Psikoanalisis dan Therapy Anxietas

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (52)

Sebagai contoh dapat dikemukakan spekulasi-spekulasi yang diarahkan pada saat terjadinya konsepsi benih, serta hal-hal yang terjadi sewaktu dilahirkan, dan yang semuanya baru kemudian (pada suatu masa yang jauh lebih lama) mulai nampak secara manifest
In acute panic attacks, reassurance of patient may be sufficient in most cases. In severe attacks, short-acting benzodiazepines may be needed. The efficacy of the SSRIs in panic . . . . .
Selanjutnya dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/04/10/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-52/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.
Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Perlu dikemukakan, bahwa tinjauan mengenai “Aku” secara psikodinamika, tidak berarti bahwa faktor-faktor organobiologi, faktor-faktor herediter dan pembawaan tidak diperhitungkan lagi. Sebagai contoh dapat dikemukakan spekulasi-spekulasi yang diarahkan pada saat terjadinya konsepsi benih, serta hal-hal yang terjadi sewaktu dilahirkan, dan yang semuanya baru kemudian (pada suatu masa yang jauh lebih lama) mulai nampak secara manifest. Hal demikian itu nyata pada anak-anak yang secara bawaan (karena konstitusi herediter) memperlihatkan hyperaktivitas motorik yang menyolok (Atention Defisit Hypeactive Disorder =ADHD); atau pada keadaaan yang sebaliknya, yaitu hypoaktivitas sehingga anak mempertunjukkan sikap pasif yang ekstrem. (Autisme)
Akan tetapi sebaliknya pun dpat dikemukakan sebagai hypotesa, apa yang semula dapat memberikan kesan hereditas atau konstitusional, juga dapat dianggap sebagai pengaruh lingkungan (environmental influences). Dengan demikian, maka keadaan kontroversial dari pengaruh herediter dan pengaruh lingkungan bukanlah merupakan suatu hal yang sederhana, atau yang sudah dapat dianggap diselesaikan sesempurna-sempurnanya.
Dalam hubungan ini, penyelidikan-penyelidikan oleh Spitz cukup penting diperhatikan secara serius. Glover mengemukakan hypotesa, bahwa ego mengandung inti-inti (nuclei) tertentu yang baru berkembang kemudian, dan tidak pada saat-saat yang bersamaan. Hypotesa ini agaknya dapat mempertemukan pendapat, bahwa beberapa fungsi psesifik dari pada ego dapat timbul lebih dahulu, sedaangkan yang lainnya baru nampak berkembang kemudian. Walaupun demikian, rupa-rupanya ada persesuaian paham yang universal, bahwa ego merupaakan pemegang peranan utama dari pada asas integrasi, yang memang nampak pada taraf-taraf perkembangan kepribadian seperti yang disarankan oleh psikoanalisa.

Taraf-taraf perkembangan berdasarkan psikoanalisa.
Taraf oral. Pada taraf ini belum ada deferensiasi dari dorongan-dorongan insting primitif yang ada. Taraf ini paling awal, jadi pada umumnya pada bayi, tapi bisa juga taraf ini tidak berkembang sampai anak-anak dan dewasa.
Taraf Anal. Pada taraf ini maka pemuasan adalah pada saat dorongan instingtual exkresi dan sekresi didapat. Pada taraf ini mungkin terjadi kontradiksi bahwa bukan hanya exkresi (melalui anal) tetapi retensi di anal juga mendapat pemuasan. Seperti fase oral, fase ini bisa berkembang menjadi rataf lebih lanjut, atau terjadi regresi kefase awal.
Fase Genital. Pada taraf ini terjadi pada individu menjadi lebih dewasa. Individu mulai tertarik pada genital sendiri atau genital lawan jenis. Secara teoritis pada fase ini bisa berkembang dengan baik menjadi dewasa normal, tetapi bisa juga terjadi fiksasi – fiksasi yang menimbulkan kelainan kejiwaan. Bisa pula terjadi regresi pada fase-fase yang lebih awal.

Dengan cara berpikir dan berpendapat demikian itu maka sekarang dirasakan makin pentingnya keperluanuntuk melengkapi hipotesa-hipotesa psiko-analisa dan psikodinamika itu dengan dasar-dasar experimentasi atau experimental tertentu, seperti yang dikerjakan oleh Spitz.
(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)

Treatment Panic Disorder.(1)
In acute panic attacks, reassurance of patient may be sufficient in most cases. In severe attacks, short-acting benzodiazepines may be needed. The efficacy of the SSRIs in panic disorder has been proven in many controlled studies, and they are considered to be the first-line drugs for this disorder.
Fluoxetine was effective in comparator-controlled trials. In 52-week long-term study, it was as effective as the RIMA moclobemide. Sertraline was also effective in DBPC studies and one non-inferiority comparator trial. In a relapse prevention study over 26 weeks, which followed open treatment over 1 year, sertraline was superior to placebo. In a long-term study over 26 weeks, sertraline was superior to placebo and as effective as imipramine in patients with panic disorder and comorbid depression.
The efficacy of benzodiazepines in panic disorder has been shown in some controlled clinical studies. Alprazolam was superior to placebo and as effective as comparator drugs in a number of studies. In a relapse prevention study (8 weeks acute study, followed by up to 35 weeks relapse prevention), it was superior to placebo and as effective as imipramine. In another relapse prevention study, it was as effective as imipramine in an 8-week acute DBPC study, and more effective than imipramine in a 26-week DBPC extension Clonazepam was effective in DBPC studies and one placebo- and comparator-controlled trial Diazepam was superior to placebo and as effective as alprazolam in two studies
In clinical practice, benzodiazepines are often combined with SSRIs, Placebo-controlled studies involved a combination of imipramine and alprazolam and sertraline and clonazepam, and both showed a faster response to these combinations than to imipramine and sertraline plus placebo, respectively.
In panic disorder, buspirone was not superior to placebo and less effective than imipramine and alprazolam.
Because beta blockers may influence autonomic anxiety symptoms such as palpitations, tremor, etc., they have been used in the treatment of panic disorder. However, the beta blocker propranolol was not superior to placebo and less effective than comparator drugs.

( Yul Iskandar., MD., SpKJ., PhD)

Pada taraf permulaan hidup bayi yang muda, dapat dianggap bahwa daya persepsi sensoriknya masih bersifat kabur dan samar-samar. Secara psikodinamika dapat disebutkan bahwa antara “Aku” dan “Non Aku” (ego dan non ego) bagi si bayi yang muda itu tidak terdapat diferensiasi yang tegas. Jadi, antara dia (sebagai seorang bayi) dan dunia lingkungannya (yang mungkin terdiri dari pada manusia-manusia lain dan benda-benda) tidak terdapat perbedaan yang tegas, seolah-olah semuanya itu bercampur menjadi satu. Juga dapat dikatakan, bahwa antara persepsi sensorik dan persepsi subyektif tidak terdapat diferensiasi yang tegas dengan hal-hal yang dapat dinyatakan secara obyektif realistik. Jadi, sekali lagi dapat dinyatakan dengan sesungguhnya, bahwa antara sifat subyektif dan sifat obyektif tidak ada perbedaan, semuanya bersatu dan tidak terpisah-pisahkan.

Oleh sebab itu,maka tiap-tiap rangsangan (stimulus), baik yang bersifat perseptif maupun yang sifatnya instingtual, senantiasa akan berpengaruh pada proses menunjang pertumbuhan jasmaniah.

Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan itu, maka dapat diterima pendapat bahwa pada taraf perkembangan manusia yang demikian itu (yang diduga sampai usia enam bulan) apa yang boleh disebutkan “struktur kepribadiannya”, pada pokoknya merupakan suatu “struktur somato psikologi”. Oleh karena itu, jika rangsang-rangsang somatik tidak terjadi dalam kualitas dan kwantitas yang cukup, maka keadaaan demikian itu mengakibatkan terjadinya suatu situasi depresi yang lebih lanjut mengakibatkan sikap depresi pada anak yang bersangkutan, seolah-olah anak (bayi tadi) mengalami suatu kekurangan depressif dari pada stimulasi. Spitz menyebutkan kondisi ini “depresi anaklitik (anaclitic depression)”.
Secara lambat laun mulai timbul diferensiasi di segala bidang variasi perseptual dalam diri anak. Bentuk dan isi persepsi mulai lebih nyata dan lebih tegas ditangkapnya. Dengan demikian, maka ia secara progresif dirangsang terus sehingga dapat menjelmakan semacam “individu tersendiri”, yang lain dari pada hal-hal, benda-benda dan manusia-manusia lain yang ada dilingkungannya. Proses terjadinya ini dapat disebut proses perkembangan kepribadian, tempat segala sesuatu yang terikat pada “Aku” mulai terjelma dan terbentuk. Dengan demikian, maka dapat disaksikan, bahwa dengan berpangkal pada bentuk jasmaniah sendiri yang ditempatkan dalam suatu “kontra posisi dialektik” degan bentuk jasmaniah dunia lingkungan yang ada disekelilingnya, si anak manusia yang muda itu mulai mengetahui dan memperlihatkan diferensiasi-diferensiasi yang secara progresif bertambah tajam. Ia mulai membedakan muka yang manis dari pada muka yang marah dan bermuram durja. Ia mulai mengerti tentang masa sekarang, masa lampau dan masa depan ; terutama yang terakhir itu yang dapat memberikan harapan, sutau kualitas yang lain dari pada apa yang hingga sekarang ia ketahui. Oleh sebab itu, dapat dianggap bahwa fungsi-fungsi khusus dari pada “Aku” juga merupakan suatu usaha untuk mengadakan inventarisasi mengenai segala sesuatu yang terdapat di dunia sekelilingnya. “Aku” kemudian dapat menggolong-golongkan jenis-jenis dan bentuk-bentuk yang sama ; ia dapat membeda-bedakan jenis dan bentuk yang berlainan ; ia dapat menghubung-hubungkan pelbagai masa ( seperti masa sekarang, masa lampau dan masa depan) dalam suatu bentuk struktural yang berarti bermakna.
Oleh karena itu,maka dapat dianggap bahwa apabila hal-hal itu sudah tercapai, akan lebih kuat lagi landasan pembinaan kepribadian bagi yang bersangkutan, dan lebih kuat lagi pembentukan dan perkembangan “Aku” bagi hari kemudiannya.
(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)

Treatment Panic Disorder.(2)
Long-Term Treatment
Typically, panic disorder has a waxing and waning course. After remission, treatment should continue for at least several months in order to prevent relapses. A number of studies have investigated the long-term value of drug treatments. Some of these trials are long-term studies comparing a drug and placebo for a longer period (i.e. 26–60 weeks). The other type of trials are relapse prevention studies, in which patients usually receive open label treatment with the study drug for a shorter period, after which responders are randomized to receive ongoing active drug treatment or placebo. In summary, SSRIs, benzodiazepines and moclobemide showed long-term efficacy in these studies.
Data on how long maintenance treatment should be continued are scarce. In one study, patients who had 18 months of maintenance treatment with imipramine had fewer relapses after discontinuation than patients who were discontinued after only 6 months of treatment. The results support the hypothesis that successful imipramine maintenance treatment of patients with panic and agoraphobia can have protective effects against relapse, at least in the first 6 months after the maintenance treatment period.
Expert consensus conferences generally recommend a duration of pharmacotherapy of at least 12–24 months
Regarding SSRIs, the same doses are usually prescribed in the maintenance treatment of panic disorder as in the acute treatment phase. To our knowledge, there are no studies examining reduced doses of SSRIs in maintenance treatment.
In studies comparing the efficacy of TCAs and SSRIs, no differences in terms of efficacy could be found between the two classes of drugs. In most of these studies, the SSRIs were better tolerated than the TCAs, although one analysis did not find a difference in tolerability between SSRIs and imipramine.
There are no direct comparisons between SSRIs and benzodiazepines in the treatment of panic disorder. According to a meta-analysis, the effect sizes for the SSRIs were higher than for the benzodiazepine alprazolam . In a number of studies, alprazolam was compared with the tricyclic antidepressant imipramine No differences could be found between the two drugs in terms of global improvement.
( Yul Iskandar., MD., SpKJ., PhD)

Dengan memberikan bayangan tentang proses perkembangan dan terjadinya kepribadian dan “Aku” secara demikian itu, dapat dipahami bahwa jika terjadi sesuatu hal yang bersifat patogenetik (misalnya dalam keadaan gangguan schizophrenia), maka bangunan sistem kepribadiaan dan bangunan “Aku” itu juga akan mengalami proses keruntuhan, kemunduran atau keretakan. Tegasnya, maka proses keruntuhan itu akan mengakibatkan kemunduran pada kemampuan individu untuk mengikhtiarkan sikap-sikap diskriminatif dan diferensiatif terhadap struktur dunia sekelilingnya dan dunia dirinya sendiri atau “Akunya” serta masing-masing relasi-relasinya. Secra umum dapat dikatakan, bahwa proses diskriminatif dan diferensiatif yang telah dibangunnya sepanjang hidup, akan berbalik menjadi suatu proses indiskriminatif dan indiferensiatif yang terjadi secara progresif apabila proses patologiknya itu berlangsung secara ganas. Pembedaan-pembedaan yang halus-halus menjadi kabur dan samar-samar lagi. “Aku” menjadi tak berdiferensiatif dan indiskriminatif, dan akhirnya makna dan arti masa sekarang, masa lampau dan masa depan tidak menjadi urusan-urusan yang penting.
(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: