The History of Psychopharmacology

The History of Psychopharmacology
Hal itu merupakan suatu kemanfaatan yang tidak kecil artinya, walaupun sifatnya mungkin bukan secara langsung terletak dibidang organobiologi. Dengan demikian,
But Kusumanto Setyonegoro rather selective, not all psychotropic he recommended. On that time clinical trial not yet popular, and also we lack of tools, manpower, knowledge in the field of Biological Psychiatry. Psychiatrist on that time are psychoanalytic oriented, although . . . .
.Selanjutnya dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/08/02/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-57/

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (57)
Lanjutan
Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (56)

Ketenangan tingkah laku penderita dengan segera memungkinkan adanya interaksi verbal dan petunjuk-petunjuk direktif, yang bermanfaat bagi situasi terapeutik. Hal itu merupakan suatu kemanfaatan yang tidak kecil artinya, walaupun sifatnya mungkin bukan secara langsung terletak dibidang organobiologi. Dengan demikian, maka terbukti sekali lagi, bahwa variabel dalam ilmu kedokteran jiwa tidak seluruhnya terletak dibidang fisik atau pun organobiologi, tetapi jauh meluas kebidang-bidang sosial dan hubungan kemasyarakatan.
Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966

The History of Psychopharmacology. 1953-2006
As other country, the beginning era of psychopharmacology in Indonesia was in 1953, that year Kusumanto Setyonegoro (now professor emeritus from Faculty of Medicine, University of Indonesia) graduate to became doctor in medicines, and appointed as chief resident of Psychiatry from Department of neuropsychiatric. We can divide era psychopharmacology in Indonesia in two phase. Phase I, 1953 – 1973 dan phase II, 1973 2003.
During Phase I, in the leadership of Kusumanto Setyonegoro , many psychotropic medication came to Indonesia. But Kusumanto Setyonegoro rather selective, not all psychotropic he recommended. On that time clinical trial not yet popular, and also we lack of tools, manpower, knowledge in the field of Biological Psychiatry. Psychiatrist on that time are psychoanalytic oriented, although senior psychiatrist on that time did not resistance to biological psychiatry. But because basic and fundamental theory of biochemistry and pharmacology were minimal on that time, the therapy and psychopharmacology still in phase infancy. Some psychiatrist using ‘lyctic cocktail’, that consist phenobarbital injection, chlorpromazine injection and phetidine injection for acute and disturbed patient.
In the era phase I, Kusumanto Setyonegoro and his collaborator introduced psychiatric nosologic in Indonesia, protocol for psychiatric diagnostic, dan protocol for therapy mostly for psychotic and schizophrenia.
Although by ‘2003’ standard they work was ‘ primitive’ clinical study, but in the year end of 1950 and the beginning 1960, the clinical study for psychotropic drugs was revolutionary on that time. Brief Rating Scale, Hamilton Rating Scale not yet invented on that time. They use protocol for psychiatric diagnosis. They study anti psychotic thioridazine, fluphenazine and perphenazine and haloperidol for schizophrenia, imipramine and amitryptilin for depression, and chlordiapoxide (Librium) and diazepam (Valium) for anxiety and Nitrazepam (Mogadon) for hypnotic all are case study only, the qualitative and semi-quantitative base on expert judgment only.

Yul Iskandar., MD.,PhD. 2006.

Hal itu juga mengandung implikasi lain yang pada waktu ini belum seluruhnya diinsyafi oleh kalangan kedokteran di Indonesia dan kalangan ilmu psikiatri khususnya. Adapun yang dimaksud ialah fakta bahwa terciptanya suasana hubungan antar manusia yang lebih baik, berkat penggunaan obat psikofarmaka, harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk menjalankan psikoterapi kedokteran (medical psychotherapy) yang seluas-luasnya, baik secara individual maupun secara kelompok. Dengan demikian, maka secara inherent introduksi obat-obat psikofarmaka ini juga mengharuskan ilmu psikiatri di Indonesia untuk lebih memperhatikan hakekat dan amal praktek psikoterapi kedokteran, khususnya dikalangan para psikiater sendiri dan demikian pula dalam rangka didikan ahli psikiatri.
Mengabaikan segi ini menciptakan kemungkinan yang potensial untuk timbulnya pelbagai usaha “pseudo psikoterapi” yang berpretensi jauh kemungkinan-kemungkinan pelbagai realistik. Bahwa dengan adanya usaha-usaha liar dan dukunisme yang berjenis tak bertanggung jawab itu, hanya masyarakat yang akan dirugikan cukup jelas bagi kita semua.
Dipihak lain, perlu kita tetap waspada untuk tidak terjerumus dalam suatu sikap “enthousiasme berlebih”, yang kemudian seringkali hanya merupakan suatu fase inisial dari pada tiap-tiap kali orang banyak menyambut suatu hal atau suatu obat baru. Dibidang psikofarmakologi hingga sekarang belum nampak adanya sebuah obat yang dapat menyembuhkan secara radikal beberapa jenis gangguan mental daari golongan mayor diantaranya jenis-jenis schizophrenia tertentu.
Yang dapat dikemukakan secara pasti ialah bahwa dengan adanya obat-obat psikofarmaka itu rumah-rumah sakit jiwa diseluruh dunia, juga di Indonesia yang sebagaimana kita ketahui harus berjuang melawan suatu kekurangan tenaga-tenaga ahli yang terlatih, sangatlah dibantu dan diringankan tugas-tugasnya yang berat.
Dengan adanya obat-obat psikofarmaka itu telah diketemukan suatu cara terapi yang sangat besar manfaatnya, tetapi yang masih perlu diperhalus dan dimodifikasikan untuk hasil lebih besar lagi dalam efisiensi terapeutiknya.
Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966

The History of Psychopharmacology (2). 1953-2006
Mono Amino Oxidase Inhibitor (MAOI), never been studied so never been introduced in Indonesia, so MAOI never exist in Indonesia. But other classic psychopharmaca (Chlorpromazine, thioridazine, haloperidol, diazepam, and amitryptilin ) still exist after nearly 50 years of existence.
In Era phase II (1973-2003) , Yul Iskandar, joint the Department of Psychiatry university of Indonesia in 1969. He was well trained in Biochemistry and pharmacology as well as psychiatry, working as lecturing in Biochemistry (beside still lecturing Psychiatry) for 16 years, and in 1977 –78, working as post graduate investigator in department physiology and pharmacology, Medical Faculty, University of New South Wales, Sydney Australia. Yul Iskandar and Kusumanto Setyonegoro and other translate all important rating scale to Bahasa Indonesia. (Brief Psychiatric Rating Scale, Hamiltol Rating Scale, Back Inventory MMPI and others.) The new Era in Psychopharmacology was rising. The clinical study of many novel psychopharmacology had been done by International standard. Yul Iskandar had been sent to do International inter-rater Rating Scale standardization in Paris 1983, where he met Thomas Ban , the well-known biological psychiatrist/ psychopharmacologist.
During that time many clinical study, including sleep study, clinical psychopharma-cology had been done by international strandard. We do clinical trial of randomized double blind maprotile-amitriptile, double blind estazolam vs placebo, double blind flurazepam vs placebo.
We also done multi center (to all Indonesian institute, and department of psychiatry) the clobazam and alprazolam for anxiety, trazodone and sertraline for antidepressant.
During 1997 , Indonesia sink to crisis in multi dimension (political –economical and also educational). During that time the study of psychotropic drugs has decline. The reason is too many interfere from government , low budget, lack of manpower and motivation and others.
Yul Iskandar., MD.,PhD.2006

Tanpa memberanikan diri untuk melangkah kebidang-bidang spekulatif yang tak beralasan, menurut kami, salah satu bidang yang subur untuk dijelajah lebih lanjut ialah bidang terapi yang berkombinasi secara integratif antara farmakoterapi dan psikoterapi khususnya terhadap masalah schizophrenia, yang secara fundamental dirasakan dapat menghasilkan fasilitas terapeutik daan rehabilitasi mental yang lebih besar dari pada yang dikenal orang hingga sekarang.

Dengan menyoroti faset-faset neurofisiologi, biokimia, elektro ensefalografi dan psikofarmakologi dalam naskah ini kami insyafi, bahwa yang disingggung hanya beberapa segi penting saja diantara sekian banyaknya segi yang mungkin sama pentingnya di dalam dunia atau alam kehidupan organobiologi.

Antara lain dapat dikatakan bentuk badan, jenis DNA pada manusia, metabolism karbohidrat, lemak dan protein, peranan asam amino dan polypeptide dalam pengantaran syaraf, fungsi hepar, pengaruh infeksi, intoxikasi dan immunologi, peranan genetika dalam hal genom, mutasi dan DNA, penyakit heriditer dan lain sebagainya yang semuanya dalam ruang lingkup organobiologik.

Yang penting dipastikan adalah fakta bahwa dengan adanya literature yang berlimpah-limpah mengenai berbagai spekulasi dari etiologi skizophrenia dibidang organobiologik, sampai kini belum ada kepastian mengenai pendirian terakhir. Walaupun bidang-bidang experimentasi dan research telah amat meluas dan amat diidentifikasikan terutama dalam waktu tahun-tahun terakhir ini. (sampai tahaun 2006 masalah ini masih sama menggantungnya seperti tahun 1966, YI)

Oleh karena itu kami hanya mengadakan suatu pilihan selektif mengenai bidang-bidang penyelidikan, yang dapat dianggap menonjol dan relatif lebih penting. Mungkin dalam meneliti bidang-bidang lain dan yang berhubungan dengan dunia atau alam kehidupan lainnya, secara lambat laun dapat diperoleh suatu gambaran yang lebih menyeluruh tentang model struktural sesuai dengan pendekatan eklektik holistik yang dianjurkan.

Dunia atau alam kehidupan psikodinamika (Mitwelt)
Dunia ini sebagaimana dikemukakan sebelumnya juga disebutkan sebagai “dunia bersama” dan untuk sebagian besar dikuasai oleh hubungan interaktif dari pada kekuatan-kekuatan psikodinamika, sehingga nama lain pun cukup pada tempatnya, yaitu “alam kehidupan psikodinamika”.

Dalam metodologi berpikir organobiologi (Umwelt) orang jelas menyatakan, bahwa status organobiologi itu harus dianggap primer bagi keadaan mental yang dianggap sekunder terhadapnya. Dalam metodologi berpikir hubungan “dunia bersama”, maka yang dianggap terlebih penting ialah interaksi psikodinamika atau kondisi pengaruh mempengaruhi, secara antar manusia dari seorang manusia terhadap manusia lainnya atau pun dari masing-masing kelompok manusia terhadap manusia yang seorang tadi.

Yang disebut psikodinamika disini ialah pengetahuan yang bermaksud meninjau jiwa atau psyche sebagai suatu keseluruhan yang digerakkan oleh sejumlah energy dan sejumlah kekuatan-kekuatan (dynamic forces). Oleh karena itu tiap-tiap system psikologikyang bermaksud menjelaskan mengenai hal tingkah laku manusia berdasarkan unsure-unsur motive dan unsure unsure dorongan (drives) pada tempatnya untuk disebutkan suatu system psikologik-psikodinamik. Salah suatu system psikologik yang terua berorientasi psikodinamik dengan teori psikoanalisa adalah S.Freud.
Lebih lanjut istilah psikodinamika mengandung arti bahwa setiap manusia selalu maju kearah perubahan, dan perubahan itu selalu terjadi secara kontinyu. Hidup manusia adalah hasil perubahan yang kontinyu itu. Perubahan tentu hanya akan terjadi bila ada dorongan untuk berubah yang dinamakan dynamic forces. Jadi dinamika adalah dapat diartikan sebagai kontraposisional dari keadaan static(a) atau diam tak bergerak.

Dalam hubungan ini perlu ditegaskan lagi, bahwa ilmu kedokteran jiwa atau ilmu psikiatri, sebagai salah satu cabang ilmu kedokteran umum, senantiasa memulai tugas-tugas ilmiahnya dengan melakukan deskripsi situasional yang dihadapinya.

Baru pada taraf lebih lanjut, maka psikiater mengemukakan dugaan-dugaan atau spekulasi-spekulasi mengenai kekuatan-kekuatan yang menjadi dorongan-dorongan sehingga manusia itu sampai bereaksi secara khusus seperti ia memperlihatkan kepada dunia luar, baik secara fungsional maupun secara struktural.

Dengan demikian maka akhirnya dapat diharapkan, bahwa psikiater dapat menegakkan suatu pengetahuan yang memberikan lukisan secara psikodinamik menenai konstelasi khusus dari pada sistem reaksi atau pola reaksi, yang kemudian dapat disebutkan sebagai kepribadian manusia itu.
Yang disebut kepribadian manusia ialah segala corak-kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya dan yang digunakannya untuk bereaksi serta menyesuaikan dirinya terhadap segala rangsang atau impuls yang berasal dari diri pribadi, sehingga corak-corak dan cara-cara kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu.
Dalam bidang schizophrenia, pendekatan yang berorientasi psikologik-psikodinamika amat luas dan mendalam penyelidikan dibidang itu. Dalam seorang pederita schizophrenia terdapat defect yang dapat di-interpretasi melalui pelbagai fungsi intelektual, konseptual, perceptual dan visual serta motorik. Akan tetapi pendekatan intelektual kadang-kadang sukar menegaskan adanya kelainanatau gangguan inteligentif. Setidaknya tidak ada pola konsisten kerusakan dibidang itu.
Dengan demikian adalah sulit untuk menentukan kepribadian schizophrenia yang standard. Akan tetapi bila dilihat secara psikodinamika, maka ditemukan sikap-sikap akseptif-rejectif, sikap protektif dan protektif berlebihan, sikap ambivalent , dan ketegangan –ketegangan keluarga yang sulit diverbalisasi.
Oleh karena itu, maka dalam mengamalkan alam kehidupan psikodinamika dalam diri manusia yang menjadi penelitiannya itu, psikiater bersikap deskriptif, inspektif dan intro spektif. Ia merupakan gambaran atau lukisan keadaan berdasarkan fakta-fakta observasional ; ia melakukan dugaan dan ramalan mengenai hal-hal dorongan yang lebih dalam dan akhirnya, ia mencoba mengerti manusia yang dihadapinya itu berdasarkan sistem pikir yang telah disusunnya mengenai problema yang dihadaapi manusia itu. Satu mata rantai dengan mata rantai lainnya dalam urutan aktivitas psikiater itu, tidak dapat dilepaskan logika dan rasionalitas yang harus akseptabel. Oleh karena itu, sebelum psikiater memulai ikhtiar penentuannya atau diagnostik serta terapi yang menjadi konsekwensinya kemudian, ia patut mengetahui mengenai alam kalbu atau dunia dalam psikologi dari pada individu manusia itu menurut paham-paham psikodinamika.
Oleh karena itu, maka suatu latihan berpikir dan bertindak dalam sistem pikir psikodinamika merupakan suatu keharusan yang mutlak bagi disiplin dan tata tertib komunikasi inter profesional yang kadang-kadanng menjadi sangat sulit, justru karena landasan berpikir yang pertama itu telah diabaikan secara tak disipliner.

Kusumanto Setyonegoro., Disertasi 1966.

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.
Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: