Menuju pembentukan konfederasi Hindia Belanda.

Menuju pembentukan konfederasi Hindia Belanda
Dalam kesepakatan itu pemerintah Hindia Belanda bersedia membuka sekolah-sekolah untuk menjadi guru yang dinamakan Sekolah Raja. Keluarga kaum bangsawan . . . . . dan setrusnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/03/11/menuju-pembentukan-konfederasi-hindia-belanda/

His Story of Sutan Iskandar (5)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena Tentara Belanda yang membatu Batak di Tanah karo, memakai siasat jahat, yaitu membuat sungai sungai yang dilalui pasukan Paderi dengan kuman-kuman yang kemudian dikenal dengan kuman Kolera, serta melemparkan pasukan-pasukan Paderi dengan bangkai- bangkai tikus yang mati karena penyakit Sampar atau pes. Dalam penyerbuan kearah utara itu Pasukan Paderi mengalami berjangkitnya penyakit kolera dan penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak hanya tersisa sekitar 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di medan petempuran, melainkan mati karena penyakit kolera dan penyakit Pes.
Melihat situasi itu Tuanku Rao menganggap sudah tak mungkin lagi menguasai seluruh tanah Batak. Daerah Batak selatan atau Mandailing telah masuk Islam semuanya. Dia bermaksud menarik mundur pasukannya dari Tanah Batak Utara, Perhitungannya sangat realistis, peng Islaman seluruh Tanah Batak sudah tak mungkin lagi.. Namun Tuanku Imam Bonjol berkeras dan tak mau tahu, dia menyuruh membuat pasukan baru dan memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya terus menyerang Batak utara. Tentara Belanda dan para misionaries bersama –sama orang Batak Utara menyusun kekuatan melawan Tuanku Rao yang telah berkurang kekuatannya. Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol. Perintah Tuanku Rao keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan dan mereka bermukim di daerah Pariaman.
Tuanku Tagang Tunjuk setuju peng Islaman daerah Batak, tetapi tak setuju dengan cara-cara kekerasan untuk mengIslamkan tanah Batak. Tuanku Tagang tunjuk menerima para pengungsi dari Tanah Batak. Orang –orang batak ini kemudian mengaku menjadi orang Minangkabau, dan meninggalkan adat istiadat batak yaitu mereka yang tadinya patrilineal (menurut garis Bapak), menjadi matrilineal (menurut garis ibu), mereka menghilangkan marga-marga mereka, terutama marga Siregar, Nasution, Lubis dan Pane dan mengambil suatu suku yang telah ditentukan oleh Tuanku Tagang Tunjuk sebagai suku mandailing. Penghulu pertama dari suku mandailing adalah Tuanku Rao, dan mereka mendapat tanah ulayat yang letaknya diperbatasan daerah Pariaman dan tanah Mandailing. Semua anak keturunan suku Mandailing di Pariaman adalah anak cucu dari pasukan Tuanku Rao.
Akhirnya Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air bangis (Masih Daerah Pariaman) melawan Belanda sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal kepalanya oleh Halimah Rangkuti, atas perintah serdadu Belanda dan kemudian tubuhnya dicincang.

Sutan Iskandar menulis dalam catatan hariannya, dibulan Juni 1928, Pukul 10 malam bagian pos baharulah selesai tetapi bagian telegram dan radio tiada hentinya dalam 24 jam. Bukankah kaki kita beradu dengan orang jang diam di benua Amerika (tegenvoeter). Jadi apabila di Indonesia pukul 2 siang, maka di Amerika adalah pukul 2 malam dan sebaliknya. Kalau “neraca” pengawas pos berselisih, semalam-malamnya pegawai-pegawai jang bersangkutan harus berada di kantor dan tidak boleh pulang. Pada waktu pos luar negeri datang atau ‘mailbehandeling’, “maka pukul 23 atau pukul 24”, baharulah selesai dengan mendapatkan uang lembur sedikit.

Demikianlah Sutan Iskandar, kawan dari Zairin Zain, Soekarno, dan malahan pada waktu-waktu lain berteman dengan Tan Malaka, Syahrir, Moh.Hatta, akan tetapi karena nasib yang menentukan dia menjadi pegawai pos biasa.

Ketika Dr.YI, menanyakan mengapa dia merayakan hari lahirnya 5 Januari, dan menyebut tahun kelahirannya 1905, Sutan Iskandar menceritakan bahwa tanggal 5 Januari 1905, dikatakan hari kelahiran Sutan Iskandar, berdasarkan cerita Sutan Darwis.

Menurut Sutan Iskandar, pada tanggal 5 Januari 1905, diadakan suatu konferensi di Biliton (P.Belitung) yang dihadiri oleh semua raja-raja termasuk Sultan Hamengkubuwono , Paku Buwono, Raja Pasundan, Wakil dari Aceh, dari Nias, Halmahera, Bangka, Biliton, Banjar, Wakil-wakil dari Celebes dll. Dari Sumatra Barat adalah Damang Darwis dan Damang Jahya dari tanah Agam Konferensi tidak resmi itu atas perintah Ratu Belanda (Wihelmina), untuk menjajagi kemungkinan pembentukan konfederasi (atau Uni) Hindia Belanda. Dalam kesepakatan itu pemerintah Hindia Belanda bersedia membuka sekolah-sekolah untuk menjadi guru yang dinamakan Sekolah Raja. Keluarga kaum bangsawan di dahulukan untuk bisa sekolah, seperti Sutan Muhamad Zain, Sutan Zainul Abidin, Sutan Zainudin Rasyad, dan banyak lagi yang direkomendasikan untuk belajar. Pada tahun 1905 maka daerah yang maju adalah daerah Pariaman dan Kota Gadang, karena dari kedua kota itu banyak pelajar-pelajar yang mendapat konsesi untuk sekolah.

Dua puluh tahun kemudian, ternyata orang –orang yang mendapat keistimewaan itu, menjadi kaum cerdik pandai yang sangat kritis pada Belanda. Bangsa Belanda yang ada di Indonesia, pada umumnya berpikiran picik, dan sangat takut pada perkataan Merdeka. Mereka yang telah disekolahkan itu menjadi pionir-pionir dan berpikiran maju. Sebenarnya mereka tak keberatan dibawah Raja/ Ratu Belanda, akan tetapi bila di negeranya rakyat boleh bicara bebas, mengapa di Hindia Belanda dibatasi. Pemerintah Hindia Belanda setelah perang Dunia I, sangat Reaksioner, semua orang yang berpikiran bebas, dianggap kiri dan komunis, dan akibatnya banyak diantara mereka yang benar-benar berontak.

Pada saat Sutan Iskandar dilahirkan, jadi Sutan Darwis tidak melihat kelahiran Sutan Iskandar, akan tetapi setelah kelahiran Sutan Iskandar, dia menyuruh adiknya (Siti Aisah) minta cerai pada Sutan Zainul Abidin. Sutan Darwis merasa tersinggung, Damang Pariaman, Penguasa dipesisir Barat Sumatra (mendapat bintang kehormatan dari GG di Batavia) adiknya di madu dan tanpa minta persetujuan dari Sutan Darwis. Menurut Sutan Iskandar ini adalah paradox dari orang yang berkuasa. Disatu sisi dia memperjuangkan hak-hak seseorang, dipihak lain dia menjadi otoriter dan hanya dia yang benar, tanpa mendengarkan pendapat orang lain, malahan apa kehendak Siti Aisah adiknya sendiri, tak pernah ditanya oleh Damang Darwis.

Menurut Sutan Darwis, nama Sutan Iskandar, diberikan oleh dia (pamannya) untuk mengingat akan kakek moyangnya Iskandar Zulkarnaen, dan nama itu bukan diberikan oleh ayahnya. Memang di Sumatra Barat sistem adalah matrilineal (menurut garis ibu), jadi saudara ibu (mamak) sangat berkuasa.

Menurut Sutan Darwis Tuanku tagang Tunjuk, punya tiga puteri, yang pertama Puteri Cinto, Yang kedua Puteri Reno Ali, yang ketiga bernama Puteri Cimpah. Puteri Cinto dinikahkan dengan sahabatnya Tuanku Tagang Tunjuk (lebih muda 10 tahun) yang bernama Tuanku nan Batuah, yang menjadi Laras Hooft van V kota, sedangkan Puteri Reno Ali dinikahkan dengan Penghulu kepala Tjembago gelar Marajo Sakti (Tuanku Marajo Sakti), yang meninggal ketika terjadi Perang Paderi bentrokan Tuanku dari Royal Family dan Tuanku dari kelompok Paderi.

Puteri Reno Ali kemudian menikah lagi dengan Penghulu kepala Air Santo yang bernama Marah Chatib. Sedangkan anak ketiga Puteri Chimpah dinikahkan dengan penghulu kepala Naras.

Pada saat itu tahun 1780-1850, pertentangan antara kaum adat dan kaum wahabi sangat tajam. Tuanku Tagang Tunjuk ( Kakek Moyang Sutan Iskandar) adalah seorang Gubernur Minangkabau untukdaerah pesisir, dari mulai perbatasan mandailing, sampai perbatasan Bengkulen (Bengkulu) yang waktu dikuasai Inggris. Selain itu beliau adalah ulama besar (Tuanku), dia memimpin rakyatnya dan menjadi pengajar dalam agama. Pada permulaan abad ke 19 pertentangan sesama tuanku (antara kaum adat) dan kaum wahabi (yang dinamakan kaum Paderi) tajam tapi belum meruncing.

Akan tetapi ketika kepulangan kaum Tuanku yang muda, yang radikal yang berasal dari Agam, maka pertentangan menjadi sangat meruncing. Pertentangan ini karena ’young Tuanku’ menginginkan perubahan yang radikal.Mulai dari pakaian, adat istiadat semuanya harus disesuaikan dengan ajaran Islam (wahabi). Pertentangan dengan ’Old’ Tuanku tak terelakkan. Tuanku nan Batuah, menantu Tuanku Tagang Tunjuk menjadi salah satu korban pertengkaran itu. Tidak jelas siapa yang menyerang, tetapi akhirnya terjadi pembunuhan (politik) di Pariaman.

Dalam catatan Sutan Iskandar bulan Juni 1928, Besoknja Sutan Iskandar mendapat giliran dinas pagi mendjadi penulis panggilan x 13. beratus-ratus R. biasa, juga R. dengan harga dipertanggungkan dan R. jang akan ditebus (verrekeningan), harus siap pada malam itu juga dan berpuluh-puluh pesuruh pos hujan atau tidak harus menyerahkan surat-surat itu kepada alamatnja masing-masing. Kalau tidak, tentu pesuruh pos itu mendapat denda atau hukuman.

Sutan Iskandar menyadari bahwa dia harus bekerja dengan apa yang harus diperintahkan. Pekerja pos ditahun 1920-an akhir, merupakan pekerjaan yang melelahkan. Seperti dikemukakan diatas, pemerintah Belanda sendiri di negeri Belanda dalam keadaan sulit. Kapal-kapal dari negeri Belanda ke Indonesia sangat berkurang. Akan tetapi seluruh Hindia Belanda sudah dipersatukan oleh Belanda baik dengan perang (seperti Aceh), maupun melalui tipu daya. Tidak banyak peperangan yang dilakukan oleh Belanda, akan tetapi lebih banyak membuat perjanjian-perjanjian dengan penguasa-penguasa lokal.

Karena Hindia Belanda peraktis sudah bersatu, maka perjaan pos pun jadi luas, menyangkut berbagai daerah. Pada saat itu yang bisa membaca (huruf Latin) saja juga belum banyak, jadilah pegawai pos, sering disuruh membacakan isi surat yang dikirim. Betul ada larangan untuk membaca kiriman surat, akan tetapi karena yang menerima surat masih buta huruf (latin), jadilah tukang pos sering sebagai pembaca surat.

Pegawai pos dari Jakarta sering dikirim kedaerah (detasering), untuk membantu kantor pos-kantor pos yang baru dibuka. Perusahaan pos bukan suatu perusahaan yang mencari untung, akan tetapi merupakan salah satu mata rantai untuk persatuan negara. Kalau kantor pos disuatu kecamatan tidak ada, maka kantor camatlah dijadikan tempat pengiriman surat. Di Batavia tidak sulit, tetapi di daerah surat-surat R yang harus diambil sendiri oleh yang penerima alamat, alangkah sulitnya. Misalnya surat R dari daerah Mauk, maka si penerima harus mengambilnya di kantor pos Tangerang.

Selanjut Sutan Iskandar menulis, setiap hari diadakan pemeriksaan dengan jalan begitu, maka kelalaian tidaklah akan terdjadi. Jawatan P.T.T adalah salah satu jawatan jang kesohor berat pekerjaannja. Asrarudin Ketua Umum P.B. Postel pernah mengatakan : pegawai P.T.T. tidak hanja pandai menjual perangko saja, tetapi . . . . . (disini sajasendiri menjambung ucapan itu) bahwa pegawai P.T.T pandai pula bekerja berat seperti kuda, sehingga mendapat gelaran kudapos (postknol).

Ditahun 1920-an, komunikasi antar penduduk hanya melalui surat. Surat merupakan lambang modernisasi. Pada saat itu pula kemampuan membaca dan menulis bangsa Hindia Belanda meningkat tajam. Kalau dulu yang tahun 1900 yang tidak bisa membaca dan menulis (huruf latin) 99,99%, maka pada tahun 1920 yang tidak bisa membaca dan menulis (huruf latin) telah menurun menjadi 95%. Suatu kenaikan yang luar biasa yang berarti 5% dari 60 juta sudah bisa membaca dan menulis.

Sebenarnya sebelum itu penduduk pribumi, sudah bisa membaca dan menulis, yang pada umumnya tulisan arab gundul yang dinamakan huruf melayu. Ada pula huruf Jawa, Sunda, Batak, Bali dan huruf-huruf serta bahasa Etnis lainnya . Kantor pos membuat peraturan nama dan alamat harus dalam huruf latin. Ejaan huruf latin adalah berdasarkan ejaan Portugis, yang mengajarkan menulis dalam huruf latin, bukan ejaan Belanda atau Inggris. Jadilah huruf latin merupakan tulisan yang wajib, sebab bila dikirim surat dalam huruf Jawa dari Jakarta pasti surat itu tak akan terkirim.

Abjad (latin) kita pada awalnya berdasarkan kaidah abjad portugis, bukan berdasarkan kaidah belanda atau Inggris. Akan tetapi kemudian terjadi perubahan sedikit berdasarkan kaidah Belanda. Akan tetapi kaidah portugis tetap melekat dilidah bangsa Indonesia.

Sutan Iskandar menulis, pada jawatan P.T.T sekarang (1953) ada dua serikat buruh, jaitu S.B. Postel dan S.B.P.T.T. Dahulupun selalu ada dua serikat buruh P.T.T. jaitu : “PostBond” dan “MidPost”. Anggota dari jang pertama kebanjakan terdiri dari bangsa Belanda jang berpangkat tinggi dan jang kedua terdiri dari bangsa Indonesia jang berpangkat rendah. S.B. (serikat buruh) postel adalah anggota Sobsi yang berafiliasi dengan partai komunis sedangkan S.S.(Serikat Sekerja) P.T.T. tidak berafiliasi dengan salah satu partai politik.Sutan Iskandar memilih menjadi anggauta SS.PTT walaupun organisasi itu sangat kecil dibandingkan dengan SB POSTEL.

Dari 95% pegawai yang masuk organisasi pada umumnya masuk SB POSTEL. Hampir tidak ada yang tahu bahwa SB Postel adalah kaki tangan partai komunis PKI. Banyak kawan-kawannya heran dia memilih serikat buruh kecil, yang anggautanya sedikit, dan tak banyak menolong dalam waktu kesulitan.
Para anggaguta SB Postel, penuh dengan fasilitas, bila ada jabatan kosong, maka pasti akan diisi oleh anggauta SB Postel. Mereka rajin berkumpul di markas SOBSI. Nantinya pada waktu pembersihan oleh orde Baru, semua anggauta SB Postel, diinterogasi, dikeluarkan dari tempat kerja, dan keluarganya tak bisa menikmati sekolah pemerintah, atau menjadi pegawai negeri.

Sebagai seorang pegawai P.T.T. semua pekerjaan pada bagian-bagian kantor pos itu harus diketahui. Tiap-tiap bulan baru kantor-kantor pos pembantu kota harus ditambah pegawainja, untuk menulung menerima wesel, dsb. Dinas pada kantor-kantor pos itu selalu patah (gebroken dienst).

Dari segi nasionalisme, kantor pos merupakan wadah pemersatu. Kantor pos berada di Kabupaten, kecamatan, malahan ada kantor pos pembatu di kelurahan. Yang menghubungkan satu kota dengan kota lain adalah pos dan telegraf. Orang baru sadar bahwa dia satu negara, karena biaya perangko satu negara pada umumnya sama, dan berbeda bila diluar negara itu.

Seperti dikatakan diatas anggauta Post Bond, orang Belanda tidaklah banyak, pada umumnya mereka adalah orang –orang Belanda keluaran Akademi PTT di Leiden. Di setiap kantor pos besar hanya ada paling banyak 5 -10 orang Belanda, sedangkan orang Indonesia bisa mencapai 50-100 orang. Dipelosok pelosok sama sekali tidak ada orang Belanda. Orang orang seperti Sutan Iskandar, yang mampu berbahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, tentu saja, Melayu, Sunda, Jawa dan Minang, dan pengetahuan umum luas, serta ilmu bumi nya cukup baik sering dikirim kedaerah khususnya pada akhir bulan, karena pekerjaan akhir bulan biasanya banyak di daerah daerah. (bersambung)

Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya.(Unauthorized and uncheck hystory)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: