Existensi individual dan Terapi anxietas

. . . . . patologik atau yang diperoleh daripada kasuistik patologik, tetapi juga harus diperoleh dari fakta-fakta yang didapati daripada penyelidikan experimental – psikologik dan dari paham-faham filsafat yang relevant dengan existensi individual manusia
This (synopsis) guideline represents the first revision of the guidelines of the a consensus panel of international experts for anxiety disorders,. Since the first version in 2002,. . . . . selanjutnya di

https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/09/02/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-58/

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (58)
Lanjutan Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (57)

Oleh karena itu, maka suatu latihan berpikir dan bertindak dalam sistem pikir psikodinamika merupakan suatu keharusan yang mutlak bagi disiplin dan tata tertib komunikasi inter profesional yang kadang-kadanng menjadi sangat sulit, justru karena landasan berpikir yang pertama itu telah diabaikan secara tak disipliner.
Dalam hubungan naskah ini, pendekatan elektik-holistik menghendaki agar psikiater dapat melihat dan memahami komplexitas daripada alam kehidupan manusia, serta memahaminya pula sebagai suatu keseluruhan holistic yang harmonic. Ilmu psikiatri harus hanya dipahami tidak hanya sebagai suatu ilmu yang mendasarkan diri atas fakta-fakta atau hal-hal yang patologik atau yang diperoleh daripada kasuistik patologik, tetapi juga harus diperoleh dari fakta-fakta yang didapati daripada penyelidikan experimental – psikologik dan dari paham-faham filsafat yang relevant dengan existensi individual manusia. Oleh karena itu maka apa yang disebut sebagai kebutuhan manusia (human needs) patut dipahami sebagai hal-hal yang berreflexi dalam ‘alam-alam kehidupan’ yang disarankan dalam disertasi ini.

Baik sebagai organisma organobiologik, sebagai manusia yang berkepribadian psikologik, dalam interaksi interpersonal dan sebagai mahluk yang berexistensi individual semuanya itu dipahami sebagai adanya atau memiliki ‘ kebutuhan’ motivasi dan komplexitas yang unik (tersendiri)
R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Synopsis (abbreviated) version by Dr Yul Iskandar.
(WFSBP) Guidelines Treatment of Anxiety (1)
Borwin Bandelow , Joseph Zohar2, Eric Hollander3, Siegfried Kasper4, Hans-Jürgen Möller5, WFSBP Task Force on Treatment Guidelines for Anxiety, Obsessive-Compulsive and Post-Traumatic Stress Disorders6
Introduction
Anxiety disorders belong to the most prevalent psychiatric disorders. However, many patients who might benefit from treatment are not diagnosed or treated. This may partly be due to lack of awareness of the anxiety disorders by primary care practitioners. Also, the stigma still associated with psychiatric disorders and lack of confidence in psychiatric treatments.
This (synopsis made by Yul Iskandar, MD.,PHD) guideline represents the first revision of the guidelines of the World Federation of Societies of Biological Psychiatry (WFSBP). a consensus panel of international experts for anxiety disorders,. Since the first version in 2002, many clinical studies have been conducted and a number of new treatments have emerged. Therefore, the Task Force deemed it necessary to update the guidelines.

– A placebo arm should be included in order to ensure “assay sensitivity”
– Both active drugs should be superior to placebo by an accepted clinically meaningful difference on a specific rating scale (e.g. ≥ 2 points on the HAMA)
– Both active drugs should be superior to placebo in terms of response rate (≥ 10% better than placebo), while response is usually defined as a ≥ 50% improvement on this scale
– The non-inferiority margin, i.e. the difference between the active drugs on the main efficacy measure (e.g. the HAMA) should be 50% improvement in the total score of a commonly used rating scale (e.g. the HAMA), however, this definition is somehow arbitrary and not fully supported by clinical data.

Before considering a patient to be treatment-refractory, the diagnosis should be reviewed, the patient should be assessed for compliance with therapy, the dosage should be confirmed as within the therapeutic range and the trial period should be adequate. Concurrent prescription drugs (or traditional medicines) may interfere with efficacy, e.g., metabolic enhancers or inhibitors. Poor therapeutic alliance and a number of psychosocial stress factors may also impair response, along with concomitant personality disorders, which may be associated with poor outcome. Depression and substance abuse have to be considered as complicating factors. Past treatment history of the patient should be used as guide to practice.

When initial treatment fails, the physician has to consider to change the dose or to switch to another medication. If the patient does not respond to treatment in an adequate dose after 4–6 weeks (8–12 weeks in obsessive-compulsive or post-traumatic stress disorder), medication should be changed. If partial response is seen after this period, there is still a chance that the patient will respond within the next 4–6 weeks of therapy. For elderly patients it may take longer to see a response.
In some patients unresponsive to medications, the addition of cognitive behavioral therapy (CBT) was successful.
Synopsis (abbreviated) version by Dr Yul Iskandar.
Secara umum dapat disebutkan, bahwa tiap-tiap ikhtiar analisa berusaha memberikan pengobatan dan bimbingan pada gagasan-gagasan mental dan emosional.

Dalam hubungan antara psikiater dan penderita diciptakan suasana yang sedemikian rupa, sehingga menungkinkan secara optimal timbulnya situasi perkembangan jiwa yang baru, atau yang diperbaharui, dengan unsur-unsur yang karakteristik bagi suatu keadaan penyerahan diri (transference). Malahan sampai taraf tertentu dapat dikatakan, bahwa psikiater memprovokasikan suatu sikap neurotik berdasarkan fenomena penyerahan diri itu yang digunakannya secara maksimal bagi perkembangan baru atau yang diperbaharui, yang dimaksud.

Yang dimaksud dengan transference atau penyerahan diri ialah suatu keadaan pengalihan kepihak psikiater daripada segala hidup emosi dan keadaan –afektif, yang ada pada diri penderita sehingga tercipta suatu suasana yang kadang-kadang amat berwarnakan emosi-emosi yang bergejolak. Dalam keadaan demikian maka situasi therapeutic penuh dengan fenomena-fenomena projeksi perasaan, fikiran dan keinginan penderita dan kadang-kadang dalam hubungan yang intim. Psikiater seolah-olah berubah kedudukannya dan menjadi salah satu figure dimasa silam, biasanya figure kewibawaan seperti ayah ibu atau orang lain yang menjadi sasaran daripada fikiran dan perasaan penderita itu. Dalam keadaan yang demikian itu pelbagai situasi yang sangat tak- realistic, dapat terjadi justru karena corak-corak daripada perasaan dan fikiran itu untuk sebagian besar berasal daripada alam tak sadar. Keadaan penyerahan diri ini dapat bersifat positif yaitu apabila penderita menilai secara amat berlebihan kedudukan dan sifat psikiater. Ia sangat memuja-muja psikiater dan malahan dapat dikatakan ‘jatuh cinta’ secara overt ataupun tertutup. Atau sebaliknya penderita dapat memperkembangkan suatu penyerahan diriyang negative sehingga memperlihatkan sifat-sifat negative, benci dan permusuhan (hostile) terhadap psikiater itu. Baik dalam penyerahan diri yang positif ataupun yang negative kedua-duanya adalah keadaan yang tak realistic.
Keadaan mental-emosional ini dapat berobah pula sesuai dengan sifat-sifat negativitas dan positivitas daripada situasi penyerahan diri itu. Oleh karena itu ada istilah penyembuhan karena penyerahan diri atau istilahnya transference cures yang sifatnya amat sementara saja. Dalam hubungan fenomena ini perlu ada pengertian yang mendalam dari fihak psikiater agar supaya ia tetap dapat menguasai keadaan yang kadang-kadang sangat provokatif. Oleh karena itu psikiater yang melakukan psikoterapi patut mengetahui adanya fenomena ini.
R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: