Psikofarmakologi dan atau Psikoterapi.

Psikofarmakologi dan atau Psikoterapi.

Ia berpendapat bahwa mungkin sekali pelepasan-pelepasan muatan listrik yang berjenis subkortikal (subcortical type discharges), yang sesuai dengan apa yang dijumpai pada individu-individu epilepsi tertentu (terutama pada golongan schizophrenia katatonik yang muda ), ada diketemukan.
Yul Iskandar dan Kusumanto Setyonegoro menulis buku Obat-obat yang Dipakai Dibidang Kesehatan Jiwa (ODDKJ) (Edisi ke 1:1976, edisi ke 2 tahun 1984). Sengaja memakai kata kata ODDKJ untuk menghindar konotasi negative obat psikotropik yang .Selanjutnya dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/07/10/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-56/

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (56)

Lanjutan: Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (55)

Walaupun demikian, dalam suatu rekapitulasi yang luas, telah dikemukakan oleh Hill sutau penegasan, bahwa walaupun memang ada terdapat EEG yang abnormal dalam sejumlah penderita yang berpenyakit schizophrenia, khususnya pasien-pasien yang berjenis katatonik, belum dapat diambil kesimpulan adanya suatu garis atau pola umum mengenai persoalan itu dalam hubungan schizophrenia seumumnya.

Ia berpendapat bahwa mungkin sekali pelepasan-pelepasan muatan listrik yang berjenis subkortikal (subcortical type discharges), yang sesuai dengan apa yang dijumpai pada individu-individu epilepsi tertentu (terutama pada golongan schizophrenia katatonik yang muda ), ada diketemukan.

Hal-hal yang demikian itu cenderung untuk ditafsirkan sebagai kenyataan tentang adanya kelainan organik patologi. Oleh karena itu, maka berdasarkan pengetahuan EEG pada dewasa ini (juga sampai tahun 2006,YI) belum masanya untuk mengaggap, bahwa seolah-olah cukup bukti-bukti tentang adanya suatu kelainan cerebral patologi yang progresif (dilihat dengan EEG atau Alat lainnya pada otak, YI) dan yang genetik herediter (baik dalam struktur DNA atau Genom, YI) dalam masalah schizophrenia ini.

Psikofarmakologi

Psikofarmakologi ialah bidang khusus farmakologi yang berhubungan dengan zat-zat dan obat-obat yang berpengaruh pada jiwa (psyche) dan tingkah laku manusia (human behavior). Secara khusus obat-obat yang tergolong obat-obat psikofarmakologik adalah major tranquillizer (neuroleptic atau anti psikotik, (YI), minor tranquillizer (anxyolitic atau antianxietas (YI), anti depressant dan zat-zat halusinogenik.

Disamping istilah tranquillizer, yang artinya sebagai obat penenang, (sampai saat ini sering semua obat yang diberikan oleh psikiater, oleh pasien dinamakan obat penenang.YI), sering pula obat itu dinamakan ataractic drugs (istilah ataractos dalam bahasa Yunani artinya tanpa kekacauan), WHO pada tahun 1958 menamakannya psychopharmaceuticals. Gerard (1957) menyarankan istilah drug for the soul. Istilah lain adalah neuroleptic yang artinya suatu demobilisasi dari semua jawaban atau reaksi defensive.
Kusumanto Setyonegoro ( Disertasi 1966)

Tahun 1958, oleh WHO dalam buletinnya bernama WHO Technical Report Series no 152 tahun 1958 menyebutkan Ataractic and Hallucinogenic drugs in Psychiatry. Gerads pada tahun 1957 mengemukakan istilah obat psikotropik yang dipakai dibidang psikiatri. (Psychotropic drugs use in Psychiatry). Yul Iskandar dan Kusumanto Setyonegoro (Edisi ke1: 1976, edisi ke 2 tahun 1984) menulis buku Obat-obat yang Dipakai Dibidang Kesehatan Jiwa (ODDKJ). Sengaja memakai kata kata ODDKJ untuk menghindar konotasi negative obat psikotropik yang sering disamakan dengan obat tidur, NAPZA, dan obat buruk lainnya. .Pembagian Yul Iskandar-Kusumanto (1976) obat-obat ODDKJ ialah obat golongan neuroleptik, obat anxyolitik, obat anti depresi, obat psychostimulant dan obat psychodysleptic. Dua obat golongan terakhir bukanlah obat yang rutine dipakai dibidang psikiatri, dia dipakai dalam kondisi khusus, dibidang psikiatri.

Walaupun gangguan psikiatri telah dikenal sejak 2500 tahun yang oleh bapak kedokteran Hippocrates, akan tetapi ODDKJ secara ilmiah barulah dimulai 50 tahun yang lalu, setelah penemuan Chlorpromazine, Diazepam, dan Lithium.

Setelah ditemukan obat-obat anti-anxiety, anti-depressant, anti psychotic kemudian ada kelas baru (tahun 2000-an) yaitu mood stabilizers, cognitive enhancers (obat yang memperbaiki / meningkatkan fungsi cognitive/ memori) yang semuanya didapatkan pada awalnya bukan atas dasar penelitian, akan tetapi atas observasi klinis para psikiater andal ( base on serendipitous observation).
Dr. Yul Iskandar.,2006

Pada umumnya dapat disimpulkan, bahwa bidang psikofarmakologi menciptakan suatu lapangan yang subur bagi eksperimentasi dan pengobatan farmakologi secara besar-besaran, teristimewa dibidang perawatan penderita-penderita psikotik dan neurotik. Khususnya untuk gangguan schizophrenia, maka pendekatan secara psikofarmakologi mengandung aspek-aspek yang membesarkan hati. Pada waktu sekarang ini sukar dibayangkan suatu fasilitas mental yang modern, tanpa adanya obat-obat penenang (tranquilizerz) dan obat-obat pelawan kesedihan (anti depressants) serta obat-obat pelawan anxietas (anti anxiety drugs). Oleh karena itu, salah satu jasa terbesar dari pada obat-obat psikofarmakologi itu ialah memperingan penderitaan seumumnya dari pada mereka yang terganggu jiwanya, serta memperdekat jarak antara pendirian-pendirian psikologi dan pendirian-pendirian yang ber-orientasi organik.
(Kusumanto Setyonegoro.Disertasi, 1966)

Banyak yang mencoba mengkontraskan gangguan psikiatri yang diberi obat psikotropik dan pengobatan psikologik. Gangguan psikiatri telah dikenal lama. Pada awalnya terapi dari gangguan psikiatri adalah psikoterapi dengan berbagai model, aliran dan teknik. Pada awal abad yang lalu (1900-an), teknik psikoanalitis mendapat tempat terhormat. Akan tetapi adanya obat psikotropik pada pertengahan abad itu membuat orang meninggalkan psikoterapi psikoanalis, dan beranggapan bahwa farmakoterapi adalah jawaban dari gangguan psikiatrik. Ternyata setelah setengah abad, farmakoterapi tidak bisa sendiri berperan dalam terapi gangguan mental dan pengobatan yang holistic (Farmacoterapi + Psikoterapi + terapi Psikososial) perlu diterapkan.

Psikoterapi saja, jelas mempunyai kekurangan yang telah dibuktikan hampir 1 abad dibidang psikiatri (1850-1950). Nampaknya setelah 50 tahun obat-obat psikofarmaka ditemukan, ternyata juga belum menjadi jawaban yang tepat. Kombinasi dari keduanya, tentunya dengan berbagai modifikasi pada psikoterapi dan farmakoterapi untuk sementara menjadi jawaban pada masa kini.

Berbagai bentuk psikoterapi : diantaranya:
Psychoanalytic psychotherapy. Terapi jenis ini pada umumnya mempunyai kesamaan konsep, walaupun ada juga perbedaan tetapi pada dasarnya adalah bahwa individu dipengaruhi oleh motivasi yang uncounsious, penyakit timbul bila ada konflik antara (insting) impuls dengan berbagai larangan (moral, keagamaan dsb). Gejala bisa menjadi hebat bila mekanisme pertahanan pasien dipakai dihancurkan, dan pada umumnya ada regresi pada phase awal kehidupan, karena adanya berbagai masalah hebat yang dirasakan pada pasien pada waktu kecil.

Dynamika perilaku ini terkubur dalam alam uncounsious, jadinya therapist bertugas menggali (menganalisis) proses-proses atau inner konflik yang berakar pada waktu kecil. Terapi tentunya mencoba untuk membuat struktur baru dari personality, Pada umumnya pada pasien diminta untuk commit pada pengobatan intensive dan jangka panjang.

Psychodynamic psychotherapy (Adlerian approach).
Menurut Adler, manusia adalah mahluk social yang tertinggi. Segala motivasi dan tingkah lakunya dipengaruhi oleh tekanan social. Pada dasarnya semua manusia adalah kreatif, aktif dan desisif. Manusia mulai menderita bila merasa rendah diri (inferiority complex), suatu tingkah laku dimana si pasien merasa kurang kemampuannya dibandingkan seharusnya. Style dari kehidupan ditentukan oleh pikiran dia terhadap pikiran orang lain, pikiran dia tentang dunia sekelilingnya, dan pikiran dia terhadap dirinya sendiri. Kita menghadapi dunia yang akan datang dengan gagah berani, dan menghadapi tantangan dengan segala konsekwensinya. Pada pendekatan ini tidak ada pasien yang sakit, yang ada adalah manusia yang tidak berani, tidak berfungsi optimal di lingkungan sosialnya, dan membuat asumsi yang keliru terhadap orang lain, dunianya dan dirinya. Pengobatannya tentunya mengkoreksi segala hal yang dianggap salah. Tapi ini bukan masalah mudah, teori Adler sunguh-sungguh pelik. Tidak dianjurkan memakai terapi ini tanpa pengatahuan tentang teori Adler cukup kuat.

Psychoterapy existensial.
Menurut paham ini maka manusia mendifinisikan dirinya berdasarkan pilihan bebasnya. Tentu ada factor luar, tetapi pada umumnya kita ditentukan oleh kita sendiri. Kita terlempar ke dunia yang tak ada artinya dengan cara memberikan arti pada kehidupan kita. Kita pada umumnya mempunyai kapasitas awareness, jadi kita secara dasarnya adalah orang-orang yang bebas. Karena kita orang bebas, maka kita harus bertanggung jawab pada perbuatan kita. Para psychotherapy existensialist pada umumnya memperlihatkan bahwa cukup banyak pilihan dari manusia yang disangkanya tak ada pilihan (no choice). Orang orang itu merasa dirinya terperangkap (trapped) dan tak berdaya (helpless). Terapist harus bisa membuka horizon pasien, mengerti tujuan hidupnya, dan menerima segala akibat perbuatannya. Tak ada apapun yang bisa memaksa dia berbuat sesuatu, hanya mungkin diprovokasi, dirayu, di ancam, akan tetapi sebagai manusia bebas dia bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Person –centered Therapy.
Asumsi dasar dari therapy ini adalah bahwa manusia mempuyai kemampuan dasar untuk mengerti masalahnya, dan setiap orang mempunyai resourses untuk mengatasi problemnya. Tak ada masalah yang demikian hebat sehingga manusia tak mampu menyelesaikannya, sebaliknya tidak ada masalah yang demikian kecilnya sehingga kita abaikan. Pasien memerlukan dari therapist adalah pengertian, genuiness, support., penerimaan, caring, dan tanggapan positif. Dari pandangan ini berarti terapis harus mampu merekonstruksi kehidupan dari sisi humannya. Pasien harus mampu berubah tanpa intervensi siapapun termasuk terapisnya. Inilah tujuan dari terapi jenis ini.

Cognitive Behaviour Therapie (CBT).
Dalam CBT maka formula utama adalah adanya masalah (event =A) akan menimbulkan reaksi perubahan tingkah laku atau symptom penyakit (B), akan tetapi kenyataannya adalah bahwa A dirubah dahulu oleh C (aktivitas mental) yang bisa berupa histori, persepsi dan khayalan dsb. Jadi sangat mudah dalam mengubah pasien dengan CBT, yang sulit pada kenyataannya adalah C yang mana yang dipakai oleh pasien bila ada A untuk menjadi B.

Kebanyakan pasien mencari mudahnya saja, mengambil secara random C, dan tugas dari dokter adalah memperbaiki atau mengoreksinya. Sering kita melihat pasien dengan sepenuh energinya merubah cognisinya dengan sesuatu yang salah dan energi habis untuk kesalahan itu. Disini peranan dokter untuk supaya pasien mengambil C yang benar, dan dia harus tahu bahwa C adalah sutu proses internal di otak atau mental. C tidak demikian mudah didapat tanpa kerja keras. Dalam hal ini dokter dapat menerangkan pada pasiennya dari A ke B maka ada proses C 1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9, jadi sebelum pasien mengambil keputusan B maka ada suatu proses berantai dari C1 sampai C9, seperti kartu domino. Setelah itu baru pasien mengambil emosi, atau tingkah laku tertentu. Pasien biasanya punya expektasi (B) terhadap stimulus A, malahan punya harapan yang berlebihan, tanpa memikirkan akan proses C. Pasien sering akan merasa bahwa dia akan sukses atau gagal. Pasien juga punya expektasi yang besar atau sangat kecil dari A. Yang sering terjadi adalah expektasi yang tak realistic dari pasien.

Psychoterapy Gestalt.
Asumsi dasar dari therapy ini adalah bahwa setiap individual dan tingkah lakunya harus dimengerti dalam context lingkungan saat itu. Asumsi ini penting karena kebanyakan therapist dan pasiennya sering berbeda generasi sehingga tidak ada pengertian dalam proses tingkah laku pasien. Jadi tugas therapist adalah mensuport explorasi dan perkembangan tingkah lakunya yang sesuai dengan lingkungannnya dan masanya. Dengan demikian para therapist harus aware akan internal dan external stimulus dari pasiennya dalam rangka kedewasaan pasien. Therapi bisa dihentikan bila pasien telah aware akan apa yang dia pikirkan, yang dia rasakan, dan yang dia kerjakan saat ini. Gestalt terapi disebut juga enhancing awareness here and now experiences.

Mana yang terbaik dari psychotherapy.
Tak ada satu jenis therapy yang dapat meng-claim bahwa jenis dan tekniknya yang terbaik. Yang terpenting therapist adalah mempelajari dasar therapy tersebut, basic assumsion, riwayat penggunaan, dan tekniknya.
Yul Iskandar, 2006

Banyaknya obat-obat penenang dan obat-obat pelawan kesedihan serta obat-obat pelawan anxietas mengharuskan suatu sikap yang kritik dan diskriminatif dari pihak psikiater. Pemberia obat secara tersendiri, maupun berkombinasi, mengandung kemanfaatan dan kerugian tertentu, yang telah diselidiki secara permulaan di Jakarta.

Secara menyeluruh dapat dikatakan bahwa, tidak hanya untuk penderita individual, tetapi juga untuk penderita-penderita dalam kelompok baik yang terganggu akut maupun yang kronik, pengobatan psikofarmaka amat bermanfaat.
(Kusumanto Setyonegoro.Disertasi, 1966)

Possible outcomes for combining therapies.
Psikoterapi yang dimaksud adalah membantu farmakoterapi, sehingga pasien mulai menyadari bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan obat. Obat bisa membantu, akan tetapi jangan lupa problema baik yang disadari atau tak disadari dapat menjadi beban dimana kerja obat jadi kurang efektif.

Controlled clinical research studies.
Pengobatan dengan obat pada setiap klinikal trial, tidak pernah memuaskan 100%. Ada saja pasien-pasien tertentu yang ‘resistent’ pada obat itu. Pada clinical trials tentunya pengobatan harus satu macam. Oleh sebab itu pada praktek klinik ternyata bahwa kombinasi sering menunjukkan hasil yang lebih dari klinikal trial. Karena pada praktek klinik, sedikit banyak kombinasi itu pasti terjadi.
Ada beberapa jenis pasien. Pasien tertentu seperti pasien dengan gangguan psikotik, maka farmakoterapi menjadi sangat penting, mungkin diperlukan sekitar 70%, terutama fase akut dan fase hospitalisasi jangka pendek. Pada hospitalisasi jangka panjang, maka peranan psikoterapi mulai diperlukan dalam pengobatan pasien baik, psikotik atau non-psikotik.
,Apakah psikoterapi penting dalam pengobatan dan kepatuhan memakai obat. Menurut para dokter tak begitu penting ( hanya 27% yang menyebut penting) sedangkan para pasien menganggap cukup penting (50% menyebut penting)
Mengapa kombinasi psikoterapi & farmakoterapi penting, pada umumnya pasien memberikan nilai lebih pada psikoterapi. Pasien datang pada psikiater pada umumnya untuk mendapat psikoterapi, ditambah lagi dengan psikoterapi pasien merasa bukan hanya dijejali obat saja, walaupun adanya stress tak dapat dimungkiri sebagai pencetus terjadinya krisis mental, dan mempresipitasi suatu episode baru penyakit, akan tetapi factor keluarga juga penting dalam pathogenesis penyakit, sehingga psikoterapi biasanya meningkatkan kepatuhan pada pengobatan.
Ada berbagai alasan mengapa psikoterapi penting, beberapa keadaan obat saja tidak efektif dalam menangulangi penyakit (berbagai masalah keluarga, keuangan, pendidikan) . Ada pula pasien yang tak mungkin diberikan obat karena kontraindikasi dengan penyakitnya. Misalnya berbagai penyakit kardiovaskular adalah kontra indikasi dengan obat anti depresan khususnya TCA. Beberapa pasien malas makan obat, dan tak akan memakannya (dengan berbagai alasan). Pada umumnya pasien mempunyai masalah interpersonal, masalah social atau masalah pribadi disamping diagnosis resmi dari axis I, DSM IV, baik sebagai sebab atau akibat dari penyakitnya.

Outcomes of Combined Treatment:
Combined Treatment Outcome : No Additive Therapeutic Effect.
Pada kombinasi ini misalnya farmakoterapi memberi efek 50%, sedangkan psikoterapi member efek 30%, maka kombinasi tidaklah penjumlahan, melainkan efek terapi yang tertinggi. Dalam hal ini hanya 50%

Combined Treatment Outcome Positive Effect — Additive.
Pada kombinasi ini misalnya farmakoterapi member efek 30%, sedangkan psikoterapi memberi efek 30%, maka kombinasi adalah penjumlahan, efek terapi yang tertinggi. Dalam hal ini hasilnya 60% ( 30% + 30%).

Combined Treatment Outcome Positive Effect — Synergistic
Pada kombinasi ini misalnya farmakoterapi memberi efek 30%, sedangkan psikoterapi memberi efek 30%, maka kombinasi adalah lebih dari penjumlahan, efek terapi,. Dalam hal ini hasilnya 70% ( >( 30% + 30%).

Combined Treatment Outcome Positive Effect — Facilitative
Pada kombinasi ini misalnya farmakoterapi memberi efek 30%, sedangkan psikoterapi memberi efek 30%, maka kombinasi adalah peningkatan lebih dari satu jenis terapi tetapi bukan penjumlahan, efek terapi,. Dalam hal ini hasilnya 50%..

Yul Iskandar., 2006
Kecepatan untuk mengizinkan penderita meninggalkan fase hospitalisasi dapat kemudian mempertahankan dalam rumah tangganya sendiri, lalu mempertahankan dalam suatu proses psikoterapi dan rehabilitatif yang bermanfaat, tidak dapat dianggap kecil artinya. Tentu, ada kemungkinan yang potensial terjadinya suatu keadaan kambuh (relapse) dari pada keadaan psikosis yang dahulu, tetapi dengan pertolongan pengobatan psikofarmaka hal itu dapat dikurangkan sampai taraf yang minimal. Dan, jika rehospitalisasi diperlukan, maka keadaaan demikian pun dapat dibatasi sampai suatu masa yang sesingkat-singkatnya.
Kusumanto Setyonegoro., Disertasi 1966

Tidaklah heran bahwa psychopharmacology terutama didominasi oleh para klinikus psikiatri, atau para psikiater yang bergerak dalam research, malahan di AS dan Inggris banyak psycholog yang menjadi ahli psycho-pharmacology (Prof. Hindmarch dan Prof. Oakley Ray adalah psikolog).
Efektivitas obat-obat psychopharmacology mengakibatkan para psikiater mempelajari dasar-dasar biologi dari berbagai gangguan mental, sehingga muncullah ilmu baru yaitu psikiatri biologic (The efficacy of these agent lead to biological basis of psychiatric disorders and born the new science which we called biological psychiatry), jadi ibu kandung psikiatri biologic adalah psikofarmakologi.
Dengan demikian ilmu ini menjadi complex, melibatkan berbagai disiplin ilmu diantaranya psikology, psychiatry, neurology, immunology, endocrinology, bio-medic dan pharmacology. ( Psychopharmacology is multi-disciplinary field, it involves the psychology, psychiatry, neurology, immunology, endocrinology, bio-medic and pharmacology).
Psychopharmacology pada dasarnya menerangkan bagaimana obat psikopharmaka bekerja, mengapa bekerja hanya ditempat itu, kapan mulai bekerjanya dan kapan berakhirnya kerja obat, dan pada siapa obat itu sebaiknya diberikan (Psychopharmacology explain how drug work, why, when and to whom ).
Psychopharmacology Apa tujuan dari ilmu ini (What Is Its Aim?) Dengan pemberian obat diharapkan terjadi perubahan tingkah laku misalnya dari murung menjadi ceria, dari marah-marah menjadi kalem dsb (Behavioral change)
Tentu secara ideal obat dapat menyebabkan kesembuhan, sekurang-kurangnya terjadi pengurangan intensitas penyakit (Remmision)
Hal itu dapat terjadi bila obat yang diberikan dapat menghilangkan gejala patologis (Absent of pathology symptom)
Paling penting adalah meningkatkan qualitas hidup (Increase Quality Of Live = QOL)
(Yul Iskandar,2006)

Percobaan berdasarkan evaluasi yang terkontrol dengan menggunakan zat tak berkhasiat, yaitu suatu placebo, belum dapat dikerjakan di Indonesia karena kesulitan-kesulitan teknik yang berada diluar kemampuan psikiater. (ditahun 1970-1980-an, telah dapat dilakukan percobaan terkontrol dengan placebo maupun obat standard, hal ini disebabkan karena telah cukup tenaga untuk melakukannya, YI) , Faktor lain, yang penting diperhatikan dalam hubungan introduksi obat-obat psikofarmaka dalam bidang ilmu psikiatri ialah sikap optimistik dan naiknya semangat berjuang dari pihak perawatan dan staf kedokteran, jika dalam fasilitas mental tersedia obat-obat psiko-farmaka dengan cukup
Hal itu teristimewa nampak senyata-nyatanya apabila dokter, psikiater atau tenaga perawatan itu harus berhadapan dengan seorang penderita mental yang gaduh gelisah atau dengan seorang penderita yang psikolik, maka berhasil memberikan ketenangan yang amat efektif, tanpa pasien harus diikat, dirantai dan dilakukan berbagai tindakan yang tidak manusiawi..

Kusumanto Setyonegoro, Disertasi (1966)

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
D
irektur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini,

Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: