Di rawat di RSPAD

Di rawat di RSPAD

Ketika itu dia masih aktif menjadi pegawai negeri, dengan pangkat rendah, tidak pantas untuk mengatakan bahwa dia teman atau kenal dengan Sukarno, Hatta, Syahrir, Yamin, Lie Kuan Yew dll tokoh yang pada waktu masih berkuasa . . . . . . . di Selanjutnya dapat dilihat

di: https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/02/05/di-rawat-di-rspad/

His Story of Sutan Iskandar (1)
As Told to Dr.Yul Iskandar., PhD
(Unauthorized and uncheck of story).

<ins Jika tindakan anda berhasil menginspirasi orang lain untuk bercita-cita lebih, belajar lebih, bekerja lebih,dan menjadi sosok lebih, <
maka anda menjadi seorang pemimpin.
J.Q. Adams, Presiden AS ke 6 (1825-1829).<ins

Tanggal persisnya tidak tahu pasti, mungkin tanggal 13 Juni, tapi jelas setelah bulan Januari 1974, Sebab saat itu kami bertemu dengan Dr. Hariman Siregar, yang sedang ‘sakit’ setelah peristiwa malari 1974 dan dirawat di RSPAD dan satu ruangan dengan ayah saya Sutan Iskandar.

Tengah malam Dr Yul Iskandar yang bekerja di RS OM (psychiatric Hospital) mendapat interlokal dari ayahnya (Sutan Iskandar) bahwa sudah 7 hari tak bisa buang air besar, perut kembung, dan tidak enak badan. Dengan Ambulans RSOM-PH menjemput Sutan Iskandar di Bogor, dan untuk mudahnya di tempatkan di RSOM dimana Dr.Y bisa menjaganya sepanjang malam. Dr. Y mengkonsulkan keadaan Sutan Iskandar dengan telepon ke konsultan penyakit dalam RSOM Dr. Hazniel Zainal. Dari berbagai jawaban pertanyaan Dr.HZ sementara mengambil kesimpulan bahwa Sutan Iskandar perutnya penuh cairan (ascites), mungkin karena sakit jantung atau karena sakit liver, dan untuk menguranginya dianjurkan pemberian aldactone dan Lasix. Kami berikan obat itu serta obat tidur malam itu.

Pagi hari Dr.HZ telah datang dan memeriksa Sutan Iskandar, dia terkejut bahwa Sutan Iskandar adalah ayah Dr. Y. Menurut Dr.HZ ini bukan ascites, tetapi ada tumor di usus besar yang demikian membesar sehingga mencegah pengeluaran faeces yang telah berlangsung mungkin sudah sepuluh hari. Tentu penyakitnya sudah lama, tapi Dr.Y juga sudah lama tak pernah ketemu dengan Sutan Iskandar. Dr.HZ menyarankan untuk operasi dan dilakukan di RSPAD saja, karena disana tempatnya paling lengkap. Pagi itu juga Sutan Iskandar dibawa ke RSPAD, untuk dilakuakn operasi cito, operasi yang tak dijadwalkan untuk mengangkat seluruh Usus Besar yang agaknya telah necrosis (membusuk) disertai dengan adanya benjolan besar yang menutup aliran.

Saya dipanggil oleh dokter bedah RSPAD setelah 8 jam menunggu operasi. Dokter itu mengemukakan bahwa setelah dilakukan pemeriksaan yang seksama, Tumor itu tumor ganas, dan operasi pengangkatan itu adalah operasi besar yang harus dipersiapkan dengan baik, persiapan materil (uang) karena Sutan Iskandar bukan tentara (kalau tentara tidak bayar), moril, dan kondisi tubuh dengan baik. Dia menanyakan pada Dr.Y umur Sutan Iskandar. Dr.Y Bilang kira-kira 66 tahun, tetapi dokter bedah memperkirakan bahwa Sutan Iskandar berumur antara 70-74 tahun. Jadi yang dikerjakan tadi hanya colostomy (membuat lubang di perut), sehingga anus sudah tak berfungsi, dan dirawat dahulu dengan konservatif, belum ada pengangkatan tumor karena akan dilakukan setelah kondisi kesehatan yang membaik. Pasien ditempatkan dikelas I RSPAD. Kelas I RSPAD pada tahun itu adalah kamar didepan bangsal dan diisi oleh hanya satu orang. Dibelakangnya adalah sal. Standard rumah sakit waktu itu adalah seperti itu. Kamar kelas satu tak mempunyai kamar mandi sendiri, jadi kamar mandi bersama dengan pasien di sal. Tapi memang kamar mandi tak diperlukan karena BAB (buang air besar) melalui perut, yang dibersihkan tiap hari. Sehari-harinya ditutup dengan kassa. Buang air kecil di Pispot, dan mandi dimandikan (di lap-lap saja) oleh perawat setiap hari.

Dari tanggal 13 Juni 1974 sampai 23 Desember 1974 Sutan Iskandar dirawat dirumah sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Anaknya penulis tulisan ini (Dr. Yul Iskandar) menuliskan apa yang dikatakan oleh Sutan Iskandar selama dia dirawat di RSPAD, sampai meninggalnya Sutan Iskandar pada tanggal 23 Desember 1974. Hal ini dilakukan oleh Dr.Y yang praktek sore di Jl. Biak, dan pulang ke Jl. Tegalan (Rumah mertua), tapi mampir dahulu sore-mendekati malam, sampai pukul 10 atau 11 malam di RSPAD.

Penulisan ini berdasarkan buku yang pernah ditulis oleh Sutan Iskandar sendiri (diberinya judul 25 tahun sebagai pegawai PTT ) ditambah cerita Sutan Iskandar (His Story) yang menurut Sutan Iskandar penulisan buku itu pada saat itu (th 1953) banyak hal yang belum diungkapkan, karena saatnya belum tepat.

Ketika itu dia masih aktif menjadi pegawai negeri, dengan pangkat rendah, tidak pantas untuk mengatakan bahwa dia teman atau kenal dengan Sukarno, Hatta, Syahrir, Yamin, Lie Kuan Yew dll tokoh yang pada waktu masih berkuasa dan terkenal. Pada saat ini 1974, situasi telah berubah, Belanda sudah lama meninggalkan Indonesia, Sukarno, Hatta, Syahrir sudah tak berkuasa lagi. Lagi pula Sutan Iskandar tahu bahwa umurnya tidak akan panjang lagi, paling paling seminggu, sebulan, setahun atau paling lama 5 tahun lagi dia masih bisa hidup. Dia tahu dia menderita tumor ganas di usus besar, tetapi untungnya kanker itu tidak menyakitkan, dan buang air dibuat lubang di badan.

Dia menceritakan cerita ini, untuk lebih membuat horizon dan cakrawala yang luas dari sudut pandang penderita bukan sudut pandang pelaku sejarah, dan lebih objektif untuk menilai suatu masa, zaman awal penjajahan Belanda modern (1900-1915), zaman penjajahan Belanda otoriter ( 1916- 1930), zaman penjajahan Belanda sangat otoriter dan paranoid (1931-1942), zaman penjajahan Jepang (1942-1945), zaman perebutan kekuasaan dari Belanda ke RI (1945-1950)- zaman Sukarno awal (1950-1959), zaman Sukarno akhir (1959-1966), Zaman Suharto awal (1967- 1974) dimana dia hidup berdasarkan pengalaman yang dia rasakan sebagai korban keadaan, bukan pelaku sejarah. Karena buku ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya, tanpa perlu untuk mencek kebenarannya.

Waktu penulis ingin menulis tentang Sutan Iskandar, beberapa orang bertanya pada penulis apakah Sutan Iskandar bekas presiden atau bekas perdana menteri atau menteri, jawabannya bukan, apakah dia bekas jenderal atau pemimpin partai jawabannya juga bukan.Dia hanya pegawai pos biasa. Jadi mengapa anda menulis tentang dia, karena dia adalah orang biasa, orang tua penulis, dan korban dari keadaan. Dia tak pernah berbuat apa-apa untuk merubah keadaan, tetapi dia menerima keadaan dengan apa adanya tanpa berontak, rasa salah atau menyesal atas segala yang telah terjadi padanya. Dia mengatakan akan melalui jalan ini juga bila diberi jalan kedua, penulis mengatakan cukuplah satu kali saja menjadi Sisipus yang mendorong batu ke puncak Gunung Olympia.

Apakah Dr.Y sayang padanya, mungkin tidak juga, sudah sejak umur 16 tahun Y banyak keaktifan dimana dia kurang peduli juga pada orang tuanya. Apakah Sutan Iskandar sayang pada Dr. Y, Dr. Y tidak tahu mungkin pula tidak (anaknya ada sepuluh, jadi dia tak sempat untuk memberikan kasih sayang pada satu orang). Jadi mengapa anda menulis tentang dia, justru itu karena secara objektif dia menjadi besar dalam ruang yang kecil, Orang yang benar ditempat yang salah, orang yang selalu memilih yang salah, dan karena itu konsisten dia menjadi benar, dia menjadi orang tak berhasil (menjadi besar), akan tetapi dia sangat ahli dalam pekerjaaannya, ilmu pengetahuannya luas, melebihi keperluan untuk pekerjaaannya. Dengan kawan-kawan yang tak sesuai dia dianggap telalu angkuh atau terlalu pamer, dia hidup melampaui zamannya. Apa yang dia ceritakan, dan lakukan merupakan sesuatu yang luar biasa bagi zaman ini akan tetapi pada waktu itu dia dianggap aneh. Semua mengakuinya dia pintar, disekolah HIS yang baru dibuka di Pariaman dia meloncat kelas dari kelas 3 langsung ke kelas 5, disaksikan oleh controller Belanda. Akan tetapi dia beberapa tahun tidak lulus MULO di Jakarta karena termasuk daftar hitam yang dianggap berbahaya oleh Belanda.

Seperti dikemukakan diatas, buku ini ditulis berdasarkan buku yang ditulis sendiri oleh Sutan Iskandar pada 13 Juni 1953, dan diterbitkan oleh penerbit Menara Pengetahuan. Sutan Iskandar sendiri mengatakan bahwa tulisan disitu belum lengkap karena suasana politik, suasana kekekuargaan dan berbagai hal, maka banyak hal tidak dicantumkan dalam tulisan itu. Salah satu contoh adalah pertemanannya dengan Zairin Zain dan Sukarno, yang pada waktu itu menjabat Duta Besar Indonesia untuk Jerman Barat, serta Sukarno yang menjadi presiden, sedangkan Sutan Iskandar hanya pegawai pos biasa, dia merasa tidak pantas untuk menuliskannya, karena dia masih aktif bekerja di kantor pos PTT di Bogor. Buku itu disebarkan secara luas (tahun 1953) kepada rekan- rekan pekerja di kantor pos diseluruh Indonesia, dan hasilnya luar biasa, banyak yang mengirimkan uang wesel, ada yang menyatakan sebagai pengganti ongkos cetak, ada pula yang yang mengirimkan sebagai rasa simpati sebagai orang yang sama-sama bekerja di kantor pos.

Akan tetapi pada waktu catatan ini dibuat, keadaan sudah berubah. Sukarno sudah Jatuh, malahan Suharto sedang sedikit digoyang (peristiwa malari), dan Zairin Zain telah meninggal dunia. Sutan Iskandar terbaring lebih dari 6 bulan di Rumah sakit, dia mengatakan dia akan menunggu adik Zairin Zain (Harun Zain) waktu itu menjadi gubernur Sumatra Barat untuk menengoknya. Benar saja pada tanggal 22 Desember 1974, Harun Zain menengok Sutan Iskandar di RSPAD. Besoknya pagi-pagi tanpa sebab, Sutan Iskandar sakit, muntah-muntah dan kemudian meninggal dengan tenang, ditunggui oleh anaknya Siti Hamidar dan Dr. Yul iskandar.

Tulisan dalam italic adalah tulisan yang berasal dari buku Sutan Iskandar sendiri, sedangkan tulisan biasa adalah catatan yang dikemukakan oleh Sutan Iskandar pada Dr. Yul Iskandar.

Perayaan

Undang-undang no. 20 tahun 1952 tentang pensiun berbunji sebagai berikut; “pegawai negeri jang diberhentikan dari jabatan negeri, berhak menerima pensiun, jikalau mempunjai masa kerja sekurang-kurangnya 25 tahun dan mencapai umur 50 tahun”.

Sutan Iskandar merayakan ulang tahun ke 25 sebagai pegawai PTT di kantor pos Bogor, pada tanggal 13 Juni 1953, seorang diri, karena tak satupun yang peduli pada Sutan Iskandar bahwa saat itu dia telah bekerja 25 tahun, di Kantor pos. Tak ada bintang jasa, atau secarik kertas penghargaan atas jasanya berbakti pada kantor PTT selama itu. Dia telah bekerja di Kantor Pos melewati zaman penjajahan Belanda selama 14 tahun (1928-1942), zaman Jepang 3 tahun (1942-1945), Zaman Perjuangan Kemerdekaan 4 tahun (1945-1949), Zaman pemerintahan Pasundan dan RIS selama 1 tahun (1949-1950), zaman Negara Kesatuan dibawah Sukarno(1950-1958). Pada tahun 1958 dia mengajukan pensiun dini (berumur 50 tahun menurut versi resmi, tetapi mungkin berumur 60 tahun berdasarkan versi lain). Zaman berganti, penguasa berganti tapi dia tetap setia menjadi Pegawai Pos, karena tak ada lagi pekerjaan yang mampu dikerjakannya, kecuali menjadi pegawai Pos. Dia bangga, karena kantor itu telah menghidupi dirinya, dengan satu istri dan 10 orang anak. Dari mana lagi uang yang didapat kecuali gaji kecil sebagai pegawai kecil dari kantor Pos.

Mulai Bekerja

Pada tanggal 13 Juni 1928 tepat pukul 14 atau pukul 2 siang Sutan Iskandar membubuhi parafnya untuk pertama kalinya pada daftar hadir disuatu perusahaan pemerintah jang penting (Vitaal Bedrijf), jaitu Kantor Besar Pos, Telepon dan Telegrap (PTT) klas satu Weltevreden, kemudian bernama Batavia-Centrum, sesudah itu Jakarta pusat. Gedung kantor pos ini didirikan sekitar tahun 1860-an, pada mulanya sebagai Kantor Post dan Telegraph, akan tetapi ketika teknologi telepon juga masuk, jadilah dia menjadi PTT. Menurut catatan dari formulir yang dia isi, dia dilahirkan di Pariaman pada tanggal 13 Juni 1908, jadi pada hari itu tepat umurnya 20 tahun.

Menurut cerita yang diceritakan pada Yul Iskandar, tanggal lahirnya sebenarnya tak begitu jelas. Dia mengambil 13 Juni 1908, yaitu 20 tahun sebelum masuk kerja. Tanggal kelahirannya bisa tahun 1901, 1903,1905 atau 1908.

Menurut Sutan Iskandar ibunya bercerita bahwa dia dilahirkan di Pariaman tanggal 7 Februari 1901. Ibunya ingat benar bahwa hari kelahiran Sutan Iskandar bersamaan dengan hari perkawinan Ratu Wilhelmina (Nama lengkapnya yang tertulis dalam pamplet perayaan perkawinan adalah Wilhelmina Helena Pauline Maria), Ratu Belanda yang menikah dengan Duke of Mecklenburg-Schwerin yang masa kecilnya bernama Henry Wladimir Albert Ernst pada tanggal 7 Februari 1901. Pada saat itu Ratu Wilhelmina baru 3 tahun menjadi Ratu, walaupun sebelumnya tahun 1890 dia telah dinobatkan menjadi Ratu Negara Belanda, karena ayahnya Raja William III pada tahun 1890 meninggal dunia. Akan tetapi karena baru berumur 10 tahun , maka ibunya (Istri kedua raja William III) yang menjadi wali, sampai ratu berumur 18 tahun pada tahun 1898.

Ratu Wihelmina adalah seorang Ratu yang adil. Ketika perayaan perkawinan berlangsung (1901), maka diseluruh Hindia Belanda, kecuali di Aceh, dilakukan pesta besar-besaran. Menurut Sutan Iskandar yang dia dengar dari pamannya (Damang Sutan Darwis) sebenarnya Ratu Wihelmina pada saat itu ingin mempersiapkan suatu kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, dibawah satu Uni, yaitu satu negara dengan dua bangsa, yaitu Negara Belanda dan Negara Hindia Belanda (atau Indonesia).

Perkataan Indonesia sendiri sudah ada dipakai oleh beberapa orang, tetapi perkataan itu saat itu tidak populer. Ketika Sutan Iskandar lahir sampai tahun pertama dia bekerja, maka negeri Itu dinamakan ”Jawi” oleh orang arab yang artinya negeri bawah angin, Orang Eropa menyebutnya ’Indian islander’ Yang artinya orang pulau-pulau Hindia, ada juga yang menyebutnya East India (Hindia Timur), yang terbanyak menyebut Melayu atau Malay.

Baru setelah tahun 1928 kaum intelektual yang terdidik menyebutnya Indonesia. Akan tetapi orang pedalaman di daerah Minangkabau, orang Betawi, orang parahiangan didaerah Garut, atau orang petani-petani di Jawa, Madura, Bali, dan Lombok, mereka baru puluhan tahun kemudian baru tahu bahwa mereka hidup di Indonesia atau Hindia Belanda saat itu. Saat itu kebanyakan penduduk tidak peduli negara apa yang didiaminya. Orang Minangkabau, merasa dia hidup dinegara Minang, benar ada Belanda, tetapi itu tak berpengaruh banyak pada kehidupan sehari-hari.

Sebagai Ratu, dari negara dengan monarchi-konstitusionil, maka peranan politik Ratu sebenarnya sangat kecil. Kekuasaan ada ditangan parlemen, dan exekutif dibawah perdana menteri. Akan tetapi pengaruhnya pada para politisi di negara Belanda sangat kuat. Dia mampu mempertahankan kenetralannya dalam Perang Dunia I, dan dia juga mencoba mempengaruhi parlemen Belanda untuk memerdekakan jajahannya, terutama Hindia Belanda. Bagi Ratu mempunyai tanah Jajahan hanya membebani uang negara saja, kebanyakan uang di korup oleh pegawai-pegawai Hindia Belanda, yang masuk Kas pemerintah di Negeri Belanda sebenarnya sangat kecil. Tetapi pegawai Belanda di Hindia Belanda menjadi kaya raya, malas, kurang produktif, kerjanya hanya memeras rakyat tanah jajahannya.

Sayangnya sayap konsevatif di Parlemen, serta para Bangsawan Bumi-Putra serta militer Belanda, tidak begitu suka dengan inisitif kemerdekaan Indonesia oleh Ratu Belanda. Mereka memberikan laporan bahwa Bangsa Indonesia masih sangat bodoh, dan hanya sanggup menjadi ’koeli’ saja. Ratu sebenarnya memerintahkan untuk membuat pendidikan dan mengajarkan supaya bangsa Indonesia diajarkan untuk berorganisasi, baik organisasi politik maupun organisasi sosial. Inisiatif yang baik ini sayangnya secara diam-diam disabot oleh para Gubernur Jendral yang berkuasa di Hindia Belanda.

Karena tulisan ini tidak berpretensi untuk menjadi buku sejarah hystory of Indonesia, atau auto biographi ataupun memoar, tetapi hanya suatu His Story of Sutan Iskandar maka penulis hanya menuliskan apa yang dikatakannya (Anauthorized and uncheck of story).

===========(1)

2 Tanggapan to “Di rawat di RSPAD”

  1. pieter noya Says:

    menurut sy ini semua tinggal cerita,,
    kita cuma bisa mengenang sejarah masa lalu..
    cerita tinggal cerita nasi udah menjadi bubur….

  2. dryuliskandar Says:

    Siapa yang tak mengenal sejarah, tidak menghayatinya maka dia akan membuat kesalahan yang sama dengan sejarah mungkin orang-orang tuanya. Dengan mengetahui dan mengerti maka mudah-mudahan kesalahan mereka masa lalu, tidak akan diulangi.
    Jadi sejarah bukan untuk dikenang, seperti batu nisan, tapi ambilah hikmahnya, tinggalkan yang buruk, yang hanya menimbulkan kepahitan, tapi ambilah yang positif yang bisa membangun jiwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: