tan Malaka, yang waktu itu dia masih memakai baju aktivis SI, dan belum ada tanda-tanda bahwa dia seorang komunis. Ide Tan Malaka adalah luar biasa, dia ingin mempersatukan Indonesia yang lebih luas ( Greater Indonesia =Indonesia Raya), gaya bicaranya sangat fasih dan tajam.

Pada pertemuan SI di Semarang tahun 1920-an, ada anak-anak muda Sukarno, Tan Malaka, Zairin Zain, Sutan Iskandar, tetapi Hatta dan Syahrir tidak ada. Mungkin pula Hatta dan Syahrir waktu itu masih di negeri Belanda, atau mereka tak pernah tertarik pada organisasi politik gado-gado. Didalam SI Ada yang berasal dari lingkungan intelektual atau guru, ada dari lingkungan feodal, malahan ada bibit-bibit komunis (bolsewijk) seperi Semaun yang juga masuk ke SI.

Para pemimpin muda tahun 1920-an yang akan memimpin Indonesia sudah bisa ditebak. Sukarno adalah yang terpintar, diantara segala pemimpin, dia orator ulung, tapi kelemahannya adalah masalah uang, wanita dan tak mau memasuki masalah-masalah detil. Dia menjadi Insinyur menandakan bahwa dia sangat cerdas, dengan kondisi dibawah tekanan Belanda dia masih bisa menamatkan HBS di Surabaya, dan IR nya di Bandung.

Hatta adalah tipe pemimpin pendiam, kurang beragitasi, tetapi lebih teliti adminisatrasi dan masalah detil. Afair-afairnya dengan wanita jarang didengar, begitu juga masalah keuangan dia sangat hati-hati. Sulit menemukan kelemahan Hatta, kecuali dia kurang terkenal, karena bila dia pidato orang lebih banyak orang mengantuk.

Syahrir adalah tipe pemuda yang menyerupai Sukarno, dia menyukai wanita, dan disukai oleh wanita, dia pernah sekolah di negeri Belanda, menikah dengan orang Belanda. Sekolahnya tidak tamat, karena melihat kekosongan kepemimpinan di Indonesia. Syahrir bicaranya halus, tidak menggelegar, kalau menulis menjelimet sehingga orang awam sukar mengerti. Dia jarang bicara pada rapat umum, tapi lebih banyak berbicara pada 10-20 orang kelompok pemuda. Kalau dia bicara semua kagum kepadanya, karena semua hal dia ketahui, tapi sayang dia tak menyelesaikan sekolahnya.

Tan Malaka adalah sosok yang cerdas. Tetapi sering terlalu percaya diri. Musuhnya lebih banyak dari kawannya. Moh Yamin adalah salah satu kawan seperjuangan dari Tan Malaka. Banyak ide-ide Tan Malaka yang diperjuangkan oleh Mr. Moh.Yamin. Tan Malaka orangnya misterius, kita tak pernah mendengar akan affairnya dengan wanita, dan malahan kehidupannya sangat sederhana. Dari Ke empat pemimpin itu hanya Tan Malaka yang benar-benar mengenal para buruh dan para petani yang miskin. Syahrir atau Hatta dan Sukarno semuanya memperjuangkan rakyat miskin, tapi mereka lebih banyak duduk dikursi salon yang halus.

Pada tahun 1920-an Tan Malaka mulai terjun ke dalam gelanggang politik. Tadinya dia ingin bekerja sebagai guru. Tapi melihat penderitaan Rakyat Indonesia ,dengan semangat yang berkobar dari sebuah pondok miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda di SI. Selain itu juga merancang suatu bentuk pendidikan bagi anggota-anggota SI untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader kepemimpinan, serta ajaran ideologi perjuangan yang revolusioner, Dia dikenal karena keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang mengadakan kursus-kursus sedemikian dan mengambil tindakan tegas.
Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencarian di dunia kapitalis (menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu Bagindo Amir dari uang Ouy Tiong Ham Concern, banyak menyumbang untuk mendirikan sekolah. Dengan bantuan para donatur dan dasar perjuangan sekolah-sekolah SI itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar dan makin banyak

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Pemberontakan PKI 1926 yang dirancang oleh segelintir orang-orang PKI, merupakan bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Tan Malaka dan para aktivist sangat marah pada PKI, dengan rancangan ‘prambanan’, untuk melakukan pemberontakan bersenjata diseluruh Indonesia. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan rakyat pakai golok dan batu, di beberapa daerah di Indonesia, di Sumatara Barat dan Banten.. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan dengan alasan anggauta komunis atau simpatisan komunis. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjuangan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun. Hatta dan Syahrir yang tak tahu menahu, dianggap komunis dan dibuang ke Digul.

Selama sembilan bulan itu saya telah berkelana dari Singapura sampai ke Eropah. Sebagai seorang yang 5 tahun bekerja di kantor pos, saya tahu bahwa selalu ada pekerjaan part-time, di kantor pos. Selain itu saya telah bergaul dengan orang Sosialis- komunis selama hampir 5 tahun. Saya tahu dimanapun, selalu ada kantor partai, dan bila anda mengatakan anda adalah sosialis, tempat tidur, tempat istirahat dan makan pasti tersedia. Semua orang sosialis merasa dirinya adalah saudara. Tapi hati-hati Sosialis ada yang kiri sekali, kiri tengah, tengah, kanan tengah dan kanan sekali. Walaupun dasarnya adalah Marxisme akan tetapi sangat berbeda dalam penerapannya, dan anda dapat kesulitan bila salah masuk dan salah bicara.

Di tahun 1930-an, di kantor sekertariat partai sosialis, selalu ada pekerjaan, dan mereka menganggap semua orang sosialis adalah bersaudara. Orang sosialis tak mengenal istilah negara, jadi pada umumnya mereka bersifat internasional. Pada saat itu kaum kominis (Bolsjewik) dari Uni Soviet belum kuat benar.

Di Singapura Sutan Iskandar bekerja part timer selama satu minggu di kantor pos, sambil mengurus surat-surat untuk berpetualang ke Eopah. Dari Singapura dia naik kereta api ke Kuala Lumpur, yang pada saat itu masih kota kecil yang tak berarti. Kuala Lumpur ditahun 30-an, sama seperti kota-kota lain di Sumatra, seperti Bukitinggi. Kota yang ramai adalah Malaka dan Penang, dimana lebih banyak orang cina dari orang melayu. Dari sana meneruskan diri ke Bangkok, Thailand, Birma, India, Afganistan, Persia (Iran), Irak, Turki (Istanbul), Romania ( Bucharest), Hongaria (Budapest), Austria (Viena), Jerman, Munich (Munchen) sebelum ke Strassbourg di Perancis, dia mampir dahulu di Zurich, (Swiss) dan terus ke Milan, dan Roma diItalia. Dari sana kembali ke Nice, Nacy dan berakhir di Paris.

Dari Paris dia pergi kenegeri Belanda dengan kereta lain.. Sutan Iskandar membawa surat, surat perjalanan laksana Paspor yang dibuat di Singapura (jadi dianggap sebagai warga negara Inggris) berkat bantuan dari Lee Hoon Leong, dan paspor Inggris ini sangat membantunya sehingga tak banyak kesulitan dalam urusan Visa, malahan banyak negara sebagai warga negara Singapura-Malaya (Warga negara Inggris) tak memerlukan visa untuk masuk kenegaranya. Pada buku tulisan kami tahun 1953, saya tak menceritakan masalah ini, karena saya merasa tidak pantas menceritakan ini karena pegawai negeri Hindia Belanda, membuat paspor Singapura (sebagai warganegara Singapura) , bepergian ke luar negeri adalah suatu pelanggaran berat, dan saya tak ingin mendapat konsekwensi dari masalah itu. Tak ada seorang pun yang tahu, saya hilang selama 9 bulan, dan tak pernah menceritakan pengalaman ini kepada siapapun, kecuali sekarang ini.

Dibandingkan kereta api, Belawan –Medan, dan Singapura –Kuala lumpur, ternyata kereta Api Belawan –Medan Lebih bagus dari Singapura –Kuala Lumpur (ditahun 1930-an). Kereta api yang paling buruk adalah di India, dan di Afganistan, dan yang terbaik tentu saja kereta terbaik adalah Orient Express dari Turki sampai Paris. Dari Afganistan melalui Persia sampai Irak, kereta tidak terlalu baik, sering berhenti senaknya. Semua orang hanya bisa bahasa Pusthum (bahasa Afganistan) atau bahasa Parsi. Di Bagdad orang bicara bahasa Arab. Penumpangnya banyak yang menghisap Hashis (Ganja) di Kereta Api. Keadaan dunia saat itu sedang depresi, semuanya sangat murah, baik penginapan maupun angkutan. Saya membawa bekal 1000 gulden (dari tabungan saya) dan ditambah 500 Pound Sterling dari Lee Hoon Leong, serta 100 gulden bekal dari Bagindo Amir. Selama 9 bulan bertualang saya masih menyisakan uang sebesar 150 gulden, akan tetapi tentu saja dibeberapa tempat saya bekerja serabutan, di Bangkok, Rangoon, Bagdad, Istanbul, Budapest, Roma, Paris, Berlin, maupun di Amsterdam.

Ketika Sutan Iskandar di Roma, disana dia menjadi penjual koran. Situasi ditahun 1934 di Eropah, seperti Roma sangat gegap gempita. Baru saja ada pemimpin baru yang sangat populer yaitu Mosolini. Karena tiap hari ada berita baru, maka koran selalu jadi rebutan, dan Sutan Iskandar bekerja sebagai penjual koran saat itu.

Kota Roma didirikan 2500 tahun yang lalu, suatu kota yang sangat tua. Bagi orang timur kerajaan di Barat terkenal adalah kerajaan Romawi, negara manapun asalnya disebut dari Romawi (bangsa Rum). Iskandar Zulkarnaen dari macedonia juga dianggap dari Romawi. Walaupun ibukota kemudian dipindahkan ke Konstatinopel (Istanbul) Turki, mereka masih menganggap dari Romawi. Oleh sebab itu negara Turki masih dianggap penerus negara Romawi pada zaman itu.

Roma ditahun 1930-an selain terlihat sibuk dengan pasukan-pasukan yang disiplin, akan tetapi turis-turis, khususnya dari Amerika Serikat cukup banyak mengunjungi Roma. Banyak diantara mereka yang tak pernah berpikir bahwa suatu waktu Amerika akan menyerang Italia. Bagi orang Amerika orang Italia adalah sekutu mereka. Banyak orang Italia yang pindah ke Amerika untuk memperbaiki nasib.

Bagi yang senang dengan peninggalan kebudayaan, melihat koleseum, membayangkan manusia melawan singa, membayangkan Caesar Nero membakar kota Roma, merupakan pengalaman yang luar biasa. Sayangnya Sutan Iskandar tidak berani menceritakan kepergiannya kepada kawan-kawanya, karena takut akan berbuntut panjang. Dia haya cerita bahwa agak lama di Singapura. Bagi orang Medan Singapura tahun 1930, adalah sebagai kota pulau kecil yang tak berarti.

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory)
Dr.Yul Iskandar., PhD.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: