Indonesia Raya

Ada yang merasa diri orang Madura, ada yang merasa orang Jawa, Minang , Minahasa, dll. Batavia di tahun akhir 20-an telah dipenuhi oleh perantau-perantau dari seberang. Seperti dikemukakan diatas gaji orang Belanda dan orang Pribumi tak berbeda di kantor pos, kecuali Ctr (kepala kantor) yang tentunya orang Belanda yang bergaji luar biasa. Hal ini dapat dimaklumi karena tidak banyak orang Belanda terpelajar yang mau tinggal di Indonesia, kebanyakan orang Belanda adalah serdadu atau pedagang. Hal ini berbeda dengan orang Portugis di Timor Timur yang banyak datang dan mengawini bangsa pribumi, atau Bangsa Spanyol di Filipina. . . . .selanjutnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/04/03/indonesia-raya/


His Story of Sutan Iskandar (9)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Ditahun 1928 Sutan Iskandar menulis, Controlir Jaap Bakker itu baik budi dan masih muda dan roman mukanja bagus “kasep” kata orang di Priangan atau tanah Sunda, Seorang perempuan, Njonja Pommes pegawai kantor telepon, yang masih muda dan berkunjung ke kantor pos saya dan Ny Belanda itu pernah mencium Controlir Jaap Bakker dihadapan saya.

Di setiap kantor pos pada zaman Belanda (tahun 1920-an) hanya ada dua atau paling banyak 5 orang Belanda. Selainnya lebih kurang 60 orang adalah orang pribumi, kecuali di kantor pusat di Pasar Baru yang banyak orang Belanda-nya. Di Kantor pos antara orang Belanda dan orang pribumi tidak ada pertentangan yang tajam. Bahasa resmi adalah bahasa Belanda, akan tetapi yang dipakai sehari-hari adalah adalah bahasa Melayu, karena bercampur aduknya suku-suku bangsa di kantor pos. Ada yang merasa diri orang Madura, ada yang merasa orang Jawa, Minang, Minahasa, dll. Batavia di tahun akhir 20-an telah dipenuhi oleh perantau-perantau dari seberang. Seperti dikemukakan diatas gaji orang Belanda dan orang Pribumi tak berbeda di kantor pos, kecuali Ctr (kepala kantor) yang tentunya orang Belanda yang bergaji luar biasa. Hal ini dapat dimaklumi karena tidak banyak orang Belanda terpelajar yang mau tinggal di Indonesia, kebanyakan orang Belanda adalah serdadu atau pedagang. Hal ini berbeda dengan orang Portugis di Timor Timur yang banyak datang dan mengawini bangsa pribumi, atau Bangsa Spanyol di Filipina. Indo-indo Belanda di Indonesia tidak banyak atau tidak mepunyai pengaruh banyak, malahan mereka banyak kehilangan indentitas diri.

Indo Belanda pada tahun dua puluhan, kebanyakan adalah ayah Belanda sebagai serdadu, atau para mandor, sedang ibunya adalah pembantu atau Nyai. Menjadi orang Indo pada tahun 20-an, bukan hal yang membanggakan. Punya kulit putih, diejek sebagai Bule, suatu penghinaan dan ejekan bukan kebanggaaan. Menjadi orang kulit sawo matang adalah suatu kebanggaan. Orang – cina peranakan atau indo-belanda sering berjemur di matahari supaya kulitnya jadi sawo matang.
Lain halnya Indo-Spanyol di Filipina, orang Indo-Spanyol merupakan elite group yang sangat berpengaruh baik dari segi politik maupun dari segi ekonomi. Begitu juga indo-indo di Timor Timur (dengan orang Portugis), mereka sangat berpengaruh dan jadi panutan. Di Indonesia Indo-indo Belanda, tidak dipercaya oleh orang Belanda, dan dimusuhi oleh orang pribumi, sehingga hidupnya di-awang-awang. Banyak yang malu mengaku Belanda Indo. Malahan mereka bangga sebagai Belanda Depok, karena di Depok sejak zaman Dandels, banyak orang Belanda Totok, tinggal di Depok (tahun 1800-1900), mereka juga bukan orang-orang kaya, pengaruhnya pada politik dan ekonomi pribumi kalah oleh pangeran-pangeran dan raja-raja pribumi, orang-orang Arab, China dan India.

Para pemuda (asli pribumi) yang terdidik, karena politik Ratu Wihelmina di awal 1900-an, ketika tahun 1920-an menjadi sekelompok elite Group. Diantara yang muncul adalah nama-nama Soekarno, Hatta, Semaun, Cokroaminoto, Sutan Mohamad Zain, Sutan Takdir Alisyahbana, Zainuddin Rasad, Yamin dll. Syahir dan Tan Malaka pada saat itu belum terkenal, dan agaknya tak pernah dikenal oleh rakyat. Hanya orang tertentu yang mengenal dia.

Ditahun dua puluhan, pemikiran kebanyakan orang belumlah membentuk suatu negara kesatuan Indonesia yang berdaulat, tetapi suatu negara dibawah Belanda, atau ada juga yang ingin Kerajaan Jawa, atau kerajaan Sunda (Pasundan) dsb, dan negara itu tidak ada kemiskinan, kebodohan dan pemerasan. Konsep satu negara Indonesia baru dicetuskan diakhir tahun 20-an oleh anak-anak muda yang radikal. Sutan Iskandar yang telah berkeliling Jawa, misalnya di Porwokerto, dan menanyakan tahukah mereka Indonesia itu dimana, mereka menjawab tidak tahu. Negara mereka adalah tanah Jawa, yang kebetulan sedang dijajah Belanda. Begitu pula orang Sunda, Madura apalagi orang pedalaman Kalimantan.

Perkataan Indonesia sebenarnya sudah dilemparkan oleh peneliti Inggris G.R. Logan, sekitar tahun 1850-an, yang mengemukakan (H)Indo(ia) – Nesia(os) (Nesoss: artinya kepulauan), Walaupun telah ada, istilah Indonesia, akan tetapi kebanyakan orang menyebut, Hindia-Belanda, atau East –India. Istilah Indonesia mulai dipopulerkan oleh anak-anak muda yang nasionalis, akan tetapi konsep Indonesia saat itu masih mengambang. Satu hal yang mereka ketahui adalah yang berkuasa, yang dipertuan agung adalah orang Belanda yang tinggal di Batavia.

Dalam salah satu pertemuan pada tanggal belasan Oktober 1928, dirumah Sutan Moh. Zain, datanglah Moh Yamin dan beberapa pemuda dari Batak dan dari Celebes. Pada Pertemuan itu Sutan Moh. Zain mengajak anaknya Zairin Zain dan adik ipar Sutan Iskandar.
Moh. Yamin mengemukakan bahwa pada tanggal 27-28 Oktober 1928 akan diadakan kongress pemuda Indonesia Raya. Sutan Moh Zain menanyakan apa yang dimaksud dengan Indonesia, sebab Logan menyebut Indonesia adalah pulau-pulau dari Hindia, dia tak menyebut batas-batas nya. Moh Yamin mengatakan bahwa dia telah meminta WR Supratman untuk membuat lagu kebangsaan Indonesia Raya. Jadi yang dimaksud adalah (greater Indonesia), negara kepulauan dari ujung timur berbatasan dengan Amerika Tengah dan diujung Barat sampai pulau Madagaskar.

3000 tahun yang lalu bangsa Indonesia (Melayu) telah mengembara ke Barat sampai Madagascar. Para ahli sependapat bahwa bahasa dan bangsa Malagasy serumpun dengan Melayu . Para peneliti sepakat bahwa di dataran Tinggi Madagaskar, bangsa Melayu berasal dari Indonesia telah berdiam hampir 3000 tahun yang lalu.

Ujung Utara adalah Pulau Formosa, Filipina dan dan di Selatan adalah Australia. Yamin menyebutkan bahwa berdasarkan fakta sejarah, secara etnis suku-suku bangsa itu adalah satu, tetapi dicerai beraikan oleh penjajah. Diskusi panjang lebar yang menyangkut hukum, etnis dan sebagainya, dan supaya kita tidak memperlebar front, maka yang diperjuangkan adalah persatuan dari tanah Hindia Belanda saja. Akhirnya Yamin menyetujui bahwa dalam sumpah pemuda tidak akan menyebut negara (state) Indonesia Raya.

Jadi dalam kongress itu tidak akan disebut negara (state) dan Indonesia Raya, akan tetapi Tanah tumpah darah yang tak mempunyai implikasi hukum. Sebab bila menyebut negara (state) Indonesia saat itu artinya telah terjadi proklamasi kemerdekaan, atau secara hukum membuat negara dalam negara Hindia Belanda artinya melawan hukum Internasional, artinya secara hukum telah terjadi pemberontakan dan konsekwensinya adalah masuk penjara.

Dan kalau negara itu dinamakan Indonesia Raya, seperti Britania Raya, artinya mengklaim banyak negara lain masuk Indonesia dan konsekwensinya luar biasa. Anak- anak muda yang tadinya ngotot bahwa perjuangan harus ada konsekwensinya, akan tetapi setelah Sutan Moh.Zain memberikan saran bahwa dengan tak menyebut negara, tapi kata lain dari negara yaitu ibu pertiwi atau tanah air atau tanah tumpah darah dimana implikasi hukumnya tidak ada, kecuali para pemuda sudah siap berontak, punya senjata, punya pasukan..

Dalam Soal bangsa juga terjadi perdebatan, karena yang dimaksud dengan Bangsa Indonesia pada saat itu belum jelas. Tadinya mereka berkonsep bahwa dalam sumpah pemuda akan mengaku warga pribumi (inlander), yang implikasinya yang bukan warga pribumi adalah orang asing. Orang Indonesia yang lahir di Belanda jadi orang asing, orang tidak lahir di Indonesia menjadi asing, sedangkan orang asing yang lahir di Indonesia menjadi asing. Agak rumit konsepnya para pemuda itu.

Dalam diskusi kemudian berkembang bagaimana dengan para indo-indo, bagaimana dengan orang yang keturunan Arab, India atau Cina, Belanda dll. Akhirnya muncul konsep bahwa yang mengaku bertanah air, tanah tumpah darah Indonesia, dialah bangsa Indonesia. Artinya bukan berdasarkan etnik, atau asal keturunan, disini para orang asing perantauan atau peranakan bisa masuk. Tapi dengan catatan bahwa yang memimpin Indonesia nanti haruslah orang pribumi asli, artinya 4-5 generasi nenek moyangnya harus orang yang lahir di ibu pertiwi.

Ketika membicarakan bahasa Indonesia, merupakan masalah yang alot. Tidak ada yang tahu persis bahasa Indonesia itu seperti apa. Buku pelajaran Bahasa Indonesia belum ada. Kamus bahasa Indonesia belum ada. Yang ada kamus bahasa Melayu. Jadi mengapa tak disebut bahasa Melayu saja. Bila disebut bahasa Melayu, pasti orang jawa, Makasar, menado akan menolak. Apakah Bahasa Indonesia itu bahasa Jawa, tentu saja bukan. Bahasa yang dipakai saat itu adalah Bahasa Belanda (sebagai bahasa Resmi), bahasa Arab oleh para ulama, dan bahasa daerah oleh rakyat kebanyakan. Ada bahasa Melayu (pasar), hanya untuk pergaulan antar suku. Tidak semua orang bisa bahasa Melayu pada saat itu. Orang Madura, orang Batak, orang Sunda, dan Jawa pada umumnya tidak mengenal bahasa Melayu. Yamin mengusulkan bahwa bahasa Minang, diangkat sebagai bahasa Indonesia. Sutan Moh. Zain keberatan, pastilah akan ditolak oleh semua suku bangsa lain. Sutan Moh. Zain mengusulkan bahasa Melayu Riau kepulauan dipakai sebagai dasar bahasa Indonesia. Bahasa ini mudah dimengerti oleh etnis-etnis lain, seperti Banjar, Ambon, Minahasa, maupun orang Jawa. Tapi yang paling mengerti bahasa Melayu ini adalah orang Malaya, Singapura, Thailand Selatan (Patani). Juga disepakati bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, bukan bahasa resmi pada saat itu, dalam arti bahasa-bahasa lain yang ada 200 macam tetap eksis, tetapi bahasa ini dianjurkan dipakai dalam acara-acara resmi.

Bahasa Indonesia berkembang pesat ketika pendudukan Jepang, karena Bahasa Belanda dilarang, Bahasa Jepang belum dipelajari, jadilah bahasa Indonesia dengan menyerap berbagai bahasa baik daerah maupun asing menjadi bahasa Indonesia seperti yang sekarang ini. Yamin, Sutan Muhamad Zain, Sutan Takdir Alisyahbana mungkin tidak akan percaya bahwa bahasa pasar (melayu) ditahun 1920-an, bisa meningkat menjadi bahasa untuk sastra, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan bahasa untuk filosofis. Suatu bahasa yang bisa berkembang hanya dalam 50 tahun (1920-1970) merupakan suatu prestasi. Saat itu Sutan Muh. Zain mulai menulis kamus bahasa Indonesia, yang baru 15 tahun kemudian diterbitkan.

Bila kembali ke akar bahasa (Proto langguage), bahasa Indonesia berasal dari bahasa Kubu, akar bahasa ini mirip dengan bahasa minang, tetapi lebih mirip dengan bahasa batak dan tagalog maupun bahasa aborigin.

Rupanya istilah Indonesia Raya (Greater Indonesia) yang diubah oleh Moh.Yamin menjadi Indonesia saja, tidak pernah dibicarakan dengan WR Supratman, jadilah lagu kebangsaan kita masih Indonesia Raya.

Jadilah pada tanggal 28 Oktober 1928 sumpah pemuda, bukan deklarasi kemerdekaan, bukan proklamasi, yang implikasinya juga tidak seberapa, tidak ada yang ditangkap oleh Belanda yang ikut kongress Pemuda itu, karena memang secara hukum, tak ada yang mendirikan negara..:

Kami putra – putri Indonesia :
-mengaku bertumpah darah yang satu,Tanah Indonesia
-mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
-menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory) (bersambung ke His Story of Sutan Iskandar (10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: