Masalah “Aku” atau “Ego”

Secara teoritik, maka “Aku” itu dianggap berkembang dari pada pelbagai
kekuatan yang lebih primer (lebih primordial), dan berdasarkan keyakinan itu
ditinjau oleh pelbagai aliran psikologi secara agak selanjutnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/03/30/masalah-%E2%80%9Caku%E2%80%9D-atau-%E2%80%9Cego%E2%80%9D/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.
R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.


Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (62)
(Lanjutan Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (61)

Adapun yang hendak dimaksudkan dalam naskah ini ialah bagian dari pada kepribadian manusia yang menyebabkan manusia itu menjelma dan merupakan suatu kesatuan individual lain dari pada manusia lainnya. Oleh karena itu, ditinjau dari pada sifat khas atau sifat istimewanya, maka “Aku” atau “Ego” itu ialah pemegang peranan utama dalam mengemudikan segala ikhtiar daan segala kualitas manusia tadi.

Secara teoritik, maka “Aku” itu dianggap berkembang dari pada pelbagai kekuatan yang lebih primer (lebih primordial), dan berdasarkan keyakinan itu ditinjau oleh pelbagai aliran psikologi secara agak berlainan.

Bagi keperluan naskah ini, maka kecuali tentang hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya, perlu ditegaskan bahwa “Aku” harus dianggap sebagai titik konvergensi dan titik unifikasi dari pada seluruh aspek-aspek kepribadian, sehingga memungkinkan terjelmanya individualitas yang sesempurna-sempurnanya.

“Aku” dapat dianggap telah berkembang dengan cukup dewasa, apabila ia memenuhi beberapa syarat umum. Antara lain dapat disebutkan, bahwa “Aku” pandai membedakan antara yang bersifat termasuk “Aku” dan apa yang bukan “Aku”. Ia dapat sampai kepada kemampuan ini dengan memperhatikan (observasi) dunia luar dan seluruh isi-isinya serta menggolongkan isi-isisnya itu (clasification). Sutau sifat lain ialah kemampuan “Aku”, yang sudah sampai pada suatu taraf maturitas, untuk bereaksi terhadap rangsang-rangsang dunia luar secara konstant.

Konstansi dan kestabilan ini dapat diperhatikan dalam alam pikirnya (prestasi intelektual konstant dan stabil), dalam alam perasaannya (reaksi emosionalnya tidak melampaui batas-batas yang akseptabel), dan dalam alam kehidupan sosialnya (reaksi jawaban sosial atau social responsivenss). Konstansi dan kestabilan mencerminkan kewibawaan. Karenanya, maka “Aku” daapat menempatkan diri dalam kehidupan untuk penilaian yang realistik, yang menjadi dasar landasan bagi suatu rasa harga diri yang akseptabel tanpa merosot ke arah rasa inferioritas.

Oleh karena itu, penting sekali diperhatikan perkembangan individual manusia, yang pada hakekatnya menegaskan pentingnya psikologi perkembangan (development psychology), yang secara progresif memperlihatkan penguasaan-penguasaan daerah-daerah fungsional “Aku” (dunia luar, dunia dalam dan masalah-maasalah frustatif).

Faktor-faktor lingkungan selalu memegang peranan yang utama dalam penjelmaan “Aku”. Proteksi berlebih (over protection) dan penolakan berlebih (over rejection) merupakan pola-pola penting bagi deflasi dari pada kekuatan “Ego”.

Demikian pula urutan kelahiran dalam sejumlah saudara-saudara sekandung, saingan sengit antara saudara, sikap-sikap khusus dari pihak figur-figur wibawa dan kerukunan atau keretakkan rumah tangga, semuanya menduduki tempat yang penting dalam penjelmaan itu.

Lebih luas lagi maka pengaruh lingkungan juga dapat meliputi aspek-aspek sosial, yang semuanya tercakup dalam istilah iklim atau atmosfir sosial (social atmosphere).

Adalah amat berlainan pengaruh kelompok-kelompok yang diatur secara autoritas diktatorial, autoritas demokratik, kerjasama sama rata dan kooperatif, atau suasana bebas merdeka. Adanya atau tidak adanya rasa minoritas berdasarkan penggolongan rasial, etnologi atau ekonomi pun tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, maka pelbagai hal sosial itu dapat dirasakan secara individual sebagai frustasi. Kepuasan (satisfication, gratification) atau deprivasi (deprivation), yang juga ada relasinya dengan masing-masing sikap kompensatif (berlebihan).

(Kusumanto Setyonegoro, disertasi 1966)

Para ahli psikoanalisis terutama yang bekerja sebelum adanya obat psikotropik (Freud , Carl Gustav Jung dsb) mengemukan bahwa dalam mental, terbagi dalam alam sadar (conscious), alam bawah sadar (unconscious). Aku atau Ego pada umumnya berada dalam alam sadar. Di Alam bawah sadar berbagai hal seperti ketakutan yang tak disadari , kenangan masa kanak-kanak, dan ingatan masa lampau disimpan. Penyimpanan informasi ini sering berada di luar alam sadar , berarti diluar sepengetahuan Aku. Tetapi dengan cara tertentu dapat ditarik keluar ke alam sadar, sehingga disadari oleh Aku atau Ego.

Perilaku manusia di pengaruhi dan didasari oleh berbagai hal diantaranya perbuatan dan pengalaman masa lalu, kepercayaan dan kebudayaan keluarga, dan perasaan –perasaan yang tertekan pada masa kecil. Namun, kadang-kadang ada perilaku yang tidak sesuai dengan personaltiinya Kendati Aku merasa tindakan tersebut sepenuhnya tidak masuk akal, sebenarnya mereka sulit menjelaskan mengapa Aku bertindak seperti itu. Juga kemampuan Aku untuk tiba-tiba dapat memecahkan masalah dengan cepat, tentunya bukan dengan pemikiran sadar dari Aku, hal ini meneguhkan eradaan alam bawah sadar
(Yul Iskandar 2006)

Ada petunjuk misalnya, bahwa frustasi yang berlebih dapat dijadikan alasan tak sadar untuk melumpuhkan inisiatif, atau pun sebaliknya untuk memacu pelbagai tindakan yang secara sosial agak diluar batas, yang dapat tergolong dalam paham regresi atau agresi. Persoalan-persoalan yang disebutkan diatas kadang-kadang sukar untuk dikuantifikasi, dan mungkin lebih mudah dikualifikasikan seperti yang lazimnya dilakukan dalam wawancara psikiatri.

Suatu sumber psikodinamika yang lain ialah soal konflik yang juga bagi “Aku” merupakan masalah yang tersendiri. Terutama sekali apabila kekuatan-kekuatan dinamika dirasakan agak terlampau berat, maka “Aku” dapat menempuh jalan-jalan yang secara psikodinamika dpat bersifat suatu regresi sampai ke suatu taraf yang lebih muda dan terdahulu. Hal ini dapat pula dicapainya dengan merendahkan taraf aspirasinya dengan hidup dalam fantasi dan imaginasi, serta banyak sedikit mengabaikan lingkungannya sengan menegakkan pelbagai mekanisme defensif sampai kepaada yang bercorak psikotik dan irrealistik, dan akhirnya dengan menempuh jalan pelepasan ketegangan (tension release mechanisms or acting out), baik yang bertendensi-tendensi sosiopatik.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Sejak lahir, perasaan, perkataan dan bentuk membombardir kesadaran, dan menumbuh kesadaran akan si Aku. Bayi pada mulanya belum ada kesadaran tentang Aku dan Ego, perlahan-lahan dia mulai menyadarinya. Aku mulai memproses untuk mengartikan segala yang dilihat dan didapat, serta mencoba untuk merekamnya. Beberapa bentuk dan perasaan nyaris salah rekam dan banyak terjadi penyaringan informasi. Dengan demikian impresi umum dan aturan perilaku individual mulai dipelajari, bukan hanya aturan yang diajarkan secara khusus kepadanya, itulah sebabnya setiap Aku atau Ego selalu unit dan tak pernah sama walaupun mendapat perlakuan yang sama dari seluruh mayarakat dan dari keluarganya. .

Di kemudian hari, ketika Aku mendapat pengalaman dan aturan individual terjadi konflik, dimana Aku harus mengambil keputusan yang terbaik, dengan cara mengambil aturan yang lebih bijaksana dari orang lain. Aturan dan pengalaman pribadi disimpan di alam bawah sadar. Namun perilaku lupa, mengalami suara atau bau-bauan yang yang khas memicu Aku kembali ke perilaku asli dari alam bawah sadar.

Ide disortir oleh alam bawah sadar untuk disimpan sebagai sesuatu yang penting atau tidak penting. Ketika gagasan dan persoalan penting muncul, sering alam bawah sadar memasuki pikiran Aku (yang sadar) dengan memberikan solusi . Ini menjelaskan mengapa solusi tersebut tiba-tiba muncul di dalam pikiran.

Carl Jung mengemukakan adanya alam bawah sadar kolektif pada suatu golongan atau suku bangsa (kultur etnis). Adanya alam bawah sadar kolektif ini membantu menjelaskan bagaimana mitos, legenda, dan dongeng yang berasal dari banyak etnis mengandung elemen yang sama, bahkan ketika etnis itu tidak pernah berhubungan langsung dengan bangsa lainnya (legenda Sangkuriang mengandung elemen yang sama dengan legenda Oedipus) .

Kebanyakan memori dan perasaan alam bawah sadar tidaklah berbahaya untuk Aku. Namun, rasa marah, ketakutan, atau keinginan yang kuat terkubur dalam alam bawah sadar seseorang yang tidak dapat diterima orang banyak , akan tiba-tiba muncul tanpa terduga sebagai perilaku yang merusak. Jadi adalah sangat berguna untuk memancing keluar dari alam bawah sadar perilaku tidak menguntungkan, mengenalinya dan menyesuaikan diri dengannya .

Proses ini adalah dasar dari banyak tipe psikoterapi, khususnya terapi psikoanalis Karena pikiran saat ini kadang-kadang dapat memicu ingatan alam bawah sadar di penelitian mimpi, dan asosiasi bebas. Pada asosiasi bebas, pasien diminta untuk mengatakan apa saja yang ada dalam pikiran-, beralih dari satu gambaran ke gambaran lain dengan harapan bahwa akan muncul tekanan dari alam bawah sadar dan muncul ke alam sadar.

Tentu saja tidak boleh diasumsikan bahwa alam bawah sadar adalah penampung dari segala aspek terburuk kepribadian, pikiran jahat, kemarahan, akan tetapi pada alam bawah sadar juga terdapat visi yang kreatif, pikiran tentang kebaikan, rasa Adil, rasa gembira dan bahagia dll. Banyak orang yang telah melakukan psikoterapi psikoanalisis mengatakan bahwa hal itu dapat mengubah kehidupannya.
(Yul Iskandar., 2006)

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini. Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: