Golongan Feodal

Minta diistimewakan adalah sifat golongan feodal . Setelah merdeka orang orang berpangkat tinggi, atau yang mempunyai kedudukan dan gelar kesarjanaan bertabiat seperti kaum feodal zaman dahulu. Sampai sekarang pun sifat itu masih muncul. Bila dalam acara perkawinan, maka orang-orang feodal ’gaya baru’ minta didahulukan dan tak mau antri seperti yang lain. Kantor . . . selanjutnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/04/13/golongan-feodal/

His Story of Sutan Iskandar (10)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Sutan Iskandar menulis ditahun 1929, Pada suatu hari, datanglah seorang Melayu turun dari sebuah automobil bagus. Orang itu berpakaian rapi memakai dasi. Lengan bajunya berukir-ukir, di kepalanya ada bendo (destar). Karena pada loket itu terlalu banyak macam pekerjaan terpaksalah orang tadi menunggu agak lama. Oleh karena waktu, adalah uang (time is money) dan ia harus menunggu, marah-marah dia kepada saya seraya berkata dalam bahasa Belanda; “Waarom moet ik zoolang wachten ? Weetje wie ik ben geen gewone inlander, ik ben Raden adipati Ario Soeriakartalegawa, gedelegeerd lid v/d volksraad”. (kenapa saya harus menunggu lama, saya bukan inlander biasa, saya adalah Raja dari Sunda Ario Soeriakartalegawa, anggauta yang ditunjuk dari volksraad, (terjemahan bebas YI)

Mendengar perkataan itu saya jawablah dengan tenang : walaupun lebih dari itu, kecuali tuan Ratu Belanda, menunggu dan berbaris di belakang orang yang dahulu datang dari tuan, harus tuan turut. Itulah aturan yang berlaku di kantor saya. Dengan muka jang seperti singa hendak menerkam mangsanya pergilah ia dari tempat itu. Controlir Bakker merasa senang mendengar jawaban saya. Yang merasa Raja/ Adipati negara Pasundan yang membanggakan “gedelegeerd lid v/d volksraadnja” itu, hanjalah keluaran sekolah Mosvia, sedangkan Controlir P.T.T. J. Bakker jang baik budi adalah keluaran sekolah H.B.S.-V. ditambah tiga tahun academie P.T.T. di Leiden (Negeri Belanda, karena tak ada di Indonesia).
Besok dinas apa ? Sebelum pulang haruslah kita lihat pada daftar hadir jang setiap hari diperbuat oleh pembantu wakil kepala (assistant souchef) bangsa Indonesia dan daftar itu diletakkan di dinding ruangan tempat membuka kantong-kantong R. (openzaal).

Di belakang nama saja tertulis 9 – 5 dan lusa ada mail, ada pos dari luar negeri, dinas saja pecah (gebroken dienst) 8 – 11 + 4 – tutup. Dahulu harus bekerja 8 jam sehari.
Di waktu mailbehandeling perut saya merasa lapar. Adpis “Adam/Btc” saya masukkan ke dalam kantong celana dan saya terus pergi ke kantin. Saya makan cumi-cumi, kari ayam sampai kenyang walaupun tiada mempunyai uang sepeser juga. Diatas meja telah sedia potlot dan kertas “bon”. Waktu itu penulis belum mempunjai istri –sekarang anak saya sepuluh orang. Dahulu apalah yang akan dirisaukan, belum ada tanggungan keluarga, makan minum sekehendak hati, habis bulan ternyata hutang lebih besar dari gaji; pasak lebih besar dari pada tiang, kata peribahasa.

Ditahun 20-an, ada yang merasa bahwa dia bukan bangsa Inlander sembarangan. Salah satunya yaitu Raja/Adipati bangsa Pasundan, dia mengaku bernama Raden adipati Ario Soeriakartalegawa. Dia sebenarnya hanya bupati di daerah Priangan, serta anggauta volksraad. Karena itu dia minta diistimewakan. Bukan dia saja, banyak orang yang merasa pembesar feodal, selalu minta diistimewakan tidak mau mengantri seperti rakyat kebanyakan.
Sekarangpun pada waktu negara sudah merdeka, ada segolongan orang yang tak mau disamakan dengan rakyat banyak. Di Bank ada orang-orang kaya yang tak mau mengantri, dan diberi tempat khusus, asal saja uangnya cukup banyak. Di Perkawinan pun untuk mengucapkan selamat pada pengantin, mereka tak mau mengantri, dia dianggap VIP, , mereka yang merasa spesial class tak mau mengantri. Mengantri adalah Rakyat jelata, dia adalah spesial class jadi harus diberikan special treatment.

Kebudayaan feodal berganti-ganti, dahulu ditahun 1920-an, yang berkuasa kaum feodal seperti di Sumatra Barat. Khususnya di Pariaman, mereka bergelar Sutan. Jarang yang bekerja karena tanah ulayat atau tanah yang dikerjakan oleh rakyat cukup banyak. Dia tak perlu kerja karena untuk hidup makanan cukup berlimpah, tetapi untuk kaya tentu sulit. Dari kelompok mereka kemudian disediakan sekolah dan jadilah dia orang terpelajar, dan mereka feodal baru, yaitu kaum sarjana. Kaum feodal ini selalu merasa lebih dari orang kebanyakan.

Minta diistimewakan adalah sifat golongan feodal . Setelah merdeka orang orang berpangkat tinggi, atau yang mempunyai kedudukan dan gelar kesarjanaan bertabiat seperti kaum feodal zaman dahulu. Sampai sekarang pun sifat itu masih muncul. Bila dalam acara perkawinan, maka orang-orang feodal ’gaya baru’ minta didahulukan dan tak mau antri seperti yang lain. Kantor pos zaman Belanda membuat sifat demokratis, siapa yang datang dahulu dia yang dahulu dilayani. Tapi ini sangat susah, banyak orang berkerumun didepan loket, budaya antri pada bangsa melayu belum pernah mengakar. Hal ini berlangsung terus sampai sekarang.

Raja Pasundan itu tak mau berbaris seperti rakyat jelata. Kemana-mana dia mengenalkan diri sebagai Raja negara Pasundan. Dia tak mau negara Indonesia, karena dengan demikian jabatannya menjadi lebih rendah.

Kalau Sutan Iskandar memikirkan pekerjaan dia teringat pada nasibnya. Dia merasa bahwa sebenarnya jalan hidupnya agak aneh. Ayahnya Sutan Zainul Abidin, tidak jelas benar pekerjaannya. Dia tak pernah dirawat oleh ayahnya. Sebagai orang minang yang lahir di Pariaman, tentu saja dia diurus oleh ibunya, atau saudara ibunya. Setelah kelahiran Sutan Iskandar, ayahnya menikah lagi, sebenarnya bukan salah ayahnya tetapi karena Sutan Zainul Abidin (termasuk keluarga bangsawan juga) maka dia ’dijaput’, artinya dia dijodohkan dengan wanita lain, dan wanita itu yang membayar uang japutan pada keluarga si Laki-laki.

Adat orang Pariaman (dan orang Minang) adalah laki-laki dilamar atau dijaput, khususnya bila bergelar Sutan atau dianggap keluarga bangsawan, walaupun pekerjaan tetapnya tidak ada. Adat ini masih berjalan sampai sekarang. Akan tetapi kalau dulu gelar bangsawan (Sutan, Sidhi dan Bagindo), kini gelar ’bangsawan ’ modern seperti dokter, insinyur atau sarjana hukum.

Seperti telah dikemukakan diatas, ibu Sutan Iskandar adalah Siti Aisyah. Saudara ibunda Sutan Iskandar adalah siti Chadidjah, Sutan Darwis, Siti Aminah, Sutan Umar dan Sutan Ibadat. Pada saat Sutan Iskandar lahir, Sutan Darwis tidak ada, sedang mengadakan rapat tidak resmi untuk pembentukan Uni Hindia Belanda-dengan Belanda. Jabatannya adalah Hooft Damang Padang-Pariaman. Ketika dia kembali ke Pariaman, dan didapati Sutan Iskandar, ayahandanya telah menikah lagi, tanpa sepengetahuan Damang Darwis. Dia marah besar dan menyuruh adiknya menceraikan Sutan Zainul Abidin, dan mencarikan suami lain untuk adiknya. Siti Aisyah tak bisa berbuat apa-apa, perintah cerai adalah dari Kakaknya yang berkuasa di Pariaman, dan baru saja mendapat Bintang kehormatan dari ratu Wihelmina, melalui GG Belanda di Indonesia. Ibunya masih ingat bintang kehormatan itu diberikan tanggal 26 Agustus 1909, dengan surat keputusan GG no 30. Tidak banyak yang mendapat bintang kehormatan dari Ratu Wihelmina pada saat itu.

Ibunda Sutan Iskandar sangat menderita, dan dia meninggal ketika Sutan Iskandar belum mencapai 6 tahun. Pada umumnya di Pariaman anak laki-laki yang umurnya diatas 6 tahun tidurnya di Surau. Surau merupakan tempat pendidikan dan penggemblengan. Anak-anak laki-laki, jarang tidur dirumah.

Sutan Iskandar tidak pernah tidur disurau, waktu berumur 5 tahun, dia diminta datang ke Jakarta untuk tinggal di rumah Siti Murin, istri dari Sutan Muhamad Zain. Mereka kebetulan baru punya anak berumur 2 tahun yaitu Sutan Zairin Zain. Sutan Iskandar, merupakan teman bermain Sutan Zairin Zain. Sutan Muhamad Zain, punya kebiasaan yang baik, setiap melahirkan anak, maka dia akan mengambil anak, tetapi tidak secara resmi, untuk menemani anak-nya. Salah satu anaknya yaitu Drg. Yetty Zain ditemani oleh Rosima .

Sutan Muhamad Zain adalah orang yang pemurah, selain sering mengangkat anak, dan menyekolahkan anak itu, dia juga sering membantu anak-anak muda baik dengan moral maupun dengan materil.
Ketika Sutan Muhamad Zain di negeri Belanda, maka anak-anak muda Indonesia selalu datang ke Rumah Sutan Muhamad Zain, diantaranya Hatta, Sumitro, Syahrir, Tan Malaka dan banyak lagi pemuda-pemuda yang dia bantu bila dalam kesulitan.
Sampai hari tuanya, ketika dia berdiam di Jerman (anaknya Zairin Zain adalah Duta Besar RI di Jerman Barat), dia sering berkeliling dan bertemu dengan pemuda-pemuda Indonesia. Salah satu pemuda itu yang pada awalnya penyakitan, karena terlalu fanatik dalam agama Islam, sehingga tak mau makan daging, sehingga daya tahan tubuhnya menurun. Sutan Muhamad Zain, menolong pemuda itu, memberinya semangat, memberinya dalil-dalil sehingga bisa sehat kembali. Orang itu adalah B.J. Habibie yang nantinya akan menjadi presiden Indonesia yang ke tiga.

Sifat Sutan Muhamad Zain yang penolong ini tanpa pamrih, tak tak pernah berpikir akan balasan. Dia memang sudah Kaya dan juga cendakiawan.
Waktu Sutan Muhamad Zain, di Jakarta, H.O.S Cokroaminoto sering datang ke rumah SM Zain. SM Zain pada saat itu menjadi salah satu Presiden Persatuan Guru Bangsa Melayu. Dalam setiap pertemuan SM Zain tak segan-segan mengenalkan anaknya Zairin Zain, pada tokoh-tokoh pergerakan. Dan tentu saja Sutan Iskandar juga dikenalkan karena dimana ada Zairin Zain, disitu ada Sutan Iskandar. HOS Cokroaminoto sangat populer bagi bangsa Jawa, dia menjadi ketua Syarikat Islam (SI), dan semua orang ditahun 1920-an yang mengerti politik pasti masuk SI. HOS Cokroaminoto selalu membawa salah satu muridnya, kadernya, sahabatnya dan juga mantunya pada saat itu yaitu Sukarno. Kalau Cokroaminoto mengadakan rapat umum sudah dipastikan akan penuh dengan orang-orang (Jawa). Kalau dia mau menjadi raja Jawa, pastilah akan berhasil. Akan tetapi, daerah lain seperti Bangsa Sunda, Ambon dll, belum bisa menerima adanya suatu kerajaan, atau negara kesatuan.

Zairin Zain, Sukarno, dan Sutan Iskandar ditahun 1920-an menjadi berteman. Akan tetapi ada akibatnya, Zairin Zain yang sekolah di HBS Jakarta, dua kali tidak lulus. Ayahnya kemudian mengetahui bahwa Zairin Zain, Sutan Iskandar dan Sukarno dimasukkan dalam suatu daftar hitam, pemuda yang dicurigai sebagai aktivist. Sukarno terlalu pintar sehingga sulit bagi belanda untuk menggajalnya, dia lulus HBS di Surabaya dan Lulus THS (sekolah teknik tinggi) di Bandung. Zairin Zain akhirnya dikirim ke negeri Belanda, dan menamatkan HBS nya disana dengan mudah, dan juga menamatkan sekolah hukumnya di negeri Belanda.
Sutan Iskandar 3 kali ujian MULO tapi tak lulus-lulus, karena mendapat ganjalan dari beberapa guru Belanda yang mendapat informasi dari PID Belanda, tentang berbahayanya Sutan Iskandar. Jadilah Sutan Iskandar pegawai kantor pos, karena hanya jawatan itu saja yang tak terlalu peduli dengan PID, tetapi asal mau bekerja keras saja. Lagi pula walaupun ijazah yang terpakai adalah HIS (sekolah rendah) Sutan Iskandar fasih berbahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, disamping bahasa Melayu (Indonesia), Sansekerta, Arab, Jawa , Sunda dan tentu saja Minang.
Kemampuan Bahasa Sutan Iskandar, adalah karena dia membantu Sutan Muhamad Zain, yang waktu itu sudah mulai mempersiapkan suatu kamus bahasa Melayu (Bahasa Indonesia), yang pada umumnya kata-kata itu diambil dari bahasa –bahasa tersebut.

Kesetiaan Sutan Iskandar pada Sukarno tergambar pada ilustrasi dibawah ini:
Di awal tahun 1965, Sutan Iskandar sudah pensiun. Dua anaknya Rachmatsyah dan Yul Iskandar aktif dalam kegiatan mahasiswa. Pada awal bulan September 1965, suasana politik dan ekonomi sangat panas. Presiden Sukarno cenderung untuk merangkul orang – orang komunis. Rachmatsyah sebagai mahasiswa IPB jurusan kehutanan aktif dalam kegitan organisasi yang anti dengan organisasi Mahasiswa komunis. Begitu juga Yul Iskandar. Dalam suatu diskusi antara Sutan Iskandar dan Yul Iskandar, Yul Iskandar mengatakan bahwa Presiden Sukarno seorang komunis. Sutan Iskandar yang mengenal Sukarno membantahnya. Menurut Sutan Iskandar, banyak sekali sejarah yang tak diketahui karena banyak sejarah dibuang melalui jendela. Hanya sejarah yang menguntungkan penguasa yang disebar luaskan. Kalau dia komunis dia telah membuat pemilihan umum, dan pasti partai komunis yang akan menang. Setelah tahun 1955 dia tak ada niat membuat pemilihan umum, karena belum ada partai yang lebih kuat dari partai komunis.

Sukarno pada masa mudanya adalah aktivis Islam, karena itu dia dekat dengan HOS Cokroaminoto, malahan diangkat menjadi menantunya. Dia Islam sejati, malahan dia juga seorang Haji. Dia pula yang menganjurkan supaya pada waktu Sai saat berhaji, orang jangan berjalan berlawanan arah. Dia yang menganjurkan untuk berjalan satu arah.
Selain itu Sukarno mengerti sekali isi Qur an, dan dia beribadah dengan dengan tekun. Pada tahun 27-an, dia menjadi Nasionalis akan tetapi Nasionalis yang muslim. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai pemikiran nasionalis dari Turki, India, dan pada tahun 20-an diseluruh dunia orang menjadi nasionalis terutama di Negara-negara yang terjajah. Ditahun 40-an dia tertarik pada ajaran sosialis ( kanan dan kiri = Komunis). Kaum sosialis kanan yang dimotori oleh Syahrir dan Hatta, agak berlawanan dengan Sukarno, karena lebih mementingkan demokrasi. Lain halnya dengan kaum komunis yang system demokrasinya terpusat, sangat cocok dengan ide Sukarno.

Jadi ditahun 1960-an, ada 3 kekuatan besar, yaitu Sukarno sendiri, yang sudah menjadi suatu institusi, Militer dengan AD sebagai motornya, dan sipil atau partai politik. Secara mejakinkan hanya partai komunis yang lebih rapih dan militant. Yang lain sudah kedodoran. Menurut Sutan Iskandar, bila pada tahun 1960-an, Sukarno melakukan pemilihan umum maka yang menang pasti kaum komunis. Oleh sebab itu untuk menghindari kemenangan secara pemilihan umum, Sukarno berusaha mencegah terjadinya pemilihan umum. Jadi pastinya Sukarno bukan komunis, akan tetapi dia harus berusaha merangkul dan tak memusuhi orang komunis. Dia melansir ide Nasakom, yang sebenarnya mengecilkan kekuatan komunis. Ketika ditanyakan pada Sutan Iskandar, mengapa mereka menangkap Syahrir dll, Sutan Iskandar berkata siapa yang menangkap, Sukarno tidak pernah menangkap Syahrir atau menyuruh menangkapnya, hanya Sukarno juga tak mampu menyuruh keluarkan mereka dari penjara.

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory) (bersambung ke His Story of Sutan Iskandar (11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: