Nasionalisme atau Federalisme,

Di jaman itu tahun 1928, masalah –masalah kebodohan bangsa, masalah nasionalisme, federalisme, masalah kesenjangan antara orang yang berpunya (Belanda) dan orang tak berpunya (pribumi) menjadi bahan diskusi yang sangat menarik. Karena asyiknya berdiskusi, saya tidak melihat jam, saya sering terlambat selanjutnya di https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/03/22/nasionalisme-atau-federalisme/

His Story of Sutan Iskandar (7)

As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Di awal kerja saya ditahun 1928, Sutan Iskandar menulis ” saya mendapat marah dari oaddu, pengawas saya, pekerjaan saya dicatat tidak baik, ditulis pada daftar pernyataan kecakapan (Conduite Staat) buku U5 dan didenda pula seringgit. Masalahnya sebenarnya bukan kesalahan saya, pada suatu hari saja dipindahkan ke bagian telegram. Pesuruh kami ada lima orang diantaranya seorang berbadan kecil. Si berbadan kecil ini membawa telegram ke pesawat Birma jang seharusnja diketok ke Bima. Telegrapiss tidak melihat lagi, lalu mengetok kawat itu ke Ranggoon ibu negeri Birma.
Karena saya mendapat marah dari atasan, maka saya pun marah pada pesuruh itu. Pesuruh jang salah membawa telegram tadi saya panggil, dengan mata membelalak (melotot), terlanjur dari mulut saja perkataan “Kowe kerbo”. Sekonyong-konyong dia mencabut pisau belatinya dan waktu dia hendak menikamkan kepada saya, datanglah pegawai-pegawai lain berkerumun melerai kami dan saya terhindar dari bahaya maut. Benar juga kata pepatah atau peribahasa: “Mulutmu adalah harimaumu” yang akan “menerkam kamu”.
Bagi pegawai menengah dimarahi atasan dengan alasan yang masuk akal dapat diterima dan itu adalah nasib bawahan bahwa dia akan dimarahi oleh atasan. Lain dengan pegawai bawahan dia tak terima dimarahi, karena dia tak mengerti dia salah. Berurusan dengan orang yang pendidikannya tak setaraf, sering menyakitkan hati, karena kebodohannya dia tak tahu dia salah. Orang yang pintar tahu bahwa dia benar atau tahu dia salah, tetapi orang bodoh tidak tahu bahwa dia salah. Dia malah lebih berani walaupun dia salah. Dia tak menghargai jiwa dirinya apalagi jiwa orang lain. Pertengkaran dengan kekerasan selalu terjadi karena masalah seperti ini, terutama dari orang yang kepandaiannya kurang..
Kemudian saja pindah ke kantor besar Pos dan Telegrap Pasar Baru Jakarta, waktu itu masih bernama Batavia-Centrum. Dinas saya hari itu 7 – 2 (waktu jawa, yang berbeda 1 jam dengan waktu Indonesia Barat (WIB) yaitu dari pukul tujuh pagi sampai pukul dua siang. Sebelum pukul 7 saya sudah ada di kantin, yaitu tempat makan dan bincang-bincang pegawai-pegawai kantor pos. .
Di jaman itu tahun 1928, masalah –masalah kebodohan bangsa, masalah nasionalisme, federalisme, dan masalah kesenjangan antara orang yang berpunya (Belanda) dan orang tak berpunya (pribumi) menjadi bahan diskusi yang sangat menarik. Karena asyiknya berdiskusi, saya tidak melihat jam, saya sering terlambat beberapa menit. Oapos atau ketua pos telah mencoret dengan potlot berwarna merah “telat” perkataan jang kasar dan kurang pantas sering dikeluarkannya dari mulutnya, nyaris terjadi yang tidak diingini, tetapi disini saya selalu mengalah. Kalau kita memakan nasi orang, perkataannya harus kita turut, ’Wiens brood men eet, wiens word men spreekt’, (siapa yang makan roti seseorang, maka dia harus mengikuti apa yang dikatan si pemberi roti) kata pepatah bahasa Belanda. Buku U5 saya hampir penuh dengan catatan-catatan kesalahan dan habis bulan dipotong pula dari gaji sekian gulden karena dendaan”.

Kantin menjadi tempat yang paling cocok untuk berdebat, antara golongan nasionalist dan golongan federalist . Kaum Federalist sering disebut juga kaum provinsialist. Bagi golongan federalist yang cocok bagi bangsa Indonesia adalah kumpulan dari kerajaan-kerajan yang berbeda – beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Mereka tak terlalu peduli namanya apakah Indonesia, atau Nusantara, atau Hindia Belanda. Sejarah mereka antara satu etnik dengan etnik lainnya berbeda-beda. Bagi beberapa suku, Belanda , akan tetapi sebenarnya Bupati atau Raja yang mewakili Belanda, lebih banyak memeras mereka. Bagi orang Minang seperti Sutan Iskandar, masalahnya bukan pemerasan yang penting tapi faktor ketidak adilan yang menjadi masalah.

Sebenarnya golongan federalis pada waktu itu cukup banyak, akan tetapi mereka kurang terpelajar dan kurang terorganisasi. Karena Sutan Iskandar sering ditugaskan ke Daerah di Jawa, dia tahu betul bahwa orang Banten pada saat itu, merasa dirinya Bangsa Banten, di Priangan Bangsa Sunda dan di Madura mereka merasa Bangsa Madura. Mereka tidak tahu bahwa mereka adalah Bangsa Indonesia. Hanya yang berpendidikan yang tahu bahwa mereka Bangsa Indonesia. Diakhir tahun 1920-an diskusi mengenai bangsa ini berakhir dengan kemenangan golongan nasionalist yang menyatakan bahwa mereka adalah satu bangsa. Akan tetapi baru berpuluh tahun kemudian berbagai suku itu sadar bahwa mereka bangsa Indonesia, yaitu setelah proklamasi kemerdekaaan.

Pada waktu itu diskusi mengenai negara-bangsa dan bahasa merupakan topik yang hangat. Banyak orang jawa tidak suka dengan bahasa Indonesia, waktu itu masih disebut bahasa melayu, karena bahasa itu berbeda jauh dari bahasa induknya. Sedangkan orang seberang sebenarnya mengenal bahasa Indonesia, sebagai bahasa melayu. Bahasa Indonesia sebenarnya tidak ada, yang ada saat itu bahasa Melayu, dan itupun tergantung daerahnya, misalnya melayu ambon, melayu Banjar , melayu Minang, dan melayu Riau. Yang terakhir ini paling dekat dengan Bahasa Indonesia.

Perdebatan ini tidak ada habis-habisnya, pertama karena masing masing yang berdebat tidak tahu benar yang diperdebatkan, yang kedua tidak adanya moderator yang memimpin perdebatan dan yang ketiga semua mau menang sendiri. Sutan Iskandar yang lama tinggal dengan Sutan Muhamad Zain (kakak iparnya) mempunyai pengetahuan luas mengenai bahasa Melayu, dan biasanya dia menguasai diskusi. Dan biasanya diskusi yang dimulai pukul 6 pagi waktu Jawa berakhir sampai satu jam.

Ditahun 1928, ada pertemuan penting, dimana Sutan Iskandar hadir sebagai anggauta biasa. Pada tanggal 28 Oktober 1928, pemuda-pemuda itu melakukan ikrar, diantaranya mengaku betanah air satu (tanah air Indonesia), berbangsa satu (bangsa Indonesia), berbahasa satu (bahasa Indonesia). Masalah bangsa dan Tanah air, pada umumnya tidak banyak yang menjadi persoalan. Akan tetapi masalah bahasa, pada saat itu tidak semuanya setuju bahwa hanya ada bahasa Indonesia. Sebagian orang malah meminta bahwa bahasa daerah yang exsis supaya tetap diperkembangkan dan jangan dimatikan. Dia mengusulkan bahwa Bahasa Indonesia hanyalah dijadikan bahasa persatuan. Dalam Kenyataannya Bahasa Indonesia, yang berasal dari Riau agak berbeda dengan bahasa Melayu di Malaya (kini Malaysia), yang pada umumnya berasal dari Johor. Bahasa Indonesia banyak sekali medapat pengaruh dari bahasa Arab, Belanda, Spanjol, Portugis, Sansekerta, Jawa, Sunda, Minang, Ambon, Minahasa, Makasar, Banjar dll, yang banyak diserap dalam bahasa Indonesia. Sebaliknya bahasa Melayu Malaya, banyak sekali dipengaruhi bahasa Inggris, Cina, dan Singapura. Bahasa Indonesia di Jakarta, dinamakan bahasa Betawi, yang barangkali akan sukar diikuti oleh orang Flores atau orang Ambon.

Perjuangan bahasa Indonesia, sebenarnya tidaklah mudah, berkali kali diadakan pertemuan diantara para pemuda, dan pada tahun 1939 oleh GAPI (Gabungan Politik Indonesia) yang terdiri dari 90 perkumpulan politik dan sosial, disepakati pernyataan bahwa Bahasa Nasional adalah bahasa Indonesia. Akan tetapi bahasa itu sebenarnya tak banyak dipakai antara tahun 1900-1942. Para Intelektual, seperti Sutan Iskandar yang tinggal di Rumah Sutan Muhamad Zain, dirumah berbahasa Belanda atau bahasa Minang, para intelektual lain berbicara bahasa Belanda atau Bahasa Inggris. Di Kantor pos bahasa resmi adalah bahasa Belanda. Semua peraturan dalam bahasa Belanda.

Yang kurang pendidikan, mereka berbahasa daerah masing-masing. Orang Sunda berbahasa Sunda, orang Jawa berbahasa Jawa, sedangkan orang Jakarta bebahasa Betawi. Bahasa Melayu dipakai seperlunya saja, bila seseorang tak bisa berbahasa daerah, Tapi ini tak banyak, di Jakarta hampir semua orang bisa berbahasa Jawa (kasar) atau bahasa Sunda dan minimal berbahasa Betawi.

Bahasa Indonesia, baru dipakai secara tegas dan meluas, setelah Jepang masuk. Instruksi yang tadinya berbahasa Belanda, diganti dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. (Yang mengerti bahasa Jepang tidak banyak). Kaum intelektual tidak berani berbahasa Inggris atau Bahasa Belanda karena takut dan dilarang oleh orang Jepang. Jadilah bahasa Indonesia dengan cepat menyebar, apalagi setelah Sutan Muhamad Zain membuat kamus bahasa Indonesia, dan Sutan Takdir Alisyahbana membuat aturan-aturan yang dinamakan Tatabahasa Baru bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia mulai dipakai dalam bidang hukum, pendidikan dan ilmu pengetahuan, walaupun sebenarnya bahasa itu masih terbatas. Tahun 1938 ejaan bahasa Indonesia dengan huruf latin distandarkan.

Jadi pada umumnya kecuali menjadi kepala kantor, sebab Kepala Kantor Pos harus lulus akademi PTT di Leiden, dan beberapa kepala bagian, semua yang bekerja di kantor Pos pada umumnya bangsa pribumi atau Indo Belanda. Orang Belanda terkenal juga ketelitian, tapi orang pribumi sering ceroboh. Contoh kecil diatas kita lihat si Opas (pesuruh) membawa telegraph ke Rangoon (Birma) yang seharusnya ke Bima. Telegraphis lalu bekerja tanpa melihat lagi dan tanpa berpikir bahwa kawat yang berbahasa melayu dikirim ke Birma. Kesalahan tetap dibebankan pada Sutan Iskandar sebagai pimpinan kelompok di bagian Telegraph.

Salah satu sifat orang pribumi, terutama yang kurang berpendidikan adalah mudah marah, mudah mengamuk, walaupun dia salah (Amok adalah kata dari bahasa melayu yang masuk dalam kamus bahasa Inggris). Dia tak mau meminta maaf, malahan dia lebih garang dari pimpinannya. Itulah sebabnya pada saat itu bangsa pribumi dengan mudah dihasut untuk berontak oleh elemen – elemen komunis radikal. Di tahun 1920-an di-berbagai daerah terlihat pemberontakan orang komunis yang memakai parang, melawan orang Belanda dengan memakai senjata api, sama sekali tidak ada nalar, bahwa perlawanan seperti itu sia-sia saja. Tentu saja kekalahan ada dipihak pribumi. Banyak orang pribumi kemudian dibuang ke Digul karena dianggap atau memang benar –benar komunis yang berontak dengan senjata. Tapi ada pula yang tak bersenjata tetapi memikirkan kemerdekaan, mereka disangka orang komunis, juga dibuang ke Digul, salah satu diantarnya adalah Sutan Syahrir dan Moh. Hatta.

Pada mulanya jawatan itu bernama Pos dan Telegraph. Akan tetapi pertengahan abad ke 19, telephon ditemukan oleh Alexander Graham Bell (1847-1922). Bell adalah ahli teknis fisik, belajar bahasa klasik( Latin dan Yunani) juga belajar anatomi dan fisiologi di London. Dia kelahiran Edinburg, Scotland. Tahun 1871 dia emigrasi ke AS, dan pada mulanya mengajar tuna runggu. Akan tetapi yang terkenal darinya adalah menemukan alat untuk bicara jarak jauh yang dinamakan Telephon (1876). Dia mempatenkan alat itu dan juga alat yang dinamakan fotophone, yang bisa mengirim suara dengan jarak jauh. Perkembangan Perteleponan maju pesat. Perteleponan kemudian dimasukkan kedalam Jawatan Pos, jadilah namanya Pos Telepon dan Telegraph (PTT). Sistem pos (surat) dan telegraph masih dalam satu kesatuan, akan tetapi sistem telepon agak susah disatukan sehingga dia harus punya kantor sendiri. Sistem telepon pada zaman itu yang belum otomatis, sangat mudah untuk ikut didengarkan. Penelepon meminta sambungan ke operator telepon di kantor telepon, dan operator menyambungkan pada orang yang diminta berbicara. Sutan Iskandar ditugaskan untuk menguping pembicaraan dari orang-orang yang dicurigai oleh PID (polisi rahasia Balanda). Sutan Iskandar tidak nyaman bekerja dibagian itu dan kemudian dia minta pindah lagi ke kantor pos.

Pada tahun 1920-an, keadaan Indonesia sedang pancaroba. Kata Indonesia saja jarang dipakai. Pemerintah Belanda secara resmi menyebutnya Hindia Belanda, atau East Indians. Kadang-kadang mereka menyebutnya Indian Islander. Di tahun itu pegawai kantor pos tidak tahu dia bekerja untuk siapa. Dia hanya tahu bahwa tuan besar mereka bangsa Belanda dan diwakili oleh orang Indonesia. Lucunya yang mewakili dan bertindak atas nama Bangsa Belanda (biasanya bangsa pribumi sendiri) lebih kejam dan lebih sombong dari orang Belanda sendiri. Perkataan Indonesia, baru diperkenalkan oleh seseorang Belanda tahun 1880-an, akan tetapi baru dipakai oleh sedikit orang yaitu para pemuda nasionalist tahun 1920-an. Pada tahun 1920-an, kebanyakan masyarakat menyebut dirinya sesuai dengan etnik nya, misalnya orang Sunda, Jawa, Ambon, Minahasa, Minangkabau, Batak dsb. Akan tetapi beberapa orang seberang yang tinggal di Jakarta tak nyaman dengan nama etnik itu, karena dia merasa yang tinggal di Batavia (Jakarta) adalah negaranya juga. Ada dua golongan yang ingin memakai perkataan Indonesia, pertama para imperialist Belanda ingin menamakan Indonesia untuk membedakan dirinya dengan orang Holand . Mereka lebih suka orang Indonesia dibedakan dengan orang Belanda, karena jumlah orang Indonesia pada tahun 1920-an telah mencapai 60 juta orang, sedangkan orang Belanda sendiri hanya 2 juta orang. Mereka ingin terpisah, dan bangsa Indonesia hanya untuk sapi perahan saja. Sedang orang ultra-nasionalist pada saat itu ingin nama Indonesia supaya perjuangan mereka untuk merdeka menjadi satu dan tak berjalan sendiri-sendiri.

Diakhir bulan Juli 1928, Sutan Iskandar menulis Kali ini saya ditempatkan di loket “penerangan ” (inlichtingen) merangkap menerima surat-surat dinas mengurus surat perjanjian jang akan dibubuhi segel (nazegeling) dan menyerahkan surat-surat postrestante. Pengawas saya (Tza Ctr.) J. Bakker, kerjanya hanya membubuhi tanda tangan saja dan pukul dua pulanglah ia ke Hotel des Galeries sesudah ia memberikan roti kejunya yang jarang dimakannya kepada saya. Seorang Controlir P.T.T harus berijazah sekolah H.B.S.-V. dan beberapa tahun pula mengikuti academi P.T.T. di Leiden.

Masalah penerangan adaah sangat penting. Ditempat itu sebenarnya hanya untuk menanyakan masalah-masalah post, misalnya berapa biaya untuk kiriman ke berbagai tempat di Hindia Belanda. Belanda yang pertama menstandardisasi harga post untuk seluruh wilayahnya. Misalnya harga post untuk Irian (surat – surat untuk ke Digul), sama murahnya dengan surat untuk ke Lebak ( Banten). Akan tetapi karena loket tertulis inlichtingen yang artinya penerangan, maka yang datang ke loket itu bertanya segala macam, mulai dari dimana letak Bombay, atau Queta (orang menyangka letaknya di Amerika Selatan, padahal letaknya di India (yang nantinya menjadi daerah di Pakistan). Ada pula yang menanyakan kalau mau menulis surat ke Sukarno, dimana dia berada saat itu dsb.

Perangko merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Kantor pos. Pada mulanya orang membayar untuk menerima surat, akan tetapi lambat laun karena banyaknya orang yang menolak menerima surat (membayar ), maka orang harus membayar dimuka untuk mengirim surat. Tentu saja tidak praktis, maka lahirlah prangko sebagai tanda pembayaran, yang menunjukkan bahwa si orang yang berkirim surat telah membayar lunas kewajibannya. Di Amerika Serikat prangko telah digunakan tahun 1847 untuk surat biasa. Prangko pertama di AS adalah seri lima sen dollar, dengan gambar Benyamin Franklin dan prangko 10 sen bergambar George Washinton.

Perangko pertama adalah dibuat di Inggris tahun 1840. Setelah Inggris yang juga mengeluarkan perangko adalah Mauritius, Bermuda, Bavaria, Spanyol dll. Belanda mulai mengeluarkan perangko ditahun 1864. Mengumpulkan perangko merupakan investasi yang menarik. Prangko-prangko yang diterbitkan tahun 1840-1850, harganya bisa mencapai 500 ribu sampai satu juta dollar. Salah satu yang terkenal adalah prangko bertahun 1847 dari Mauritius, laku dalam pelelangan di New York City seharga $ 380.000,-

Sutan Iskandar sejak 1928 telah mengumpulkan prangko-prangko dari Hindia Belanda. Sutan Iskandar tahu bahwa perangko hanya dikeluarkan satu kali, jadi barang itu suatu waktu akan menjadi barang langka, dan barang langka tentu harganya mahal, sayangnya barang-barang berharga itu terbakar ketika Sukabumi dibumi hanguskan.

Suatu ketika di Indonesia ada pengguntingan uang, uang satu rupiah keatas digunting, dan yang sebelah kiri masih menjadi alat pembayaran yang sah, dengan nilai 50%-nya, sedang yang kanan dijadikan obligasi negara (pinjaman paksa pada rakyatnya). Penggagasnya katanya Syafrudin Prawira Negara, menteri keuangan pada saat itu tahun 1950-an. Negara menganggap uang yang beredar di Indonesia terlalu banyak, jadi perlu di kurangi dengan cara pembuatan obligasi paksa itu. Uang itu tidak hilang tapi baru bisa diambil 30 tahun kemudian. Banyak orang yang menggerutu dan menganggap uangnya hilang. Sebab selain uang kertas, simpanan di Bank pun dipotong setengahnya. Pada waktu itu Sutan Iskandar telah mendengar masalah itu 1-2 sebelum hari H pengguntingan uang. Semua uangnya yang ditabung maupun uang yang ada dibelikan ke Perangko. Sebab perangko tidak digunting. Jadi pada waktu hari H diberlakukan, Sutan Iskandar uang telah diubah menjadi Perangko. Sehari setelah hari H dia menitip pada pegawai penjualan perangko untuk menjualkan seluruh perangkonya. Peristiwa itu sebenarnya tak perlu terjadi bila saja ada komunikasi yang baik antara pemerintah dan Rakyatnya. Tapi waktu itu apa yang dikerjakan pemerintah masih seperti pemerintahan Hindia Belanda. Perintah presiden adalah sama dengan perintah dari GG (Gubernur General) Hindia Belanda sama sekali tidak ada pembicaraan dengan rakyatnya. Tiba-tiba rakyat Indonesia dihadapkan pada keadaan seperti itu. Ini bisa terjadi tahun 1950-an, tentu tak mungkin terjadi ditahun 2000-an.

Pengumpul perangko berkumpul dalam suatu organisasi philately. Asal kata itu berasal dari bahasa Yunani, phil atau philos artinya suka atau teman, sedangkan ateleia artinya bebas atau pembebasan, maksudnya penerima surat sudah ’ ateleia’, tidak perlu membayar lagi. Tapi kata itu tidak populer dan yang populer adalah perkataan perangko itu. Sutan Iskandar menjadi anggauta dari perkumpulan Postzegel verzamelaars Club. PC yang didirikan ditahun 1922 ini diakui keberadaannya oleh pemerintah Hindia Belanda karena tidak berpolitik, serta tidak mencari untung.

PC di Batavia, diikuti oleh berbagai kantor post lainnya, jadilah suatu organisasi Nasional yang dinamakan Nederlandsch Indische Vereniging van Postzegel Verzamelaars ditahun 1940. Sutan Iskandar telah pindah ke Sukabumi, dan perang dunia telah meletus, sewaktu-waktu Belanda akan dihajar oleh Jepang. Tidak banyak yang tahu hal ini, dan menganggap perang Dunia II, hanya urusan Eropah dan Amerika. Sutan Iskandar keluar dari organisasi itu setelah sampai di Sukabumi. Nyatanya setelah 2 tahun ketika Jepang masuk, pemimpin perkumpulan itu mendapat interogasi yang keras, karena dianggap sebagai antek-antek Belanda. Sutan Iskandar lepas, karena tidak ikut organisasi itu lagi.

Akan tetapi Sutan Iskandar tetap mengupulkan prangko-prangko tahun 1947 -1960, hanya saja barang –barang itu hilang tercecer karena dia sering berpindah tempat.

Nazegeling, atau segel atau bea-materai adalah suatu pungutan pajak tidak langsung yang diatur dalam Aturan Bea Materai 1921. Banyak yang tak mengerti bahwa objek materai bukan perbuatannya misalnya bukan perbuatan jual belinya yang barangkali tidak ada barangnya, akan tetapi suatu bukti telah terjadi tindakan hukum , jadi yang tak memakai materai dianggap belum melakukan perbuatan hukum. Seseorang menerima kuitansi tanpa meterai, bila tidak bermasalah, bukan masalah, akan tetapi bila ada gugatan bahwa dia belum menerima uangnya tanda bukti kuitansi tanpa segel menunjukkan belum terjadi perbuatan hukum (menerima uang). Banyak lagi surat-surat seperti surat penerimaan uang, pengakuan hutang, surat gadai, pemberian jaminan, dan surat perjanjian bersama tentang apapun, surat itu tanpa meterai tidak mempunyai kekuatan hukum apapun.

Pada tahun 1920-an banyak sekali perjanjian-perjanjian yang dibuat dihadapan saya, untuk menentukan harga bea meterainya. Materai ini menjadi penting bila ada perselisihan, dengan adanya perselisihan adanya materai menunjukkan adanya perbuatan hukum, sedangkan tanpa materai tidak ada perbuatan hukum.

Tentu saja banyak perjanjian dilakukan dalam bahasa Belanda atau Inggris dan Jerman. Pangkat Sutan Iskandar tidak tinggi betul, karena dia masuk hanya dengan ijazah HIS, akan tetapi pekerjaannya melebihi komis post biasa karena kemampuannya yang melebihi pegawai lain. Akibatnya pengawas (Tza Ctr) dari Sutan Iskandar, sama sekali tidak ada kerjaan, karena telah diselesaikan semuanya oleh Sutan Iskandar. Karena Sutan Iskandar sangat sibuk sendiri, dan tak sempat mencari makanan, maka bos-nya sering memberikan roti kejunya pada pukul 12 waktu makan. (bersambung)

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory)
Dr.Yul Iskandar., PhD.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: