Mitwelt dan Cerebral Cortex

Berhubung dengan adanya relasi yang kontinyu dan yang berpengaruh secara timbal balik, maka lingkungan yang mengelilingi manusia akan selalu berobah pula arti dan maknanya, sesuai dengan perobahan perseptif manusia itu.
. . . . . yang pasti gerakan-gerakan yang datang dari motor cortex tersebut adalah gerakan yang sederhana, gerakan-gerakan yang dilakukan atas keinginan (at will), akan tetapi gerakan-gerakan yang lebih complex seperti menulis, berbicara, lari, dan segala kepandaian yang memerlukan latihan, agaknya memerlukan organ lain dan organ itu adalah cerebellum atau otak kecil.
Selanjutnya dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/03/26/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-51/


Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini. Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

MITWELT atau Dunia Bersama

Ini merupakan dunia atau alam kehidupan manusia yang dianggap ditempati oleh manusia-manusia lain yang ada relasi atau hubungannya dengan manusia-manusia lain pula, satu dengan lainnya. Dalam posisi dan situasi demikian itu, maka alam kehidupan ini penuh dengan relasi-relasi interaksi yang terjadi secara terus menerus. Dalam reaksi demikian itu orang terpengaruh oleh orang-orang lain selingkungannya, dan sebaliknya pun orang-orang dalam lingkungan itu mempengaruhi orang tersebut.
Berhubung dengan adanya relasi yang kontinyu dan yang berpengaruh secara timbal balik, maka lingkungan yang mengelilingi manusia akan selalu berobah pula arti dan maknanya, sesuai dengan perobahan perseptif manusia itu. Dapat pula dikatakan bahwa hubungan kita dengan orang amatlah ber-gantung daripada posisi kita terhadap orang itu.
Ini meliputi seluruh relasi yang mungkin dibayangkan dalam diri manusia, juga relasi kasih sayang atau cinta, dan lain-lain. Ini berarti, bahwa relasi antar manusia yang demikian itu sifatnya akan lain dari pada hanya beraspek biologi saja.
Benar ada istilah-istilah yang hendak menyarankan, bahwa manusia itu harus mengikhtiarkan penyesuaian diri (adaptasi) terhadap lingkungannya, tetapi mungkin relasi antar manusia itu mencakup hal-hal yang melebihi dari pada hanya bersifat adanya penyesuaian diri saja.
Ini berarti juga bahwa kita tidak hanya menganggap orang itu sekedar sebagai suatu objek tetapi juga sebagai sesama manusia dengan segala atribut-atribut peri kemanusiaan nya seperti individualitas, personaliti, dan lain-lain sebagainya
Jadi, agak berbeda dengan hal-hal yang terjadi dalam alam kehidupan UMWELT, maka dalam MITWELT kita tidak hanya terikat pada dalil-dalil mekanika dan fisika, tetapi perlu pula memperhatikan relasi-relasi yang terdapat dibidang psikodinamika. Malahan lebih dari itu, kita diwajibkan lebih memper-hatikan relasi Aku-Dikau, yang dalam pertemuan “Aku” dan “Dikau” mungkin sekali akan berubah secara cukup mendalam menjadi penjelmaan-penjelmaan yang lain dari pada semula. Distansi dan relasi berubah menjadi hal-hal yang penting dalam hubungan dengan soal kesadaran manusia.

(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)

Salah satu cara mendalami manusia, dari aspek organobiologik adalah dengan melihat cara dan faal manusia, khususnya cara kerja dari bagian terpenting dalam kehidupan manusia, yaitu organ otak.(bagian2)
Tentu saja pada sel yang lain akan terjadi hal yang sama, akan tetapi terjadinya tergantung pada impuls dan pesan yang disampaikan bila impuls sangat lemah maka akan diinhibisi oleh impuls yang lebih kuat, sampai impuls yang lebih kuat datang lagi mengalahkan impuls tersebut, atau impuls yang kuat itu menjadi lemah dengan sendirinya dan pada saat itu maka impuls lain akan menjadi dominan.
Suatu hal yang pasti gerakan-gerakan yang datang dari motor cortex tersebut adalah gerakan yang sederhana, gerakan-gerakan yang dilakukan atas keinginan (at will), akan tetapi gerakan-gerakan yang lebih complex seperti menulis, berbicara, lari, dan segala kepandaian yang memerlukan latihan, agaknya memerlukan organ lain dan organ itu adalah cerebellum atau otak kecil. Cerebellum agaknya merupakan komputer yang pertama didapatkan, dari evolusi manusia mulai dari ikan. Pada ikan cerebellum berfungsi sebagai komputer yang mengatur berenang dari ikan. Impuls-impuls dari syaraf sensoris diolah oleh cerebellum ikan sebagai inputnya, dan hasilnya gerakan-gerakan renang dari ikan yang demikian persisnya, yang jauh lebih baik dari kapal selam atom yang terbaik sekalipun.
Dengan berkembangnya evolusi maka cerebellum pun berevolusi dan meningkatkan kegunaannya untuk segala keperluan pengolahan data yang datang dari luar dari reseptor-reseptor organ. Pada burung misalnya cerebellum dipergunakan untuk gerakan terbang, suatu gerakan yang sangat complex. Gerakan-gerakan complex yang didapat dan dipelajari (skilled movement) memerlukan kontrol dari cerebellum. Makin complex gerakan itu, makin sulit gerakan itu, maka memerlukan kontrol yang lebih dalam dari cerebellum dan lebih sedikit kontrol dari cortex motoris atau dari cerebral hemisphere.
Bila kita memukul atau bermain bulu tangkis, atau menulis tanda tangan maka kontrol dari cortex cerebri haruslah seminimal mungkin. Begitu juga dengan mengendarai kendaraan dan lain-lain gerakan. Tentu saja semua kepandaian dan gerakan-gerakan itu harus dipelajari dan dilatih berulang-ulang, makin lama latihan, makin sering gerakan itu diulang makin haluslah gerakan itu.
Dengan demikian adalah sangat penting untuk sejak masa bayi memberikan gerakan-gerakan latihan mulai dari yang paling sederhana dan berangsur-angsur dengan gerakan-gerakan yang paling complex.
Berbicara, bernyanyi, menari adalah gerakan-gerakan yang sangat baik untuk perkembangan dari cerebellum tersebut.
( Yul Iskandar., MD., SpKJ., PhD)

Dalam istilah-istilah kami dengan sendirinya soal kesadaran itu menjadi soal yang serious , karena sekarang memenuhi syarat-syarat untuk meng-ichtiar-kan relasi dan limitasi pada diri mnusia masing-masing.
Dengan meneliti lebih lanjut perkembangan-perkembangan dari pada interaksi antara “Aku” dan “Dikau”, maka jelaslah bahwa kita telah memasuki suatu bidang yang luas dan mendalam. Disatu pihak bidang ini memberikan kesempatan bagi kita untuk bekerja vertikal, yaitu ke arah mendalam seperti dikerjakan oleh pelbagai aliran psikologi mendalam (depth psychologies) ; dipihak lain terbuka kemungkinan yang sama lebarnya untuk mengerjakan eksperimentasi dan penelitian ke arah jurusan membidang atau horizontal, yang lazimnya dikerjakan oleh pelbagai teori-teori lapangan (field theories), yang diketahui oleh para ahli psikologi yang beroreantasi non analytik.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang dikemukakan sebelumnya maka dapat dipastikan bahwa bidang – bidang interaksi mitwelt ini untuk sebagian terbesar dikuasai oleh kekuatan kekuatan psikodinamika sehingga cukup tepat kiranya untuk menyebutnya sebagai alam kehidupan psikodinamika. Hal lain yang dapat pula dipastikan ialah kecendrungan umum daripada pelbagai aliran psikologi dinamika (terkecuali aliran psikoanalisa ortodox) untuk secara progresif mengizinkan keleluasaan bergerak dari pada aku (ego).

Hal ini dapat diartikan bahwa konstruksi orisinal (aseli) yang terdiri dari pada “tri tunggal” : ego-id-super ego, pada asasnya sekarang mulai digugat oleh pelbagai pihak. Setidak-tidaknya ada tendensi yang nyata untuk menggeserkan titik berat kepentingan dorongan-dorongan motivasional dari pada alam tak sadar ke arah alam yang lebih sadar, jadi ke bidang kekuasaan ego. Ini berarti lebih lanjut, bahwa arti dan makna dari pada unsur ego secara relatif dipandang penting dan lebih kuat, sehingga menuju ke arah suatu kondisi “otonomi Aku (ego autonomy)”.
Dengan sendirinya, maka jasa-jasa dari pada aliran psikoanalisa orthodox tidak dapat dilupakan begitu saja, lebih-lebih oleh karena kontruksi dari pada ego atau “Aku” itu tidak dapat diisolasikan begitu saja dari pada unsur-unsur lain, yaitu alam tak sadar (Id) dan super ego.
Walaupun demikian, menurut hemat kami pada perkembangan dewasa sekarang, dalam bidang alam kehidupan MITWELT dapat dikemukakan adanya beberapa daya-daya atau kekuatan-kekuatan tertentu yang terikat secara khas pada “Aku (ego)” itu, yang dapat bermanfaat bagi konseptualisasi dari pada struktur kepribadian penderita mental.

(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)

Setelah kita mempelajari cerebellum sebagai suatu pusat komputer untuk kontrol gerakan-gerakan motoris, maka sebenarnya hampir setiap kelompok sel neuron merupakan kesatuan unit dari komputer. Misalnya kini telah jelas unit-unit untuk exekusi motoris pada cortex cerebri, unit interpretasi untuk penglihatan, untuk pendengaran dan sebagainya. Salah satu unit pada hippocampus merupakan unit tempat menyimpan (storage) dari memory (ingatan). Sebagai komputer maka ingatan tersebut dapat berbentuk short term memory (ingatan jangka pendek) dan long term memory (ingatan jangka panjang). Sedikitnya ada tiga sistem memori , yaitu: sistem penyimpanan jangka sangat pendek, sistem penyimpanan ingatan jangka pendek dan sistem penyimpanan ingatan jangka panjang. Sistem penyimpanan jangka sangat pendek, artinya anak memiliki kemampuan menerima sejumlah besar informasi. Bila informasi diberikan secara serentak, informasi tersebut hanya bertahan dalam waktu sekejap. Informasi yang bertahan dalam waktu sekejap tidak akan menjadi pengetahuan. Oleh karena itu pemberian informasi kepada anak sebaiknya secara bertahap dan tidak dalam jumlah besar, meskipun kelihatannya anak haus akan informasi. Sistem ingatan jangka pendek, artinya anak memiliki kemampuan menerima sejumlah informasi lebih kecil. Informasi yang diterima dapat bertahan. Dalam waktu yang singkat terjadi usaha untuk menghubungkan informasi dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Bila informasi itu berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki anak maka informasi itu akan bertahan lebih lama. Tetapi jika usaha itu gagal, informasi akan hilang. Ingatan jangka pendek merupakan “tape”, di mana energi-energi potensial tertentu ditinggalkan dalam suatu kesatuan-kesatuan unit dari neuronal. Bila diperlukan maka bila neuronal-neuronal tertentu itu melalui sirkuit tersebut, kita akan ingat kembali. Disinilah perlunya memberikan pengalaman yang dialami, dirasakan dan dicoba sendiri oleh anak. Sistem ingatan jangka panjang, artinya anak mempunyai kemampuan menerima sejumlah kecil informasi. Jika hubungan antara informasi yang datang dan pengetahuan yang dimiliki cukup kuat, maka informasi manjadi terintegrasi sebagai bagian dari struktur konsep dan pengetahuan yang permanen.

Ingatan jangka panjang terjadi karena perubahan pada synap-synap sehingga memungkinkan synap-synap tertentu menjadi lebih cepat komunikasinya. Dalam penyelidikan terlihat synap yang tak terpakai akan berdegenerasi, sedangkan synap yang sering dipakai akan menunjukkkan pertumbuhan atau hypertropi. Dalam ingatan jangka panjang diperlukan perubahan mikrostruktur dari neuron. Di sinilah pentingnya orangtua dan guru mengetahui cara memberikan stimulus yang benar. Lembaga sebagai tempat proses belajar mengajar dapat mengoptimalkan peran orangtua dan guru sehingga anak belajar melalui bermain secara berulang dan bertahap dengan mengoptimalkan fungsi otaknya. perkataan, perkataan itu tiada lain dari pada tekanan udara, yang dengan frekwensi tertentu mencapai reseptor organ pada telinga. Bila perkataan atau kata-kata itu kita pecah-pecah maka terdiri dari berbagai bagian yang dinamakan konsonan dan vokal. ( Yul Iskandar., MD., SpKJ., PhD)

Terlebih dahulu harus dikemukakan bahwa aku itu rupa-rupanya memiliki suatu daya kekuatan total tertentu yang kira-kira dapat disamakan dengan apa yang lazimnya dinamakan sebagai kekuatan ego (Ego strength). Sekali lagi perlu disebutkan bahwa istilah ego atau di Indonesiakan menjadi Aku itu dipinjam dari pada alam fikir psikoanalisa ortodox, sedang isi dan maknanya (pada saat ini) diusahakan untuk memiliki corak-corak yang tersendiri.
Dalam alam kehidupan psikodinamika, fungsi-fungsi dari pada “Aku (ego)” itu dapat dibayangkan dapat meliputi daerah-daerah (areas) tertentu :

Pertama : “Aku” mengadakan hubungan dengan dunia luar.

Ini adalah salah satu tugas fundamental, yang diakui oleh semua aliran psikodinamika. “Aku” harus menilai dan menafsirkan obyek-obyek yang ada di dunia luar ; dalam istilah psikodinamika, hal itu sering disebut sebagai usaha menilai dunia luar (reality testing) yang jadi pokok atau pegangan untuk mengusahakan adaptasi terhadap dunia luar.
Dengan sendirinya maka Aku (Ego)yang sehat dapat mengadakan relasi yang baik dan memuaskan (harmonis) dengan dunia luar yang terdiri daripada manusia-manusia , dapat menjamin dan melaksanakan suatu taraf adaptasi yang tak terlampau merosot dan tidak terlampau tegang, juga dalam suatu jangka waktu yang cukup lama.
Dipihak lain Aku memberikan bentuk-bentuk yang akseptabel bagi dunia luar daripada segala keinginan-keinginan (juga yang bersifat dorongan-dorongan instingtual). Oleh karena itu maka Aku dapat mengadakan pembatasan yang realistik terhadap hal-hal yang terjadi disekitarnya, sehingga taraf dan isi kesadarannya cukup terjamin.

Kedua : “Aku” mengadakan hubungan dengan dunia dalam dari “Aku” sendiri.

Ini adalah tugas fundamental lain, yang terjadi dan berlangsung dengan efisien apabila manusia dalam keadaan kesehatan jiwa. “Aku” dapat bertindak mengatur secara efisien, segala fungsi-fungsi khusus (spesifik) yang diharuskan untuk penerimaan dan pengelolahan materi persepsional. Pengelolahan yang wajar dan efisien itu meliputi pengaturan timbul dan arahnya kehendak ; berlangsungnya proses pikir yang selektif, konstruktif dan integratif; berlangsungnya daya konsentrasi dan daya ingatan yang bermanfaat optimal ; terjadinya daya melahirkan pendapat diskriminatif dan daya pengertian tentang dirinya sendiri yang bertaraf cukup ; dan akhirnya berlangsungnya segala fungsi yang bersifat syntetik.

(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)

Perkataan Maaamaa yang didengar oleh bayi sebagai suatu kombinasi dari frekwensi tekanan udara pada telinga 250, 950, 950, 950, 250, 950, 950. Adanya pengaktivan neuron (exitasi) dengan frekwensi demikian tidak mempunyai arti apa-apa, akan tetapi frekwensi yang demikian selalu datang bersamaan dengan stimulus-stimulus dari penglihatan, perabaan, sehingga lama-lama si bayi “mengerti” bahwa dengan frekwensi demikian maka akan timbul stimulus tertentu pada neuron-neuron lain yang bersamaan. Dengan adanya beberapa stimulus yang datang bersamaan maka synap-synap antara yang satu dan yang lain akan bertambah besar, dan akan dengan mudah terjadi. Dengan demikian makin lama si bayi akan mengembangkan beberapa kombinasi yang akan menghasilkan stimulus yang complex yang datang bersamaan.
Setelah Maa ma, lalu Paa pa. Dengan cara berkombinasi itu maka mulailah si bayi bisa berkomunikasi dengan dunia luar dengan lebih baik. Oleh sebab itu bahasa merupakan second signal (menurut istilah Pavlov), yang merupakan sistim sirkuit baru dari pusat-pusat memory.

Hanya manusia dapat membuat sistem sirkuit ini dan tidak pada binatang, pada binatang sistem komunikasi hanyalah melalui sistem komunikasi first signal . Dengan evolusi ini sistem memori lebih dipermudah. First signal yang tak dapat dikelompokkan dalam second signal tidak dapat dismpan dalam memori. Kita tak dapat mengingat sesuatu yang tak dapat kita katakan. Dengan demikian memori kita terhindar dari penyimpanan ratusan atau jutaan stimulus yang datang setiap saat.
( Yul Iskandar., MD., SpKJ., PhD)

Berdasarkan berlangsungnya pengolahan-pengolahan yang efisien itu maka Aku yang sehat dapat melakukan usaha-usaha yang kontinyu dan produktif, sehingga bermanfaan bagi dirinya dan sekitarnya.

Ketiga : “Aku” mengadakan reaksi terhadap pelbagai peristiwa, terutama yang bersifat frustratif.

Ini adalah tugas fundamental yang ketiga dan yang terakhir, yang oleh “Aku” yang sehat, dapat diharapkan maupun dilaksanakan dengan cukup baik dan bermanfaat. “Aku” harus mampu bertindak defensif sampai kepadaa batasan-batasan yang ekstrem normal tertentu. “Aku” dapat menggunakan seluruh skala mekanisme defensif, seperti regresi, sublimasi, projeksi, dan lain-lain, dengan syarat, bahwa segala ikhtiar defensifnya itu pada dasar dan pada essensinya bersifat normal.

(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: