Raja Iskandar Zulkarnaen dan Raja Darius.

Raja Iskandar Zulkarnaen dan Raja Darius
Raja Iskandar Zulkarnaen hanya membawa 40.000 pasukan, hanya seperempatnya pasukan berkuda, dan Raja Darius punya 400.000 pasukan, dan seperempatnya pasukan berkuda. Raja Iskandar Zulkarnaen punya penasehat- Jendral- jendral yang setia pada Raja Iskandar ..selanjutnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/03/15/raja-iskandar-zulkarnaen-dan-raja-darius/

His Story of Sutan Iskandar (6)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Tahun 1928 bulan Juli Sutan Iskandar menulis dalam catatan hariannya. Saya ditempatkan di loket R. Loket ini sangat penting karena menerima surat-surat tercatat, yang sering berharga mahal. Dimuka loket itu banyak benar orang berdiri harus berbaris secara teratur, baik kuli maupun pembesar, kalau tidak maka datanglah seorang penjaga ruangan (zaalwachter) menghampiri orang itu dan disuruh berdiri ke belakang orang yang dahulu datang dari dia, karena yang dahulu datang itulah jang harus dahulu ditolong. Saya pernah menyaksikan bahwa Kepala kantor pos sendiri (Hckt Houpt) di Jakarta berbaris di muka loket penjual perangko untuk membeli sehelai kartu pos, walaupun dia menguasai kantor itu, namun dia tunduk pula kepada aturan

Orang Belanda terkenal dengan disiplin yang tinggi. Khususnya warga sipil Belanda. Semua harus teratur dan tertib, juga dalam bahasa. Bagi orang Belanda berbahasa harus tertib, apakah itu bahasa Belanda atau bahasa Inggris. Orang Inggris sendiri tidak terlalu peduli apakah bahasanya agak melenceng, tetapi orang Belanda akan marah kalau berbahasa tidak tertib.
Dalam hal yang kecil-kecil dia sangat disiplin, misalnya seperti antri membeli perangko, Kepala kantor sendiri antri. Akan tetapi dalam banyak hal karena orang Belanda sedikit, maka sering diserahkan pada bangsa pribumi. Orang – orang pribumi ini kurang disiplin, baik karena kurang mengerti, kurang pendidikan ataupun budayanya memang tak disiplin. Misalnya kalau di kantor pos besar, mereka berdisiplin mengantri, karena ada pengawas, lain halnya di kantor pos pembantu. Bila pada akhir bulan banyak wesel datang, maka mereka berkerumun didepan loket, dan biasanya sering sulit untuk disuruh mengantri. Hal ini terjadi sejak zaman Belanda dan barangkali juga sampai zaman sekarang. Budaya mengantri tidak terdapat dalam kamus orang Indonesia.

Peranan kantor pos dalam suatu negara sangatlah vital. Di Amerika Serikat peranan ini menyatukan para ’colonist’ yang berdiam di Amerika dengan orang Inggris. Peranan ini sangat penting apalagi di Amerika Serikat . Post Master yang terkenal sebelum kemerdekaan Amerika Serikat adalah Benyamin Franklin. Dibawah Benyamin Franklin kantor post menjadi pusat-pusat nasionalist Amerika. Bangsa Inggris marah dan memecat Benyamin Franklin sebagai Post Master karena mengorganisasi dan menyatukan para ’Colonist’ colonist itu. Makin lama makin jelas para ’colonist’ Amerika membuka konfrontrasi dengan Bangsa Inggris. Setelah pemecatan itu timbul reaksi yang besar dari bangsa Amerika, dan mereka makin marah terhadap Inggris. Ini terjadi 2 tahun sebelum proklamasi kemerdekan Amerika. Dalam suatu pertemuan para colonist Benyamin Franklin diangkat menjadi Post Master General. Dua tahun dia berkecimpung dalam urusan post, dan tentu saja makin lama nasionalisme para colonist makin kuat untuk memisahkan diri dari Kerajaan Ingggris. Benyamin Franklin menjadi Post Master General selama dua tahun, kemudian dia lebih sibuk dengan revolusi kemerdekaan Amerika.

Ternyata banyak surat surat penting yang dikirim para pedagang yang perlu di perlakukan istimewa, surat itu dinamakan surat tercatat. Amerika Serikat mulai tahun 1855 telah mulai dengan service itu, dan di Indonesia pada waktu yang bersamaan, kantor pos-kantor pos mulai didirikan. Jasa lain yang ada dikantor pos selain mengirimkan uang, adalah mengirim barang sampai dengan batas berat tertentu yang dinamakan post-paket. Dan akhirnya kemudian mereka membuat sistem penyimpanan (saving) uang di kantor post (post per Bank). Pada saat itu Bank-bank hanya ada dikota-kota besar, sedangkan kantor pos Hindia Belanda telah masuk kedaerah-daerah terpencil. Setelah kemajuan yang pesat dengan sistem telegram, maka jasa itu di-inkoperasikan menjadi jasa Pos dan Telegraph, dan kemudian menyusul jasa telepon. Jadilah pada tahun 1928 bernama Post Telegraph dan Telepon (PTT).

Pekerjaan post sendiri telah ada sejak 4000 tahun yang lalu. Kerajaan Mesir, Assyria, Babilonia, Romawi, Persia , China. Mongol dan pada umumnya negara negara yang berkuasa pada saat itu mempunyai sistem post yang baik. Raja Darius dari Persia membuat jalan post sejauh 2500 km dari paling timur didaerah Iran sekarang sampai Sardinia dilaut Aegea (sebelah barat), daerah Yunani. Sistem post mereka adalah setiap 25 km didapatkan post station, (dua jam perjalanan berkuda) dan orang bekuda dari satu station ke station lain. Kiriman dikirim estafet dan jarak 2500 km itu ditempuh dalam 3-4 hari. Raja Darius dari Iran yang membuat jalan Post, tetapi Raja Iskandar Zulkarnaen dari Macedonia yang memanfaatkan jalan itu, untuk menyerbu Iran (Persia), dan mendudukinya.
Raja Iskandar Zulkarnaen hanya membawa 40.000 pasukan, hanya seperempatnya pasukan berkuda, dan Raja Darius punya 400.000 pasukan, dan seperempatnya pasukan berkuda. Raja Iskandar Zulkarnaen punya penasehat- Jendral- jendral yang setia pada Raja Iskandar Zulkarnaen. Akan tetapi Jendral –jendral dia, adalah orang-orang konservatif. Waktu ditanya oleh Raja Iskandar Zulkarnaen apakah dia akan menang dalam peperarangan, jendralnya pesimis. Pertama dia kalah dalam jumlah, kalah dalam logistik, kalah dalam pengalaman. Raja Iskandar Zulkarnaen baru berumur 30 tahun, sedangkan Raja Darius berumur 50 tahun, dan pernah mengalahkan tentara Junani yang terkenal kuat. Waktu ditanyakan bagaimana cara supaya menang jendralnya berkata, bahwa serangan sebaiknya malam hari, dan dilakukan serentak dan pasukan janga terbagi.
Raja Iskandar Zulkarnaen hanya mengangguk, dan dia tahu pasti bahwa Raja Darius akan memperkirakan hal yang sama, jadi setiap malam tentara Persia disiapkan dengan kuat. Sedang waktu siang mereka disuruh istirahat.
Raja Iskandar Zulkarnaen membuat rencana penyerangan yang berbeda dengan pikiran para jendralnya. Dimalam sebelum penyerbuat beberapa pasukan Raja Iskandar Zulkarnaen memasuki kubu – kubu tentara Darius, sambil membagi-bagikan Hashis (Ganja) yang banyak tumbuh liar di Persia Barat. Malam itu Pasukan Darius berpesta, karena merasa bahwa pasukan Raja Iskandar Zulkarnaen tak akan menyerbu. Paginya hampir semua pasukan Darius kelelahan, dan sebagian tertidur, karena terlalu banyak memakai Hashis.
Raja Iskandar Zulkarnaen kemudian membagi tentaranya dalam 8 kelompok dan disuruh menyerang dari 8 penjuru mata angin. Serangan mendadak, dan dalam keadaan letih dan mabuk tentara Persia lari kocar – kacir, sedangkan Raja Darius ditangkap oleh Raja Iskandar Zulkarnaen, dan di perlakukan terhormat. Raja Darius kemudian mengakui kehebatan strategi Raja Iskandar Zulkarnaen dan menganggapnya bahwa dia adalah keturunan Raja Persia, dan pantas dinikahkan dengan anak Raja Darius.
Setelah menaklukan Persia Raja Iskandar Zulkarnaen terus menuju timur sampai di India. Disetiap Negara Raja Iskandar Zulkarnaen mempunyai permaisuri. Di India dia mempunyai Permaisuri keturunan Raja Hindustan. Didalam kisah-kisah raja-raja Minang, diceritakan bahawa Iskandar Zulkarnaen, dengan putri Hindia itu berputra 3 orang. Satu putra bernama Sultan Maharaja Alif, seorang lagi bernama Sultan Maharaja Depang, dan yang bungsu bernama Sultan Maharaja Diraja. Sultan Maharaja Alif menjadi Raja di tanah Hindia, Sultan Maharaja Depang disuruh menjadi Maharaja di Mongol (Cina), sedangkan Sultan Maharaja Diraja ke tanah Jawi (maksudnya kepulauan atas angin) .
Sultan Maharaja Diraja turun ke Bukit Siguntang didaerah Palembang. Anak –Cucunya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Salah satu turunannya meneruskan pemerintahan ke daerah Minangkabau. Semua Raja-raja Minang menganggap dirinya adalah keturunan langsung Iskandar Zulkarnaen dari putri India. Sutan Iskandar yang merupakan keturunan Tuanku Tagang Tunjuk, percaya bahwa dia juga salah satu keturunan Iskandar Zulkarnaen.

Sistem post ini ditiru oleh bangsa Romawi dengan suatu dekrit yang dinamakan cursus publicus. Bangsa Romawi sebenarnya yang mulai menamai station relay untuk penyampaian berita dinamakan post, dalam bahasa latin berasal dari kata positus atau tempat atau posisi. Bangsa Romawi telah mengenal pula pembagian cursus velox , sistem cepat atau expres yang dikirim secara estafet dan dilakukan 24 jam, sedangkan cursus clabularis adalah kiriman-kiriman yang diberlakukan secara biasa jadi datangnya lebih lambat. Dalam zaman kegelapan Eropah, diabad pertengahan, dengan jatuhnya kerajaan Romawi, maka sistem postnya juga hancur. Suatu negara dapat dilihat dari sistem post-nya, bila sistem postnya bisa dipercaya maka negara itu kuat, sedangkan bila sistem postnya tidak dapat dipercaya menandakan negara itu akan hancur.

Sutan Iskandar menceritakan legenda dari nenek- moyangnya dari Kerajaan Minangkabau.
Pada awalnya ada dua datuk, yaitu Dt Marajo Basa di Padangpanjang dan Dt. Bandaro Kayo di Pariangan Padangpanjang. Kedua datuk itu menyusun undang-undang aseli yang bernama Undang-undang si Mumbang Jatuh, undang-undang si Gamak-gamak dan si Lamo-lamo. Ketiga undang-undang ini disusun tangkainya satu demi satu, di pakukan ketiang panjang, dan dibasuh kelautan.

Berdasarkan undang-undang (konstitusi) itu kemudian Datuk Ketemenggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang (mereka satu ibu lain bapak), membuat undang-undang yang sama yang telah ada. Dasar peraturan Datuk pertama adalah berpucuk bulat titik dari atas dengan caranya bertangga turun. Dasar peraturan Datuk kedua Berakar (urat) tunjang, membersut dari bumi dengan tata caranya berjenjang naik. Kelihatannya kedua peraturan itu berbeda, akan tetapi sebenarnya sama, hanya beda sudut pandang saja.

Bila terjadi pertikaian dan pertentangan akan dibawa ke Balai nan saruang di Pariangan Padang panjang, disana kerapan adat mempunyai kekuasan mutlak (punya hak veto), Genting putus biang tembuk, dan ketua dari kerapatan adalah Datuk Maharajo nan banego-nego.
Sejak awal di Minangkabau pemerintahan adalah demokrasi, dan demokrasi tertinggi yang memutuskan adalah dalam kerapan adat, yang mempunyai hak veto dan undang-undang atau aturannya harus diturut.

Adapun tempat atau koto yang pertama adalah Galundi nan Baselo dimana datuk-datuk yang tersebut diatas tinggal. Dari kisah ini ada raja dari Sriwijaya (jadi keturunan Iskandar Zulkarnaen) yang membawa tentara kepedalaman. Raja itu bernama Sang Superba. Dia datang membawa pedang yang panjang dan menakut-nakuti rakyat. Di Minangkabau tak ada tentara, maka disampaikan kepada Datuk Suri Dirajo yang merupakan ketua kerapatan adat. Dalam pertemuan Datuk Suri Dirajo yang mempunyai anak bernama Sutan Maharajo Basa (Besar) dan para datuk yang lain disepakati bahwa Sang Superba, akan dijadikan orang semenda (dikawinkan dengan keluarga raja) dan diadakan pesta riang yang besar-besaran. Maka tempat itu dinamakan Pe(riang)an Padang Panjang. Dia dijadikan Raja dengan nama Batu Subang Gadang. Anak dari Batu Subang Gadang, kemudian menjadi Datuk perpatih nan Sebatang (karena dia mendapat peti (perpatih) dari sebatang pohon. Kemudian dia membangun rumahnya dari sebatang pohon kayu yang dinamakan kayu Bodi. Anak keturunannya kemudian menyebutnya suku Bodi Chaniago.

Demikian berkembang rombongan-demi rombongan mulai dari Periangan Padang Panjang terus ke daerah Lima puluh koto (karena ada 50 orang yang pergi merantau dan tinggal di daerah itu).
Sementara itu anak kemenakan Datuk Ketemanggunan (satu ibu lain bapak dengan Datuk Perpatih nan Sebatang) menyebut dirinya suku Koto Piliang (berasal dari kata pilihan.), karena kata –kata datuk itu selalu keluar yang baik-baik yang telah terpilih dari pikiran yang sehat. Datuk Ketemanggungan dengan pengiringnya menuju Sungai Solok, yang pada waktu bernama Batang Teranjur, dan kemudian berganti nama menjadi rantau Tiku-Pariaman.
Adapun daerah ulayat kaum koto Piliang mulai di hilir G. Merapi sampai di Pantai Lautan Hindia. Salah satunya nanti akan ke Pariaman, daerah yang waktu itu disebut rantau (daerah dibalik bukit barisan). Di Pariaman kebanyakan dari para Penghulu, Damang dan Laras, biasanya berasal dari suku Koto Piliang. (Sutan Iskandar juga berasal dari Suku Koto Piliang) semuanya anak kemenakan Datuk Ketemanggunan. Salah satu anaknya yang lahir di Pariaman dinamakan Anggun nan Tunggal Magek Jabang. Salah satu keturunannya adalah Tuanku Tagang Tunjuk.

Di Minangkabau tanah dan harta , diwariskan kepada kemenakan, bukan kepada anak, akan tetapi di Pariaman, dimana kebanyakan berasal dari suku Koto Piliang (dan nanti suku Mandailing), maka ayah menurunkan kepada anaknya, misalnya gelar (Sutan, Sidhi dan Bagindo) begitu juga harta-harta yang didapat oleh bapaknya, akan diberikan kepada anaknya, sebab undang-undang orang Koto Piliang (anak kemenakan Datuk Ketemanggunan) adalah titik dari atas, berjenjang turun, bersifat feodal, ada raja-raja kecil (Sutan-sutan) dan agak berbeda dengan orang Minang dari Tanah Datar atau Agam.

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory)
Bersambung ke
Sutan ISKANDAR (7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: