Kedokteran-Psikopatogi-filsafat dan Pengobatan Geriatrik

Oleh karena itu, maka secara implisit pada psikiater terletak kewajiban untuk mengusahakan suatu perpaduan tentang aspek-aspek ilmu kedokteran, pengetahuan psikologi dan / atau psikopatologi dan pengertian-pengertian dasar mengenai filsafat dan metafisika, dalam meninjau obyek kedokteran jiwa.
Factors that should be regarded in the treatment of the elderly include an increased sensitivity for anticholinergic properties of drugs, an increased sensitivity for extrapyramidal symptoms, an increased risk for orthostatic hypotension and ECG changes, and possible paradoxical reactions to benzodiazepines
Selanjutnya dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/02/10/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-49/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (49)
R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (49)

Dengan menerima ketiga-tiga alam kehidupan manusia itu, maka bagi psikiater sekarang ada pegangan yang lebih kokoh untuk menilik dan menyelidiki kesehatan atau gangguan kesehatan manusia yang dihadapinya dalam konsultasi yang dimintakan padanya. Psikiater dapat memberikan penilaian dan perumusan tentang hal ikhwal yang didapati dan yang hendak dijelaskannya dengan menggunakan unsur-unsur yang berlaku dalam masing-masing akan kehidupan manusia itu.
(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)

Salah satu factor dalam pengobatan yang bersifat eclectic adalah pengobatan pada geriatric. Kami kemukakan dan diambil dari journal ilmiah, sengaja tak diterjemahkan supaya isinya sama seperti yang dikemukakan oleh penulisnya.
Factors that should be regarded in the treatment of the elderly include an increased sensitivity for anticholinergic properties of drugs, an increased sensitivity for extrapyramidal symptoms, an increased risk for orthostatic hypotension and ECG changes, and possible paradoxical reactions to benzodiazepines which include depression, with or without suicidal tendencies, phobias, aggressiveness, violent behaviour, and symptoms misdiagnosed as psychosis. Thus, treatment with TCAs or benzodiazepines is less favorable, while SSRIs, buspirone and moclobemide appear to be safe.
However, very few randomized controlled studies exist that investigate the treatment of anxiety in the elderly.
– One DBPC trial studied elderly patients aged 65 years and older and showed that pregabalin is efficacious and safe in this population .
– An analysis of the patients aged 60 years and older from a pooled database of five placebo controlled studies and older indicated that venlafaxine is efficacious in elderly patients with GAD.
– In a small DBPC study with participants aged 60 and older with a DSM-IV anxiety disorder (mainly generalized anxiety disorder), more patients were improved with citalopram than with placebo.

(Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD)

Asas Holistik (Ganzheit Princip)
Adapun yang dimaksud dengan asas ini ialah keharusan untuk meninjau manusia dalam ilmu kedokteran jiwa, sebagai suatu unitas keseluruhan utuh, dengan menitikberatkan segala sesuatu yang berperi-kemanusiaan sebagai obyek kedokteran jiwa, baik dalam relasinya terhadap dirinya sendiri, maupun dalam relasinya dalam hubungan antar manusia.

Oleh karena itu, maka secara implisit pada psikiater terletak kewajiban untuk mengusahakan suatu perpaduan tentang aspek-aspek ilmu kedokteran, pengetahuan psikologi dan / atau psikopatologi dan pengertian-pengertian dasar mengenai filsafat dan metafisika, dalam meninjau obyek kedokteran jiwa.

Perpaduan yang demikian itu dianggap salah satu syarat yang terpenting karena hanya dengan perpaduan yang dimaksud itu perpaduan holisma dan eklekticisma dapat terhindar dari pada menitikberatkan salah satu aspek secara berlebihan.

Dalam hal psikiater berjumpa dengan keadaan yang tidak normal atau psikopatologi, maka ia dapat berbicara sebagai dokter. Ia dapat menyebut manusia yang datang kepadanya untuk pertolongan sebagai seorang pasien ; seorang manusia yang berada dalam keadaan sakit. Sikap yang demikian itu adalah suatu sikap yang sah dan wajar, sebab hanya sebagai dokter saja, ia dapat menentukan keadaan sakit itu serta dapat mengambil tindakan-tindakan kedokteran yang diangggapnya tepat untuk mempertahankan atau mungkin lebih tepat, menaikan taraf kesehatan dan kesejahteraan penderita itu.
(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)
Treatment of Patients with Cardiovascular Disease
TCAs are best avoided in patients with cardiac disease, as they can increase heart rate, increase the QT interval, induce orthostatic hypotension, slow cardiac conduction, and have significant quinidine-like effects on conduction within the myocardium. By contrast, the SSRIs have minimal effects on cardiovascular function and may have potentially beneficial effects on platelet aggregation. Potential cardiovascular side effects from venlafaxine and duloxetine must be considered. In a study with depressed patients aged 60 and older, venlafaxine was well tolerated. However, undesirable cardiovascular effects occurred in some of the participants. Another study of depressed patients on high dose venlafaxine (mean 346 mg; range 225–525 mg) did not demonstrate any clinical or statistically significant effects on electrocardiographic (ECG) parameters.
(Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD)

Tetapi pada saat yang bersamaan pula, maka dokter itu juga dapat bertindak akan bersikap sebagai manusia yang meninjau pada manusia lain yang ada dalam derita. Cara meninjau yang demikian itu mengandung aspek-aspek lain yang mungkin tidak terletak dibidang ilmu kedokteran, tetapi mungkin lebih tepat dibidang pengetahuan psikologi, filsafat atau metafisika.

Dengan demikian, maka psikiater dapat mengimbangi tendensi-tendensi dalam dirinya yang mungkin terbawa oleh pengaruh status dokternya, dengan menginsyafi, bahwa ia patut pula berstatus sebagai manusia menghadapi manusia lain.
Prinsip holistik menghendaki, agar psikiater tetap waspada terhadap segi-segi kedokteran dalam diri penderita yang dihadapinya, tetapi pada waktu yang sama, sama waspada untuk jangan terjerumus dalam mengidentifikasi terlalu erat penderitaan pasien dengan diagnosa klasifikator menurut sesuatu sistem nosologik. Penilain-penilaian dan pengertian-pengertian haruslah diintegrasikan secara holistik sebelum psikiater dapat mengemukakan hal-hal yang bersifat saran-saran konstruktif.
(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)
Anxiety disorders in severe somatic disease
Patients with cardiovascular, cerebrovascular and endocrine disease may have adequate and reasonable anxiety reactions associated with their somatic disease state. They may also suffer from comorbid primary anxiety disorders. Such anxiety disorders are believed to compound the management and the prognosis of chronic obstructive pulmonary disease, coronary artery disease or myocardial infarcation, diabetes mellitus or brain injury. An anxiety factor based on four scales measuring psychasthenia, social introversion, phobia, and manifest anxiety independently and prospectively predicted the incidence of myocardial infarction in a study of older men. A diagnosis of GAD incurred an odds ratio of 2.09 of a major cardiac event within in a 2-year period. Survivors of a traumatic brain injury are susceptible to GAD and PTSD. A review of studies of anxiolytic treatments in patients with chronic obstructive pulmonary disease (COPD) and comorbid GAD or panic disorder indicate that such treatment may improve both the physical and mental health.
Still, since patients with severe somatic disease are excluded from studies, controlled studies that show robust benefit of anxiolytic therapy on vital variables of the somatic condition (e.g. HbA1c, FEV%, myocardial infarction or stroke) are lacking.
Anxiety symptoms may also be a consequence of medical conditions, such as hyperthyroidism.
(Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD)

Penting kiranya dicatat disini, bahwa untuk ketiga-tiga alam kehidupan manusia rupa-rupanya berlaku dalil-dalil dan hukum-hukum yang tersendiri, dan yang walaupun ada interaksi pengaruh mempengaruhi, belum lagi ada kepastian yang sesempurna-sempurnya tentang cara kerja mereka itu.

1). Ada sejumlah dalil atau hukum yang khas berlandaskan konsep-konsep dalam ilmu fisika dan ilmu hayat, yang agaknya berlaku penuh bagi alam kehidupan organobiologi yang bertaraf vegetatif dan animal.

2) Ada pula sekumpulan dalil dan ketentuan yang dapat dianggap berasal dari pada aliran-aliran ilmu-ilmu psikologi mendalam (yang juga disebutkan sebagai psikologi-psikologi analitik; depth or analytic psychologies) dan pengetahuan tentang psikodinamika, yang dapat dianggap berlaku bagi alam kehidupan manusia yang terorganisasi secara bio psikologi. Alam kehidupan psikodinamika ini seringkali hendak menjelaskan hal-hal berdasarkan asas homeostatis, yang menjadi pokok dari pada segala konsekwensi dalam mekanisme penyesuaian diri dan gangguan-gangguan keseimbangan psikologi.

3) Dan akhirnya ada sejumlah konsep atau paham yang berlandaskan kuat pada segi-segi filsafat fenomenologi yang khususnya mementingkan hidup eksistensi individual manusia. Konsep-konsep dan faham-faham itu bertujuan untuk memberikan sorotan pada peristiwa peristiwa atau yang dialami manusia atas dasar ontologik. Kumpulan konsep itu pada dasarnya menentang tendensi-tendensi tertentu dikalangan tertentu pula, yang mau menganggap bahwa manusia itu sebetulnya merupakan suatu organisasi struktural yang berdasarkan atas faham-faham ilmiah.

Yang hendak dikemukakan oleh konsep-konsep yang mementingkan eksistensi individual manusia ialah keyakinan, bahwa manusia hanya dapat dipahami secara sempurna apabila kita mau memahami segala bentuk dan manifestasi kehidupan itu, sebagai suatu kehidupan human (to understand man is to understand his human existence). Oleh sebab itu, maka manusia dapat dianggap kehilangan sebagian atau seluruh kesadaran humannya (jadi juga kehidupan humannya), apabila ia berada dalam keadaan sakit jiwa.

Oleh sebab itu maka tinjauan atau pendekatan menurut existensi individual manusia seperti diuraikan diatas itu, juga memperlihatkan segi-segi ontologi. Manusia dianggap bahwa dengan menghadapi dan melintasi pelbagai tantangan dan kesulitan yang khas , ia menjelmakan bagi dirinya suatu kehidupan human, suatu existensi individual yang bersifat human.

Patokan yang demikian hal yang penting untuk menghindari timbulnya faham bahwa dalam diri manusia itu yang terpenting ialah seolah-olah problematika ilmiah, sehingga problematika human kemudian menjadi kedudukan yang sekunder.

Apabila ada ilmu yang berkesimpulan demikian, maka ilmu itu dianggap telah mengalami pertumbuhan yang menyimpang atau miring. Ilmu yang demikian itu bertendendensi kuat untuk memandang manusia banyak sedikitnya menyerupai mesin. Apabila keyakinan demikian menjadi universal maka ilmu kemudian menjadi ekivalen dengan usaha penimbunan kemahiran teknik semata-mata. Tidak mustahil pula bahwa perkembangan lebih lanjut daripada pendapat demikian akan bercorak nihilistik.

(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)
Future Research
For a number of putative anxiolytic compounds currently under development only preclinical or preliminary data exist. These include 5-HT1A-agonists, 5-HT2C-agonists, 5-HT2-antagonists, 5-HT3-antagonists, beta-carbolines, sigma ligands, tachykinin receptor antagonists, glutamate receptor agonists, neuropeptide Y agonists, CRH receptor antagonists, natriuretic peptide, and nitroflavanoids.
Conclusions
The recommendations in this guideline are primarily based on randomized, controlled, double-blind trials. However, controlled studies do not always reflect clinical reality and have their shortcomings, e.g. the exclusion of comorbid, suicidal, or medically ill patients. Moreover, it must be seen critically that some treatment modalities that may be effective in treating anxiety disorders have not yet been investigated in well-controlled trials usually because no financial support is available. Absence of evidence is not the same as evidence of absence of an effect. Nevertheless, without controlled trials as gold standard, any treatment recommendation should be understood as based on educated, but anecdotal evidence.
In summary, due to increased efforts in the systematic clinical evaluation of psychopharmacological agents in the treatment of anxiety in the recent years, a comprehensive database has accrued, so that precise recommendations can be provided for treating the anxiety disorders, OCD and PTSD. In most cases, drug treatment, preferably in combination with non-pharmacological treatments such as cognitive behavioral therapy (CBT), may substantially improve quality of life in patients with these disorders.
(Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD)

Tinjauan yang mendasarkan diri atas adanya existensi individual manusia berpendapat bahwa dapat diusahakan suatu pengetahuan tentang manusia tanpa keharusan untuk menguraikan manusia itu menjadi fragmen-fragmen detail ilmiah yang dianggapnya akan senantiasa bertendensi menghancurkan segi-segi perikemanusian yang justru dianggap yang terpenting.

Demikianlah, maka secara kesimpulan umum, dapat dikemukakan sekarang, bahwa asas holistik menghendaki agar manusia dalam ilmu kedokteran jiwa, ditinjau secara ilmiah (scientific) dan secara ontologik (ontologic) bersama-sama. Ini berarti bahwa asas holistik dalam ilmu kedokteran jiwa mengharuskan psikiater untuk secara konsisten mengusahakan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang relevan, dan pada waktu yang bersamaan, wajib pula diusahakan pengetahuan dan pengertian tentang hakekat-hakekat dari pada penjelmaan kehidupan human, yang dihadapinya dalam diri manusia yang ada dalam derita.

Dalam mengakhiri Bab ini, ada baiknya jika dibawah ini secara formulasi lain dikemukakan lagi bebarapa hal pedoman umum bagi pengamalan pendekatan eklektik holistik terhadap kepada kasuistik psikiatri.
Pendekatan eklektik holistik menganjurkan kepada psikiater untuk memperhatikan semua dalil dan ketentuan yang dianggap berlaku penuh bagi masing-masing dunia atau alam kehidupan manusia secara tersendiri-tersendiri.
Dengan perkataan lain dapat pula dikatakan, bahwa dalil-dalil dan hukum-hukum itu dapat dianggap memiliki daerah indikasi yang tersendiri-tersendiri. Akan tetapi sebaliknya pun benar ; hal ini belum berarti, bahwa dalil-dalil dan hukum-hukum itu juga berlaku sama penuhnya untuk dunia atau alam kehidupan manusia yang lainnya.
Oleh karena itu, maka psikiater harus bersikap penuh kesangsian yang kritik dan penuh reserve yang sebesar-besarnya untuk jangan terpesona atau terjerumus untuk menyatakan berlakunya suatu dalil atau hukum universal yang berlaku untuk semua alam kehidupan manusia. Seringkali tendensi-tendensi untuk melihat atau memperlihatkan analogi simbolik, atau paralelisme simbolik, dijadikan alasan untuk memproklamirkan berlakunya dalil atau hukum universal seperti yang dimaksudkan itu.
Walaupun demikian kita tidak dapat menutup mata untuk adanya fakta-fakta dan peristiwa-peristiwa yang rupa-rupanya terjadi dipelbagai alam kehidupan manusia yang seolah-olah menunggu interpretasi atau penjelasan. Berdasarkan pendekatan eklektik holistik maka psikiater berpendapat bahwa hal fakta dan peristiwa yang tersebut diatas itu terjadi atas dasar proses pengaruh mempengaruhi secara interaksional (interactively influencing).
Prinsip ini perlu kita pertahankan karena prinsip demikian itu merupakan sendi dasar sikap eklektik yang bertujuan integratif, jadi holistik. Oleh karena itu, maka psikiater harus waspada tiada henti-hentinya untuk terus memperhatikan penemuan, pendapat dan hasil akibat yang diciptakan para ahli dibidang-bidang masing-masing. Psikiater harus terus bersikap terbuka dan terus menghindarkan diri dari pada suatu sikap menutup diri terhadap perkembangan-perkembangan ilmiah yang dapat diharapkan akan terus terjadi sepanjang masa.
Pendekatan eklektik holistik juga menghendaki agar psikiater tetap menghargai dan menilai setinggi-tingginya hakekat kualitas. Istilah-istilah seperti “Gestalt” dan “Konfiguration” menyarankan ke arah unitas holistik yang tiada terpisah-pisahkan itu. Dan kehidupan atau eksistensi individual human, justrulah merupakan suatu unitas holistik demikian itu.
Psikiater hendaknya memahami bahwa masing-masing corak-corak individual seorang manusia . Maka terjadilah konfigurasi yang menyeluruh, tetapi tak sama dengan penjumlahan statistik semata-mata.
Bagi psikiater yang hendak mendudukkan diri dalam posisi pendekatan eklektik holistik ini, maka implikasi utamanya ialah bahwa dalam menghadapi penderita psikiatri, ia berniat dan bermaksud untuk sedapat-dapatnya memahami penderita itu sebagai manusia.
Psikiater patut mengetahui, bahwa banyak pengetahuan-pengetahuan memperhatikan penderita mental itu dengan menitikberatkan salah satu segi dalam diri penderita itu. Artinya, pengetahuan-pengetahuan itu pada analisa terakhir merupakan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan penderita mental itu, dan bukannya merupakan pengetahuan tentang hakekat manusia yang terdapat dalam diri penderita mental kita (sciences which relate to the person, not sciences of the person). Antara lain dapat disebutkan : ilmu faal, ilmu sakit (=patology), sosiologi, antropologi, dan lain-lain. Semua ilmu-ilmu itu bertujuan untuk memberikan sorotan pada salah satu segi dari penderita mental, dan tidak pernah bermaksud untuk menilik manusia itu sebagai suatu keseluruhan human.

Psikiater patut insyaf pula, bahwa seharusnya memang tidak ada satu ilmu pun yang bertujuan untuk meninjau hakekat manusia kecuali filsafat dan metafisika. Dalam hubungan demikian itu, maka prinsip holistik harus juga ditafsirkan sebagai pengakuan tentang pentingnya aspek-aspek ilmiah itu, dengan syarat bahwa penelitian-penelitian itu didasarkan atas prinsip eklektik, dan bukanlah bersifat atau bertendensi absolutismus.
Demikianlah, maka psikiater wajib sadar seterusnya bahwa asas eklektik dan asas holistik haruslah terjalin secara integratif, dan bahwa kedua-dua prinsip itu harus berjalan bersama-sama secara tidak terpisah-pisahkan. Psikiater hendaaknya senantiasa bersikap moderat dan terbuka; selalu sadar dan waspada akan relasi-relasi dan limitasi-limitasi dari pada segala dalil-dalil ilmiah. Dan akhirnya psikiater hendaknya yakin bahwa pendekatan eklektik holistik ini akan dapat merupakan salah satu landasan yang baik bagi suatu kerjasama yang terhormat dan yang bernilai, secara inter atau multi disipliner, dengan para ahli lain baik yang tergabung dalam ilmu-ilmu Natur-wissen-schaftlich maupun ilmu-ilmu Geistes-wissen-schaftlich, yang terarah dan tertuju pada suatu kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi penderita mental kita.

(R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: