Anti Dopamin

Anti Dopamin

Cara lain dengan alat yang dinamakan CAR (condition Avoidance Reflex). Pada test ini ada 2 kompartemen, yang satu tempat si tikus berada yang dipisahkan oleh semacam sekat, untuk kompartemen lain. Di tempat si tikus berada dihubungkan dengan dengan listrik didasar kompartmen. Setiap waktu kalau kita pencet tombol akan mengeluarkan suara buzzer, dan sekat terbuka. Bila dalam 10 detik setelah . . . . . . .selanjutnya di blog
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/02/21/anti-dopamin/

Autobiogrphy Dr. Yul Iskandar (10)

Dibagian DCP ada beberapa bagaian, yaitu research, pemeriksaan kadar obat, dan konsultasi. Yang bekerja di sana ada pharmacolog, ahli biokimia, tentu saja ada technician, serta ada dokter ahli clinical pharmacology. Karena DCP adalah bagian dari St. Vincent Hospital, serta merupakan teaching hospital/lab dari bagian fisiology & Pharmacology, Fakultas Kedokteran Universitas di Australia (FKUDA) maka ada juga mahasiswa yang magang untuk mendapat BSc, MSc atau DSc dibidang pharmacology experimental. Pengangkatan saya disana adalah post graduate fellow untuk melakukan experiment yang mandiri. Jadi bukan sebagai student tapi bisa juga dianggap magang untuk mendapat title tambahan misalnya DSc (Doctor Science dibidang pharmacology)

Dari satu lantai di St.VHos yang dipakai oleh DCP, ada satu kamar besar tersendiri untuk penelitian Catechol amine, Octopamin, dan obat-obat anti Hypertensi dengan menggunakan hewan, diantaranya mollusca, tikus (Rat), dan marmout.
Karena saya dokter maka sebenarnya saya bisa pula memberikan konsultasi dan pemberian obat. Begitu saya datang di RS St.VHos saya langsung mendapat Temporary licence, sehingga bisa minta obat ke bagian farmasi (apotek) atau, membuat resep dsb seperti dokter-dokter lainnya.

Group Octopamin merupakan group prioritas, mendapat dana dari RFEP, dep-kesehatan dari state of NS, dari FKUDA dan ada juga grant dari St.VHos. Group Octopamin terbagi dalam 3 group, yang pertama dikepalai oleh Prof.DD yang bekerja pada Mollusca dan mempelajari kerja dan efek octopamin, mencari agonist dan antagonistnya, Frof.DB adalah dokter, dan Doctor (DSc) dibidang biokimia yang bekerja dibidang NE dan E pada adrenal Marmot, dia membimbing Ms.S. MSc yang sedang mengambil title doktornya. Penelitianya adalah sintesis derivate catechol dan Phenol pada Marmot. Kerjaannya adalah menyuntikan asam amino Tysone dengan label radioactive, dan setelah 24 jam, diperiksa kadar E,NE, Tyrosine dan Oc yang mempunyai label radio active C14 , dikelenjar adrenal, Jantung dan otak marmot Pekerjaan yang sangat komplikated, dan saya pikir agak berbahaya. Pemeriksaan ini memakai zat yang dilabel (dengan C14) radioactive yang sangat rendah (beberapa micro Curie), tetapi ternyata Ms S sudah dua kali keguguran. (apakah karena efek radioaktif, atau karena kerja keras tak begitu jelas). Saya tak berani untuk ikut disana, karena memakai zat radio active, sedangkan saya waktu itu belum punya putra.
Saya memilih untuk melakukan penelitian dopamine pada tikus, khususnya behavior tikus.

Ada beberapa behavior yang bisa dikerjakan, misalnya menyuntikan anti dopamine (Haloperidol), dan kemudian dilihat setelah 15 menit behaviournya misalnya terjadinya Catalepsi, si Tikus akan berdiri bergantung pada tiang tanpa gerak. Tergantung dosis maka lama dan intensitas katalepsi itu terjadi. Percobaan kedua adalah memberikan agonist dopamine dahulu selama 1 jam baru diberikan anti dopamine dan diukur intensitas catalepsinya.

Cara lain dengan alat yang dinamakan CAR (condition Avoidance Reflex). Pada test ini ada 2 kompartemen, yang satu tempat si tikus berada yang dipisahkan oleh semacam sekat, untuk kompartemen lain. Di tempat si tikus berada dihubungkan dengan dengan listrik didasar kompartmen. Setiap waktu kalau kita pencet tombol akan mengeluarkan suara buzzer, dan sekat terbuka. Bila dalam 10 detik setelah buzzer berbunyi si Tikus tak melompat ke kompartemen kedua, dia akan disengat listrik di kakinya yang biasanya kemudian akan melompat ke kompartmen kedua. Setelah 5 kali experiment si Tikus biasanya sudah pandai, jadi begitu buzzer berbunyi dia langsung melompat.

Kini kita berikan obat anti dopamine (haloperidol), ternyata si tikus menjadi bodoh, tergantung pada dosisnya makin besar makin bodoh, artinya walaupun sudah 10 detik disengat dia tetap di kompartemen 1.
Kini kita berikan dopamine agonist dahulu selama 1 Jam, dan kemudian kita lihat, ternyata dia menjadi lebih pintar, lebih cepat pindah bila ada buzzer. !5 menit setelah itu kita berikan anti dopamine (haloperidol), dengan dosis minimal yang membuat dia bodoh, dia telah menjadi pintar. Dengan dosis haloperidol yang sangat besar, dia tetap bodoh.

Ada cara ketiga yaitu dengan alat VAM (varimex activating meter). Bila tikus ditaruh di suatu tempat asing dia akan berputar-putar melihat tempatnya biasanya selama 10 menit. Setelah itu dia akan istirahat sampai dia lapar. Tikus pada umumnya lebih banyak tidur pada siang hari. Kalau kita berikan dopamine agonist dia akan berputar-putar yang biasanya 10 menit menjadi 1 jam, sampai dia capai. Kalau kita masukkan 5 ekor tikus maka dia akan saling agresi dan kakinya menginjak lantai tangan nya memukul dan mencoba menangkap tikus lain untuk digigit. Bila kita berikan anti dopamine yaitu haloperidol, ternyata tingkah laku agresi menjadi hilang, walaupun kita berikan agonist dopamine.

Jadi ada 3 kelompok group yang pertama adalah Prof DD dengan Moluscanya yang bermain dengan jantung mulusca, dan memberikan octopamin, dosis yang terendah, dan dosis yang tertinggi, serta Efek E dan NE pada jantung mullusca, serta mencari agonist (yang kerjanya sama) anta-gonist (yang kerjanya berlawanan dengan octopamin.
Kelompok kedua Prof. DB dan Ms.S yang mempelajari metabolism D (dopamine) E, NE dan Oc pada mamalia (marmot)
Group ketiga adalah saya yang mempelajari Tingkah laku (behavior) tikus yang diberikan D (dopamine), NE,E dan Oc, baik dengan agonis D, E, dan NE..

Kita kembali ke bebrapa tahun sebelum ke Sydney. Setelah saya presentasi di Singapura, Prof. K. juga baru pulang dari Amerika Latin. Ada rapat mingguan pada hari Rabu, dan sebelum rapat Prof.K mengatakan bahwa dia mendengar dari Dr.H.C di Hongkong bahwa ceramah kami cukup sukses (artinya ada tanggapan untuk menindak lanjuti hasil penelitian. Prof. K bercerita bahwa tadinya dia akan pulang langsung ke Singapura dari Amerika Latin, setelah dia ikut mendeklarasi untuk pembentukan WFBP. Indonesia diwakili oleh Prof Kusumanto dengan organisasinya Kelompok Studi Psikiatri Biologik Jakarta. (KSPBJ). Waktu pulang ternyata Prof K ketiduran di bandara dan baru terbangun setelah plane berangkat. Agaknya panggilan dalam bahasa Spanjol serta mungkin sedang tertidur dia ketinggalan. Dia menghubungi airlinesnya, dan menurut airlainesnya Prof. K . tidak mungkin naik pesawat itu lagi, karena baru 2 hari lagi ada pesawat yang ke Singapura. Mereka menyarankan rote dirubah dari Amerika Latin, ke Hong Kong dan dari Hong Kong ke Jakarta. Tapi di Hong Kong harus menginap sehari.
Prof.K bercerita setiba di HongKong di menghubungi Dr.H.C dari RFEP, dan dia dijemput serta diberi tempat di Hotel bintang lima. Malamnya dia diajak dinner dan kemudian Dr. H.C menceritakan pertemuan di Singapura. Jadi menurut Dr. H.C adalah menguntungkan bila Dr.Y di kirim ke Australia. Ahli biokimia atau Farmakologi bayak, tetapi Psikiater yang terdidik dalam bidang Biokimia dan Farmakologi sangat jarang. Masa depan psikiatri nantinya tergantung kepada kemajuan dibidang Biokimia otak, dan obat-obat gangguan mental tergantung pada Psikofarmakologi.

Pada prinsipnya Prof. K setuju untuk mengirim Dr. Y ke Australia, Cuma umurnya saja baru kepala 2. Bagaimana dia akan berbicara pada senior-senior psikiatri, kalau mengirim Dr. Y, sedangkan yang mengantri untuk dikirim untuk pendidikan masih ada beberapa orang. Dr. H.C kemudian mengatakan bahwa tak perlu menyebut nama tapi memberikan tugas, misalnya menulis masalah Biokimia dan Farmakologi, atau sebangsanya, dia percaya bahwa tidak ada yang akan menyamai Dr. Y.

Singkat cerita Prof. K pada rapat rutin hari rabu, mengemukakan bahwa di Australia sedang dibuka kesempatan untuk suatu Joint penelitian dari Obat Psikotropik. RFEP telah memberikan mandate pada Prof.K untuk menentukan siapa yang pergi ke Australia. Prof K mengatakan siapa yang berminat kesana. Dengan Gaji dari RFEP yang nilainya cukup besar. Tentu yang berminat sangat banyak, dan berdasarkan urutan Dr.Y baru saja jadi psikiater dan umurnya belum sampai kepala 3. Prof. K kemudian mengatakan ke Australia adalah meneliti, jadi harus punya basic skill, dan harus bisa Biokimia dan Pharmacologi.

Ketika itu Prof. K, menanyakan siapa yang bisa menulis rumus bangun catechol, phenyl-alanine. Tentu tak ada psikiater yang bisa menulis itu pada saat itu. Ketika itu salah satu senior Prabu Ganesya berbicara, saya kenal Dr.Y, dia bekerja dengan saya di CKN, akan tetapi untuk pergi ke Australia maka masalahanya harus serius. Saya sudah mempelajari Biokimia, karena saya mau bikin disertasi dalam masalah bunuh diri. Supaya kepergiannya bukan karena Prof.K senang saja pada Dr. Y saya ingin menanyakan apakah Dr. Y bisa menulis rumus bangun Haloperidol, CPZ dan Amitriptylin. Pada saat itu Dr. Y baru saja menyelesaikan buku Obat-obat yang dipakai dibidang psikiatri dan rumus-rumus bangun obat psikotropik masih dihapalnya. Dr. Prabu Ganesya mengatakan bahwa pertanyaannya bukan direkayasa, dan dia baru mencocokkan rumus bangun itu dengan yang ada di buku. Ternyata rumus bangun itu memang cocok.

Dr. Suharto Herjan juga bicara, saya sudah pasti tidak mungkin pergi kesana, karena banyak tugas disini, yang saya pertanyakan adalah masalah pharmacologi, dia menanyakan agonist dan antagonis Dopamin (DA). Agonist DA tentunya telah diketahui adalah Amphetamin, tetapi ada juga Apomorphin dan Cocaine. Antagonistnya adalah HLP dan CPZ serta beberapa anti psikotik. Dr.UUA kemudian berbicara, dia juga sudah sangat senior, dan mengatakan bahwa Dr. Y adalah pantas untuk Australia, dia mengajar di bagian Psikiatri FK Trisakti, dan pada saat itu FK dan FKG dalam satu atap. Menurut Dr.UUA tidak ada yang pantas untuk ke Australia kecuali Dr.Y. Demikianlah keputusan rapat, tetapi saya kemudian mendengar bahwa beberapa senior-senior lain tak sependapat, mereka tetap menganggap bahwa sejak awalnya kepergian ke luar negeri berdasarkan urut kacang. Psikiater yang baru dilantik, umur belum kepala tiga tidak pantas untuk pergi, sedangkan mereka sudah menunggu kesempatan beberapa tahun.
Ternyata menunggu kepergian ke Australia bukan sebentar. Semua orang sudah tahu Dr.Y akan berangkat ke Australia, tetapi belum ada tanda-tanda sampai ayah Dr. Y masuk Rumah sakit RSPAD karena kanker usus besar.

Catatan
Autobiography dalam tulisan ini semua nama termasuk nama seluruh keluarga saya, karakter, tempat, institusi, situasi bukanlah berada di Indonesia , tetapi disuatu tempat di. . . . Republik Tidur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s