Zaman depresi

Secara perlahan lahan kekacauan di Eropah, setelah perang Dunia I, juga ikut menyeret negeri-negeri Asia. Harga Gula, Kopi dan Karet mulai menurun, karena tak ada angkutan kenegara Eropah. Harga Karet yang pada awal 1917-an berharga 1 dollar singapura per pound, merosot menjadi 80 cent ditahun 1924, dan malahan
Seterusnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/04/21/zaman-depresi/

His Story of Sutan Iskandar (11)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Diakhir tahun 1920 –an dan awal tahun 1930-an Sutan Iskandar menulis, kantong-kantong telah dibuka oleh saya sendiri, karena kantong-kantong pos jang berisi surat-surat berharga tidak boleh dibuka oleh pegawai rendahan (tetapi hanya boleh dibuka oleh pegawai Pos menengah) , walaupun kantong-kantong pos telah kotor atau mungkin juga berisi bacil-bacil penyakit misalnya kantong-kantong pos dari Calcutta di India, sebab di kota itu acap kali benar berjangkit penyakit kolera.

(Ketika Dr.YI ke India disana sudah jarang sekali berjangkit penyakit kolera, sebab setiap kabupaten, atau walikota bertanggung jawab untuk memberikan air minum dan air bersih yang gratis. Mereka lebih baik mengeluarkan uang untuk pembuatan air minum gratis, dari pada harus mengurus rakyat yang kena kholera. Menurut bupati di India tanggung jawab moral adalah mengurangi penyakit rakyat.)

Setelah R-R saja serahkan ke purie lalu saya pulang. Kira-kira pukul sebelas malam, ketika saya telah tidur, saya terkejut dibangunkan orang membawa nota dinas penting (ddn), dan saya harus datang ke kantor pos malam itu juga karena neraca pengawas ruangan tempat surat-surat tercatat (tza openzaal) berselisih. Berjam-jam kesalahan itu telah dicari akan tetapi tidak diketemukan.
Waktu semua adpis-adpis diperiksa ternyata kurang satu, jaitu adpis yang saya masukkan ke dalam kantong celana tadi lupa memberikan kepada pegawai yang membuat neraca (balansman). Hari sudah larut malam saya mendapat tegoran dan didenda pula entah berapa.
Ketika saja duduk pada salah satu loket di Jakarta diberikan oleh Kepala Kantor Besar Pos dan Telegrap (Hckt Catalani) sehelai kertas dan carbon yang telah diinjak-injak orang banyak, diruangan kantor.
Tuan Catalani adalah seorang Kepala kantor jang cakap, dari pangkat postklerk sampai mendjadi Hoofdchefkantoor (Hckr). Saya pernah menjadi partnernya waktu main tennis dilapangan tennis P.T.T. di Jakarta. Tuan Catalani telah menjadi kaya karena hematnya. Hanya dari sudut kesehatan, kertas kotor tadi tidak dapat kita menyetujuinja, dari sudut economie dapat ditiru.

Di tahun 1933 jadi baru kira-kira lima tahun bekerja disiarkan oleh pemerintah Belanda bahwa keadaan keuangan negara lumpuh (malaise) yang sering disebut orang “jaman meleset”. Jawatan P.T.T. harus berhemat dan beratus-ratus pegawai dikeluarkan dengan mendapat uang tunggu paling lama 5 tahun. Uang tunggu tahun pertama diberikan 75 % dari gaji (dahulu belum ada gaji pokok), tahun kedua 75% dari gaji terakhir, begitu seterusnya sampai 5 tahun. Penulis yang telah menjadi pegawai tetap, dan telah beberapa tahun memberikan sebagian kecil dari gaji untuk pensiun di hari tua, tidak dapat dikeluarkan begitu saja, akan tetapi pemerintah Belanda masih mencari akal untuk berhemat.

Dikeluarkan surat edaran meminta kepada pegawai P.T.T. supaja dengan sukarela keluar dari jawatan dengan mendapat uang tunggu pula. Oleh karena seperti tadi saya katakan, waktu itu saya belum mempunyai tanggung-jawab keluarga, saja usulkan diri saja sebagai calon “mtd” kata orang sekarang makan tidur jalan-jalan, tetapi mendapat uang setiap bulan jaitu 75 % gaji dan seterusnja berkurang sampai lima tahun.

Pada tanggal 29 desember 1933 saya menerima surat keputusan sebagai pegawai menerima uang tunggu. (Diberhentikan sementara dari Kantor PTT). Apakah yang akan saya kerjakan sekarang. Saya pergi ke Bandung ke kantor pusat jawatan P.T.T. Disana saya mendapat penjelasan bahwa uang tunggu tidak dapat dibayarkan langsung ke luar negeri, dan bila diketahui pergi ke Luar Negeri, maka uang tunggunya akan hilang. Dengan pengumuman ini, pergilah saya ke luar negeri sampai ke Eropah secara diam-diam. Gaji saya, saya minta tolong diambilkan oleh adik saya dari lain ibu. Tidak lama antaranya saya berlayar dengan kapal “Opten noort” ke Singapura.

Singapura adalah ibu kota Malaya waktu itu sangat ramainja, hanja pelabuhannja kelihatan agak tua, buruk, dan sedikit jorok dibandingkan dengan Tanjung Priuk. Papan-papan pelabuhan kelihatan berlobang-lobang dan sudah agak lapuk, sehingga kalau kita kurang hati-hati berjalan, mungkin kita kecebur ke laut. Dari pelabuhan tampak dari jauh gedung kantor besar pos (General Post Office =GPO Malaya di Singapura).

Di Hindia Belanda zaman depressi hebat agak terlambat. Tahun 1914-1918 terjadi perang dunia I, yang melibatkan Inggris, Rusia, Perancis dan Amerika, melawan Jerman yang dibantu oleh Turki.
Belanda sendiri pada zaman itu tidak terlibat perang, tetapi menganut faham netral. Akan tetapi dampaknya peperangan di Eropah ini juga mempengaruhi Belanda. Kapal-kapal dari Belanda mulai tahun 1917 makin kurang yang menuju ke Asia, atau Hindia Belanda. Pada awal tahun 1920-an pemerintah Hindia Belanda praktis bekerja sendiri tanpa pengawasan dari negeri Belanda. Tidak ada kapal dari Negeri Belanda ke Hindia Belanda.
Secara perlahan lahan kekacauan di Eropah, setelah perang Dunia I, juga ikut menyeret negeri-negeri Asia. Harga Gula, Kopi dan Karet mulai menurun tajam, karena tak ada angkutan kenegara Eropah. Harga Karet yang pada awal 1917-an berharga 1 dollar singapura per pound, merosot menjadi 80 cent ditahun 1924, dan malahan harganya menjadi sangat merosot ditahun 1927 menjadi 20 cent per pound, dan tahun 1930-an telah mencapai 10 sen dollar, jauh dari ongkos dan upah, yang biaya produksinya hampir 30 sen dollar .
Banyak perusahaan gulung tikar. Hindia Belanda mulai kesulitan negara itu sangat bergantung pada pertanian, perkebunan dan pertambangan. Karena tenaga kerja yang murah di Indonesia, situasi itu masih dapat dipertahankan dalam beberapa tahun, akan tetapi tahun 1930-1933, Hindia Belanda ikut mengalami Depresi, dan kolaps, sedangkan di Amerika Serikat dan Di Eropah keadaan sudah mulai membaik.

Ditahun 1933, Sutan Iskandar belum mempunyai keluaga. Pekerjaannya selama 5 tahun, selain bekerja di kantor pos, berdiskusi atau mendengarkan orasi dan ceramah-ceramah orang-orang politik. Pada umumnya orang orang politik itu tak berpijak pada kenyataan yang ada. Yang dipikirkan bagaimana untuk merdeka, dan bukan bagaimana supaya orang Indonesia bisa membaca dan menulis. Pengalaman di Kantor pos menunjukkan meskipun di Batavia, banyak sekali orang menerima surat, tapi banyak yang minta dibacakan isi suratnya, karena si penerima buta huruf latin. Angka Buta huruf latin bisa memcapai 90-95% dari penduduk. Pada umumnya mereka bisa membaca huruf arab-melayu, membaca Qur’an, atau huruf Jawa atau huruf Sunda. Masalah kemiskinan dan mengatasi kemiskinan juga tak pernah dibicarakan. Orang – Sosialis, mulai dari yang sangat kiri yaitu orang Komunis dan yang sangat kanan (sosial demokrat) sangat menarik bagi kebanyakan rakyat. Tapi pada tahun 1920-an semua orang Indonesia mengaku dirinya adalah anggauta SI (Syarikat Islam) , Islam yang sosialis , walaupun seperti di kemukakan di atas di Syarikat Islam ini, ada yang ultra nasionalist radikal, Islam Radikal, Islam abangan, sosialis kiri, sosialis kanan, Persatuan Guru-guru, semua campur aduk.
Ditahun 1920-an pula banyak kaum komunis mengadakan perlawanan bersenjata. Sayangnya perlawanan tanpa perhitungan, sehingga tentu saja kalah dengan serdadu belanda yang bersenjata (api) lengkap. Banyak kaum kominis ditahan dan dibuang ke Digul, atau orang –orang yang dicurigai komunis juga dibuang, tanpa proses peradilan.
Pada tahun 1933, belum terpikir oleh Sutan Iskandar untuk menikah, tetapi ditahun 1963, dia telah punya putra 10 orang. Dari 10 orang anak Sutan Iskandar 7 mendapat gelar sarjana (SI), 5 bergelar S2, dan 2 bergelar S3.
Petualangan Sutan Iskandar yang pertama adalah ke Singapura. Sutan Iskandar mebawa surat dari Bagindo Amir, dia anak Siti Aminah (kakak Siti Aisyah). Bagindo Amir tinggal di Semarang dan orang kepercayaan dari keluarga Oei Tiong Ham, konglomerat Cina yang sangat kaya raya. Dia dikenal sebagai Raja Gula dari Jawa, serta mempunyai perusahaan perkapalan Heap Eng Moh Shipping Line.

Salah satu perwakilan dari Oei Tiong Ham di Singapura adalah Lee Hoon Leong yang menikah (tahun 1899) dengan Ko Liem Nio orang Semarang. Keluarga Ko dan Bagindo Amir sangat dekat. Lee Hoon Leong sendiri orang Singapura, dan bekerja sebagai Kapten Kapal kepunyaan Oei Tiong Ham. Kemudian setelah Lee Hoon Leong menikah dengan Ko Liem Nio mereka menjadi kawan karib dari Bagindo Amir, karena keduanya bekerja untuk orang yang sama. Mereka menetap di Semarang dan mempunyai anak bernama Lee Chin Koon, yang lahir tahun 1903. Pada tahun 1904 Lee Hoon Leong pulang ke Singapura, dan menjadi pengusaha kaya raya, sebagai agen tunggal dari Oei Tiong Ham Concern, dan juga perusahaan sendiri terutama perusahaan karet dan perusahaan perkebunan lain.

Lee Chin Koon pada tahun 1923 mempunyai anak yaitu Lee Kuan Yew yang nantinya menjadi perdana menteri Singapura yang pertama. Pada tahun 1933, Lee Hoon Leong telah berumur 62 tahun dan Lee Kuan Yew berumur 10 tahun sangat dekat dengan kakeknya. Pada awalnya Lee Chin Koon (dan Lee Kuan Yew) tinggal bersama ayahnya Lee Hoon Leong. Tetapi keadaan depresi Ekonomi juga menyerang orang Singapura, terutama yang menggantungkan dirinya pada bisnis perkebunan. Lee Chin Koon (dan Lee Kuan Yew) kemudian tinggal dirumah mertuanya (ayah dari istrinya), walaupun demikian Lee Kuan Yew sering kerumah kakek (dari ayahnya), karena kakeknya lebih intelektual dari pada sebagai pedagang. Walaupun keadaan ekonomi Lee Hoon Leong tidak sebaik waktu mudanya akan tetapi terlihat sekali bekas-bekas orang kaya.

Lee Hoon Leong senang sekali didatangi Sutan Iskandar dari Hindia Belanda, karena dia sangat terkesan dengan kota Semarang, dan berbagai hal di Hindia Belanda. Apalagi Sutan Iskandar membawa surat dari Bagindo Amir, kawan karibnya di Semarang. Sutan Iskandar sangat terkesan dengan Lee Kuan Yew kecil, yang nama panggilannya Harry, nama Lee Kuan Yew artinya Sinar Cemerlang dalam bahasa Mandarin.

Sutan Iskandar selain fasih berbahasa 10 bahasa dia juga sedikit mengerti bahasa Mandarin. Tapi percakapan mereka dalam bahasa Inggris, Karena Lee Hoon Leong sangat ke barat-baratan. Dirumah mereka berbahasa Inggris, oleh sebab itu Lee Kuan Yew dipanggil Harry, walaupun mereka bukan orang kristen. Lee Kuan Yew kecil fasih berbahasa melayu (Singapura). Setelah berbasa basi dan puas bercengkrama Sutan Iskandar minta pamit, sambil berkata pada Lee Kuan Yew, suatu masa kamu akan memimpin negerimu. Kakeknya berkata hal itu tak mungkin, karena mereka adalah keturunan Cina, Hakka, nenek moyangnya berasal Fujian, Guangdong. Sedangkan Malaya didominasi oleh bangsa Melayu. Ditahun 1930 Singapura merupakan ibukota Malaya dibawah jajahan Inggris. Sutan Iskandar hanya berkata percayalah kamu akan menjadi pemimpin bangsa yang disegani dunia dimasa datang.

Ditahun 1965, tanggal 9 Agustus ternyata Singapura menjadi negara merdeka yang berdaulat. Dan Lee Kuan Yew ternyata menjadi Perdana Menteri pertama dan sangat disegani oleh dunia. Apakah Lee Kuan Yew teringat seorang tamu ketika dia berumur 10 tahun yang meramalkannya menjadi pemimpin bangsa, saya kira kemungkinan besar dia sudah lupa. Yang pasti kakek Lee Kuan Yew, Lee Hoon Leong memberi uang 500 gulden untuk Sutan Iskandar, yang merencanakan bertualang ke Eopah dengan jalan darat, serta memberikan surat rekomendasi ke bagian Imigrasi Singapura (Malaya), untuk memberikan Surat Jalan Laksana Paspor (Malaya, Inggris).. Paspor Sutan Iskandar adalah Paspor Hindia Belanda, setiap negara perlu minta Visa, lain kalau memakai Paspor Malaya (atau Inggris), dimana pada zaman itu Inggris memang menguasai daratan dan lautan, Jadi Sutan Iskandar bepergian sebagai orang dari Singapura, dan ini tak pernah diceritakan pada siapapun bahwa pada tahun 1934 selama 9 bulan dia menghilang dan melalangbuana sampai di Eropah.

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory) (bersambung ke His Story of Sutan Iskandar (12)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: