Autobiogrphy Dr. Yul Iskandar (3)

Autobiogrphy Dr. Yul Iskandar (3)

Menjadi Visiting Professor Di Deptemen Psychology University of Leeds.

Tentu saja saya bekerja sebagai dokter di CKN dengan persetujuan FKUI, dan FKG Trisakti. Selain di FKUI saya juga mengajar dan menjadi kepala Bagian Biokimia FKG Trisakti pekerjaan saya sebagai pengajar dan kepala Bagian Biokimia FKG Trisakti waktu itu diketahui oleh Prof. Kusumanto Setyonegoro, kepala Bagian Psikiatri FKUI dan Prof. Asri Rasad, kepala bagian Biokimia FKUI , pertengahan tahun 1980-an saya mengundurkan diri dari Trisakti, karena tak punya waktu lagi, (dan masalah menjadi Dosen di FKG Trisakti akan dibicarakan dalam bab tersendiri). Dengan adanya Kapten Surip pula saya dekat dengan Letnan Jendral Marwoto ketua CKN.

Dari segi gaji, orang – orang CKN tidaklah cukup besar, tapi kalau dilihat mobil-mobil yang mereka parkir, maka kantor CKN seperti perusahaan Multi Nasional. Saya pernah Tanya dari mana uang mereka.

– Kantor ini seperti kantor pabrik MNC (Multi Nasional Corporation), kata saya
– Kenapa ,-kata kawan di CKN
– Mereka seperti orang kaya saja, lihat mobilnya, bagus-bagus dan mewah.
– Kamu punya kartu anggauta
– Ya,- kataku.
– Nah, itu kartu itu sama seperti kredit Card, bedanya tak ada tagihan pada akhir bulan. Dan tak ada limitnya. Kamu bisa minta apa saja, berbuat apa saja, asal hati-hati, , kartu itu bila dipergunakan dalam waktu yang tepat, ditempat yang tepat, akan sangat menguntungkan, tapi hati-hati pada beberapa instansi, lembaga, atau perusahaan yang punya beking yang lebih tinggi dari kita, kamu bisa konyol.
-Kamu punya mobil
– Ya kataku mobilnya keren Mercedes tapi buatan puluhan tahun yang lalu.
– Tidak apa, tapi yang pertama kamu ganti nomornya, kamu datang ke kantor polisi, berikan kartu kamu pada polisi yang mengeluarkan SIM, STNK, dsb , maka minta nomor Pelat mobil kamu minta diganti dengan nomor RHS (rahasia) k(husus) CKN dengan pelat nomor didepan 81 xx- aa, pelat hitam, maka tak satu polisi pun akan berani menilang kamu, karena nomor itu nomor RHS –CKN. Kalau kamu mau mengisi bensin, isi full , tempatnya di simprug, tak perlu bayar, dan jangan lupa lihatkan kartu anggauta kamu sebelum mengisi bensin. Tempat itu kini (tahun 2009) sudah ditutup, tempat itu sudah menjadi semak-semak, tapi masih terlihat bekas pengisisan bensin.
– Saya belum punya SIM, karena saya tak bisa stir mobil.
– Sekalian SIM nya juga kamu minta, tak perlu kasi uang, diapun tak berani menerima uang dari kamu.
– Mobil ini sering mogok.
– Kamu pergi ke Bengkel, yang paling baik, tapi ingat, bosnya yang punya harus orang Cina, suruh betulkan semuanya, kalau perlu diganti bagian –bagian yang hampir rusak.
– Wah pasti mahal harganya.
– Waktu ditagih, kamu berikan kartu kamu, dan katakan padanya supaya datang menagih kekantor CKN, dibagian cindiv (Cina division ). Pasti penagih tidak akan datang. Kartu CKN mu jangan dilihatkan dahulu sebelum mobil betul-betul baik.

Besoknya saya pergi kekantor polisi, yang mengeluarkan SIM, STNK , dan benar dalam waktu 2 jam, Nomor Plat Mobil saya telah diganti, STNK , malahan BPKB pun telah dibalik nama atas nama saya, (pada hal waktu itu sering bermasalah karena belum bayar pajak memasukkan mobil mewah build –up) dan pula saya diberi SIM, tanpa perlu ujian. Saya mengucapkan terima kasih dan polisi itu hormatnya bukan main.

Kepergian saya keluar negeri juga tanpa izin atasan , pada zaman itu, untuk keluar negeri, ada 4 macam paspor. Paspor swasta, paspor dinas (khusus pegawai negeri), paspor diplomatik (lembaga khusus dan Deplu) dan paspor untuk berhaji. Sejak saya bekerja di CKN itu saya telah punya paspor dan paspor saya, paspor diplomatic. Kawan saya di CKN bilang jangan sering-sering melihatkan paspor ini baik didalam maupun di luar negeri, baik kepada teman terdekatpun. Untuk keluar negeri selain punya pasport harus ada izin yang dinamakan exit – permit. Syarat untuk mendapat izin exit permit bagi swasta harus melunasi pajak tahun yang telah berjalan. Kalau pergi melalui izin departemen, memakai paspor dinas, maka pertama harus ada izin dari atasan, lalu ada izin bagian hukum kemudian kebagian hubungan luar negeri, untuk membuat rekomendasi ke Departemen Khusus. Hampir semua Departemen mempunyai bagian itu waktu itu. Setiap meja adalah uang, dan perlu waktu, kalau amplopnya kecil maka waktunya lama, amplop besar waktunya cepat.

Saya pergi untuk minta exit permit, ke suatu lembaga, dengan melampirkan paspor serta kartu identitas anggauta CKN saya, bagian penerimaan langsung mengantar saya kekepalanya, dan setelah satu orang selesai dia langsung memanggil saya.

-Pak Dokter berapa lama mau ke Inggris ,
– Cuma beberapa bulan
-Apakah tahun ini ada rencana keluar negeri lagi
-Mungkin

Kalau begitu saya akan beri Bapak dokter Multiple Exit –Permit selama setahun. Jadi selama setahun kalau saya mau keluar negeri, tak perlu minta exit-permit lagi. Benar juga rupanya kartu anggauta, adalah sebagai kredit card, untuk mendapat Multiple exit- permit saya tak mengeluarkan uang sepeserpun. Tapi saya juga tak punya uang, karena gaji dari banyak kantor, jumlahnya hanya cukup untuk hidup setengah bulan.

Dengan kata lain saya hari itu telah menyelesaikan exit permit pada paspor diplomatic saya, serta visa untuk ke Inggris selama 6 bulan, hanya dalam waktu beberapa jam tanpa pengeluaran uang satu senpun. Ketika itu hari baru pukul 15.00 jadi saya pergi kantor Depkes. Begitu sampai diruangan semua orang memberi tahu, bahwa saya dipangil oleh Bos.

Catatan
Saya mencoba menulis Autobiography saya dalam tulisan ini.
Karena tulisan ini mungkin akan menjadi buku, mungkin pula menjadi bagian dari Blog di Internet maka nama termasuk nama seluruh keluarga saya, karakter, tempat, institusi, situasi dari orang disamarkan, untuk mencegah adanya polemik, atau lebih luas lagi perasaan namanya dicemarkan.

Sebagai tulisan yang bukan suatu sejarah maka masalah waktu (time) mungkin tidak kronologis, adanya dialog, tentunya tidaklah persis benar. Ada orang-orang yang dalam tulisan ini tidak dirubah namanya, yaitu adalah (Alm) Prof. Dr. Kusumato Setyonegoro, sebagai guru, orang tua, maupun sebagai pembimbing disertasi Doktor saya, Prof.Ban yang saya kenal di Paris ketika ada workshop dari Rating Scale, ditahun 1980-an. Drg. Hawaliyah Farsicha sebagai istri saya. Juga tak diubah adalah berbagai instusi tempat saya pernah mengajar, menjadi kepala bagian, menjadi asisten pembantu dekan bidang kemahasiswaan, serta founder dari laboratorium Biokimia FKG Trisakti, Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, ,dimana saya pernah mengajar sebagai dari asisten ahli sampai lector, selama selama 10 tahun, (almamater saya dari S1, S2 sampai S3), Universitas Bina Nusantara , Departemen Kesehatan Direktorat kesehatan Jiwa, Department Psychology University of Leeds UK, Department. Physiology and Pharmacology University of New South Wales, Australia, Department of Biological Psychiatry , Lucknow, Utar Pradesh, India dan beberapa Institute lainnya yang tak membuat kontroversi. Sedangkan diluar itu maka nama-nama institute atau kantor baik swasta/ pemerintah adalah nama-nama yang telah diubah..
Semua kejadian yang diceritakan oleh saya adalah suatu kejadian yang benar adanya, paling kurang berdasarkan persepsi dan ingatan saya, atau mungkin ada sedikit apocrypanya.
Jadi dalam tulisan ini tidak akan menuliskan secara detail masalah-masalah yang sifatnya ilmiah dibidang psikiatri Biologik, (untuk itu bisa dibaca di Blog Psikiatri- Kusumanto – Yul Iskandar, tulisan disini adalah perspektif diluar bidang keilmuan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: