Autobiogrphy Dr. Yul Iskandar (4)

Autobiogrphy Dr. Yul Iskandar (4)

Catatan
Dalam Autobiography tulisan ini semua nama termasuk nama seluruh keluarga saya, karakter, tempat, institusi, situasi bukanlah berada di Indonesia, tetapi disuatu tempat di. . . . Republik Tidur. Selanjutnya dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/

Menjadi Visiting Professor Di Deptemen Psychology University of Leeds.

-Dari mana saja kamu, Yul – kata Bos
-Baru mengurus paspor, exit – permit serta visa untuk ke Inggris, untuk berangkat besok hari.
-Kamu akan ke Inggris besok, ini maksudnya minta izin atau memberi tahu.
-Sory, Bos, saya hanya memberi tahu karena saya dapat undangan untuk penelitian bersama, serta memberi kuliah, di Departemen Psychology di University of Leeds, di Inggris.
-Kok kamu tidak minta izin saya dulu.
-Undangannya baru datang 1 minggu yang lalu, dan semua pegawai disini bilang semua sedang rapat di Luar kota, sedangkan saya tak mendapat undangan dari Bos.
-Masalahnya rapat itu mendadak, kita harus menghabiskan anggaran untuk tahun ini dengan cepat bulan ini, kalau tidak maka harus dikembalikan , karena itu kita perlu rapat di Luar kota, untuk membuat anggaran baru..
-Katanya Bos cari saya
-Ya, sebenarnya dalam rapat semua setuju, bila anda naik eselon, tapi karena untuk Eselon ini, maka besok ada harus tatap muka dengan Sekertaris. Untuk naik eselon sampai tingkat tertentu, harus ada persetujuan Pimpinan Tertinggi.
-Tapi saya tak mungkin besok ikut tatap muka..
-Sayang sekali, rapat seperti ini hanya akan ada 5 tahun lagi.
-Kalau saya ikut rapat apakah pasti saya akan naik eselon.
-Kemungkinan besar, tapi belum tentu juga, tergantung berbagai hal.
-Kalau begitu minta maaf, karena saya harus memberi kuliah, dan melakukan penelitian di Inggris. Ini suratnya mohon doa –restu, dan surat tembusannya akan saya sampaikan pada Yang berkepentingan.

Satu bulan sebelum surat undangan resmi untuk hadir dalam suatu rangkaian membahas penelitian bersama, menilai hasil uji klinis suatu obat, penelitian mengenai sleep polygrapy (yang baru saja marak diseluruh dunia), dan saya punya data mengenai Sleep dan Reaction time (kecepatan reaksi) bagi penduduk local, saya mendapat surat apakah bisa memberi masukan apa yang telah dikerjakan di Negri saya, karena mereka akan membuat protocol yang sedikit berbeda dengan Standart R-K ( Rechshafen and Kales) tetapi mereka sangat menyesal bahwa biaya dan tempat tinggal hendaklah dicari sendiri sumbernya. Seperti biasa surat undangan itu juga merupakan Credit card, pada perusahaan obat (pada masa itu), dan dengan mengemukakan kita akan meneliti obat yang dia hasilkan, saya mohon diberi bekal untuk membeli tiket ke Inggris, dan uang untuk hidup disana.
Perusahaan obat (dari pusatnya, bukan uang perusahaan local ) bersedia menyediakan tiket kelas ekonomi non-refundabel (=sangat murah, dia yang membelikan tiket), dan bersedia memberikan uang saku untuk tinggal, makan dan sebagainya sebesar 30 pondsterling sehari, atau 900 pound sebulan, selama saya di Inggris..

Kawan saya yang mengundang itu (orang Inggris), bilang disana bila ada permintaan untuk seperti ini maka perusahaan obat, akan memberikan tiket pesawat kelas satu, hotel bintang lima dan diluar itu semua, uang 100 pond per hari ( per-diem). Ternyata ahli Lokal dihargai sepersepuluh ahli asing, walaupun kemampuannya sama. Apa boleh buat saat itu (sampai kini) Negara ini masih dianggap Negara terbelakang.

Pada negeri itu, rezim devisa setengah bebas. Artinya ada lembaga yang kerjanya mengurusi mata uang, namanya Lembaga Perdagangan Devisa (LPD). Urusan mata uang luar negeri, dan bertanggung jawab pada Bank Central. Bila seseorang mau menjual barangnya ke luar negeri, maka uang hasil penjualan nya harus ditukar di LPD, Mata uang asingnya diambil oleh LPD, dan pedagang dibayar dengan uang lokal. Sebaliknya bila membeli dari luar negeri, maka uang local, kita tukarkan di LPD dan kita bisa mengirimkan uang untuk membeli barang. Kalau kita mau keluar negeri, maka kita membeli uang asing di LPD, dan kalau kita dari luar negeri membawa uang asing harus ditukarkan di LPD. Punya uang asing merupakan pelanggaran. Pasar Gelap suatu tindakan kejahatan. Idenya bagus, teorinya bagus, tapi kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya, pegawai yang kurang, korup dan tak disiplin membuat aturan bagus menjadi sangat buruk.

Uang asing banyak beredar di pasar gelap, terutama di pasar Baru. Perusahaan tidak akan pernah bisa menukarkan uang rupiah dengan uang asing dengan kurs resmi, walaupun untuk keperluan apapun. Sebaliknya orang yang punya uang asing tak akan mau menukarkan uangnya di LPD, karena ada perbedaan kurs yang menyolok antara kurs resmi dan kurs gelap . Ini sudah lebih baik dari sebelumnya, ketika Rezim devisa terkontrol penuh.

Pemerintah hampir tak punya uang (asing) dan kerjanya mencetak uang saja. Pada waktu pemerintahan Suharto sudah sangat stabil, LPD dibubarkan, rezim devisa dinyatakan bebas, mau punya uang asing seberapapun di Indonesia boleh saja. Uang asing bisa ditukarkan dimana saja, dengan kurs yang ditetapkan pemerintah.

Kembali ketika saya akan ke Inggris, saja punya sekian ribu pound sterling, untuk hidup sekian bulan. Kredit Card pada saat itu belum jadi model. Hotel bintang melati satu saja di Inggris sudah 49 pond semalam, maka untuk bisa hidup 30 pond sehari harus tinggal indekost diperumahan yang dinamakan 3B (Bed, Bath, Breakfast). Rumah yang punya kamar sendiri, ada kamar mandi didalam kamar, dan dapat makan pagi, biayanya 18 pond sehari. Sisa 12 pond harus cukup untuk transport (tak terlalu perlu di kota kecil seperti Leeds, kemana-mana jalan kaki saja) dan makan serta keperluan lain. Uang 30 pond di Indonesia pada waktu itu sudah bisa tidur di hotel bintang lima, makan siang di rumah makan padang, dan transport pakai taksi.

Saya meminjam kepada teman uang rupiah seharga sekian ribu pond, untuk tiga hari kata saya. Kawan itu cukup punya uang karena dia prakteknya ramai, karena dia menggantikan praktek kakaknya yang sudah praktek 10 tahun.

-Aku pinjam dahulu uangmu sebesar sekian rupiah selama 3 hari.
-Gila, kamu uang sebanyak itu untuk apa, apa mau kawin lagi.
-Tidak aku akan ke Inggris, untuk dapat visa perlu keterangan dari Bank adanya uang yang cukup. Pokoknya 3 hari lagi aku kembalikan uangmu.
-Ini bukan uangku, tapi kebetulan ada ditanganku, kalau memang sangat perlu dan 3 hari pasti dikembalikan, kau ambil ditempat praktekku nanti sore. Pulang dari Inggris belikan aku Text Book ini, yang hanya ada di Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: