G. Krakatau meletup hebat

G. Krakatau meletup hebat.
Di selat itu ada P. Rakata, P.Danan dan P.Perboewatan. Ketiga pulau itu mebentuk Gunung Krakatau. Pada hari minggu tanggal 26 Agustus, G. Krakatau meletup hebat . . selanjutnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/02/22/g-krakatau-meletup-hebat/

His Story of Sutan Iskandar (2)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

Seseorang yang mengambil hak / barang orang lain tanpa malu, akan menemui kesulitan dengan barang rampasannya.

Sayangnya sayap konsevatif di Parlemen, serta para Bangsawan Bumi-Putra serta militer Belanda, tidak begitu suka dengan inisitif kemerdekaan Indonesia oleh Ratu Belanda. Mereka memberikan laporan bahwa Bangsa Indonesia masih sangat bodoh, dan hanya sanggup menjadi koeli saja. Ratu sebenarnya memerintahkan untuk membuat pendidikan dan mengajarkan supaya bangsa Indonesia diajarkan untuk berorganisasi, baik organisasi politik maupun organisasi sosial. Inisiatif yang baik ini sayangnya secara diam-diam disabot oleh para Gubernur Jendral yang berkuasa di Hindia Belanda.

Ratu Wihelmina mendapat masukan dari bawahannya (Gubernur Jendral Hindia Belanda) bahwa bangsa Hindia Belanda yang saat itu sekitar 50 juta (Bangsa Belanda sendiri waktu itu hanya 2 juta orang), masih sangat terkebelakang, dan tak mempunyai kemampuan untuk menjadi negara yang merdeka. Yang bisa menulis atau membaca huruf latin saja tidak sampai satupermil dari penduduk. Bahasa mereka adalah bahasa pasar (bahasa Melayu), yang hanya bisa untuk komunikasi sederhana, sedangkan yang bisa berbahasa Belanda atau bahasa asing lainnya belum sampai satu permil. Bagaimana membuat undang-undang bila rakyatnya masih bodoh dan dungu.

Apalagi keadaan Ekonomi makin lama makin buruk, dan malahan setelah tahun 1910 jarang sekali ada kapal yang datang dari Negeri Belanda ke Indonesia maupun sebaliknya. Boleh dikatakan bahwa Hubungan Indonesia dan Belanda telah terputus. Para penguasa di Indonesia berjalan sendiri-sendiri tanpa kontrol dari negeri Belanda. Pada saat itu sistem yang korup, tiran, tidak demokratis, tidak adil, adanya polisi rahasia dimana-mana yang dapat seenaknya menangkap orang, tidak mempedulikan HAM dari Rezim penguasa di Hindia Belanda tidak bisa dikontrol oleh pemerintah pusat di The Hague (Den Hag).

Pemerintahan Ratu Wilhemina makin lama makin sulit, perang dunia I pada tahun 1914-1918, walaupun tidak menyangkut negeri Belanda , akan tetapi sangat mempengaruhi perekonomiannya. Di Hindia Belanda keadaan ekonomi makin lama makin mundur, karena korupsi, dan tak ada tenaga yang berkualitas, serta tak ada partisipasi dari rakyat terhadap pemerintah Belanda.

Di Amerika Serikat yang menjadi presiden pada tahun 1924-1928 adalah presiden AS ke 30 yang namanya John Calvin Coolidge. Presiden ini menggantikan Warren G Harding. Coolidge orang yang pendiam, tak mau mengambil resiko, republiken Asli, tak terlalu mau campur dalam urusan luar negeri. Amerika Serikat keadaan dibawah Coolidge negaranya agak makmur, akan tetapi di Eropah baik yang berperang seperti Jerman dan Inggris serta Perancis mulai terlihat tanda-tanda kesulitan Ekonomi.

Ketika kemudian Perang Dunia II meletus, Ratu Wilhemina melarikan diri ke Inggris pada bulan May 1940. Negeri Belanda dalam 6 jam dapat diduduki oleh Hitler dari Jerman, sedangkan Hindia Belanda jatuh ketangan Jepang hanya dalam waktu 6 hari ditahun 1942.

Walaupun Ratu Wilhemina berumur panjang (meninggal tahun 1962 dalam umur 82 tahun), tapi setelah memerintah selama 50 tahun (September 1948) dia menyerahkan tahtanya pada anak satu-satunya yaitu Ratu Juliana .

Kelahiran SUTAN ISKANDAR seperti diceritakan ibunya berbeda dengan cerita kakeknya yang bernama Sutan Hamzah. Menurut Sutan Iskandar, pada saat itu di Pariaman ada 4 laras, yaitu Laras Pasar, Laras Air Panpan, Laras Pauh dan Laras Naras. Sutan Hamzah adalah Laras Pasar, yang daerahnya meliputi Pasar Pariaman, dan menghadap ke P. Angso Dua, dan beberapa pulau kecil yang dinamakan P.Kasik (P.Pasir). Menurut cerita Sutan Hamzah waktu kelahiran Sutan Iskandar adalah tanggal 27 Agustus 1903. Ini bertepatan dengan 20 tahun meletusnya Gunung Krakatau.

Menurut Sutan Hamzah, pada tahun 1883 sejak beberapa bulan Pariaman sering diguncang oleh gempa-gempa yang berasal dari G. Krakatau. Menurut Asisten Residen di Pariaman, gempa gempa itu tidak berbahaya. Gunung krakatau terletak diselat sunda selat antara P.Jawa dan P. Sumatra. Di selat itu ada P. Rakata, P.Danan dan P.Perboewatan. Ketiga pulau itu mebentuk Gunung Krakatau. Pada hari minggu tanggal 26 Agustus, G. Krakatau meletup hebat, tapi tidak membuat guncangan yang besar. Tapi Pada pukul 10 pagi keesokan harinya (27 Agustus 1883), terdengar letupan hebat, yang luar biasa, kemudian terjadi phenomena luar biasa, dalam dua jam matahari tertutup oleh awan yang gelap sekali selama satu hari penuh, yang berasal dari G. Krakatau. Air laut menyurut sampai P.Kasik, dan ikan ikan menggelepar karena air surut luar biasa. Sutan Hamzah melihat phenomena itu sebagai Laras Pasar, yang tempatnya dekat laut memerintahkan semua penduduk untuk naik ke bukit-bukit yang agak tinggi. Menurut cerita orang orang tua bila air surut sampai ke P.Kasik pasti akan ada badai besar yang akan menghantam pesisir. Kejadian ini bisa terjadi sekali dalam 100 tahun. Tapi ada sebagian rakyat yang tak menurut dan mereka justru berlarian ke laut untuk mendapatkan ikan-ikan yang mengelepar. Satu jam kemudian datanglah badai besar sebesar kapal (hampir 40 meter) yang menyapu bersih pesisir Pariaman. Orang-orang yang berlari ke laut mengambil ikan semuanya mati diterjang ombak, begitu juga yang berdiam di Pasar Pariaman, semuanya tergulung ombak.

Sutan Hamzah dan orang yang percaya pada Sutan Hamzah terhindar dari bahaya gelombang pasang . Sejak saat itu setiap tanggal 27 Agustus selalu diperingati oleh Sutan Hamzah. Dan Sutan Iskandar dilahirkan dari anak bungsu Sutan Hamzah, yaitu dari Siti Aisah pada 20 tahun peringatan meletusnya G. Krakakatau.

Dengan gaji jang sangat rendah, tanggal 13 Juni 1928, mulailah Sutan Iskandar bekerja menarik kantong-kantong pos jang diplombeer dari dekat meja oa-pos atau ketuapos ke dalam ruangan tempat membuka kantong-kantong pos jang berisi surat-surat tercatat (openzaaal).

Sistem pengganjian pada waktu itu boleh dikatakan rendah karena Sutan Iskandar dianggap hanya lulusan HIS, akan tetapi hidup dari gaji sudah cukup. Gaji Sutan Iskandar 25 Gulden, cukup untuk sewa rumah 2,5 gulden, makan sebulan habis 10 gulden, transport 2 gulden sebulan, sehingga masih ada sisa uang 5-10 gulden sebulan tergantung pada kebutuhan mendadak, misalnya beli pakaian dsb. Sutan Iskandar membandingkan dengan gaji kakak iparnya Sutan Moch.Zain yang bergaji 250 gulden. Kebanyakan rakyat jelata hidup segobang sehari ( dua setengah sen), yang dapat dikatakan hidup dibawah garis kemiskinan. Dari segi ini pegawai pemerintah Hindia Belanda, walaupun pangkatnya rendah tetap lebih tinggi dari kebanyakan rakyat jelata. Jadi ada 3 kategori, pertama rakyat jelata yang sangat miskin, pegawai pemerintah walaupun rendahan tapi hidupnya cukup, dan pegawai pribumi yang disamakan dengan orang Belanda dengan gaji yang luar biasa.

Kebetulan Sutan Moch Zain yang lulusan sekolah Raja (Sekolah Guru), disamakan dengan orang Belanda, bukan sebagai orang pribumi. Tentu Saja Sutan Moch Zain, pada saat itu mampu membeli 2 mobil, satu disewakan dan satu lagi dipakai sendiri. Selain itu Beliau termasuk yang mampu berinfestasi, dan membangun Hotel yang dinamakan Hotel Surabaya, yang letaknya didaerah Kwitang sekarang.

Betapa panasnja hari pukul 2 siang di Jakarta pada tanggal 13 Juni 1928, dapatlah pembaca maklumi, sedangkan pada waktu itu pula beratus-ratus pegawai dari kantor-kantor lain bergerak menuju rumahnya masing-masing untuk melepaskan lelahnya. Jawatan P.T.T. sebaliknya waktu itu sedang sibuk berurusan dengan dalam dan luar negeri.

Mengapa Sutan Iskandar terdampar menjadi pegawai PTT, hal ini mempunyai cerita tersendiri. Sutan Iskandar sejak masih kecil tinggal dirumah kakaknya Sutan Muhamad Zain. Istri Sutan Muhamad Zain, Siti Murin adalah kakak kandung Sutan Iskandar. Ketika Siti Murin menikah, Sutan Iskandar masih kanak-kanak dan dia adalah anak bungsu dari Siti Aisah. Ayahanda Sutan Iskandar yaitu Sutan Zainul Abidin, menikah lagi ketika Sutan Iskandar masih kecil. Ketika itu Damang Sutan Darwis (kakak dari Siti Aisah) yang berkuasa di Pariaman amat berang pada Sutan Zainul Abidin. Setelah melahirkan Sutan Iskandar, Siti Aisah dipaksa untuk menceraikan Sutan Zainul Abidin dan adiknya dijodohkan dengan laki-laki lain. Akan tetapi agaknya Siti Aisah yang menderita batin, setelah melahirkan anak dari suami kedua, beliau meninggal dunia. Siti Murin dianggap oleh Sutan Iskandar sebagai ibunya, dan mereka tinggal di Jakarta.

Karena tulisan ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya (unauthorized and uncheck of story).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: