Gestalt and Thinking with Brain Damage.

Gestalt and Thinking with Brain Damage

Sesudah memberikan formulasi tentang masalah-masalah dunia atau alam kehidupan manusia, yang dapat kita pergunakan dalam pendekatan terhadap penderita mental, maka penting pula kita kembali menegaskan asas eklektik dan asas holistik.
Namun kerusakan yang terparah malah tersembunyi. Bagian abu-abu dari cerebral cortexnya telah dilubangi oleh lubang kecil. Hal ini tidak terlihat dengan kasat mata tetapi dapat terlihat jelas dengan teknologi BRAIN IMAGING. Lubang anatomik, luka di otaknya, nampak sebagai noda putih yang menyebar seperti gelembung atau pola tembakan. Efeknya sangat dramatis.
Selanjutnya dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/05/31/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-54/

Lanjutan Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (53)

Sesudah memberikan formulasi tentang masalah-masalah dunia atau alam kehidupan manusia, yang dapat kita pergunakan dalam pendekatan terhadap penderita mental, maka penting pula kita kembali menegaskan asas eklektik dan asas holistik.
Berdasarkan asas eklektik maka kita mendekati penderita kita, yaitu manusia yang menderita, sebagai obyek berdasarkan anjuran descartes, bahwa “karena berpikir itu Aku ada” ; dipihak lain, kita harus pula menginsyafi, bahwa pada saat kita berjumpa dengan penderita (the encounter with the patient) kita menemui pula kebenaran, bahwa “Aku ada terlebih dahulu sedangkan yang lainnya menyusul”.
Oleh sebab itu maka asas holistik tidak dapat lain dari pada berjalan bersama dan sejalan dengan asas eklektik. Ini harus diartikan, bahwa kita senantiasa wajib menafsirkan penderita sebagai suatu kesan atau fenomena eksistensi human yang menyeluruh, suatu totalitas konfigurasional (Gestalt totality) yang merupakan sesuatu yang lain dari pada apa yang disarankan oleh masing-masing segi individual secara tersendiri-tersendiri.
Dalam praktek psikiatri misalnya, hal-hal yang berarti bahwa dalam keadaan delusi, maka suatu taraf (Umwelt atau dunia organobiologi), psikiater harus meneliti apakah ada kelainan tertentu secara organobiologi yang dapat memberikan sumbangan terhadap kepada pengertian pemeriksa tentang adanya delusi itu.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Thinking With Damaged Brain (1)
Floyd Skloot adalah seorang penulis puisi dengan kemampuan berpikir yang luar biasa dengan buku terbarunya yang berjudul In The Shadow of Memory. Ia memiliki otak yang berfungsi dengan baik sampai pada 7 Desember 1988 ketika sebuah virus menyerang otaknya. Kemudian setelah 10 tahun barulah nampak beberapa gejala kerusakan otak yang nyata yaitu gaya berjalan dan bicara . Namun kerusakan yang terparah malah tersembunyi. Bagian abu-abu dari cerebral cortexnya telah dilubangi oleh lubang kecil. Hal ini tidak terlihat dengan kasat mata tetapi dapat terlihat jelas dengan teknologi BRAIN IMAGING. Lubang anatomik, luka di otaknya, nampak sebagai noda putih yang menyebar seperti gelembung atau pola tembakan. Efeknya sangat dramatis.
Hilangnya sel saraf dapat dideteksi dengan mudah. Para ahli saraf telah melakukan sejumlah besar tes klinis mengamati hal apa saja yang pasien kerusakan otak dapat dan tidak dapat lakukan. Untuk menguji refleks tulang belakang, mereka memukul telapak kakinya (yang dikenal dengan tanda Babinski) atau memintanya berdiri dengan kedua kakinya dengan mata tertutup untuk melihat kemampuan menjaga postur tubuh. Kemudian mereka memintanya mengulang 1 set angka yang terdiri dari 7 angka acak dari depan ke belakang dan mengulang 4 angka secara terbalik, mengingat 3 kata khusus seperti ”BARN”, ”HANDSOME”, dan ”JOB” setelah sebelumnya dilakukan percakapan yang tidak berkaitan. Suatu teknik baru laboratorium, positron emission tomography, menggunakan zat radioaktif dengan label oksigen atau glukosa yang secara spesifik menandai berbagai area berbeda di otak yang digunakan oleh seseorang ketika mengucapkan kata atau mendengar kata, menyatakan penempatan organik, daerah yang mengalami kelainan tingkah laku. Teknik baru lain, functional magnetic resonance (fmr) imaging, meningkatkan aliran darah ke otak yang dihasilkan oleh beberapa tingkah laku yang dapat diukur. Hasilnya berupa gambar komputer, berupa peta relief penuh warna dari topografi otak, daerah di otak yang mengalami kerusakan.
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Pada taraf selanjutnya, maka psikiater meneliti apakah pada taraf lain (Mitwelt atau dunia kehidupan psikodinamika) justru delusi itu telah menjadi sebab, bahwa pasien tidak dapat memahami relasi-relasinya dengan masa lampau, masa sekarang dan masa depan.
Dan akhirnya, pada taraf yang terakhir (Eigenwelt atau dunia pribadi) apakah hal-hal yang didapati pada diri penderita itu sebetulnya juga dapat dipahami oleh psikiater, bahwa pada dasarnya (jadi secara orisinil atau aseli) penderita itu sudah memiliki suatu hubungan relatif terhadap masa lampau, masa sekarang dan masa depan yang bersifat lain atau distortif, dan oleh karena itu ia mengalami delusinya itu, yang pada hakekatnya merupakan suatu fenomena yang lebih periferi dari pada relasi-relasinya secara temporalitas dan spatialitas.

MODEL STRUKTURAL DIGUNAKAN UNTUK MASALAH SCHIZOPHRENIA
Adapun yang diuraikan dibawah ini ialah konsekwensi-konsekwensi dan implikasi-implikasi yang diwakilkan oleh model struktural pendekatan eklektik holistik, yang khususnya membedakan adanya tiga dunia, atau alam kehidupan manusia, yaitu:
Dunia atau alam kehidupan organobiologi atau Umwelt
Dunia atau alam kehidupan psikodinamika atau Mitwelt
Dunia atau alam kehidupan pribadi atau Eigenwelt
Dunia atau alam kehidupan organobiologi (Umwelt)
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bidang ini merupakan suatu bidang yang terdekat dan yang paling terkenal dalam seluruh pendidikan formatif kedokteran. Segala sesuatu yang termasuk bidang ini terletak di bidang alam ilmu kedokteran biologi (biological medicine), yang secara terinci memperkenalkan segi-segi spesifiknya, seperti neurofisiologi, biokimia, elektroensefalografi, dan psikofarmakologi.
Dalam alam kehidupan organobiologi diketahui banyak publikasi dan penyelidikan yang ingin memberikan indikasi tentang adanya dasar-dasar atau faktor-faktor spesifik, yang dapat dianggap bertanggungjawab secara tertentu dalam penjelmaan gangguan jiwa schizophrenia. Oleh sebab banyaknya publikasi dan penyelidikan-penyelidikan itu, maka tidak ada jalan lain bagi kami dari pada mengambil petikan-petikan yang dianggap penting dan relevan dalam hubungan masalah schizophrenia.

i). Bidang Neurofisiologi
Pada umumnya dapat dikemukakan, bahwa dari pada penyelidikan-penyelidikan di bidang Neurofisiologi tertuju pada pembuktian adanya kelainan-kelainan atau gangguan-gangguan dalam hubungan-hubungan struktural atau fungsional antara neocortex daan bagian-bagian otak lainnya (yang bertaraf lebih rendah).
Kecuali itu, terdapat pelbagai penyelidikan yang secara khusus tertuju pada ikhtiar pembuktian adanya kelainan-kelainan atau gangguan-gangguan dasar dalam bebrapa struktur khusus dalam substansi otak, yang kemudian dianggap bertanggungjawab dalam terjadinya gangguan jiwa schizophrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Thinking With Damaged Brain (2)
Kegiatan sehari-hari dalam hal-hal sederhana yang dilakukan menjadi tidak terkendali. Seperti sebuah tv tua dengan semua kabelnya yang kadang tersambung dan kadang tidak. Low tech evidence nampak pada fungsi dasar seperti berjalan yang menuntut konsentrasi ekstra, seperti ketika menjaga keseimbangan dan bahkan bernafas ketika bernafas. Hal tersebut nampak pada aktivitas yang mebutuhkan pemrosesan informasi fundamental tertentu. Sebagai contoh, ketika seorang telah mengajarkan berulang kali untuk melakukan sesuatu, tetap saja hal tersebut tidak dapat dilakukan. Floyd merasa sendirian hanya dengan ide-idenya, mimpi-mimpi, dan berbagai perasaannya. Merasa terisolasi secara batiniah dan membuang waktu dengan penyakit kronis. Ia menghadapi mental vertigo dimana ia tidak dapat focus akan suatu hal.
Dalam sebuah studi tentang memperbaiki otak, tiga ahli saraf Donald G. Stein dari America, Simon Brailowsky dari Mexico, dan Bruno Will dari Perancis, setelah luka, baik struktur cortical dan subcortical mengalami perubahan dramatis dalam pola aliran darah dan aktivitas saraf, walaupun struktur tersebut tudak berhubungan langsung dengan bagian yang terluka. Kemudian mereka menyimpulkan bahwa seluruh otak mengatur ulang dalam merespon kerusakan otak tersebut. Implikasinya adalah keseluruhan otak, organ dimana kesadaran dikendalikan, diatur ulang ketika otak diserang virus.

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Antara lain dikemukakan pentingnya diencephalon sebagai suatu pusat fungsional bagi aspek-aspek mental dan organic daripada keseluruhan kepribadian individu. Lebih lanjut malahan dianggap bahwa diencephalon itu merupakan semacam pusat daripada segala pengauh intern dan extern yang dating pada manusia dan mengenainya sebagai rangsang stimulatif. Ada pula pendapat yang mengemukakan saran untuk memandang schizophrenia itu sebagai suatu sindroma diensefal (Schizophrenia a Diencephalic Syndrome. Psychiatric Quart. (1949) sehingga timbul keyakinan bahwa semua simptomatologi schizophrenia itu dapat dikembalikan menjadi disfungsi-disfungsi dari pada kumpulan-kumpulan sel syaraf yang terdapat di thalamus, hypothalamus dan metathalamus.
Berdasarkan hal demikian maka penderita schizophrenia dapat dibagi menjadi 2 golongan yang besar. Pertama mereka yang terganggu karena adanya kelainan-kelainan vegetative atau yang menderita gangguan dalam mana kelainan-kelainan vegetative menduduki suatu tempat yang penting. Golongan itu disebut type hypothalamus dan yang kedua golongan penderita yang simptomato-loginya berasal dari bidang sensorik, golongan ini disebut type thalamus.,
Peranan dari pada nuclei amygdala, terutama dalam hubungannya dengan halusinasi akustik dicoba dijelaskan oleh Freeman dan Williams. Mereka itu berpendapat bahwa, oleh karena dengan jalan lobotomy frontalis, halusinasi akustik menahun tidak berubah, maka halusinasi yang demikian itu mungkin memiliki lokasi organic yang terletak diluar lobus frontalis.
Mereka melaporkan tentang dilakukannya amygdaloidektomi (5 kasus), yang mengakibatkan halusinasi akustik berkurang dengan nyata. Alasan akademik yang dikemukakan ialah postulat, bahwa nuclei amygdale itu bertindak sebagai transformator daripada aktivitas ideasional (yang ditimbulkan dengan perantaraan lobus frontalis) menjadi gerakan-gerakan yang berpola temporal (temporally patterned) daripada muskulatur suara (vocal musculature). Dengan demikian maka penderita merasakan akibatnya yaitu bahwa dia sendiri mendengar suara-suara itu seolah –olah datang dari luar dirinya. Sebaliknya dengan adanya keringanan gejala halusinasi akustik itu ternyata , bahwa tidak diperoleh perbaikan (kemajuan) yang berarti daripada segala-gerak-gerik dan tingkah laku yang bersifat psikotik.

Thinking With Damaged Brain (3)
Floyd sering mengalami saat dimana ia tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, mengalami ketidakmampuan untuk menemukan kata yang ia butuhkan untuk melengkapi kalimatnya, dan jeda ini sebagai refleksi dari kemacetan impuls yang terjadi di otak. Permasalahan bukan hanya sekitar penggunaan kata-kata, Floyd juga mengalami dyscalculic, berhubungan dengan matematika. Ia mengalami kesulitan menghitung. Baik di dalam ataupun di luar rumah, tetap saja tidak berbeda. Sensasi disfungsi mental sama saja karena Floyd tetap saja merasa ia tidak tahu berada dimana, sedang atau hendak melakukan apa. Ia merasakan kekosongan.
Kesalahan umum sebagai hasil dari kerusakan otak lebih melibatkan produksi kaitan kata secara semantic daripada respon yang benar. Praktisi saraf mengatakan kerusakan otak disebabkan trauma, stroke, atau penyakit ”serangan terhadap otak”. ”Serangan terhadap otak ” memiliki pengertian ketidakmampuan membedakan. Serangan ini, berdasarkan the Brain Injury Association of Utah mengandung pengertian hilangnya kesadaran yang berakibat melemahnya kemampuan kognitif atau fungsi fisik.
Pikirannya tidak mampu menciptakan hubungan-hubungan karena beberapa penghubung di otaknya telah rusak. Ia harus banyak mengurangi pekerjaannya dan tentu saja IQnya menurun drastic setelah diukur. Gagal dalam membuat hubungan, baik dalam level fisik maupun metafisik, membuatnya tertekan. Sangat sulit baginya untuk membuat asosiasi bebas, arus kesadarannya tidak berjalan dengan baik melainkan berdesakan. Aktivitas mental tidak berada pada pola yang seharusnya, ia mengalami proses berpikir yang acak. Ia tidak dapat mengontrol inteligensinya.
Namun, Floyd tetap dapat menjalankan hidupnya walau dengan kerusakan otak yang ia derita. Bahkan ia membuat beberapa perubahan dalam hidupnya. Misalnya dengan pindah dari kota ke sebuah bukit dimana di sana ia menjalani kehidupannya dengan lebih sehat.
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Penyelidikan lain diusahakan dengan menempatkan elektroda di daerah amygdaloid dari pada lobus temporalis pada 4 orang penderita epilepsi. Perangsang yang demikian itu terbukti berhasil menimbulkan keadaaan ketakutan dan rasa keanehan (weird feelings), yang semuanya disertai perubahan-perubahan aktivitas motorik, kebingungan dan keadaan tak mampu bereaksi (unresponsiveness) serta reaksi-reaksi otonomik.
Oleh sebab itu maka penyelidik-penyelidik itu beranggapan bahwa sebagian daripada complex amygdaloid merupakan bagian dari struktur otak yang berhubungan dengan tingkah laku visceral dan somatic dari pada keadaan internistik manusia.
Lymbic system merupakan daerah otak lain yang umum dianggap penting. Fulton berpendapat, bahwa sistem ini juga berpengaruh pada tingkah laku emosional, dan bahwa sistem ini juga berpengaruh secara menghambat atau merusak pada kemampuan belajar dan kepandaian-kepandaian tertentu, hal-hal mana dapat dipastikan menjalankan pelbagai tes pada yang bersangkutan. Ia memberikan saran, agar supaya dalam mengerjakan lobotomi harus diputuskan pula hubungan antara Lymbic system dengan caput nuclei caudati.
Dan akhirnya, Jordan dan Merrit berkesimpulan, bahwa mungkin benar Lymbic system itu ada hubungan-hubungan yang penting dengan apa yang disebut sebagai tingkah laku emosional (emotional behavior) dari pada organisme.
Dalam hubungan ini menarik perhatian apa yang menjadi pendapat para ahli Uni Soviet. Agaknya mereka itu berpegangan pada dasar, bahwa golongan psikosis yang gawat (mayor psychoses) merupakan suatu keadaan tak seimbang (imbalans) antara proses-proses yang bersifat merangsang (excitatory) dan proses-proses yang sifatnya menghambat organisme (inhibitory).
Hal-hal yang demikian itu rupa-rupanya didasarkan atas pelbagai penelitian yang dikerjakan secara ensefalografik, yang menghasilkan kesimpulan atau bukti, bahwa terdapat suatu diskoordinasi antara hemisfer-hemisfer otak dalam gangguan jiwa schizophrenia dan gangguan jiwa psikotik lain yang bersifat gawat. Hal ini dilaporkan oleh Wortis.
Pendirian lebih lanjut dari pada kalangan ilmu psikiatri Uni Soviet itu dapat diteliti dalam buku-buku dalam bahasa Inggria yang merupakan kumpulan-kumpulan dan terjemahan-terjemahan dari karya-karya ahli ilmu faal uni Sovjet I.P. Pavlov.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Bersambung.

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini, dan disebar luaskan melalui blog https://dryuliskandar.wordpress.com/
Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

2 Tanggapan to “Gestalt and Thinking with Brain Damage.”

  1. Rh Budhi Muljanto, dr. SpKJ Says:

    sudah lama tidak baca tulisan DR Dr Yul Iskandar, makin mantap saja. Kapan Psikiatri biologinya “bergerak”n lagi dok? seingat saya kok terakhir 2006 awal, waktu saya ikut workshop & ujian di serpong. kami tunggu beritanya

  2. dryuliskandar Says:

    Psikiatri Biologik kini telah punya 20 anggauta baru.
    Dalam waktu singkat kita akan mengadakan pertemuan psikiatri Biologik.
    Salam.
    Dr. Yul Iskandar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: