Di Sydney

Di Sydney
Enam bulan telah lewat, dan Prof DW mengatakan bahwa kelompok octopamin telah terbentuk, dan dia telah punya kantor baru di StVisHos yang cukup besar. Dia menunggu kedatangan saya . . . . . .selanjutnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/03/12/di-sydney/

Autobiogrphy Dr. Yul Iskandar (11)
Dalam penelitian di DCP, maka untungnya saya telah mengerti benar cara kerja TLC (Thin Layer Chromatographi) , CC (Coulom Cromatographi), FP (Flame fotometri dan GC-MC (Gas chromatography dan mass spectrometri), yang pada saat itu masih merupakan alat-alat laboratorium canggih yang baru. . Saya juga sudah biasa bekerja di laboratorium, jadi membuat zat Apomorphin yang diperlukan 20 mg/ kg BB, sedangkan tikus beratnya 200 gram, artinya saya harus menimbang 4 mg. Timbangan dalam mg dengan kesalahan yang diperbolehkan lk 2%, bukan hal yang mudah.
Begitu juga ‘bermain’ dengan tikus bukan hal yang menyenangkan. Saya psikiater dan yang kerjanya berbicara dengan orang, kini berhadapan dengan tikus bule yang beratnya rata-rata 200 g. Pekerjaan ini bukanlah hal yang enteng. Karena saya bekerja dengan berbagai obat psikotropik ( diantaranya kokain dan Amphetamin), maka saya diberi lemari khusus yang kuncinya saya pegang dan satu lagi di pegang oleh Prof.DW sebagai pimpinan DCP.
Obat-obat ini tiap bulan saya harus pertanggung jawabkan pemakaiannya, karena pada waktu itu abuse Kokain sedang melanda kota Sydney.

Karena mendapat uang yang cukup saya bisa tinggal di Apartemen yang Fully Furnish didaerah Elisabeth Bay, ada kolam renangnya, tempat yang berbatasan dengan tempat terkenal di Sydney ‘King Cross’ Saya memilih daerah itu karena daerah itu cukup aman, banyak polisi, dan kendaraan taksi ada 24 jam didaerah itu. Selain itu dari apartemen ke Hospital jalan kaki antara 15-20 menit.
Ditempat lain di Sydney, pukul 8 malam sudah sepi, kota Sydney cukup besar tetapi penduduknya tak lebih dari 2 juta orang, sedangkan seluruh Australia hanya 16 juta orang pada saat itu. Kami menyewa apartemen dengan segala yang diperlukan, seperti kompor, alat-alat untuk mencuci pakaian, pengering sampai TV berwarna.
Dari tempat saya ke StVinHos, jalan kaki selama 15-20 menit. Saya pernah mencoba untuk naik bis. Waktu mau naik di halte ada 12 orang sedang mengantri untuk naik bis. Saya bertanya arah ke StVinJHos bis nomor berapa. Saya bertanya dalam bahasa Inggris, dan semua geleng-geleng kepala. Tadinya saya pikir bahwa dia tak tahu nomor bis, saya ajak bahasa Inggris, dia geleng –geleng kepala. Dari 12 orang itu tak satupun yang bisa berbahasa Inggris, satu dari Vietnam, 3 dari Cina, 2 dari Rusia, 2 dari Afganistan, 2 dari Libanon, pokoknya tidak ada yang berbahasa Inggris. Ketika bis datang saya berteriak dalam bahasa Indonesia, apakah ada yang berbahasa Indonesia atau Inggris. Ternyata kondektur bis itu orang Indonesia, dia yang memberi tahu, bahwa bis nomor ini akan melalui StVisHos, tetapi memutar dahulu ke City, dan berbalik arah menuju Elisabeth Bay kembali melalui St. VisHos. Saya coba naik bis itu ternyata bahwa 45 menit baru sampai di kantor, karena harus memutar dahulu. Jadi saya hanya sekali naik bis kalau pergi ke StVinHos tapi pulangnya sering naik bis karena bisa lebih cepat antara 7-10 menit, asal kita tahu jadwalnya.

Kita kembali waktu akan pergi ke Sydney, setelah ada persetujuan dari Prof. K dan bagian psikiatri, saya mengurus paspor saya, tentu melalui CKN (central keamanan Nasional) dimana saya bekerja di DevKesehatan. Saya diberi paspor dinas (service paspor) yang berlaku selama 3 tahun. Pada saat itu Prof.K juga diangkat menjadi Kepala Direktorat Kesehatan Jiwa, pada awalnya dia masih merangkap sebagai kepala bagian psikiatri.

Dalam waktu 6 bulan saya menunggu, akan panggilan dari DepKes yang katanya Prof.DW akan mengirim surat ke Menteri kesehatan meminta sayauntuk bekerja di DCP di St VisHos. Selama itu di Indonesia ada berbagai masalah salah satunya dalah masalah terjadinya Malari. Satu bulan sebelum kejadian HS dan SY datang pada saya untuk menanyakan apakah saya dan kawan-kawan (mahasiswa Trisakti) ikut dalam aksi atau tidak. Dia tahu saya aktivis 66, tapi sudah jadi veteran, dan jadi dokter biasa. Saya katakan bahwa analisa HS dan SY tidak tepat benar, karena Orang No 1 di Republik Tidur adalah cukup kuat. Pada saat itu tidak ada alternative yang akan menggantikan. Dan jangan lupa orang no1 pada saat itu masih berumur kepala 5 awal, jadi masih segar. Disamping itu karena saya bekerja di CKN, walaupun dalam divikesehatan, saya tahu persis bahwa semua orang loyal pada The No 1 (TN1). Kejadian Malari tak bisa di elakkan, anak muda tidak sabar, veteran angkatan 66 yang tak dipakai TN1 serta OTP (orang yang tak puas karena tak kebagian) tidak sabar.
Memang ada beberapa hal yang mencolok, hutan-hutan dibagi antara kawan-kawan TN1, tanpa mengindahkan bahwa tanah itu tanah adat atau tanah ulayat penduduk setempat. Pembuatan Jalan tol, menggusur tanah rakyat dengan ganti kerugian minimal. Tanah rakyat dengan seenaknya dikapling dan diberikan pada pengembang untuk menjadi Real Estate, dimana tempat, peruntukan dan prasarana ditentukan / dibantu pemerintah, tetapi penduduk setempat belum menerima uang. Bila tanah itu laku dalam real Estate itu barulah rakyat dibayar. Harga di Real Estate bisa 100 kali dari harga yang dibayarkan ke Rakyat. Pengembang-pengembang saat itu semua adalah kroni dari TN1.

Semua orang kelas menengah bisa melihat itu, tetapi rakyat kebanyakan, yang tidak terkena apa-apa, melihat bahwa Jalan-jalan baru (jalan Tol) berkembang, gedung-gedung tinggi mulai menjulang. Beras dan bensin tersedia cukup banyak dan murah, karena harganya disubsidi. Pemerintah punya banyak uang dari hasil hutan, pertambangan, dimana harga-harga didunia melambung tinggi dan menjadi penghasilan yang luar biasa dari kroni-kroni TN1.

Selama itu peristiwa malaria terjadi dan kemudian Ayah saya sakit menderita kanker dan masuk RSPAD selama berbulan-bulan, dan saya menemaninya, kepergian ke Australia jadinya tidak lagi diingat. Semua orang tahu, dan mulai mencemooh bahwa saya akan pergi ke Australia tapi tak pernah pergi, hanya mimpi.
Satu bulan setelah Ayah saya meninggal saya menerima surat dari Prof.DW yang menanyakan kepergian saya ke Australia, dan dia telah mengirim surat ke menteri Kesehatan, tapi tak ada jawaban. Kini surat itu ditembuskan kepada saya dan Prof. K untuk menanyakan masyalah itu. Saya Tanya Prof K hanya bilang sabar, dia hanya bisa menanyakan masalah itu pada atasannya, dan tentunya Prof.K tidak bisa menanyakan masalah itu langsung ke Menteri. Menurut atasannya bila ada surat seperti itu akan di-disposisi ke dia, dan ke bagian Hubungan luar negeri dan Hukum (HubLuKum).

Enam bulan telah lewat, dan Prof DW mengatakan bahwa kelompok octopamin telah terbentuk, dan dia telah punya kantor baru di StVisHos yang cukup besar. Dia menunggu kedatangan saya, malahan telah menyurati kedubes Australia. Sayapun telah ditelepon oleh dari bagian konsuler Australia untuk datang ke kantor kedutaan yang waktu itu berada di Jl. Thamrin.

Disana dia mengatakan bahwa saya ditunggu, dan bisa diberikan Visa Australia. Dia menanyakan pada saya apakah saya sudah punya paspor, dan saya perlihatkan paspor saya. Saya katakan bahwa saya mau ke Australia bila istri saya juga diberi Visa untuk bersama datangnya. Dia bilang saya dulu pergi ke sana nanti enam bulan kemudian istri saya menyusul. Saya berikan paspor istri saya, dan mengatakan bahwa kalau istri saya tak diberi Visa Australia, saya tak jadi berangkat.

Satu bulan kemudian saya ditelepon lagi oleh konsuler bahwa Visa saya dan Visa istri saya telah selesai dan bisa diambil. Setelah mendapat paspor dan Visa saya menanyakan lagi izin saya ke Australia dari Meneteri Kesehatan, tapi kata Prof K dia belum mendapat kabar, jadi tunggu saja.

Kemudian saya pergi ke Mr.M salah seorang kawan, mentor dan guru politik saya, tapi bukan para normal, yang punya relasi cukup luas. Dia mengajak saya pergi ke Prof. Syulianti S, dan mengenalkan saya bahwa saya dari Direktorat anu, yang diundang ke Australia tapi izin dari Menteri Kesehatan belum keluar. Dia waktu itu menjadi DirJen di Depkes. Dia menanyakan apakah ada surat jaminan untuk hidup di Australia, saya katakan saya punya surat dari sponsor yaitu RFEF, dan juga beberapa surat Prof DW ke Menteri kesehatan, yang tembusannya diberikan kepada saya. Dia Tanya apakah saya sudah punya paspor, saya jawab sudah malahan Visa Australia telah keuar. Dia Tanya lagi apakah atasan saya Prof.K setuju saya berangkat, saya katakana yang menunjuk saya pergi dalam rapat di fakultas adalah Prof.K sendiri.

Dia bilang kalau begitu, lupakan saja surat dari menteri, karena ini bukan jalan biasa, jalan biasa adalah Menteri menganggap perlu ada seseorang ahli disuatu bidang, dan kemudian Menteri mencarikan sponsor (biasanya Colombo Plan atau lain-lain) dan dari sana akan diurus paspor dan visa serta biaya keberangkatan.

Karena jalan saya adalah jalan luar biasa, maka sebaiknya dilakukan secara luar biasa, saya besok disuruh ke bagian hubungan luar negeri dan Hukum, dan berikan surat dari saya, kata Prof.SS.. Besoknya saya pergi ke Bagian HubLu&Kum, menemui Mr.Mul. dia orang minang. Dengan bahasa Minang yang patah-patah saya ceritakan masalah saya, dan surat dari Prof. SS.. Kemudian Mr.Mul menelepon Prof. K dan dia menanyakan apakah Prof.K benar menyetujui Dr.YI pergi ke Australia. Tentu Prof K dengan lantang mengatakan bahwa dialah yang berinisitif supaya Dr. YI ke Australia, tetapi izin dari Menteri tidak turun-turun. Mr.Mul kemudian mengatakan apakah Prof.K tidak keberatan bila dia (Mr.Mul) akan menyelesaikan urusan Administrasi ke- pergian Dr YI ke Australia. Prof. K mengatakan apakah tidak perlu menunggu izin menteri dahulu. Mr Mul mengatakan yang penting disini adalah peranan Prof. K, karena menteri tak akan kehilangan Dr.YI, berapa lamapun dia pergi, tetapi Prof K apakah memerlukan Dr.YI di Indonesia saat ini. Prof K mengatakan supaya ditekankan Dr.YI harus secara tertulis menulis akan pulang bila tugas di Australia telah selesai. Singkat kata setelah pembicaraan itu Mr Mul mengatakan anda bisa pergi, kapan saja karena Paspor dan Visa anda telah punya, Izin atasan langsung telah diterima dan MrMul adalah saksi bahwa Prof.K tak keberatan. Sebenarnya Prof. K tidak tahu bahwa saya telah punya paspor dan telah punya Visa untuk bekerja di Australia.

Beberapa urusan saya harus selesaikan di Indonesia, diantaranya status saya di CKN, dimana kini orang nomor 1 disana telah diganti, dan tidak begitu dekat dengan saya. Dia tentu mengizinkan saya pergi, dengan ketentuan tak ada gaji selama saya pergi. Begitu juga di Trisakti saya harus menimbang terimakan jabatan saya sebagai Kepala Bagian Biokimia dan asisten Pembantu Dekan FKG, dan beberapa kantor serta kegiatan saya dalam bidang Penerbitan, maupun pengelolaan Beasiswa. Saya memberikan Beasiswa kepada beberapa mahasiswa dan ini harus saya berikan pada kawan saya Dr.H yang bersedia melanjutkan beberapa tugas social dan bisnis.
Saya juga mengirim surat pada Dr.HC dari RFEF dan Prof. DW bahwa izin kepergian saya telah keluar, dan paspor serta Visa saya beserta istri telah ada ditangan saya. Dalam waktu satu minggu saya telah mendapat Tiket (business) class, pergi telah dijadwalkan 3 minggu lagi, pulangnya open. Dalam tiket itu juga ada extra untuk mengunjungi Canbera, Adelaide (Australia Selatan) dan Melbourne yang dapat dipakai kapan saja karena tanggalnya masih open.

Waktu 3 minggu jadi pendek, untungnya kepergian saya di musim panas, sebab saya tak punya baju dingin, kalau musim dingin akan sangat dingin. Dr.Soeharto Heerjan, menyuruh saya ke rumahnya. Dia waktu itu kepala bagian menggantikan Prof.K di Bag. Psikiatri. Dia memberi nasehat bagaimana seharusnya anak muda di Australia, dan karena dia tahu saya berangkat dengan istri dan belum punya anak, maka dia menganggap saya cukup beruntung, dia memberi saya lukisan P.Diponegoro dengan berlatar belakang batik untuk diberikan pada Prof.DW dan supaya kerja sama tidak berakhir pada saya saja, tetapi nanti psikiater-psikiater muda lainnya dapat mengikuti jejak saya.. Kembali dia menekankan bahwa saya harus kembali, bila telah selesai, karena banyak kawan-kawan saya yang tak mau pulang ke Indonesia, setelah berada di Luar negeri. Dia juga mengatakan bahwa Psikiatri Biologik dan Psikofarmakologi adalah langka, mudah-mudahan saya bisa mengembangkan di Indonesia.
Prof. K dan Istri mengundang saya makan malam dirumahnya setelah selesai beliau praktek. Prof. K bercerita bahwa pada awal dia keluar negeri dia di University of Berkeley, dia menyewa satu Apartemen, dan hidup secukupnya, dan jangan berpikir untuk mengumpulkan uang disana. Banyak mahasiswa Indonesia di Berkeley berpikir untuk mengumpulkan uang, sehingga hidup disana sangat dikekang. Berpikirlah untuk mengumpulkan ilmu, jangan berpikir mencari uang. Dia juga meminta saya untuk tidak tenggelam, tapi harus pulang ke Indonesia, walaupun tentu disana akan jauh lebih senang. Prof. K waktu pulang memberikan amplop berisi chek, yang dia katakan sebagai bekal sebelum mendapat gaji, karena kehidupan disana pasti mahal.
Undangan lain adalah Dr. Yetty Noor, Dekan FKG Trisakti, yang berbeda dengan yang lainnya dia malahan menganjurkan saya untuk mengambil Ph.D di Australia. Mengambil Doktor diluar negeri jauh lebih mudah dari pada di Indonesia, setelah menjadi doctor bekerja dahulu disana, setelah cukup ilmu dan cukup uang baru kembali ke Indonesia. Itu pengalaman bapaknya Sutan Muh Zain, dan pengalaman kakaknya Zairin Zain. Tidak ada gunanya cepat-cepat kembali, kalau sudah mapan baru berpikir untuk pulang. Dia memberikan Perahu bugis mini, buatan kendari dari perak untuk diberikan pada Prof.DW. Dia mengatakan bahwa kita orang Indonesia biasanya memberikan cendera mata baik untuk institusinya (Clinical Pharmacology) maupun pada orangnya Prof.DW.

Tentu saya tidak lupa menemui Prof.SS yang secara tidak langsung memberikan jalan kepada saya bagaimana menembus kebuntuan keberangkatan saya ke Australia yang sudah hampir 2 tahun. Dan ada seorang lagi yang tak mungkin dilupakan, yaitu Dr.RP, dia mempunyai surat kabar, tapi juga pada saat itu Direktur perusaan obat Carlo Erba Indonesia, dia mengajak makan saya justru ditempat yang sangat Istimewa yaitu ditempat tertinggi di Jakarta pada saat itu. Dan lantai tempat tertinggi itu dapat berputar perlahan-lahan, sehingga kita bisa menikmati pemandangan Jakarta. Selain itu Dr.RP menjanjikan akan mengirimkan surat kabar sorenya setiap hari ke tempat saya tinggal, selama saya di Australia. Yang mengesankan adalah dia memberi saya sepatu Bally yang baru dibelinya di Italia (Carlo Erba perusahaan Italia, kini sudah tak ada lagi di Indonesia), yang saat itu harganya barangkali setahun gaji saya sebagai pengajar di UI. Ternyata benar pada awal musim dingin sepatu buatan Indonesia terkelupas solnya, tetapi sepatu Bally bertahan hingga 5 tahun tanpa cacat.
Kepergian saya yang tiba-tiba itu mengejutkan semua pihak, sebab sudah hampir dua tahun, dibilang mau pergi tapi tak jadi pergi-pergi, tahu-tahu akhirnya kepergian saya jadi seperti mendadak, waktu berangkat dilapangan terbang diantar seperti orang yang mau naik haji, dari keluarga saya, keluarga istri, Psikiater senior seperti Dr. Soeharto Heerjan, Dr.OOA dan Dr. Prabu Ganesya, Beberapa mahasiswa FKG Trisakti, cukup ramai jadinya.

Autobiography dalam tulisan ini semua nama termasuk nama seluruh keluarga saya, karakter, tempat, institusi, situasi bukanlah berada di Indonesia , tetapi disuatu tempat di. . . . Republik Tidur.
(bersambung).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: