Rs.Jiwa atau panti Rehabilitasi (2)

Rs.Jiwa atau panti Rehabilitasi (2)
Oleh: Dr.Benny Ardjil, Sp.KJ
Mantan Direktur RSJ Bandar Lampung dan Direktur RSJ Pontianak.
saya sebagai Direktur RSJ Bandar Lampung waktu itu, diwajibkan mengembangkan BPKJM, diberi panduan, di TOT, dibuat pertemuan tahunan dsb.Semua upaya saya jalankan untuk melaksanakan tugas ini sesuai “petunjuk”, dan hasilnya saya ti
dan seterusnya di :

Dear DR.Yul Iskandar,

Terima kasih dan salut buat DR Yul, yang telah membuat blog ini.Cuma saya gak
tau gimana cara membaca komentar tentang blog DR Yul ini.Memang ada petunjuk,
tapi setelah saya coba gak berhasil.Saya memang baru sekali ini membaca blog dan
memang belum mengerti soal2 blog ini, msh samar2.
Saya ingin mengomentari blog ini sehubungan dengan keberadaan panti rehabilitasi
dan sikap masyarakat dan psikiater tentang gangguan jiwa.
Memang Prof Kusumanto menyadari pentingnya masalah sosial dalam penanganan ggn jiwa shg beliau memprakarsai mengirim psikiater pada waktu itu ke India, al
Nusyirwan, Rusdi Maslim dll. Juga kemudian memprakarsai BPKJM. Artinya, yang
satu bersifat kelembagaan/institusi dan yang lain bersifat pengembangan SDM.
Saya melihat kedua hal ini tidak berhasil, bahkan untuk saya pribadi
membingungkan kalau gak membuat saya depresi.Kenapa demikian ?

Yang pertama, saya sebagai Direktur RSJ Bandar Lampung waktu itu, diwajibkan mengembangkan BPKJM, diberi panduan, di TOT, dibuat pertemuan tahunan dsb.Semua upaya saya jalankan untuk melaksanakan tugas ini sesuai “petunjuk”, dan hasilnya saya tidak berhasil mengembangkan BPKJM.Dan repotnya saya merasa gagal, terlebih lagi kalau berhadapan dengan tokoh-tokoh Dit Keswa Depkes RI, yang dalam bicaranya atau pidatonya kok serba tahu ya masalah Keswamas, sedangkan saya yang dilapangan menghadapi realitas yang lain.

Beruntunglah saya pada tahun 1999 pindah ke RSJ Pontianak, saya berkesempatan ke Kuching melihat RSJ disana,dan saya mendapat jawaban atas kebingungan saya
selama ini.Pantas saja saya tidak berhasil mengembangkan BPKJM, karena saya
tidak mengenal apa yang namanya Community Psychiatry yang seyogyannya dikuasai leh seorang yang bergerak di komuniti/RSJ. Saya yakin tokoh2 ditkeswa juga tidak tahu itu, karena kalau mereka tahu pastilah sudah “dipertontonkan” pula
kehabatannya kepada awak yang didaerah dan tak tahu apa2 dan hanya jadi objek
pelatihan ditkeswa depkes.

Direktur RSJ Kuching pada waktu itu DR.Abdul Kadir, seorang psikiater dan S3 di
bidang Komuniti Psikiatri/KP dari London.Saya lihat bagaimana dia mengembangkan
KP disana dan berhasil.Dari sanalah saya belajar, membaca buku-buku tentang
psikiatri komuniti.Kesimpulan saya, di Kuching sana dia mengembangkan
praktek-praktek KP memang berdasarkan ilmu yang relevan.Sementara
direktur-direktur RSJ kita “dipaksa” mengembangkan BPKJM dengan juklak juknis
yang tidak jelas dan itu dibuat oleh “ahli” dari ditkeswa yang tidak pernah sama
sekali mengembangkan KP atau BPKJM.Jadi juklak dan juknis itu benar-benar hasil
dari ilmu mengarang.
Sepanjang pengetahuan saya hingga saat ini, belum ada SpKJ kita yang
mempelajari, apalagi mempraktekkan KP itu, walaupun semasa Dr.Pandu menjadi
Kadit Keswa, saya pernah usulkan supaya mengirim SpKJ yang muda-muda belajar KP.
Kesimpulan saya akhirnya adalah BPKJM itu hanyalah menyuruh orang lain
mengerjakan urusan kita.Kita suruh Kanwil Depsos, Kanwil Dikbud dll, sedangkan
psikiaternya sendiri kerja apa ? gak jelas, karena memang gak tahu esensi KP itu
apa. Tahunya juklak, juknis, pedoman dan TOT oleh orang yang gak pernah
mengerjakan KP.Alias kita dilatih main bola oleh orang yang gak pernah main
bola…haha.Benar-benar suatu tragedi pak Yul.
Walaupun terlambat, akhirnya saya tahu juga dimana kekurangan saya sampai tidak
berhasil mengembangkan BPKJM dulu di Bandar Lampung.Saya tahu bahwa saya tidak
tahu…….Alhamdulillah !
Tentang SDM yang ke India, nah ternyata setelah pulang dari sana tidak pula
mengembangkan/atau mempraktekkan ilmunya, hanya nguliahin saja tentang keswamas
dan ini ternyata tidak salah, karena merekapun beridentifikasi dengan seniornya
yang memang tidak mempraktekkan KP tapi “tahu betul” soal KP dalam setiap
pembicaraannya.
Jadi lengkaplah sudah kegagalan kita mengembangkan KP, baik secara kelembagaan
maupun pengembangan SDM.Tapi siapa yang mau jujur mengakui ????? atau tidak
mengakui gagal karena gak ngerti…hehe, lebih parah lagi……Dan menurut saya,
mengapa masyarakat bersikap negatif terhadap Keswa, adalah karena salah kita
sendiri.Adalah tragis kalau dalam istilah pak Yul, ada psikiater yang menjadi
budak/agen pencari untung dari kolonisasi orang sakit jiwa.Tidak ada cara lain
untuk mengatasi hal ini, kecuali dengan segera kita mengembangkan KP.
Sudah sejak 60an Psikiatri di Amerika, Australia yang saya ketahui mulai
melakukan deinstitutionalisasi RSJ, dimana RSJ yang besar-besar ditutup,
kesehatan jiwa kembali ke “mainstream” kesehatan.Tetapi hal sebaliknya terjadi
di Indonesia sekarang ini, dimana RSJ cenderung meningkatkan kapasitas rawat
inap RSJ supaya pasien lebih banyak dirawat dan mendapat “durian runtuh” dari
Askeskin/Gakin.Revenue RSJ meningkat dan RSJ dikatakan berhasil sehingga boleh
menjadi BLU/Badan Layanan Umum.
Nah kalau pemerintah/RSJ memberi contoh demikian, yaah, masyarakat kan ibarat
murid yang meniru gurunya kencing berdiri.
Demikianlah DR.Yul, tanggapan saya, mohon maaf kalau agak sedikit inkoheren,
karena kalau bicara BPKJM herannya emosi saya sedikit meningkat..hehe.

Salam sejawat,
Dr.Benny Ardjil, Sp.KJ
Mantan Direktur RSJ Bandar Lampung dan Direktur RSJ Pontianak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: