Menuju PRU Leeds

Menuju PRU Leeds
Dr. Iskandar, kami mohon maaf yang sebesarnya, karena dalam declare anda, anda tak mencantumkan bahwa anda pemegang paspor diplomatic. Dengan paspor ini kami tak berhak memeriksa barang bawaan anda. Kami hanya menyangka anda . . . . .https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/12/19/autobiogrphy-dr-yul-iskandar-6/

Autobiography 6

Catatan
Autobiography dalam tulisan ini semua nama termasuk nama seluruh keluarga saya, karakter, tempat, institusi, situasi bukanlah berada di Republik Tidur, tetapi disuatu tempat di. . . . Republik Tidur.

Autobiography 6
-Dr. Iskandar, kami mohon maaf yang sebesarnya, karena dalam declare anda, anda tak mencantumkan bahwa anda pemegang paspor diplomatic. Dengan paspor ini kami tak berhak memeriksa barang bawaan anda. Kami hanya menyangka anda adalah Profesor biasa. Anda punya paspor Diplomatik, kami tak berhak memeriksa isinya, dan ini bisa menjadi skandal besar bagi Negara kami.
-Hanya karena 5 dos rokok kretek, masalah ini menjadi skandal Negara.
-Bukan begitu, peraturan Internasional bagi pemegang paspor diplomatic tidak dibenarkan untuk dilakukan pemeriksaan pada barang bawaannya, kecuali nyata-nyata telah mendapat laporan intel membawa bahan-bahan peledak. Kami telah salah memeriksa kopor anda, apakah anda akan menuntut balik tindakan kami, kami benar- benar minta maaf atas kesalahan ini. Barulah saya tahu, bahwa kini dia yang tadinya arogan, ternyata mengaku salah, dan siap untuk diadili atas kelalaiannya.

Saya bilang, masalah kita tutup disini saja, tolong kirimkan kopor saya ke Leeds, dengan alamat ini. Saya tak merasa salah, dan saya juga tak akan menyalahkan anda.
Dia berterima kasih dan mengatakan kepada saya akan diantarakan dengan kendaraan ke Gate, dimana plane menuju Leeds. Kopor dia janjikan mungkin akan sampai besok pagi. Dia harus membuat laporan atas kesalahan dia memeriksa kopor dengan paspor diplomatic. Sebenarnya saya tak merasa bahwa seorang diplomat, hanya karena kebetulan saja saya saya punya kartu anggauta CKN.

Suatu waktu saya dipanggil ketua CKN. Dia berbincang dengan saya setelah dia minta disuntik Vitamin C dan Vitamin B12. Kebiasaan dia selalu minta disuntik Vit C dan Vitamin B12, setiap minggu. Setelah itu biasanya dia untuk berbincang dengan kami (saya dan kapten Surip). Dia berkata pada saat ini didunia terjadi perang dingin antara dunia barat (kapitalis) dan Negara Timur (komunis). Ketua CKN menanyakan kira-kira perang apa masa yang akan datang selain perang nuklir. Saya mengatakan bahwa sebenarnya dari duhulu sampai sekarang sama saja. Hanya mungkin sekarang agak canggih dibanding dengan dulu. Menurut ayah saya (yang tentunya diceritakan oleh ayah atau kakek saya) pada waktu perang Padri, pasukan Padri yang berasal dari tanah batak yang telah beragama Islam, menyerang tanah Karo, dan tanah Batak yang belum Islam. Pasukan Padri membawa 40 000 prajurit, batak yang telah Islam, menyerang untuk meng-Islamkan tanahBatak disebelah utara. Tentara Padri telah terlatih karena mereka panglima-panglima perang serta Tuangku-tuangku. Istilah Tuangku adalah mereka mengenal bahasa Arab, mereka telah berhaji, dan mereka ahli-ahli perang, biasanya mereka belajar perang dari negri Rum (maksudnya dari Turki) yang pada abad ke 18-19 menguasai Timur Tengah. Pasukan itu secara teknis jauh lebih kuat dari pasukan Batak (non-Islam) yang dibantu oleh orang Belanda.
Pada saat itu tentara Belanda, takut daerah Batak menjadi Islam, sehingga seluruh pantai Barat Sumatra, dari Bengkulu, Minangkabau, Batak, dan Aceh menjadi Islam. Tentara Belanda melakukan peperangan yang curang, yaitu melawan tentara selom (Islam) Padri dengan menyebarkan kuman pest dari tikus-tikus yang tertular penyakit pest., Tentara Padri bersama orang batak yang Islam berguguran, bukan karena perang, tetapi karena penyakit pest itu. Dari 40 000 orang pasukan maka yang tersisa tinggal 4000 pasukan saja. Tuangku Imam Bonjol, menyuruh terus berperang, akan tetapi tentara batak (Islam), akhirnya mengundurkan diri ke daerah Pariaman. Oleh ketua adat disana mereka mendapat suku yang dinamakan Mandailing. Jadi suku Mandailing nenek moyangnya adalah orang batak, yang menjadi orang Minang.
Jadi kata saya perang yang akan datang adalah perang biologis. Tentu tak bisa dengan virus cacar atau pest karena kedua kuman itu sudah ada antinya, tapi tentunya akan lebih canggih. Perang kuman, bakteri, jamur atau virus (yang punya DNA) dan virus RNA, malahan mungkin hanya polypeptide yang sanggup membelah diri. Seperti diketahui waktu itu saya juga pengajar Biokimia, sehingga masalah bio-molekuler saya mengerti benar.
Saya kemudian diminta untuk membuat analisa perang 20-30 tahun yang akan datang, dan saya buat berdasarkan pengetahuan biomulekuler saya.
Analisis saya tak saya ketahui kemana jadinya karena 5 tahun kemudian kepala CKN telah diganti dan saya pada saat itu sedang berada di Australia. Kepala CKN yang baru tidak begitu dekat dengan saya, ajudan juga sudah diganti, akan tetapi sekertaris CKN masih berhubungan dengan saya. Saya sudah bukan dokter part timer, lagi, tetapi keanggotaan CKN tidak hilang.

Kembali kita ke Inggris, pesawat mendarat di kota B. Dari kota B ke Leeds jauhnya 150 km, saya naik bus, yang untungnya kopor saya akan diantarkan oleh Custom Inggris, ketempat penginapan. Waktu itu cuaca sangat dingin, dan dikota Leeds, musim yang disebut musim panas hanya 3 bulan, yaitu Juni, Juli dan Agustus. Diluar itu sebenarnya cuaca sejuk, suhu 15- 20 derajat celcius, tapi saya merasa dingin luar biasa. Saya datang pukul 15, di penginapan saya, dan supaya sehat saya beli susu fresh. Tapi ternyata karena minum susu itu saya diare 2 hari.

Paginya saya pergi kekantor PRU ( Psycho Research Unit), ternyata kantor itu sedang dibongkar. Saya bingung, kemana pindahnya PRU karena hampir setengah kota Leeds adalah universitas Leeds. Prof.Hamilton yang terkenal dengan Hamilton Rating scale adalah Profesor Psikiatri dari Fakultas Kedokteran University of Leeds . Saya harus bekerja di PRU fakultas psychology, jadi tidak bertemu dengan Prof. Hamilton. Saya mencoba menelusuri jalan diluar pagar University, dan kebetulan saya bertemu dengan seseorang yang berkulit sawo matang. Saya Tanya dia apakah orang Republik Tidur, dia jawab dia orang Malaysia, dan orang Republik Tidur hanya ada 3 orang di Leeds, dan yang keempat tentunya adalah saya.
Orang Republik Tidur saat itu yang berada di Leeds, satu orang Dokter yang sedang mengajukan disertasi untuk S3, satu orang akan menjadi master dalam bidang keramik, dan satu orang akan menjadi master dalam bidang fusi nuclear dingin.
Orang Malaysia di Leeds, mungkin mencapai 1000 orang, mereka tinggal di-apartemen – apartemen yang diisi oleh mahasiswa-mahasiswa Malaysia. Mereka dikirim dan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Malaysia. Satu orang dokter bedah diikuti oleh 5 asisten dokter, 5 ahli anaestesi ,10 perawat. Jadi satu rombongan terdiri dari minimal 20 orang, sehingga mereka terbiasa untuk bekerja sama dalam satu team. Dengan adanya team yang dikirim maka jarang dari mereka yang sudah selesai dan lulus tidak pulang ke negaranya. Mereka nantinya akan jadi kader-kader pendidik di Malaysia. Malaysia sunguh-sungguh memberikan pendidikan pada pemudanya. Ini sangat berbeda dengan orang Republik Tidur, yang pergi ke Luar Negeri pada saat itu, pada umumnya atas inisiatif sendiri, mungkin atasannya hanya memberikan atau malahan tidak memberikan persetujuan. Kalaupun akan pulang, dia menjadi single fighter, atau sudah tak punya kursi lagi. Misalnya Master dalam bidang keramik, ternyata keramik yang dikembangkan mengantikan timbel (Pb) sebagai pelapis reactor nuclear, sehingga reactor yang dibuat tidak lagi seberat buatan dahulu, tapi di Republik Tidur tak ada reactor nuclear.
Begitu juga ada keramik yang dapat berfungsi sebagai penyaring, baik bakteri atau virus, tentu teknik tekanan, suhu dan sebagainya tidaklah sederhana, air kotor ciliwung bisa menjadi air bersih dengan saringan keramik itu. Hal-hal yang demikian sayangnya yang dikirim satu orang saja bukan satu team, sehingga ketika saya pulang, kecuali dokter yang sudah jadi Doktor , yang lain mengerjakan hal yang jauh dari pada yang dipelajarinya.

Saya bicara dengan Azhari, orang Malaysia itu, apakah dia tahu dimana kantor PRU yang baru. Mari saya antarkan kata orang Malaysia itu, karena kantor PRU yang baru dengan sleep centernya, dan berbagai tempat penelitian, berdekatan dengan Fakultasnya yaitu Fakultas teknik .

Di kantor PRU yang baru saja, selesai terbangun dengan dana 1 juta pound sterling terdapat satu gedung dengan satu pusat didalamnya terdapat 2 alat EEG buatan Jepang (Nihon-Koden), dengan 32 Chanel. Disekeliling pusat itu ada ada 10 kamar untuk pemeriksaan tidur, secara serentak. Ada kamar istirahat dokter, dan kamar perawat, dan ada satu kamar untuk mengawasi pasien dengan CCTV. Semua peralatan adalah baru, dan gedung baru yang baru ditempati 2 minggu, sehingga dia lupa mengirimkan alamat PRU yang baru kepada saya, sehingga saya tersesat kegedung lama. Tetapi untungnya saya jadi berkenalan dengan orang Malaysia Azhari, yang menceritakan bahwa disana ada 1000 orang mahasiswa Malaysia, dan 70% adalah orang melayu, 10% orang Cina, 10% India dan sisanya dari etnis minoritas lainnya seperti dayak, Eurasian dsb . Semua yang dikirim adalah atas beban pemerintah Malaysia dan atas inisiatif perdana Menteri.
Bila 30 tahun kemudian Malaysia lebih maju dari Republik Tidur, pastilah akan terjadi. Tiap tahun ribuan anak muda belajar di Negara maju, selain itu bila di Republik Tidur, saya mengadakan congress Psikiatri Biologik, saya akan dipusingkan dengan biaya congress, maka di Malaysia bila congress disetujui oleh organisasinya (asosiasinya) maka akan dibiayai Negara, dan tak ada sponsor dari pabrik obat.
Saya diantarkan ke kantor PRU oleh Azhari, dia mengatakan bahwa dia akan bertemu lagi dengan saya nanti sore, serta menanyakan alamat tempat saya menginap suatu penginapan B3 (Bed, Bath and Breakfast).

Di PRU saya kemudian mencari Prof. D. Marchus sebagai orang yang tertinggi di PRU. Kemudian mereka memanggil Dr.Mc Clevend dan Dr.Susan sebagai asisten Prof. Marchus. Prof. Marchus telah 3 kali ke Republik Tidur, saya selalu mengantar dia baik di kota saya maupun kota di lain pulau.

Tak ada yang tahu bahwa dia sebenarnya alcoholic, tapi juga workalkoholic. Dia memperkenalkan saya sebagai Prof. Psikiatri Republik Tidur, dimana saya dikenal oleh para Psikiater dari seluruh Republik Tidur. Dia katakan bahwa Republik Tidur besarnya lebih dari Eropah, kota diujung Barat sampai ujung Timur, sama jauhnya dari London sampai ke Moskow.

Saya tersenyum saja dengan pujian dia. Dia juga mengatakan bahwa meskipun dilihat dari segi alat-alat di Inggris, alat-alat sleep center di Republik Tidur ( Pusat Psikiatri Biologik, ), sudah out of date tapi meskipun demikian sudah lebih dahulu ada, dibandingkan dengan mereka. Mereka baru membuat Sleep Center (tapi serius) sedangkan di Republik Tidur telah beberapa tahun lebih dahulu hanya tidak serius.

Prof.Marchus juga mengemukakan bahwa Dr. Iskandar, telah melakukan penelitian tidur dan obat-obat psikofarmaka yang luar biasa dengan animal (tikus) di Sydney Australia, dan ini dikatakan sendiri oleh Prof. W dari Department Physiology dan Pharmacology University of New South Wales, Sydney Australia kepada Prof.Marchus.

Kemudian dia bicara panjang lebar tentang projek yang akan dikerjakan oleh saya, yaitu penelitian Multiple Sleep Latency Test (MSLT) pada sukarelawan normal, pada pemakai obat hipnotik, dan pada penderita Sleep Apneu. Selain itu akan diadakan semacam protocol baru untuk menentukan sleep scoring, modifikasi Leeds University, dari Standard Internasional R-K . Disamping itu akan diadakan Realibility dan Validity pemeriksaan secara manual dan secara otomatis, komputerized dangan alat Oxford sleep analizer.

Sebelum saya bekerja dia akan meminta pada Rector dari University surat keterangan untuk saya sebagai Visiting Professor, Faculty of Psychology, University of Leeds. Selain itu saya akan diberikan juga temporary Licenced as Doctor untuk bekerja di klinik, karena akan memberikan obat-obat bagi voluntir maupun pasien yang dilakukan penyelidikan. Prof. Marchus adalah Psycholog walaupun dia ahli Psychopharmacology, jadi dia tak punya licence untuk memberikan obat. (di beberapa Negara bagian Amerika Clinical Psychologist master dan PhD Clinical psychologist bisa memberikan obat psikotropik.)

Karena surat itu baru dua hari lagi selesai, maka saya libur dua hari, karena tak mungkin bekerja tanpa ada serifikat atau licency. Di Inggris pada saat itu sedang gencar-gencar dalam pemeriksaan surat-surat acreditasi, karena banyaknya penelitian tanpa izin, khususnya penelitian pada manusia dan hewan. Penelitian Hewan yang saya kerjakan dulu di Australia, tidak akan diizinkan di Inggris pada saat itu, karena memerlukan ratusan tikus yang setelah penelitian terus dibunuh.

(bersambung)
.


%d blogger menyukai ini: