Penelitian MSLT

Penelitian MSLT

MSLT (Multiple Sleep Latency Test) adalah teknik pemeriksaan apakah pasien tertidur, ngantuk atau bangun . . . Biasanya pasien dilakukan test ini untuk . selanjutnya di blog https://dryuliskandar.wordpress.com/2011/01/15/penelitian-mslt/
Autobiogrphy Dr. Yul Iskandar (8)

Catatan
Autobiography dalam tulisan ini semua nama termasuk nama seluruh keluarga saya, karakter, tempat, institusi, situasi bukanlah berada di Indonesia , tetapi disuatu tempat di. . . . Republik Tidur.

Autobiogrphy Dr. Yul Iskandar (8)
Kemudian dia bicara panjang lebar tentang projek yang akan dikerjakan oleh saya, yaitu penelitian Multiple Sleep Latency Test (MSLT) pada sukarelawan normal, pada pemakai obat hipnotik, dan pada penderita Sleep Apneu. Selain itu akan diadakan semacam protocol baru untuk menentukan sleep scoring, modifikasi L… University, dari Standard Internasional R-K . Disamping itu akan diadakan Realibility dan Validity pemeriksaan secara manual dan secara otomatis, komputerized dangan alat Oxford sleep analizer.

Sebelum saya bekerja dia akan meminta pada Rector dari University surat keterangan untuk saya sebagai Visiting Professor, Faculty of Psychology, U. . . of L … Selain itu saya akan diberikan juga temporary Licenced as Doctor untuk bekerja di klinik, karena akan memberikan obat-obat bagi voluntir maupun pasien yang dilakukan penyelidikan. Prof. Marchus adalah Psycholog walaupun dia ahli Psychopharmacology, jadi dia tak punya licence untuk memberikan obat. (di beberapa Negara bagian Amerika Clinical Psychologist master dan PhD Clinical psychologist bisa memberikan obat psikotropik.)

Karena surat itu baru dua hari lagi selesai, maka saya libur dua hari, karena tak mungkin bekerja tanpa ada serifikat atau licency. Di Inggris pada saat itu sedang gencar-gencar dalam pemeriksaan surat-surat acreditasi, karena banyaknya penelitian tanpa izin, khususnya penelitian pada manusia dan hewan. Penelitian Hewan yang saya kerjakan di Australia, tidak akan diizinkan di Inggris pada saat itu, karena memerlukan ratusan tikus yang setelah penelitian terus dibunuh.

Peer Group Review untuk penelitian group kami telah disetujui oleh senat universitas tanpa banyak koreksi. Jadi yang perlu ditunggu adalah surat pengangkatan saya sebagai Visiting Professor dari Rector universitas, yang sebelumnya telah dijanjikan akan diberikan, serta temporary Licence saya sebagai dokter klinikus yang berpraktek dari National Health Service Local L. . .. Kedua surat itu akan akan selesai dalam dua hari.

Sore hari Azhari datang ke tempat saya, dengan mengatakan bahwa dia telah membicakan dengan Dr Surya, dan tiga kawan dari Republik Tidur yang ada di L pada waktu itu yaitu Deva dan Munir. Di University of L, pada saat itu orang Republik Tidur jadinya hanya 4 orang, yaitu saya yang bekerja di Fakulty of Psychology (walaupun saya dokter, psikiater), Dr. Surya yang sedang mengambil S3 di Fakultas Kedokteran, Deva yang (mengambil S2) mendalami masalah keramik, serta Munir yang saat itu satu Fakultas dengan Azhari (mereka mengambil S3) untuk masalah Tenik, khususnya teknik detonasi atau sebangsanya yang saya kurang jelas. Kecuali Dr Surya yang Chinese, yang lain adalah muslim, dan mereka semua sembahyang Jumat bersama. Hebatnya kita sembahyang Jum’at di Gereja, karena sewa gereja lebih murah, dan disana orang muslim yang sembahyang Jumat bisa mencapai 500 orang. (orang Malaysia, India, Afrika, Pakistan, Arab dsb termasuk 2-3 orang Indonesia).

Dari tempat penginapan saya, kita pergi ke tempat penginapan Dr Surya, karena dia membawa keluarga dan ada anak, mendapat fasilitas perumahan type 60, cukup lumayan.
Sedangkan yang lain menyewa kamar bersama di apartemen yang banyak tersebar di dekat kampus. Kota ini 50% adalah kampus, sisanya adalah Mal, perkantoran, dan Apartemen. Dr.Surya memperkenalkan diri bahwa dia sudah 2 tahun di L, dan akan selesai 6 bulan lagi, kemudian dia akan mengajar di M tempat dia mengajar dahulu. Dia ke L melalui beasiswa dari B s setelah lulus test dari B s untuk belajar di Luarnegeri, yang dikhususkan untuk daerah-daerah terdepan. Dia bilang dia lulus test TPA (Test Potensi Akademik) di B s karena membaca buku saya, serta mengerjakannya dengan serius.
Deva dan Munir bercerita dia hanya untung, karena minta beasiswa pada suatu organisasi luar negeri dan diberi, tapi Fakultas dan Universitasnya menolak dia pergi, jadi kalau dia pulang dia tak tahu mau kerja apa.

Ny Surya masak makanan Republik Tidur, dia pandai masak, dia ternyata dokter juga, hanya karena kasihan anaknya tak punya teman, dia menganggap lebih baik jadi ibu rumah tangga saja.

Makanan yang dibuat cukup unik, kita membuat sate, tapi gagangnya dari besi, serta dibakar, dan kebetulan Deva baru dapat kiriman kecap.
Dalam pembicaraan Surya menanyakan tinggal dimana, saya jawab disalah satu B3, dengan tarif 18 pound sehari. Surya bilang itu cukup mahal, besok jam 10 kita bertemu untuk ke Hotel Dokter yang terletak dikomplex Fakultas kedokteran. Menurut Surya disana tarifnya cuma 9 Pound sehari, kamar mandi didalam kamar, dan dapat breakfast, serta ada fasilitas mencuci, menyeterika dan masak serta tiap pagi kamar dibersihkan oleh clening service. Untuk masak disetiap lantai disediakan dapur.

Besoknya saya dengan Surya pergi kehotel Dokter, sebenarnya hanya semacam apartemen saja, tapi bagi para dokter yang berdatangan dari seluruh dunia khususnya Negara berkembang. Banyak dari Negara Afrika, Asia, Amerika Selatan, Dari Negara-negara maju seperti Australia tak ada yang mau tinggal di Hotel doctor tersebut. Pada mulanya bagian administrasi menolak saya tinggal di sana, karena saya bekerja di Departmen Psikologi, sedangkan tempat itu jelas-jelas untuk dokter. Saya katakan jabatan saya adalah rangkap sebagai dokter dan sebagai Psychological medicine (psikiater) yang kebetulan bekerja Departemen Psychology. Salah satu bukti saya adalah dokter adalah saya diberikan temporary Licence untuk praktek dokter dari Local Health Service. Setelah perdebatan sedikit akhirnya saya diizinkan tinggal di Hotel Dokter selama saya bekerja Dep. Psychology, setelah saya bisa menyerahkan copy temporary Licency sebagai dokter.

Surya punya mobil, ternyata mobil di Leeds lebih murah. Mobilnya yang ada di Republik Tidur (Toyota) dia jual diganti dengan sedan buatan Inggris. Yang menjadi soal disana mobil adalah murah, tapi parkirnya mahal sekali. Tapi karena dia dokter, dia parkir di Hotel dokter, yang jarang mempunyai mobil. (Dokter-dokter dari Negara terkebelakang, ). Sesampainya di Hotel B3 tempat saya menginap, pengurus B3 tak mau melepaskan saya karena surat kontraknya adalah minimal satu bulan dan kemudian diperpanjang. Untungnya saya baru mengirim uang untuk 6 hari, dan setelah setengah ribut akhirnya diputuskan saya besok boleh keluardari B3 itu, tetapi uang sewa 6 hari (6 x 18) ditambah service 12 pond jadi jumlahnya 120 pond tak akan dikembalikan.
Dihitung hitung di Hotel Doktor saya membayar sebulan sebesar 270 pond, dengan berbagai fasilitas, mencuci, menyeterika, dan masak tanpa bayar (asal dikerjakan sendiri). Sedangkan bila di perumahan B3 itu saya harus mengeluarkan minimal 600 pond sebulan, angka yang tak artinya di Inggris, tapi sangat berarti buat Negara terkebelakang.

Hotel dokter itu cukup nyaman, seperti dikemukakan kamar mandi didalam, bisa mencuci dan menyeterika (di basement), bisa masak di dapur . Lantainya ada 10 tingkat, tiap tingkat selain ada dapur, ada telepon , juga ada ruang tamu untuk 20 orang, ada TV , ada Video dan ada pula tempat main bilyard. Sayangnya disana yang ada adalah dokter kulit hitam dan orang Amerika latin (campuran negro dengan Spanyol), orang asia sangat jarang, tak ada dari RRT, tak ada dari Jepang atau dari Taiwan.

Pada hari berikutnya Jam 9.00 waktu setempat, ada rapat dihadiri Prof. Marchus dan 10 orang asisten Professor, dengan acara penyerahan Surat dari Registrar University of Ls untuk Rector universitas, yang pada intinya Dr. Yul Iskandar diangkat menjadi Visiting Professor di University of Ls. Serta pemberian Temporary Lycence sebagai dokter di PRU. Setelah itu pemaparan dari Dr. Yul Iskandar untuk scoring Sleep stages berdasarkan lab Dr. Yul Iskandar.

Cara lama dengan R-K memerlukan waktu 2-3 menit untuk menilai 1 Epoch. untuk membaca dengan cara R-K maka 1 epoch terdiri dari 20 detik gambaran EEG . Satu malam terdiri dari 8 jam tidur atau 480 menit, atau 28.800 detik. Hal ini sama dengan 28.800 :20 =1440 epoch atau dibulatkan menjadi 1500 epoch. Jadi untuk menilai diperlukan 1500 x 3 menit =4500 menit atau 75 Jam. Atau 2 minggu kerja.

Cara baru dari Dr. Yul Iskandar, adalah dengan menilai apakah dalam gelombang otak ada delta wave, bila ada apakah 50 % dari 1 epoch itu diisi oleh delta wave maka dinamakan fase 4. Bila kurang dari 50% tetapi lebih dari 20%, maka dinamakan fase 3, sedangkan bila kurang dari 20% dinamakan fase 2. Bila ada S (spindle) wave dan K complex, disertai delta wave kurang dari 20 % maka dinamakan fase 2. Bila hanya ada alfa dan theta wave saja maka dimasukkan dalam fase 1. Fase1 harus dibedakan dengan fase REM, dilihat dari EMG dan EOG. Kalau hanya ada gambaran gelombang alfa dan beta saja maka adalah fase jaga (awake). Dengan cara ini maka 20 epoch dapat diselesaikan dalam 1 menit, sehingga seluruh EEG yang banyaknya 1500 epoch dapat diselesaikan dalam 75 menit atau 1-2-jam.

Rekomendasi lain kemudian dilakukan disertai perubahan-perubahan dan ada beberapa hal detail yang ditambahkan, maka jadilah scoring sitem itu bernama L. Sleep Scoring System dan pemeriksaan dari 18 voluntir dengan cara baru cukup dapat dilakukan dengan cepat. (beberapa hasil penelitian dapat dilihat pada Disertasi Dr. Yul Iskandar) dengan sleep polygraphy.

MSLT (Multiple Sleep Latency Test) adalah teknik pemeriksaan apakah pasien tertidur, ngantuk atau bangun disiang hari. Biasanya pasien dilakukan test ini untuk mengetahui apakah obat ini membuat mengantuk disiang hari, atau tetap jaga. Juga test ini bisa melihat bila pasien menderita sleep attack pada penderita Sleep Apneu.

Masalah penelitian Multiple Sleep Latency Test (MSLT) pada sukarelawan normal, pada pemakai obat hipnotik, anti psikotik dan anti depressant, ternyata mempunyai masalah. Definisi obat hipnotik dan bedanya dengan obat lain adalah hal yang tak dapat diselesaikan. Misalnya Mogadon dan Rohypnol dinyatakan sebagai hypnotic, tetapi sebenarnya profil obat itu tidak beda dengan diazepam dan clordiapozide.

Definisi tidur juga jadi masalah, apakah fase 1 selama 3 menit lalu bangun sudah dapat dinyatakan tidur. Jelas fase 1 (fase transisi) paling sukar dibedakan dengan fase jaga (awake) maupun fase REM. Diambil kesimpulan adalah tidur bila gambaran EEG menunjukkan ada Delta wave, atau K komples atau S spindle. Sebab gambaran ini walaupun sebenarnya masuk fase 2, tetapi jelas pasien tidur, dan tak ada tanda-tanda itu pada pasien dalam keadaan awake, atau keadaan REM.

Voluntir merasa tidak tidur, tapi peneliti (disiang itu) melihat voluntir tidur. Ternyata ada beberapa obat yang untuk 1-7 hari pertama kelopak matanya mengalami ptosis, artinya kelopak matanya menutup, sulit dibuka seperti orang tidur padahal dia tak tidur. Ada beberapa obat diantaranya Thioridazine, Clozapine yang mempunyai kecendrungan seperti ini.
(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: