Proses somatisasi, Brain dan Multiple Inteligensi.

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (53)
Secra spekulatif, dapat dikemukakan bahwa kita mungkin berhadapan dengan suatu jembatan sintetik antara konsepsi somatogenesis dari pada perkembangan dan pembentukan “Aku”, dan proses yang kebalikannya yaitu keruntuhannya dalam gangguan jiwa schizophrenia . . . . . Secara biologis otak manusia terdiri dari tiga bagian besar yang terdiri dari right cerebral hemisphere dikenal sebagai belahan otak kanan, left cerebral hemisphere dikenal sebagai belahan otak kiri dan cerebellum dikenal sebagai otak kecil atau otak bawah sadar. Bagian otak ini akan . . . . multiple Intelegensi. . . . .Selanjutnya dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/05/06/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-53/

Lanjutan Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (52)

Hal lain dalam hubungan ini yang menarik perhatian ialah fakta-fakta yang didapati pada orang-orang yang mengalami kerusakan-kerusakan struktural dalam substansi jaringan otak, yang sampai taraf tertentu memperlihatkan suatu proses analogi pula.
R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Secara biologis otak manusia terdiri dari tiga bagian besar yang terdiri dari right cerebral hemisphere dikenal sebagai belahan otak kanan, left cerebral hemisphere dikenal sebagai belahan otak kiri dan cerebellum dikenal sebagai otak kecil atau otak bawah sadar.
Bila manusia ingin memahami otaknya kemudian mengoptimalkan fungsinya maka diperlukan pengetahuan untuk mengetahui cara kerja otak yang rumit. Otak manusia terdiri dari bermilyar-milyar sel neuron yang digunakan untuk berpikir dan belajar. Sel-sel neuron membentuk cabang yang disebut dendrit dan axon.
Kecepatan neuron membentuk sambungan-sambungan yang disebut synapse dipengaruhi oleh pengalaman langsung yang didapat anak pada awal-awal tahun kehidupannya. Pada fase pertumbuhan ini anak memiliki potensi yang luar biasa dalam mengembangkan kemampuan inteligensinya. Diperlukan pengalaman langsung agar sel-sel neuron dapat tersambung. Semakin banyak pengalaman anak semakin banyak synapse.

Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Secra spekulatif, dapat dikemukakan bahwa kita mungkin berhadapan dengan suatu jembatan sintetik antara konsepsi somatogenesis dari pada perkembangan dan pembentukan “Aku”, dan proses yang kebalikkannya yaitu keruntuhannya dalam gangguan jiwa schizophrenia. Goldstein berpendapat, bahwa kerusakan-kerusakan struktural dalam otak bersifat seringan-ringannya pun dapat mengakibatkan kemunduran dalam efisiensi mekanisme-mekanisme belajar, dan oleh karena itu dapat dianggap juga mengenai mekanisme-mekanisme persepsi dan integrasi dalam arti yang luas.
Pernyataan itu sangat interessant dan mungkin dalam hubungan itu pula harus ditinjau pelbagai teknik-teknik dan metoda-metoda pemeriksaan tertentu yang digunakan dalam psikologi, seperti teknik-teknik pemeriksaan projektif.
Demikian pula hipotesis mengenai bahasa dan proses pikir dalam gangguan jiwa schizophrenia, yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh klasik seperti Kraeplin, Bleuler dan juga oleh penyelidik-penyelidik seperti Kasanin, Rapaport, Arieti, dan lain-lain, semuanya agaknya sependapat tentang adanya semacam “defisit cara pikir konseptual” dan berusaha untuk menjelaskannya menurut cara-caranya yang tersendiri-tersendiri.
Berdasaarkan hal-hal dan pertimbangan-pertimbangan yang disebutkan diatas mengenai MITWELT atau dunia bersama jelas kiranya, bahwa dunia kehidupan psikodinamika merupakan suatu bidang interaksi human yang sungguh menarik perhatian sekali. Teristimewa dalam keadaan-keadaan semasa individu manusia seolah-olah mulai kurang memperhatikan atau malahan mulai mengasingkan diri secara agak menyolok, dari pada dunia bersama ini, perlu diusahakan hal-hal yang spesifik untuk mencegah kemerosotan itu dapat berbentuk secara ekstrem.
Pelbagai teknik-teknik psikoterapi yang ditujukan pada mengajak individu kembali masuk dan menikmati dunia bersama ini, untuk sebagian besar harus dijalankan menurut asas-asas alam kehidupan psikodinamika. Dipihak lain harus diperhatikan pula, bahwa senantiasa ada interaksi yang erat dengan dunia kehidupan lainnya, yaitu dunia keliling (Umwelt) dan dunia pribadi (Eigenwelt), yang dibicarakan selanjutnya dibawah ini.

EIGENWELT atau Dunia Pribadi

Ini adalah dunia atau alam kehidupan pribadi manusia sendiri dan pada hakekatnya merupakan suatu dunia atau alam kehidupan yang secra khusus hanya dijumpai dalam diri makhluk manusia saja.
Dunia ini, sebagaimana disarankan oleh istilah dunia pribadi secara khusus mendasarkan kehidupannya atas hal-hal yang berhubungan dengan diri manusia dan dalam diri manusia itu. Oleh karena itu, maka soal-soal seperti kesadaran dan pelbagai hubungan dengan dirinya sendiri obyektivitas, posisionalitas, intensionalitas dan eksentrisitas merupakan masalah-masalah yang penting dalam segala pembahasan dalam relasi dengan dunia pribadi ini. Sebab, hanya dalam manusialah kita jumpai suatu hubungan relatif dan limitatif terhadap dirinya sendiri dan dunia sekelilingnya. Oleh karena itu, maka hanya manusialah yang dapat memiliki suatu kesadaran diri (self consciousness or self awareness) dan suatu perspektif diri (self perspective) yang semuanya bersumber pada eksistensi individual manusia itu.
R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Setiap anak mempunyai bermilyar-milyar sel neuron yang tidak secara alami dapat tersambung. Fungsi pendidikan dini adalah untuk memberikan stimulus yang benar agar sel-sel neuron dapat saling bersambungan. Semakin banyak sambungan atau synapse akan semakin mengoptimalkan perkembangan kapabilitas kecerdasan anak.
Menurut Howard Gardner ada delapan atau Sembilan inteligensi dalam diri manusia Bermain dalam konteks pengembangan potensi multiple intelligences harus ada “rule “atau aturan dan mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian stimulus yang diberikan adalah dalam rangka mencapai tujuan tersebut.
Gardner mengemukakan adanya minimal delapan inteligensi yang ada dalam diri manusia yaitu
# Lingustic intelligence / Peningkatan inteligensi Linguistik dapat distimulus melalui bacaan, latihan menulis, berdiskusi; dan bermain dengan kata-kata. Anak yang berbakat bahasa mempunyai kepekaan yang tajam terhadap bunyi atau fonologi. Anak yang dominan linguistik akan lebih mudah menangkap pelajaran bila dilakukan dengan bahasa verbal.
# Logico-mathematical intelligence/ Intelegensi ini dapat distimulus melalui latihan bilangan, konsep bentuk dan ruang, bermain dengan pola-pola dan bilangan. Anak yang berbakat logis-matematis mempunyai kepekaan untuk membedakan pola logika atau numerik. Anak yang dominan logis matematis akan lebih mudah menangkap pelajaran bila dilakukan dengan pola-pola bilangan.
# Visual intelligence/ Inteligensi Spasial dapat distimulus melalui latihan mewarnai, menggambar; bermain puzzle dll. Anak yang berbakat visual mempunyai kepekaan terhadap unsur utama dalam karya artistik, termasuk garis, bentuk, volume, ruang keseimbangan, cahaya, bayangan, harmoni, pola dan juga warna. Anak yang dominan spasial akan lebih mudah menangkap pelajaran bila disajikan dalam bentuk gambar dan warna.
# Rythmic intelligence/ Inteligensi Musikal dapat distimulus melalui menari, olah raga, bermain peran; bermain dengan lagu dan instrumen musik. Anak yang berbakat musik mempunyai kepekaan mendengarkan ‘pitch dan tone’ musik . Anak yang dominan musikal akan lebih mudah menangkap pelajaran bila dilakukan dengan irama .
# Kinesthetic intelligence/ Inteligensi Kinestetik dapat distimulus melalui menari, olah raga dan bermain peran; bermain dengan bahasa tubuh/body language dan gerakan. Anak yang berbakat gerak tubuh mempunyai kepekaan yang tinggi untuk mengendalikan gerak tubuh dan ketrampilan yang tinggi untuk menangani benda. Bukan sekedar lebih mahir secara fisik juga menjadi seorang pemikir. Anak yang dominan kinestetik akan lebih mudah menangkap pelajaran bila diikuti dengan gerakan.
Interpersonal intelligence/ Inteligensi ini dapat distimulus melalui pertemanan. Mereka dengan mudah berhubungan dengan orang lain; mereka bermain dengan teman-teman, bekerjasama, menyelesaikan konflik. Anak yang berbakat interpersonal mempunyai kepekaan untuk memahami orang lain, pemahaman sosial ini diarahkan ke dalam dirinya untuk kemudian disalurkan menjadi sebuah karya. Anak yang dominan interpersonal akan lebih mudah menangkap pelajaran bila dilakukan dengan diskusi kelompok.
Intrapersonal intelligence/ Inteligensi ini sama dengan eigenwelt dapat distimulus melalui introspeksi diri dan menyendiri; bermain dengan pikiran dan perasaan sendiri. Mereka umumnya menyukai suasana tenang dan bekerja independen. Anak yang berbakat intrapersonal mempunyai kepekaan untuk memilah-milah emosi batin kemudian memanfaatkan emosi itu sebagai sarana untuk memahami dan membimbing perilaku diri sendiri. Anak yang dominan intrapersonal akan lebih mudah menangkap pelajaran bila diberikan bahan untuk dirangkum.
Naturalist intelligence / Intelegensi ini dapat distimulus melalui ketrampilan observasi; bermain dengan tanaman, binatang dan gejala alam. Anak yang berbakat naturalis mempunyai kemahiran dalam mengenali dan mengklasifikasikan flora dan fauna. Dalam kehidupan seorang naturalis dikenal sebagai orang yang “bertangan dingin” dalam berkebun dan memelihara binatang. Anak yang dominan naturalis akan lebih mudah menangkap pelajaran bila diberi kesempatan mencoba dan mengamati.
Setiap inteligensi muncul pada titik tertentu di masa kanak-kanak, mempunyai periode perkembangan potensi selama rentang hidup yang berbeda. Inteligensi Lingguistik baru berkembang ketika dia sudah mulai berkata-kata, walaupun demikian stimulus pada bayi yang belum bisa bicara juga dapat meningkatkan inteligensi ini. Inteligensi matematik baru mulai berkembang ketika berumur 3 tahun lebih. Jadi setiap inteligensi punya waktu optimalnya, bila potensi ini tidak tergali pada masa optimalnya, maka masa perkembangan tersebut akan lewat dan kapabilitas inteligensi pada masa-masa berikutnya. tidak akan mengalami peningkatan sepesat ketika masa kanak-kanak.
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Dalam hubungan pribadi (Eigenwelt) segala tafsiran senantiasa dinilai dalam relasi dengan diri kita sebagai manusia. Ini berarti bahwa apa yang disebut dunia pribadi itu tidak dapat lagi direduksi lagi menjadi elemen-elemen (unsur-unsur) yang lebih primer.
Semuanya dalam dunia pribadi itu merupakan hal-hal yang hakiki atau dasar, karena merupakan penghayatan yang terikat pada subyek itu secara tersendiri. Jelaslah, bahwa seluruh isi dan adanya subyek dipertaruhkan secara keseluruhan dalam pernyataan penghayatan yang dikemukakan kepada dunia luar.
Oleh sebab itu, tiap-tiap pernyataan hayati (yaitu yang berdasarkan penghayatan daripada subjek) selalu merupakan reflexi dari pada keseluruhan existensi manusia itu.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

Kecerdasan interpersonal sering disebut sebagai kemampuan hubungan antarpribadi. Kemampuan ini sangat menentukan perkembangan emosi anak. Emosi merupakan kemampuan yang berasal dari kalbu yang sangat menentukan keberhasilan anak dalam kehidupan.
Anak biasanya bersifat egosentris, pada tahap ini anak mengalami kesulitan menerima pendapat orang lain. Anak-anak saling berbicara, tanpa mengharapkan saling mendengarkan atau saling menjawab. Di sinilah pentingnya pemberian stimulus yang benar. Pendapat yang didengarkan tersebut tidak dilihat dari salah atau benarnya. Tujuan berpendapat adalah agar anak terbiasa mengeluarkan kata-kata secara lisan dengan menggunakan bahasa yang dikuasainya. Kebiasaan mengeluarkan pendapat dan kebiasaan mendengarkan teman berbicara, lambat laun mengubah kebiasaan egosentris anak dan pada gilirannya akan memunculkan kemampuan interpersonal.
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD

Dengan perkataan lain jika secara ‘eigenwelt-isch’ orang berkata bahwa suatu lukisan itu adalah bagus maka hubungan individu itu dengan lukisan itu telah terjelma sedemikian rupa sehingga berhasil memberikan ketentuan hayati tentang bagusnya lukisan itu. Jadi lukisan itu bukanlah bagus karena terdapat suatu gabungan garis, bentuk atau tatawarna yang memberikan sesuatu asosiasi dengan hal-hal lain ataupun menimbulkan gagasan-gagasan yang segolongan dengan itu melainkan karena telah terjelma ketentuan penghayatan (ketentuan hayati) dalam hubungan dengan existensi individual manusia itu.
Oleh sebab itu maka dalam hubungan gagasan dunia pribadi atau Eigenwelt antara subyek dan obyek tidak terdapat suatu pemisahan. subyek dan obyek secara relatif dan limitatif merupakan satu kesatuan. Diri pribadi kita dapat dianggap menjelma (dalam arti kata mengalami pertumbuhan dan perkembangan) secara sekaligus dan secara bersamaan dalam dunia pribadi kita.
Secara kiasan malahan dapat disebutkan bahwa suatu peristiwa yang timbul dalam alam kehidupan pribadi Eigenwelt itu terjadi secara lebih erat dan lebih dekat pada diri kita daripada denyutan jantung ataupun gerakan peristaltic jasad kita sendiri.
Hal yang semacam itu terjadi misalnya, apabila orang pada suatu ketika dalam hidupnya mengalami suatu pengertian diri (self insight or self awareness). Dalam keadaan demikian itu seringkali orang hanya secara samar-samar saja dapat mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu maka saat timbulnya pengertian diri itu, dianggap terjalin demikian eratnya dan demikian dekatnya dengan eksistensi individual manusia, sehingga hal-hal yang dihayati pada saat yang demikian itu tidak dapat lagi direduksi menjadi unsur-unsur yang lebih primer, oleh karena peristiwa demikian itu merupakan kejadian yang paling pokok dan yang paling dasar bagi manusia itu.
Berhubung dengan semuanya maka, untuk memungkinkan terjelmanya dunia pribadi atau alam kehidupan pribadi (Eigenwelt) bagi manusia itu, manusia haruslah sampai pada keinsyafan dan kesadaran dasar mengenai hakekat eksistensi individualnya.
Terlebih dahulu ia harus mampu mengatakan tentang dirinya bahwa “Aku ada”. Ia harus mengalami daan menghayati kebenaran dan kesadaran tentang apa yang tercakup dengan pernyataan “Aku ada” itu (he should have to experience his own being and he has to experience first an “I am” experience). Agaknya itulah yang merupakan inti dari pada apa yang dapat disebutkan sebagai dunia pribadi manusia.
Manusia harus mengerti dan menginsyafi, bahwa dunia pribadinya itu pada prinsipnya merupakan suatu analisa abstraksi dari pada seorang manusia sebaagai makhluk yang “sedang ada” dan “sedang berkembang” (he has to consciousness to what is meant by analysis of being and becoming).
Kenyataan-kenyataan yang dikemukakan diatas itu disebutkan sebagai “Dasein”, yaitu suatu keadaan yang sangat khusus. Bagi seorang penderita maka, “Dasein atau keadaan itu dapat berarti situasi adanya penderita itu sebagai makhluk manusia menghadapi dokternya sebagai makhluk manusia pula.
Oleh sebab itu, maka sifat-sifat dari pada dunia pribadi manusia itu senantiasa bertendensi ke arah ontologik, yang menyangkut suatu pemikiran dan pendalaman dari pada pengetahuan tentang hakekat adanya dan berkembangnya manusia.
Dalam sejarah kebudayaan mungkin perkembangan apa yang disebut Eigenwelt itu dapat diketemukan kembali pada hasil karya-hasil karyanya karangan dari pada penulis-penulis seperti Dostojewski, Rilke, Kafka, dan Camus ; juga dalam lukisan-lukisan yang dibuat oleh pelukis-pelukis seperti Van Gogh, Cezanne, Picasso, dan lain-lain ; dan juga dalam analisa-analisa yang diuraikan oleh penulis-penulis seperti Heidegger, Jaspers dan Sartre, serta tulisan-tulisan lain yang coraknya mungkin kearah relegik, daripada penulis Tillich, Marcel dan Buber.
Mereka itu semua menurut tulisan-tulisan dan lukisan-lukisannya yang sendiri-sendiri telah mencoba untuk memberitahukan kepada khalayak ramai hal-hal yang rupa-rupanya secara khas terikat pada existensi manusia seperti kecemasan dan kegelisahan yang tak menentu (anxietas, anxiety atau angst) rasa berdosa (guilt, sinn) rasa dirinya terasing (alienation) serta masalah-masalah lain yang menyangkut segi-segi spiritual, mystic dan emosional yang mendesak (acute)
Yang penting disadari dari pada pernyataan-pernyataan diatas ialah beberapa hal tertentu :
1). Unsur temporalitas dan spatialitas
Kedua-dua unsur ini disebutkan dengan sekaligus, oleh karena temporalitas (waktu atau historisitas) dan spatialitas (ruang atau lebensraum) merupakan dua koordinat atau dimensi yang secara mutlak diperlukan untuk memahami manusia dan eksistensinya dalam berjenis-jenis bentuk dan manifestasinya. Unsur-unsur itu adalah sama pentingnya untuk dapat mengerti dan menangkap secara lebih akurat dan lebih mendalam fenomena-fenomena existensi manusia disamping pengetahuan kita yang lazim mengenai ilmu fisika dan matematika.

2) Unsur manusia dalam penjelmaan yang kontinyu
Unsur ini seharusnya menjadi perhatian atau sasaran yang tidak kalah pentingnya, karena menurut anggapan yang berlaku dalam dunia pribadi manusia secaara analytik senantiasa berada dalam penjelmaan kontinyu (analysis of being and of becoming).
R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD

(bersambung)

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.

Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: