Masalah Stress

Masalah Stress

Sebagaimana dikemukakan, maka stressor itu dapat bersifat beraneka warna dan biasanya tidak bersifat sederhana melainkan multipel dan kompleks. Antara lain terdapat segolongan stressor yang terjadi dalam “milieu interne”. Individu dan yang segolongan lagi terjadi dalam “milieu externe”. . . . . seterusnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/03/07/masalah-stress/

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (61)
(Lanjutan Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (60))

Masalah Stress

Segala sesuatu yang bersifat pengaruh dan kekuatan organik, fisik atau psikologi, dan yang mengakibatkan adanya ketegangan atau tekanan terhadap sesuatu sistem, sehingga adaptasi dari pada organisme tempat sistem itu berada bertambah sukar, disebutkan sebagai stress. Kadang-kadang terdapat situasi dimana stress itu demikian besarnya, sehingga sistem organismik itu harus merubah dirinya menjadi suatu bentuk yang baru, agar supaya adaptasinya masih tetap berlangsung. Dalam keadaan yang terakhir itu, maka stress telah berhasil mengakibatkan suatu distorsi dari pada sistem itu.

Ada kalanya kekuatan yang mengakibatkan tekanan dan tegangan itu disebut dengan nama stressor. Sebagaimana dikemukakan, maka stressor itu dapat bersifat beraneka warna dan biasanya tidak bersifat sederhana melainkan multipel dan kompleks. Antara lain terdapat segolongan stressor yang terjadi dalam “milieu interne”. Individu dan yang segolongan lagi terjadi dalam “milieu externe”.

Kedua-dua golongan stressor itu dapat menghalang-halangi individu untuk mencapai apa yang biasanya disebutkan sebagai tujuan atau maksudnya, yang dengan sendirinya menghendaki agar individu itu dapat mengadaptasi diri dengan situasi yang baru. Oleh karena itu maka problema adaptasi, problema stress, problema homeostatis dan problema fungsional dari pada “Aku” tidak dapat dilihat terlepas.

Stress dapat diartikan dalam istilah-istilah psikofiologi, daan oleh karena itu dikenal stress yang sifatnya biologi (seperti invasi bakteri dalam organisme) dan stress psikologi ( seperti adanya frustasi atau adanya halangan yang bersifat blokade terhadap suatu pencapaian maksud). Sering kali stress itu dirasakan secara amat priibadi (personal), walaupun secara pembagian deskriptif kita dapat menggolongkan adanya stress yang mengenai individu (peroragan) dan stress yang mengenai individu yang tergabung dalam suatu kelompok.
(Dr. Kusumanto Setyonegoro., 1966 )

Stress adalah pola respon yang ditampilkan individu terhadap kejadian yang dianggap mengganggu keadaannya yang seimbang atau terhadap kejadian yang memerlukan kemampuan coping lebih dari kemampuannya. Stressors adalah berbagai stimulus yang bersifat internal maupun eksternal yang memicu timbulnya stress. Stressor biasanya disebabkan oleh adanya Event yang luar biasa (Tsunami) tetapi bisa pula event yang biasa oleh orang lain, tapi luar biasa bagi si penderita, misalnya menghadapi ulang tahun, atau menghadapi ujian. Stress itu menimbulkan perasaan cemas yaitu kekhawatiran akan sesuatu yang buruk mungkin terjadi. Stress melibatkan reaksi fisiologis yang tidak spesifik saat individu mengalami stress contohnya peningkatan adrenalin, zat kimia yang dinamakan radical bebas,dan hormon cortisol dll.

Berdasarkan penelitian para ahli, stress dapat dibagi menjadi : Distress: stress yang menimbulkan akibat buruk bagi individu. Eustress: stress yang membuat individu terpacu melakukan sesuatu (berakibat baik bagi individu). Hyperstress: stimulus yang berlebihan, tidak hanya stimulus negatif namun apabila stimulus positif terlalu banyak dan melebihi kapasitas individu maka hyperstress dapat terjadi yang akan merusak mental dan fisik. Hypostress: stress yang terjadi akibat kurangnya stimulus terhadap individu. Pekerjaan yang monoton sering menjadi penyebabnya. Hypostress sering terjadi pada orang-orang yang mengalami kebosanan. Tanda-tanda timbulnya stress adalah meningkatnya kegugupan, kecemasan dan ketegangan.
Dari hal diatas nyatalah bahwa hampir semua orang bisa terkena stress, hanya saja tidak semua orang menjadi sakit karena stress. Orang yang dapat mengatasi stress dia bisa menjadi kuat, sedangkan yang tak mampu mengatasi stress dia akan menjadi sakit.
Dibawah ini dikemukakan cara- cara mengatasi stress.
Secara umum langkah mengatasi stress terbagi menjadi dua yaitu mengubah lingkungan dan atau mengubah beberapa aspek dalam diri individu. Mengatasi stress dengan mengubah lingkungan dengan cara bersikap asertif  mengekspresikan perasaan dan hak seseorang secara langsung tanpa menyakiti perasaan orang lain. Menarik diri  menarik diri secara fisik maupun emosional dari keadaan, lingkungan ataupun orang lain yang menimbulkan stress. Berkompromi (compromising)  respon yang adaptif terhadap stress yang dilakukan dengan mengubah pendapat sebelumnya.
Mengatasi stress dengan mengubah aspek-aspek diri individu. Hal pertama yang penting untuk dilakukan ialah meningkatkan stress tolerance yang lebih besar. Hal berikutnya yang dapat dilakukan ialah mengubah ritme kehidupan. Ritme kehidupan disesuaikan, menjadi lebih cepat atau lebih lambat. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan dari lingkungan sosial terdekat (pasangan, sahabat, lingkungan sehari-hari) dapat membuat individu lebih berhasil dalam mengatasi stress . Hubungan dekat dengan orang lain memberikan beberapa keuntungan dalam mengatasi stress.
(Noviani Adeleyna M.Psy dan Dr. Yul Iskandar dalam Stress Survival)

Adanya atau timbulnya stress sering kali mengakibatkan bentrokan atau konflik. Apabila orang berada dalam konflik, hal itu sering kali berarti bahwa ia berada dalam suatu situasi yang olehnya secara prediktif (ramalan) atau antisipatif (harapan) dapat menimbulkan frustasi, sehingga baik frustasi maupun konflik secara potensial dapat dipandang sebagai sumber-sumber stress tetapi yang tidak dapat dilihat terpisah pula.

Masalah konflik dalam seluruh ilmu psikiatri modern menduduki salah satu tempat yang penting, terutama dalam hubungan dengan alam kehidupan psikodinamika. Tidak hanya penggunaannya sebagai suatu konsep, tetapi juga dalam keadaan yang sebenarnya individu harus berhadapan dengan pelbagai jenis konflik yang dapat dibagi menjadi pelbagai golongan.
Kusumanto Setyonegoro 1966

Miron (1978) mengatakan bahwa ada hubungan antara pikiran (thought) dengan fungsi sel kekebalan ditubuh kita. Jadi ada hubungan antara pikiran yang ada diotak kita dan aktivitas limposit. Penelitan lanjutan ternyata bahwa banyak sekali kondisi stress yang dialami seseorang menimbulkan gangguan dalam system immune. Stres yang berlangsung sementara seperti ujian pada mahasiswa dapat menyebabkan gangguan tidur, sakit flue, serta berkurangnya interferon, zat yang menjaga kekebalan tubuh, serta memakan benda-benda asing, seperti virus, bakteri dan sel-sel kanker.

Pada manusia yang menderita stress, ternyata terjadi peningkatan radical bebas, adrenalin dan cortisol, semua ini adalah dikendalikan oleh system endokrin. Penelitian Hans Selye (1936) malahan menunjukkan bahwa tikus yang dibuat stress kronis maka kelenjar thymus (yang membuat sel lympocyt -T) menjadi kecil. Dalam jangka pendek radical bebas, adrenalin dan cortisol sangat berguna misalnya dalam peningkatan tekanan darah, peningkatan gula darah dan penekanan pengeluaran lympocyt, ketika zat itu dapat dikatakan immunosupresan. Tetapi dalam jangka panjang maka ketiga zat kimia itu ternyata mempunyai daya rusak pada organ.

Pada pengalaman pribadi dari Hans Selye, pernah dia dikatakan menderita mesothelioma, suatu kanker yang ganas, yang bila diagnosa ditegakkan, maka prognosanya adalah kematian dalam beberapa bulan setelah diagnosa ditegakkan.

Ketika Hans Selye diberi tahu keadaanya, maka dia berusaha mengisi waktu yang sempit itu dengan menulis autobiographynya. Ketika dia membaca kembali semua tulisan dan pekerjaan yang dilakukannya waktu lampau, terlihatlah oleh Hans Selye, bahwa ternyata banyak kawan dekat, kolega seperjuangannya yang menghianati dirinya dengan cara kawan itu bekerja sama dengan openen Hans Selye. Disamping itu berbagai penemuannya dan pemikirannya yang orisinil banyak sekali yang dicuri oleh kawan-kawannya tanpa malu, tanpa mau mengakui bahwa itu hasil karya Hans Selye. Disamping itu berbagai institusi yang dibuat oleh Hans Selye tanpa malu diakui oleh teman dekatnya sebagai kepunyaanya.
Ternyata emosi negative inilah yang membuat dia menderita tumor ganas. Karena dia sudah dikatakan bahwa hidupnya tinggal beberapa bulan, maka dia merubah seluruh proses fikirnya dengan pikiran-pikiran positif, bahwa dia tidak takut menghadapi penyakitnya, dia melawan seluruh openennya, dan akhirnya dunia mengakui bahwa Hans Selyelah sebagai bapak Stress, yang memulai penelitian dan menunjukkan kearah mana harus bertindak terhadap ketidak adilan yang dia terima.

Ternyata dengan berpikir positif, melawan openen-opnennya, dan dengan berani dia mengatasi berbagai kesulitan dalam keadaan sakit parah, malah setelah satu tahun,Hans Selye malahan bertambah sehat, dan hasil pemeriksaan dokternya ternyata kanker yang diderita Hans Selye telah hilang.

Stress khronis menurut Hans Selye bisa berupa penyesalan-penyesalan atas perbuatan yang dipikir panjang, terlalu percaya pada orang dekat, dan akibatnya mempunyai dendam yang tersimpan lama,serta berbagai perasaan putus asa dan perasaan tak berdaya. Sedangakan Miron dan Borysenko mengatakan bahwa stress adalah persepsi atas ancaman fisik atau emosional disertai perasaan dan persepsi bahwa respon-respon kita tidak memadai untuk mengatasinya.

Menurut Sussane Kobasa, seseorang yang terampil mengatasi kesulitan disebut manusia tahan stress (atau stress hardy), orang itu mempunya 3 C, yaitu Challenge (tantangan), Commitment (kebulatan tekad) dan Control (pengendalian). Seseorang yang mempunyai 3 C hebat, dalam keadaan kritis melihat situasi itu adalah tantangan bukan ancaman.

Orang-orang dengan stress hardy sering kali dapat mencapai tingkatan tinggi serta dapat maju mengalahkan orang lain meskipun dia dalam penderitaan, tekanan atau keadaan yang sangat sulit. Mereka ini adalah orang-orang mempunyai kebulatan tekad, dan menempatkan krisis dan kesulitan dalam acuan yang positif, dan penderitaan dan kesulitan tidaklah menjadikan dia berputus asa.

Selain Hans Selye yang berbicara mengenai psiko-neuro-immuno-endrokrinnologi, adalah Victor Frankl seorang psikiater Yahudi yang dibuang ke kamp konsentrasi Auschwitz oleh Nazi Hitler, yang dapat melampaui penderitaan di kamp konsentrasi, dia mengatakan pada manusia terdapat hubungan yang erat antara pikiran manusia dan system kekebalan tubuh.

Didalam otak pikiran-pikiran dari kortex cerebri seperti keberanian serta harapan, atau ketidak beranian serta ketak ada harapannya yang dibuat dikortex serebri, diubah di limbic system menjadi masalah emosional dan terjadilah reaksi emosional, seperti senang gembira, atau kesusahan dan kesedihan, dan akibat dari ini akan berpengaruh pada system immune manusia..

Dalam penelitian McClelland ditunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara antibody serum Imunoglobulin A (SIgA) didalam saliva dan keadaan stress. SIgA adalah anti bodi berupa cairan yang ada dalam darah dan Saliva, tugasnya adalah sebagai lini pertama pencegahan invasi bacteri, virus atau sel sel jahat lainnya termasuk fungi dan kanker. Kekurangan SIgA dalam mulut yang disebabkan stress bisa menunjukkan adanya gangguan yang disebut sariawan, kerusakan gigi, gusi dan bisa sampai infeksi saluran pencernaan (sakit maag) sistem pernafasan atas (ISPA) atau terjadi penyakit flue.

Itulah sebabnya pasien pasien yang telah berbicara dengan psikolog atau psikiater akan merasa nyaman. Agaknya, setelah berbicara dengan psikolog atau psikiater yang dapat memahami masalah pasien, dan mungkin pula bisa menceritakan bahwa banyak yang telah mengalami penderitaan yang sama tapi bisa mengatasi atau belum bisa mengatasi tergantung pada kemauan dan motivasi pasien. Pasien yang bisa menerima adanya stress ada kemungkinan SIgA si pasien akan meningkat setelah bertemu dengan psikolog atau psikiater-nya yang memberikan perasaan empathi dan sympati pada pasiennnya.
(Noviani Adeleyna. M.Psy dan Dr Yul Iskandar dalam Stress Survival)


Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan ini diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006 (beberapa bagian malahan ditambahkan dengan pendapat sampai tahun 2010, karena banyaknya masalah baru yang ditemukan). Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.
Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: