Psikoanalisis vs CBT

Psikoanalisis vs CBT

Dalam Psikoanalisis dikenal istilah penyembuhan karena penyerahan diri atau istilahnya transference cures. . . . Dalam CBT maka formula utama adalah adanya masalah (event =A) akan menimbulkan reaksi . . .. .. seterusnya di.
https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/01/19/psikoanalisis-vs-cbt/

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (59)
(Lanjutan Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (58))

Yang dimaksud dengan transference atau penyerahan diri ialah suatu keadaan pengalihan kepihak psikiater daripada segala hidup emosi dan keadaan –afektif, yang ada pada diri penderita sehingga tercipta suatu suasana yang kadang-kadang amat berwarnakan emosi-emosi yang bergejolak. Dalam keadaan demikian maka situasi therapeutic penuh dengan fenomena-fenomena projeksi perasaan, fikiran dan keinginan penderita dan kadang-kadang dalam hubungan yang intim. Psikiater seolah-olah berubah kedudukannya dan menjadi salah satu figure dimasa silam, biasanya figure kewibawaan seperti ayah ibu atau orang lain yang menjadi sasaran daripada fikiran dan perasaan penderita itu. Dalam keadaan yang demikian itu pelbagai situasi yang sangat tak- realistic, dapat terjadi justru karena corak-corak daripada perasaan dan fikiran itu untuk sebagian besar berasal daripada alam tak sadar. Keadaan penyerahan diri ini dapat bersifat positif yaitu apabila penderita menilai secara amat berlebihan kedudukan dan sifat psikiater. Ia sangat memuja-muja psikiater dan malahan dapat dikatakan ‘jatuh cinta’ secara overt ataupun tertutup. Atau sebaliknya penderita dapat memperkembangkan suatu penyerahan diri yang negative sehingga memperlihatkan sifat-sifat negative, benci dan permusuhan (hostile) terhadap psikiater itu. Baik dalam penyerahan diri yang positif ataupun yang negative kedua-duanya adalah keadaan yang tak realistic.
Keadaan mental-emosional ini dapat berobah pula sesuai dengan sifat-sifat negativitas dan positivitas daripada situasi penyerahan diri itu. Oleh karena itu ada istilah penyembuhan karena penyerahan diri atau istilahnya transference cures yang sifatnya amat sementara saja. Dalam hubungan fenomena ini perlu ada pengertian yang mendalam dari fihak psikiater agar supaya ia tetap dapat menguasai keadaan yang kadang-kadang sangat provokatif. Oleh karena itu psikiater yang melakukan psikoterapi patut mengetahui adanya fenomena ini.

(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD.).,1966

Cognitive Behavior Therapy . CBT1.

CBT timbul sebagai reaksi dari Freudian Psikoanalis (Psikoterapi orthodox), yang mendewakan psikodinamik Freudian. Eysenck mempertanyakan validitas ilmiah dari psikoanalisis orthodox itu. Timbulah gerakan yang lebih berorientasi pada behaviourisme. Salah satunya adalah CBT ini dikembangkan oleh Wolpe (1958) dan yang lain oleh psikiater A.T. Beck (1970).

(Dibawah ini semua kata dokter dalam tulisan ini bisa termasuk adalah psikiatrist dan psikolog klinis.)

Dalam CBT maka formula utama adalah adanya masalah (event =A) akan menimbulkan reaksi perubahan tingkah laku atau symptom penyakit (B), akan tetapi secara kenyataannya adalah bahwa A dirubah dahulu oleh C (aktivitas mental) yang bisa berupa histori, persepsi dan khayalan dsb. Jadi sangat mudah dalam mengubah pasien dengan CBT, yang sulit pada kenyataannya adalah C yang mana yang dipakai oleh pasien bila ada A untuk menjadi B.
Kebanyakan pasien mencari mudahnya saja, mengambil secara random C, dan tugas dari dokter adalah memperbaiki atau mengoreksinya. Sering kita melihat pasien dengan sepenuh energinya merubah kognisinya dengan sesuatu yang salah dan energi habis untuk kesalahan itu.

Disini peranan dokter untuk supaya pasien mengambil C yang benar, dan dia harus tahu bahwa C adalah sutu proses internal di otak atau mental. C tidak demikian mudah didapat tanpa kerja keras. Dibawah ini ada suatu daftar dari C yaitu

1.percaya diri
2.efikacy
3.persepsi
4.atensi
5.intuisi
6.atribut
7.label
8.explanasi
9.kategori
10.Maps Kognitif
11.Keinginan pribadi
12.Thema kehidupan
13.Asosiasi
14.Conditioning
15.Konsep diri
16.Image
17.Memori
18.Superstitions
19.imaginasi
20.pertimbangan
21.Konklusi
22.Asumsi
23.Histori
24.Internal scripsts
25.Prototype
26.ICM( Idealized Cognitive Models)
27.Mythos pribadi
28.Gestaltnes.

Dalam hal ini dokter dapat menerangkan pada pasiennya dari A ke B maka ada proses C 1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 dst . . .Cn, jadi sebelum pasien mengambil keputusan B maka ada suatu proses berantai dari C1 sampai Cn, seperti kartu domino. Setelah itu baru pasien mengambil emosi, atau tingkah laku tertentu.
(Yul Iskandar, 2006)

Dalam keadaan yang demikian psikiater harus maju terus, walaupun kadang-kadang tidak terlampau cepat atau kuat (forceful), dengan mengemukakan interpretasi-interpretasi yang pada taraf terakhir merupakan alat yang paling tajam dan yang paling ampuh bagi penyembuhan penderita dan pengakiran daripada relasi terapeutik.

Penderita diberikan kemungkinan untuk expresi alam pikir dan alam perasaanya secara seluas-luasnya dengan pelbagai cara, antara lain dengan cara asosiasi bebas dan cara-cara analitik yang sejenis dengan itu.

Hanya dengan jalan memberikan kesempatan seluas-luasnya itu akhirnya psikiater bersama-sama dengan pasiennya dapat mengihtiarkan suatu kesimpulan yang menyeluruh tentang factor-faktor dan pengaruh-pengaruh yang telah berhasil menjelmakan gangguan mental-emosional yang diderita oleh pasiennya.

Dalam tiap-tiap transaksi yang berorientasi psiko-analitik, maksud terakhir dari pada psikiater ialah memungkinkan terjelmanya pengertian diri pada penderita. Dengan demikian maka penderita diharapkan dapat mengatasi konflik-konflik mental dan emosionalnya serta dapat membebaskan diri dari-pada beban beban yang timbul karenanya sehinggga secara klinis dia dapat disembuhkan .

Secara psikologis kecuali adanya reorganisasi dalam alam tak sadar (uncouncious) yang lebih harmonic dapat dinyatakan adanya reorganisasi fungsional daripada alam sadarnya, khususnya hubungan –hubungan harmonic dengan lingkungannya yang terikat pada fungsi-fungsi daripada aku atau ego. Secara psikodinamika maka kekuatan dan kewibawaan aku atau ego diperkokoh.

(R. Kusumanto Setyonegoro.)

CBT-2

Pasien biasanya punya expektasi (B) terhadap stimulus A, malahan punya harapan yang berlebihan, tanpa memikirkan akan proses C. Pasien sering akan merasa bahwa dia akan sukses atau gagal. Pasien juga punya expektasi yang besar atau sangat kecil dari A.
Yang sering terjadi adalah expektasi yang tak realistic dari pasien.

Kadang-kadang C telah timbul sebelum terjadi A. Misalnya Asumsi ( C ) si pasien bahwa ujian akan sukar dan tak lulus, padahal A (ujiannya) belum terjadi, yang terjadi adalah si Pasien menderita Insomnia atau cemas waktu mau ujian (B). Pasien-pasien yang mempunyai pikiran negative, kurang percaya diri sering masuk dalam perangkap B, walaupun A belum terjadi.

Sebenarnya expektasi adalah apa yang pasien perlukan , dan keadaan disekitarnya. Contoh tadi pasien yang mau ujian, yang diperlukan adalah Konsep diri yang benar, menghilangkan mithos pribadi yang salah, dan melihat disekitar kita. Apakah kawan-kawan kita lebih pandai atau ebih bodoh dari kita.

Pasien dalam melakukan sesuatu, baik dia gagal atau sukses, harus melakukan pilihan C ( C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 . . . .. Cn ) dimana dia akan mendapat performa yang optimal dalam menghadapi A.

Cuatu contoh pasien punya uang 100.000 US $, dan harga dollar saat itu Rp 12.000 rupiah. Apakah dia akan menjualnya (A) dan akan untung dan senang (B) kalau dollar US kemudian turun , atau sebaliknya. Banyak yang melakukan tindakan A tanpa menganalisa C, yaitu situasi dan expectasi dari dia sendiri. Seandainya dia memang butuh uang rupiah, tentu uang dollar dijualnya.

Ada pasien yang datang kepada kami dengan keluhan bahwa dia menyesal, kesal, tidak bisa tidur, karena tak mengexekusi, yaitu menjual dolarnya. ‘ Bayangkan Dok sekarang harga dollar Rp 10.000,- jadi saya sudah rugi 100.000 X 2.000 = Rp. 200.000.000.=
Memang masuk akal bila rugi Rp 200.000.000, kita akan kesal dan menyesal, tetapi saya tanyakan anda punya uang dulu berapa $100.000,=, Sekarang yang anda punya berapa US100.000,- dimana letak kerugian anda, karena anda toch tak membutuh kan uang rupiah sebanyak itu pada saat ini. Pasien baru sadar bahwa dia sebenarnya tidak punya kerugian apa-apa (hanya potensial loss kalau dijual saat ini). Jadi kalau tak dijual dia tak ada kerugian apa- apa. Hanya dengan berbicara demikian saja, segala keluhannya menjadi hilang, karena expectasi C dia yang salah dikoreksi.

Bersama dengan pasien dan keluarganya kita membuat rencana yang masuk akal untuk melakukan rencana pengobatan, berapa lama, interval pengobatan barapa kali seminggu, disertai dengan diskusi ‘What’, pengakit pasien, ‘How’ sampai berapa jauh atau sampai berapa hebat penyakitnya, kalau perlu dilakukan assessment klinis seperti pemeriksaan HAM-D, HAM A, MADRS, KSPBJ Insomnia Rating Scale dsb. Dan yang penting pula adalah kapan (‘When’) penyakit ini bermula, dan apakah dahulu dan sekarang gejalanya sama. Yang tak perlu didiskusikan adalah ‘Why”, karena masalah ini tidak produktif. Pasien (keluarga pasien )selalu ingin tahu penyebabnya, dia mengatakan bahwa kalau kita tak tahu penyebab penyakit malaria, bagaimana kita akan mengobati penyakit itu. Jawaban kita jelas bahwa penyakit itu seperti kebakaran, apapun penyebabnya yang penting api harus dipadamkan.

Apa yang dikatakan diatas, adalah sesuatu yang juga disukai pasien, keluarga dan dalam pengobatan CBT apapun penyakitnya bukanlah menjadi soal. Tujuan yang akan kita capai adalah jelas perubahan tingkah laku yang kongkrit, yang dilihat baik oleh pasien, keluarga maupun terapisnya. Selain itu perubahan itu dapat diukur dan dimonitor oleh yang berkepentingan.

Dalam proses CBT maka kita harus mempunya data-data psikopatologi awal, dan perkembangannya yang dimonitor, dan kemajuan-kemajuan yang sesuai dengan rencana kita. Dalam proses terapi, assessment, pengukuran rating scale, serta diagnosis dilakukan serentak. Dalam proses ini, kita mengatakan pasien bahwa pasienlah yang menjadi titik sentral, tergantung dia kemajuan terapi, dokter hanya membantu melalui petunjuk jalan yang harus dilalui.

Goal dari terapi bukanlah menghilangkan segala problem yang ada pada pasien, suatu hal yang juga tak akan mungkin terjadi. Tetapi kita mencoba untuk melihat beberapa isu penting seperti level dari stress, kemampuan mengatasi stress, ketegangan, insomnia, depresi, agitated, ini memerlukan tindakan segera, dengan psikofarmakologi dan teknik relaxasi.

(Yul Iskandar., 2006)

Sehubungan dengan formulasi mengenai terapi ber-oreantasi psiko – analitik, dibawah ini diberikan perumusan tentang beberapa dasar pokok yang menurut hemat kami perlu ditegaskan secara eksplisit, yaitu :

i). Soal Adaptasi Organisme

Organisme hidup dianggap memiliki suatu karakteristik yang menarik perhatian, yaitu daya menyesuaikan diri terhadap kepada rangsang-rangsang atau tuntutan-tuntutan lingkungan (dalam atau luar). Hal ini disebutkan adaptasi. Oleh karena itu maka kecuali mekanisme-mekanisme neurofisiologi, kita dapat berharapan akan berjumpa dengan mekanisme-mekanisme psikologi.
Bagi psikiater yang penting ialah aspek bahwa dalam adaptasi itu, penderita berada dalam proses perubahan yang cepat (vital atau psikologi) yang menghendaki suatu reorganisasi sikap-sikap mental. Berdasarkan reorganisasi mental itu terjadi suatu regulasi baru dari pada kekuatan-kekuatan mental, sehingga akhirnya yang dihasilkan ialah suatu penyesuaian diri yang lebih realistik, yaitu yang lebih memperhatikan dunia luar dengan segala ketentuan-ketentuan yang tidak atau hanya sukar dirubah.

Demikianlah, maka soal adaptasi organisme perlu memperoleh perhatian yang terus menerus daari pihak psikiater, baik dari sudut kualitatif mau pun dari sudut kuantitatif. Psikiater patut menduga dengan seksama-seksamanya sampai taraf apakah individu yang diobatinya itu dapat mengikhtiarkan adaptasi, agar dosis perangsangan atau stimulasi lingkungan dapat diberikan dalam intensitas yang seoptimal-optimalnya. Hal itu penting dalam semua fase dari pada terapi, baik psikoterapi maupun farmakoterapi, malahan juga dalam terapi okupasional yang menuju kepada usaha-usaha rehabilitasi mental. Hanya berpegangan pada asas-asas demikian itu maka semua usaha terapi yang digambarkan itu dapat disesuaikan dengan kualitas kemampuan adaptif individual.

(R. Kusumanto Setyonegoro. 1966)

CBT-3

Sering expectasi yang tak realistic dapat menyebabkan pasien sakit atau menderita. Seorang pasien, seorang artis, merasa bersalah dan tak bisa tidur, hanya karena waktu konser dia salah satu not. Seorang mahasiswa sudah tak bisa tidur 3 hari karena nilai ujiannya A-. Inilah type-type perfectsionist yang harus dianalisa C nya yang mengakibatkan tingkah laku (B) nya buruk. Dia akan selalu merasa bahwa dia gagal dari kehidupannya. Tidak jarang mereka begitu depresinya, hanya disebabkan kegagalan sepele. Disini peranan terpist adalah mencari dan merubah C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 . . . . . Cn.

Bisa juga seorang agora-phobia akan berexpectasi bahwa bila saya pergi kesana pasti saya akan cemas. Atau kalau saya menderita cemas, saya harus pergi dari tempat itu secepatnya, dan bagaimana bisa terjadi bila serangan agoraphobianya terjadi kapal terbang.
Pasien lain selalu dalam ketegangan dan kemarahan yang terus menerus, karena pegawainya bekerja kurang rasional menurut pendapat dia. Padahal pekerjanya sudah berpikir bahwa yang dikerjakan sudah rasional. Yang sulit adalah penderita cemas yang depresi, sehingga expectasi dia ialah bahwa tak seorangpun dapat membantu dia.

Jadi dalam banyak hal seorang pasien yang menemui event , masalah (A), dia akan mendapat banyak sekali expectasi (C), yang membuat dia melihat A adalah baik atau buruk, sukses atau gagal dsb. Dalam terapi sebenarnya A tidak begitu penting yang penting adalah C, sehingga akibatnya dapat mengatakan dan merasakan bahwa segala sesuatu adalah sukses. Walaupun tak sukses, tapi bisa dikatakan adalah sesuatu keadaan kesuksesan yang tertunda.

(Yul Iskandar., 2006)

). Soal Homeostatis

Berdasarkan daya kemampuan untuk adaptasi maka organisasi berusaha untuk mempertahankan suatu situasi stabil (stable state) atau suatu situasi equilibrium, yang bermaksud menjnamin adanya konstansi tertentu yang bermanfaat bagi organisme itu. Oleh karena itu, maka juga soal homeostatis ini dapat diartikan secara organismik dan secara psikologi (psikodinamika) dalam arti kata yang seluas-luasnya.
Jadi, walaupun istilah homeostatis yang secara orisinil diciptakan oleh Cannon berasal dari pada konsep-konsep dibidang fisiologi, cara pikir ilmu kedokteran jiwa telah cepat menangkap makna simboliknya, juga untuk keadaaan-keadaan mental dan emosional. Malahan dapat dikatakan, bahwa sebetulnya paham homeostatis sekarang harus diartikan sebagai suatu paham umum dalam ilmu kedokteran modern dan dalam cara pikir ilmu kedokteran itu. Dalam istilah-istilah pedagogik kedokteran malahan boleh disebutkan, bahwa paham homeostatis itu telah membuka jalan yang bermanfaat bagi pengertian yang lebih modern mengenai keseimbangan-keseimbangan dinamika dalam problematik kepribadian, problematik kesehatan dan problematik penyakit-penyakit manusia. Sekarang dapat dilaporkan suatu kesan bahwa dalam penelitian-penelitian ilmu kedokteran, untuk sebagian tidak kecil titik beratnya telah bergeser dari pada research yang beroreantasi patologi seluler ke arah tendensi yang beroreantasi patofisologi.

(R. Kusumanto Setyonegoro., 1966).

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan ini diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini. Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: