Kausa

Kausa adalah sesuatu yang mendahului suatu peristiwa lain, secara pasti, secara tak berubah-berubah, secara langsung, serta yang diketemukan dengan penetapan empirik. Jadi, apabila antara dua fakta (peristiwa) A dan B, terdapat suatu urutan kejadian yang pasti, dan tak berubah-rubah, dan langsung, serta yang dapat disaksikan secara empirik, maka biasanya fakta (peristiwa) A dianggap memiliki kedudukan kausa atau mempunyai relasi kausatif dengan atau terhadap fakta (peristiwa) B. selanjutnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/04/27/kausa/

Kusumanto-Yul Iskandar 43.
Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006-2009. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.

Kausa adalah sesuatu yang mendahului suatu peristiwa lain, secara pasti, secara tak berubah-berubah, secara langsung, serta yang diketemukan dengan penetapan empirik. Jadi, apabila antara dua fakta (peristiwa) A dan B, terdapat suatu urutan kejadian yang pasti, dan tak berubah-rubah, dan langsung, serta yang dapat disaksikan secara empirik, maka biasanya fakta (peristiwa) A dianggap memiliki kedudukan kausa atau mempunyai relasi kausatif dengan atau terhadap fakta (peristiwa) B. Lagi pula, jika urutan peristiwa itu terjadi secara pasti, tak berubah-berubah, langsung, dan dapat disaksikan, tanpa terjadinya suatu faktor intervensional (observable intervening factor), maka kita akan lebih yakin akan kebenaran dari pada kausa atau relasi kausatif itu.

Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966

Cognitive Behaviour Therapie (CBT).

Pas: Saya mempunyai banyak problem. Untuk memecahkan masalah anda harus tahu, apa penyebab masalahnya (kausanya).
Dokter: Kadang-kadang tidak mudah anda mencari penyebab masalah (penyakit), mungkin sampai pada kesimpulan yang salah.
Pas: Misalnya.
Dokter : ada beberapa kemungkinan, kemungkinan pertama adalah mencari penyebab dengan cara magik dan mistik, penyebab kedua mencari kambing hitam orang lain sebagai penyebab, yang ketika anda mencari penyebab, sampai lelah dan kolaps dan sampailah pada kesimpulan bahwa masalah ini tidak mungkin dipecahkan.
Pas: Itulah yang terjadi pada saya, yang terakhir, sehingga saya sakit.
Dokter: Sebenarnya ada dua problem cognitive ( thinking) problem dan emosional problem. Pada umumnya anda tidak dapat mengindentifikasi emosional problem dan menganggap bahwa adalah cognitive problem.
Contohnya: Bila anda berhutang, dan kemudian menutup hutang dengan mencari hutang baru, anda menganggap bahwa itu adalah cognitive problem. Padahal mungkin lebih banyak emosional problem, misalnya rasa takut (disita), dipermalukan (didepan khalayak ramai) dan berbagai emosi yang menyertainya. Jadi bukan hutang itu benar yang menjadi masalah, tetapi emosi yang menyertainya yang sering membawa penyakit.
Pasien: Jadi bagaimana saya mengetahui penyebab masalah.
Dokter: Baik kita lihat suatu permasalahan A. Permasalahan ini bisa suatu tingkah laku, situasi yang sedang dihadapi, musibah yang datang tiba-tiba, atau apa saja yang membuat anda harus bereaksi. Reaksi yang terjadi katakanlah B. B adalah reaksi emosional yang terjadi sebagai konsekwensi adanya A, B bisa berupa emosi (menangis, takut, gembira, merasa bersalah dll) atau suatu suatu tindakan tingkah laku, memukul, menendang, lari, bersembunyi dll.
Anda menganggap bahwa adanya A adalah wajar kalau lalu ada B.

Aku pandangi dia. Matanya benar-benar menyorot tajam, memandangi dan menelanjangi tubuhku. Tentu saja hatiku bangga ada orang terkagum melihat keindahan badan saya. Si Pemuda itu tak lepas-lepasnya memandangi aku. Aku mulai risih. Pandangannya semakin lama semakin lain , semakin nakal. Naluriku berkata, dia tertarik secara seksual padaku, dan barangkali ini kesempatan untukku untuk mencoba berpetualang, membalas petualang suamiku. (kasus Indri 1, lihat blog mengenai kasus Indri))

Dalam situasi itu Indri merasa anxietas, perasaan takut dan cemas akan apa yang akan terjadi benar-benar realistic, membuat anda benar-benar terganggu. Anda menganggap reaksi B adalah wajar, rasa risih, bercampur dengan deg-deg-an, nafasnya mulai agak tidak teratur, membuat Indri harus berpikir, apakah ia keluar dan pergi dari situ, atau menunggu saja apa yang terjadi. Jadi B adalah suatu moment dimana segala keputusan yang harus diambil. Pertanyaan pada Indri adalah, mengapa, mengapa saya punya perasaan dan emosi demikian.

Bila dalam keadaan normal, artinya Indri tak menaruh dendam pada suaminya, dan hubungan dengan suaminya baik-baik saja, maka dia akan melihat orang secara normal-normal saja. Artinya setelah ada kejadian A sebenarnya ada C, dimana keadaan anda, pemikiran anda, emosi anda akan bermain, C adalah keyakinan, situasi, pikiran, imaginasi, dan interpretasi yang membuat A menjadi B. Contoh bila di Toko itu sangat ramai (situasi tak memungkinkan) , Indri tak punya dendam pada suaminya ( pikiran), melihat si anak muda tidak muda lagi (imaginasi), atau perbuatan itu akan mengakibatkan dosa (kepercayaan), maka B tidak akan terjadi.

(Yul Iskandar, 2006)

Oleh karena itu, maka sebetulnya yang penting bukanlah kausa “ansich”, melainkan relasi kausatif, yang boleh disebutkan manunjukkan adanya urutan kejadian yang bersifat uniform. Hal ini penting dipastikan lebih dahulu, agar kita jangan terjerumus dalam sikap a priorisme yang berkata, bahwa ada terdapat suatu hubungan langsung yang unidimensional antara kausa dan akibat. Hal ini terutama sekali penting dalam segala ikhtiar yang serius, yang bermaksud menjelaskan relasi antara jasad dan jiwa, karena tetap kita akan selalu dihadapkan kepada pertanyaan sentral yang amat intensif, yaitu apakah sebabnya maka suatu “dwi hal” (yang satu bersifak fisik, dan satunya bersifat mental) dapat berada dalam suatu relasi kausatif ?

Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966

Menarik sekali bahwa untuk menyelesaikan masalah itu dibuatlah ilmu baru yang dinamakan psiko-somatik. Adanya ilmu itu menunjukkan bahwa si dokter percaya pada konsep dualistic, dimana fisik bisa mempengaruhi mental, sebaliknya mental bisa mempengaruhi psikis. Dari segi ilmu tentu hal itu menarik, tetapi dalam kenyataan dilapangan dengan stigma yang keras dari para psikiater, hampir 75% pasien dari penyakit dalam tak akan mau ke psikiater. Bila dokter yakin bahwa gangguan itu adalah gangguan mental, maka diagnosis nosologik, bisa kita masukkan pada pasien itu tanpa kita harus terikat pada pengobatan dibidang medis. Pasien dengan keluhan nyeri lambung, dimana tidak didapatkan gangguan yang berarti di labungnya, maka tidak perlu mendapat label psikosomatik, akan tetapi mungkin dia menderita Anxietas Panic-Disorder atau Depresi. Pengobatan dengan CBT dan Psycho- Pharmacologic lebih sering membantu pasien, dari cara pengobatan yang lain.
(Dr. Yul Iskandar,2006)

Dalam ikhtiar kita untuk menjawab persoalan ini, ada baiknya kita melihat dan menyaksikan kepada suatu eksperimen empirik yang amat sederhana, yang mungkin dapat menghasilkan petunjuk-petunjuk yang tak langsung. Adapun eksperimen yang dimaksud itu ialah observasi terhadap sikap mental kita sendiri dalam suatu situasi yang terang, dan perubahan sikap mental kita akibat situasi yang terang tadi, sekonyong-konyong menjadi gelap.
Pemadaman lampu yang mendadak itu, merupakan suatu fakta fisik materialistic. Sikap mental kita adalah suatu fakta mental. Kedua-duanya berubah, dan terjadi menurut suatu urutan yang pasti dan langsung.
Dari pada daya kemampuan kita menangkap visual secara leluasa (demikian pula sikap mental kita bersifat leluasa), kita sekonyong-konyong berubah kepada suatu daya kemampuan yang tidak dapat menangkap stimuli visual sedikit pun juga (dan demikian pula, maka sikap metal kita pun berubah menjadi menyempit). Perubahan yang sebaliknya, kita jumpai apabila suasana gelap gulita, kemudian sekonyong-konyong berubah menjadi suasana terang benderang. Pemastian tentang perubahan fisik, yang kemudian diikuti oleh perubahan mental, dapat dialami oleh setiap orang diantara kita, misalnya sewaktu mengalami pemadaman listrik berkala, ataupun jika kabel listrik putus secara mendadak.
Dengan perkataan lain : urutan peristiwa ini rupa-rupanya bersifat uniform, sehingga antara peristiwa pemadaman listrik dan akibatnya, yaitu penyempitan sikap mental, terdapat suatu hubungan kausatif.
Demikianlah, maka jika kita bermaksud untuk menulis sebuah surat pada seorang kawan, dan kemudian maksud itu benar-benar diikuti oleh aktivitas menulis sebuah surat, maka kita pun menghadapi kejadian-kejadian yang ada relasi kausatif satu dengan lainnya.
Semua hal yang disebutkan diatas adalah eksperimen-eksperimen empirik. eksperimen-eksperimen itu dapat kita ulangi dan dapat kita usahakan bentuk-bentuk variasi yang tidak terhingga jumlahnya. Oleh sebab itu, maka cukuplah kiranya penjelasan-penjelasan tentang adanya dan dapat disaksikannya percobaan-percobaan dari pada sesuatu sifat mental yang diakibatkan oleh sesuatu yang bersifat fisik; dan sebaliknya. Ini adalah suatu prinsip penting dari pada relasi interaksional.

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Abbreviations guideline WFSBP (3)
This paragraph is Abbreviations from guideline for the biological, pharmacological treatment of acute bipolar depression. We omitted, (Yul Iskandar 2009 ) the length of discussion, and the name of reference , for full version please see the original manuscript..
This practice guideline for the biological, mainly pharmacological treatment of acute bipolar depression was developed by an international Task Force of the World Federation of Societies of Biological Psychiatry (WFSBP) and is part of a series covering the acute treatment of mania, bipolar depression and maintenance treatment of bipolar disorder. The preparation of these guidelines has not been financially supported by any commercial organization.

Olanzapine
Efficacy
Olanzapine was the first atypical antipsychotic tested in a randomized, controlled 8 week trial. Both olanzapine and the fixed combination of olanzapine and fluoxetine (OFC) were superior to placebo treatment. Olanzapine monotherapy separated from placebo in the MADRS total score, but was not superior on the core depressive items, such as reported sadness, apparent sadness, and inability to feel whereas OFC also significantly improved these items. In a comparator trial, OFC was also superior to lamotrigine in several outcomes. These results were the basis for approval of a fixed olanzapine/ fluoxetine combination preparation for bipolar depression by the FDA, whereas olanzapine monotherapy has no label for bipolar depression.
Safety,Tolerability and Practicability
As far as other tolerability issues are concerned, olanzapine was generally well-tolerated as an acute treatment. Somnolence and dizziness were associated significantly more frequently with olanzapine treatment than with placebo. EPS however, were not significantly more frequent when compared to placebo independent from dosage. Anticholinergic side effects like dry mouth or constipation occurred in the controlled studies. Olanzapine seems to have a very safe cardiac profile, in none of the olanzapine trials significant QTc prolongations have been observed. However, with intramuscular injections of olanzapine, there is an increased risk of respiratory arrest when patients are on concomitant benzodiazepines.
Recommendation
Both olanzapine and OFC showed efficacy in one double blind, placebo controlled trial, corresponding to a CE “B” and RG “3”. However, if a choice has to be made between these two, OFC appears clearly to be the more effective alternative with a much faster onset of antidepressant action.
Quetiapine
Efficacy
The record of quetiapine in acute bipolar depression is substantial: Five out of five double blind, placebo controlled studies showed efficacy for quetiapine 300 or 600 mg/d, four of them using the immediate release formulation. Quetiapine was effective both in Bipolar I and II depression with or without rapid cycling. Although patients with psychotic symptoms were not excluded, there is no information on the proportion of patients with these symptoms, and whether their outcome differed from the patients without psychotic symptoms.
Safety,Tolerability and Practicability
Extrapyramidal side effects were assessed using the Barnes Akathisia and the Simpson Angus Rating Scale for Parkinsonism; no significant differences between quetiapine, placebo or comparator drugs (in two trials) with respect to EPS were observed in single studies. Cardiac tolerability was also good, and no significant QTc prolongation was observed when compared to placebo.
Recommendation
Consistent positive results in 5 placebo-controlled monotherapy trials merit a CE “A” for quetiapine in bipolar depression. There are some concerns about somnolence, weight gain and metabolic issues, but not to a degree that would impact the grade of recommendation for short-term acute treatment. Thus, the corresponding RG is “1”. That said, there is a definite future need for effectiveness trials and naturalistic audit of clinical experience to confirm quetiapine’s utility.

(Yul Iskandar, 2009)

Suatu prinsip penting lainnnya ialah asas yang bermaksud menjelaskan bagaimana kita harus membayangkan energi yang mengalami konversi dari pada alam fisik ke alam mental; dan sebaliknya. Hal ini memang sukar sekali dibayangkan, terutama jika kita tetap mau menerima dalil bahwa prinsip konversi itu benar. Dalam hubungan ini Freud sendiri dilaporkan pernah menyebutkan bahwa loncatan energi dari pada alam fisik ke alam mental itu merupakan “einen ratselhaften Sprung”. Mungkin apa yang disarankan oleh Freud ialah pendapatnya, bahwa pada dasarnya ia tidak mengetahuinya. Tetapi mungkin pula bahwa ia mengajak kita untuk berpikir tentang adanya kemungkinan suatu “faktor X” yang tak diketahuinya itu. Ia sendiri kemudian mengusulkan secara serius untuk dipertimbangkannya suatu faktor baru, yaitu alam tak sadar. Bagi mereka yang tergolong meyakini realistic, maka mungkin “faktor X” itu ialah struktur organik; dan golongan mereka yang berpendapat tentang kebenaran relasi idealistic berkata, bahwa apa yang harus dianggap sebagai sebab dasar ialah salah satu “instansi jiwa” tertentu.
Selama masalah relasi jasad dan jiwa ini belum diselesaikan, maka dalam ilmu kedokteran umum, dan khususnya dalam ilmu kedokteran jiwa, kita harus menetapkan dasar sementara, untuk dapat bertindak menghadapi problematic-problematik kedokteran secara bertanggung jawab dan seimbang. Dasar sementara ini berdasarkan uraian-uraian yang dikemukakan diatas, ialah tinjauan interaksional.
Lebih lanjut lagi dalam alam pikir tinjauan interaksional ini, dapat ditegaskan disini, bahwa kami menjunjung tinggi soal kesadaran (consciousness) dalam manusia serta menempatkannya pada suatu kedudukannya yang istimewa. Kesadaran manusia tidak hanya hendak ditafsirkan sebagai suatu hal yang mampu berdaya kreatif dan konstruktif. Ikhtiar penetapan kesadaran ini kami anggap sah dan wajar, oleh karena kesadaran itu dialami secara langsung oleh tiap-tiap individu dan dalam tiap-tiap eksistensi individual.
Dipihak lain, kami juga menerima asas bahwa struktur-struktur organik, khususnya struktur-struktur organik cerebral, dalam suatu bentuk atau taraf tertentu yang belum dapat dipastikan kedudukannya seluruhnya, merupakan syarat-syarat tertentu (yang juga belum pasti bagaimana kepentingannya seluruhnya), bagi penyelenggaraan kesadaran manusia yang optimal.
Dengan demikian, maka kami berpendaapat bahwa alam kejiwaan atau alam mental kita mampu memberikan sumbangan-sumbangan yang positif produktif dan kreatif orisinil; bukan sekedarnya merupakan penyalur atau distributor dari pada daya energi fisik yang terikat pada struktur organic materialistik otak.
Sebab, jika tidak demikian halnya, maka agak sukar kiranya untuk mempertanggungjawabkan apakah sebabnya, maka umat manusia dalam sepanjang sejarahnya itu telah berhasil memberikan sumbangan-sumbangan yang bernilai, yang orisinil, dan yang bertaraf integrative lebih tinggi, dan oleh karena itu lebih bermanfaat untuk umatnya. Oleh karena itu, maka kami berpendapat bahwa alam mental dan aktivitas mental merupakan hal-hal yang ada relasinya yang erat dengan kesadaran mental, yang kita ketahui dapat memberikan sumbangan-sumbangan yang produktif dan kreatif, dan oleh sebab itu dapat dianggap merupakan suatu sumber energi tersendiri. Istilah seperti “menggali alam budaya” “menggali alam pikiran” yang kekayaannya tidak terhingga, semuanya merupakan ucapan dan sebutan yang popular, yang akhirnya juga tidak dapat diabaikan begitu saja maknanya tetapi pasti mengandung arti simbolik mendalam.

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Abbreviations guideline WFSBP (4)
This paragraph is Abbreviations from guideline for the biological, pharmacological treatment of acute bipolar depression. We omitted, (Yul Iskandar 2009 ) the length of discussion, and the name of reference , for full version please see the original manuscript..
This practice guideline for the biological, mainly pharmacological treatment of acute bipolar depression was developed by an international Task Force of the World Federation of Societies of Biological Psychiatry (WFSBP) and is part of a series covering the acute treatment of mania, bipolar depression and maintenance treatment of bipolar disorder. The preparation of these guidelines has not been financially supported by any commercial organization.
Other atypical antipsychotics
Evidence for efficacy of other antipsychotics is currently scarce, but this may change rapidly over the next years. For aripiprazole, two negative controlled studies in bipolar depression have been reported. Although aripiprazole seemed to enhance improvement from week 1-6, it was not better than placebo at week 8 (study end point) (CE”E”). The previously mentioned proof-of-concept study of treatment resistant bipolar depression as part of the STEP-BD program, found a recovery rate as low as 4.6 % for risperidone (1/5 of what was found for lamotrigine), questioning the efficacy of risperidone in bipolar depression.
Two monotherapy studies and one add-on trial for ziprasidone have been finished recently and the results were negative for monotherapy. For other antipsychotics, no data from double-blind, randomized studies exist. Whereas augmentative effects of typical and atypical antipsychotics have been repeatedly described in treatment refractory depression, depressive symptoms in schizophrenia and schizoaffective disorder, there are no controlled data available in bipolar depression.
Augmenting strategies
Of possible augmentation strategies, i.e. add-on treatments that are not necessarily effective in monotherapy, the combination of modafinil (100–200 mg/day) with lithium, valproate or ongoing antidepressants was supported by one placebo-controlled trial (CE B, RG 3). Interestingly, no increased rate of TEAS was observed despite the supposed dopaminergic effects of modafinil.
Additionally, a fair number of novel add- on treatments have been examined in bipolar depression including inositol (CE D), zonisamide, (CE C1, RG 4), topiramate (CE C1, RG 4), omega-3 fatty acids (CE D, RG 5), FEWP together with carbamazepine (CE B, RG 3) and, more recently, N-acetyl cysteine (CE B, RG 3).
If no sufficient treatment response is observed despite sufficient trials with so called “mood stabilisers”, some atypical antipsychotics and antidepressants, high dose L-thyroxine may also be an augmentative treatment of choice (CE C1, RG 4). However, somatic, especially cardiovascular side effects may vary considerably and this strategy should only be applied in treatment-refractory patients and under informed medical surveillance.
Non-pharmacological, biologically –based treatments
As a chronobiological intervention strategy, sleep deprivation combined with sleep phase advance protocol is as efficacious in bipolar depression as in unipolar depression (CE C1, RG 4), however poorly studied for this indication. When not combined with a mood stabiliser, the risk of TEAS is around 10 %. It is generally recommended to start the patient on an antimanic medication before sleep deprivation. In summary, sleep deprivation could be considered as an additional therapeutic means to speed up response.
Exercise is of established efficacy in unipolar depression. There is only one non-randomised trial of exercise in bipolar disorder that suggested efficacy. Exercise nevertheless assists in the management of the metabolic syndrome and as part of activity scheduling and enhancing self-efficacy.
Although controlled data are limited for bipolar depression, the most successful non-pharma¬cological treatment modality in depression is still electroconvulsive therapy (ECT) (CE C1, RG 4). Especially in very severe and psychotic depression, or in depression with severe psychomotor retardation, ECT has a major role .
Protective lithium co-administration may be considered but could in¬crease the risk and duration of a transient post¬-ECT delirium. However, relapse- preventive medication needs to be initiated once a course of ECT has been finished. Thus, ECT may be used in some countries at an early stage of treatment, whereas in others it is usually only applied in selected, mostly treat¬ment refractory patients.

Transcranial magnetic stimulation (TMS) has undergone extensive evaluation in unipolar depression, but only little is known about its effects in bipolar patients. One small controlled study against sham-TMS could not proof efficacy (CE E). In another study, a non-significant increase of TEAS has been reported for TMS when compared to sham -TMS in bipolar depressed patients. Results for vagus nerve stimulation (VNS) have not been reported specifically for bipolar patients. There was a subgroup of bipolar depressed patients included in a larger trial, but as this trial was negative on its primary outcome for the whole sample, it is highly unlikely that it would work for the subgroup of bipolar depressed patients (CE F).
(Yul Iskandar, 2009)


Akan tetapi, jika demikian halnya, apakah energi mental yang dimaksud tadi itu harus disamakan dengan energi fisik yang dianggap selalu berjumlah tetap (conservated) ? Menurut hemat kami, dan alam energi itu (baik fisik maupun mental) tidak dapat disamakan. Mungkin lebih tepat kiranya jika mereka itu harus dianggap pada asasnya berlainan, tetapi ada relasi interaksional diuraikan diatas.
Dalam hubungan ini, maka perlu kita kemukakan bahwa dalil tentang konservasi itu pertama-tama dinyatakan berlaku untuk alam fisika dan alam anorganik. Andaikata hal itu benar, sebab menurut hemat kami hal itu boleh dianggap sebagai suatu postulat yang bersifat agak dogmatik, masih ada suatu pertanyaan besar, apakah postulat itu juga berlaku untuk alam hidup yang tidak hanya bersifat organobiologi, tetapi juga bersifat psikologi dan berekstensi individual dan sosial ?
Dengan formulasi lain, maka yag hendak dipersoalkan sekarang ialah, sampai berapa jauhkah ada alasan-alasan ilmiah untuk berkata dan berpendapat, bahwa dalil konservasi energi fisik itu :
a). Dapat dirubah menjadi energi mental
b). Konservasi itu merupakan suatu dalil yang berlaku sepenuhnya juga, dan dapat dipertahankan sepenuhnya, dalam alam hidup manusia yang ada kesadaran dan ada ekstensi individual dan sosial

Persoalan ini bukanlah mudah menjawabnya, tetapi ada satu dua hal yang dapat kita saksikan dalam alam ilmu kedokteran umum, dan dalam ilmu kedokteran jiwa, yang mungkin dapat mempertegas, dan karena itu mempermudah menyusun keyakinan tertentu dalam suasana kesangsian kita.
Kita mulai bertanya pada diri kita, apakah betul bahwa kita sendiri yakin benar, bahwa hanyalah struktur otak sajalah yang menguurus hal kesadaran, hal persepsi dan ekstensi individual manusia ?
Salah satu contoh yang sederhana mungkin kita dapati dalam menghadapi masalah aphasia. Sebagian orang berkata dahulu, bahwa tiap-tiap “engram” itu seolah-olah harus meninggalkan bekas organik dalam struktur-struktur otak. Andaikata hal ini benar seluruhnya, maka dalam hal kerusakkan struktur-struktur itu, dengan mudah dapat dibayangkan bahwa “engram-engram” itu akan hapus pula. Orang kemudian berubah menjadi “aphatik”. Tetapi sebenarnya orang yang menderita aphasia organik itu masih tetap memiliki sejumlah “engram-engram”, yang mungkin dapat disebutkan sebagai bayangan-bayangan (images) yang spesifik, dan yang sifatnya pribadi, intim dan tersendiri. Yang dimaksud dengan “pribadi, intim dan tersendiri” itu ialah sifat-sifat untuk privat yang seringkali tidak cocok dengan arti umum (general meaning) yang berlaku untuk khalayak ramai.
Adapun artidari pada itu ialah, bahwa penderita aphasia itu, dengan hapusnya engram-engramnya masih tetap bisa dan mampu berkehendak dan sanggup mengemukakan maksud dan berpikir. Ia boleh jadi lupa (amnestik) tetapi arti yang lazimnya diketahui orang banyak, tetapi ia masih tetap mempunyai kemampuan untuk memberikan “arti sendiri” (arti unik atau privat). Ia masih tetap mempunyai kemampuan untuk mengemukakan kehendaknya, walaupun mungkin sekali tidak mampu untuk menjelaskannya secara verbal atau dengan menggunakan “tanda-tanda” atau kata-kata yang umum berlaku. Jadi, ia tetap dapat menjalankan fungsi untuk melahirkan pendapat dan fungsi untuk bersikap sadar.
Berdasarkan hal-hal itu maka secara lambat laun, dan dengan tekun dan berkemauan keras, pada prinsipnya, orang yang menderita aphasia secara demikian itu, dapat kembali melatih secara reedukatif dan rehabilitatif. Mungkin benar, ada terdapat suatu kerusakan (laesio) organik yang dapat ditunjukkan secara obyektif organik materialistic yang menjadi dasar dari keadaan aphasia itu. Akan tetapi sama pastinya pula, ada aktivitas mental yang mampu bertindak produktif dan berikhtiar kreatif. Hal-hal yang terakhir ini dapat disaksikan oleh setiap orang yang telah hadir pada ikhtiar-ikhtiar rehabilitasi daya bicara orang-orang penderita aphasia. Yang dapat dipastikan ialah, bahwa suatu ikhtiar kesadaran dapat membuktikan diri untuk turut menentukan gerak dan tingkah laku manusia, tidak hanya struktur organik saja.
Apa yang pada prinsipnya berlaku untuk rehabilitasi gangguan-gangguan fisik, juga berlaku untuk rehabilitasi gangguan-gangguan mental. Kita tidak mungkin dapat menganggap bahwa soal kesadaran itu tidak ada artinya, pada usaha-usaha manusia untuk mengarahkan gerak tingkah lakunya ; atau sebaliknya. Dalil-dalil struktural organik bukanlah satu-satunya sistem determinan dari pada tingkah laku manusia. Sejarah umat manusia cukup dengan bukti-bukti bahwa hal ikhwal kesadaran, hal ikhwal maksud dan tujuan dan hal ikhwal emosionalitas atau hidup perasaan manusia sedikit-sedikitnya merupakan kodeterminan atau faktor pengaruh penting dalam penentuan tingkah laku manusia sepanjang jaman.

Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: