Tuanku Tagang Tunjuk dan Alexander the great.

Tuanku Tagang Tunjuk dan Alexander the great.
Nenek-neneknya adalah Raja pertama di Pariaman yang bernama Tuanku Tagang Tunjuk. Tuanku Tagang tunjuk, sebenarnya adalah gubernur dari Kerajaan Minangkabau, selanjutnya lihat di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/02/27/tuanku-tagang-tunjuk-dan-alexander-the-great/

Sutan Iskandar3
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Sutan Iskandar3
His Story of Sutan Iskandar (3)

Betapa panasnja hari pukul 2 siang di Jakarta pada tanggal 13 Juni 1928, dapatlah pembaca maklumi, sedangkan pada waktu itu pula beratus-ratus pegawai dari kantor-kantor lain bergerak menuju rumahnya masing-masing untuk melepaskan lelahnya. Jawatan P.T.T. sebaliknya waktu itu sedang sibuk berurusan dengan dalam dan luar negeri.

Mengapa Sutan Iskandar terdampar menjadi pegawai PTT, hal ini mempunyai cerita tersendiri. Sutan Iskandar sejak masih kecil tinggal dirumah kakaknya Sutan Muhamad Zain. Istri Sutan Muhamad Zain, Siti Murin adalah kakak kandung Sutan Iskandar. Ketika Siti Murin menikah, Sutan Iskandar masih kanak-kanak dan dia adalah anak bungsu dari Siti Aisah. Ayahanda Sutan Iskandar yaitu Sutan Zainul Abidin, menikah lagi ketika Sutan Iskandar masih kecil. Ketika itu Damang Sutan Darwis (kakak dari Siti Aisah) yang berkuasa di Pariaman amat berang pada Sutan Zainul Abidin. Setelah melahirkan Sutan Iskandar, Siti Aisah dipaksa untuk menceraikan Sutan Zainul Abidin dan adiknya dijodohkan dengan laki-laki lain. Akan tetapi agaknya Siti Aisah yang menderita batin, setelah melahirkan anak dari suami kedua, beliau meninggal dunia. Siti Murin dianggap oleh Sutan Iskandar sebagai ibunya, dan mereka tinggal di Jakarta.

Ditahun -20 an, di Batavia, H.O.S Cokroaminoto, merupakan pimpinanan pergerakan rakyat. Kemanapun Cokroaminoto pergi, maka rakyat selalu meng-elu-elukan dirinya. Dapat dikatakan bahwa Cokroaminoto pada saat itu merupakan Raja (tak bermahkota) Jawa. Bila saja Cokroaminoto mau menyatakan kemerdekaan, maka Rakyat Jawa pasti akan mendukungnya. Akan tetapi para Cendakiawan dan Pemimpin dari seberang (yang bukan dari Jawa), kurang percaya pada Coroaminoto. Cokroaminoto mengadakan pendekatan-pendekatan pada para cendakiawan dari seberang diantaranya adalah Sutan Muhamad Zain. Dalam setiap pertemuan itu Cokroaminoto selalu diikuti pemuda tampan yang bernama Soekarno. Sutan Muhamad Zain sering membawa Sutan Iskandar dan Zairin Zain (anak tertua Sutan Muhamad Zain) bila mereka mengadakan rapat atau pertemuan dari Syarikat Islam (SI). Pada waktu itu semua orang melayu masuk Syarikat Islam

Jadilah Cokroaminoto sebagai politikus Tua, sedangkan Sutan Iskandar, Zairin Zain dan Soekarno sebagai politikus remaja. Pada zaman itu ketika perang Dunia I baru saja selesai, pemerintah Belanda selalu sangat curiga pada semua orang, baik tua maupun yang muda. Jadilah Sutan Iskandar, Zairin Zain dan Soekarno merupakan orang yang diawasi oleh Pemerintah Belanda. Soekarno beruntung, karena memang dia sangat pandai, Pegawai-pegawai Belanda tidak mampu mengganjal dan oleh karena itu dapat menyelesaikan HBS-nya di Surabaya, kemudian meneruskan Studinya di Bandung dan menjadi Insinyur. Zairin Zain masuk HBS, tetapi dia tak bisa lulus di Indonesia, dan karena dua kali dia tidak lulus-lulus, karena dianggap terlibat pergerakan politik, oleh ayahnya dikirim untuk sekolah di negeri Belanda, karena akan percuma kalau di Indonesia, pasti tidak akan lulus seumur hidup. Zairin Zain menamatkan HBS nya di negeri Belanda dan malahan menamatkan studi Hukum dinegeri Belanda. Pada Zaman pendudukan oleh Nazi Jerman, dia ikut dalam gerakan dibawah tanah Belanda melawan Hitler. Setelah Indonesia Merdeka dia bersama Sumitro Djojohadikusumo kembali ke Indonesia, dan berjuang secara politik melawan Belanda. Dia kemudian menjadi Diplomat, dan waktu meninggal dia dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata.

Pada saat itu Sutan Iskandar telah 3 kali ujian MULO (sekolah menengah) tetapi tidak pernah lulus, karena namanya dianggap sebagai orang yang berbahaya. Karena tidak lulus 3 kali dia harus keluar dari sekolah. Selama beberapa tahun ini dia menganggur, dan akhirnya dia memutuskan untuk bekerja saja.

Pada zaman itu pemerintahan Belanda, mempunyai pegawai yang dibawah GG (Gubernur General) yaitu dinamakan BB (binnenlandse Bestuur), pegawai pemerintah kolonial Belanda. Ada lagi pegawai yang diangkat dari Pribumi, yang bekerja sebagai Pangreh Praja, Mulai dari Raja di Jawa, kemudian ada Bupati, wedana, asistent wedana (camat) dan lurah. Diluar Jawa berbeda sistemnya, misalnya di Sumatra Barat, ada Damang, wedana, camat dan laras (Kepala nagari). Sutan Iskandar tidak mungkin bekerja pada dinas BB, karena namanya sudah dalam daftar hitam PID ( sebangsa intel Belanda). Dia bisa masuk bekerja di Pangreh Praja karena pamannya Sutan Darwis, bekerja sebagai Damang ( Bupati) di Pariaman.

Menurut Sutan Iskandar. Damang Sutan Darwis, diangkat oleh Belanda menjadi Damang, karena dua hal. Ayahnya Sutan Hamzah, yang masih paman istrinya, adalah Laras dari Pasar Pariaman. Nenek-neneknya adalah Raja pertama di Pariaman yang bernama Tuanku Tagang Tunjuk. Tuanku Tagang tunjuk, sebenarnya adalah gubernur dari Kerajaan Minangkabau, yang sudah tidak berkuasa lagi. Pemerintahan di Minangkabau memang merupakan pemerintahan yang merupakan konfederasi dari para nagari-nagari. Pada umumnya nagari itu tidak mempunyai militer. Kerajaan Minangkabau dari dahulu tidak mempunyai militer. Hidupnya kerajaan ini adalah berdasarkan pada diplomasi. Ketika Adityavarman dari kerajaan Majapahit datang ke Minangkabau dia tidak dilawan, malahan dinikahkan dengan putri Raja Minangkabau. Raja Adityavarman, sebenarnya tidak berkuasa benar, karena yang diberlakukan adalah pemerintah sehari-hari adalah Raja ibadat. Salah satu putri Raja Minangkabau pergi dari kerajaan di Pagaruyung, menuju Rantau. Rantau adalah daerah dibalik pegunungan , termasuk adalah pesisir Pariaman.

Raja Tagang Tunjuk pernah mewariskan surat pada anak cucunya yang mencegah Belanda (waktu itu VOC) memasuki daerah Minangkabau, lebih jauh dari kota Padang suatu surat yang berbunyi, dalam bahasa Inggris, Arab dan Melayu.
Adapun tulisan itu berbunyi :

I am Tuanku Tagang Tunjuk, the servant of King Minangkabau from Pagarujung, the ruler of of west coastal Sumatra, The luster of God , the decendant of Iskandar Zulkarnain (Alexander the great), who possesses the crown brought from heaven, who worshipped through the power of Allah and His Prophet.

(Saya Tuanku Tagang Tunjuk, hamba dari Raja Mingkabau dari Pagarujung, penguasa daerah pesisisr Barat Sumatra, Cahaya dari Tuhan, keturunan langsung dari Iskandar Zulkarnaen (Alexander the Great), yang mendapat mahkota dari surga , yang tunduk dan menyembah Allah serta mengakui Rasulnya.

Tulisan diatas disertai pengakuan dari Raja Aceh, Kesultanan Turki (dianggap kelanjutan Kerajaan Dunia Romawi), dan Maharaja dari China, merupakan kertas yang berharga. Sayangnya tak seorangpun dari cucu Sutan Darwis yang mengetahui surat itu. Surat itulah sebenarnya yang mengangkat Sutan Darwis sebagai Damang di Pariaman di akhir abad ke 19 dan menerima bintang kehormatan dari GG Hindia Belanda tahun 1909.

Tuanku Tagang Tunjuk dilahirkan di Magang, Pariaman pada tahun 1744, adalah teman baik dari Thomas Stamford Raffles, seorang muda dari Inggris, yang menjadi Leutenant Gubernur of British Bencoolen. Tuanku Tagang tunjuk mempelajari bahwa mengangkat pegawai tidak harus dari para bangsawan, akan tetapi dari orang-orang pintar dinegeri itu.

Tuanku Tagang Tunjuk, menerima Gelar Tuanku walaupun beliau termasuk dalam Royal Family (yang biasanya disebut Sutan atau Penghulu). Gelar Tuanku Tagang Tunjuk diterimanya setelah dia menunaikan ibadah haji dan menetap di Mekah selama 3 tahun. Dia naik haji dengan surat-surat (paspor) dari Inggris berkat hubungannya yang baik dengan Inggris. Sebelumnya namanya Sutan Saiful Alam. Untuk naik haji pada zaman itu dengan memakai passport Belanda, dikenakan 110 gram ameh ( 1 ameh=2,5 g emas), sedangkan dengan surat-surat dari Inggris, cukup dengan 50 gram ameh. Walaupun demikian 1000 orang Indonesia telah pergi berhaji pada zaman itu. Mereka biasanya tinggal beberapa tahun di Mecca, dan mempelajari ilmu-ilmu Tauhid, ilmu fikih dan ilmu tasauh. Tentu saja ilmu ilmu itu hanya bisa dipelajari bila mempelajari Qur’an, Hadist, bahasa Arab dsb. Yang menguasai ilmu ilmu itu setelah pulang akan bergelar Tuanku (yang artinya guru).

Tuanku Tagang Tunjuk adalah contoh dari ‘old Tuanku’ , yang berdasarkan ilmunya menyatakan bahwa haram hukumnya untuk memakai kekerasan untuk sesama muslim. Sebaliknya ‘young Tuanku’ yang kebanyakan berasal dari daerah agam, menganggap tanpa tindakan keras mustahil bisa tercapai perubahan. Para ‘young Tuanku’ menginginkan perubahan radikal, perubahan system social dan perubahan adat istiadat.

Sikap ‘old Tuanku’ adalah perubahan perlahan-lahan, dimana dimasukkan istilah-istilah adat bersandi syara, syara bersandi kitabbulah. Pada umumnya ‘Old tuanku’ berasal dari Royal family, lebih konsevatif dan sangat menguasai adat istiadat orang Minang kabau. Sebaliknya ‘Young Tuanku’ pada umumnya pergi dengan meminta passport dari Aceh atau Inggris di Singapura. Dia lebih radical, dan pada umumnya tidak mempunyai hubungan dengan Royal Family. Dia melihat adat dengan kaca mata hitam putih, sangat puritan, dan menganggap bahwa adat sudah lapuk dan harus diperbaharui.

Karena tulisan ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya (unauthorized and uncheck of story).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: