Autobiogrphy Dr. Yul Iskandar (2)

Autobiogrphy Dr. Yul Iskandar (2)

Karena tulisan ini mungkin akan menjadi buku, mungkin pula menjadi bagian dari Blog di Internet maka nama termasuk nama seluruh keluarga saya, karakter, tempat, institusi, situasi dari orang disamarkan, untuk mencegah adanya polemic.
Sebagai tulisan yang bukan suatu sejarah maka masalah waktu (time) mungkin tidak kronologis, adanya dialog, tentunya tidaklah persis benar. Ada orang-orang yang dalam tulisan ini tidak dirubah namanya, yaitu adalah (Alm) Prof. Dr. Kusumato Setyonegoro, sebagai guru, orang tua, maupun sebagai pembimbing disertasi Doktor saya, Prof.Ban yang saya kenal di Paris ketika ada workshop dari Rating Scale, ditahun 1980-an. Drg. Hawaliyah Farsicha sebagai istri saya. Juga tak diubah adalah berbagai instusi tempat saya pernah mengajar, menjadi kepala bagian, menjadi asisten pembantu dekan bidang kemahasiswaan, serta founder dari laboratorium Biokimia FKG Trisakti, Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, ,dimana saya pernah mengajar sebagai dari asisten ahli sampai lector, selama selama 10 tahun, (almamater saya dari S1, S2 sampai S3), Universitas Bina Nusantara , Departemen Kesehatan Direktorat kesehatan Jiwa, Department Psychology University of Leeds UK, Department. Physiology and Pharmacology University of New South Wales, Australia, Department of Biological Psychiatry , Lucknow, Utar Pradesh, India dan beberapa Institute lainnya yang tak membuat kontroversi. Sedangkan diluar itu maka nama-nama institute atau kantor baik swasta/ pemerintah adalah nama-nama yang telah diubah..

Semua kejadian yang diceritakan oleh saya adalah suatu kejadian yang benar adanya, paling kurang berdasarkan persepsi dan ingatan saya, atau mungkin ada sedikit apocrypanya. Saya tak akan berpolemik, dan melayani polemik untuk tulisan ini, karena tujuan utama menulis disini adalah untuk sebagai pelajaran, dan tentu bukan pelajaran psikiatri biologic dan psikofarmakologi yang saya kuasai, akan tetapi pelajaran tentang hidup diluar psikiatri, bagaimana kita supaya survive, jatuh, bangun lagi, jatuh lagi bangun lagi dst. Walaupun hal ini tidak mudah. Jadi dalam tulisan ini tidak akan menuliskan secara detail masalah-masalah yang sifatnya ilmiah dibidang psikiatri Biologik, (untuk itu bisa dibaca di Blog Psikiatri- Kusumanto – Yul Iskandar, tulisan disini adalah perspektif diluar bidang keilmuan itu.

Bagian 2
Pada saat itu saya sedang dikantor Center Keamanan Nasional (CKN), untuk mengambil Pasport (dipomatik) serta Visa untuk ke Inggris. Saya dulu pernah bekerja di CKN (kantor ini dibubarkan tahun 1998, ketika zaman reformasi ), dan sebenarnya hanya sebagai dokter poliklinik biasa, bukan staf organik, dengan pasien rata-rata 200 orang pasien perhari (biasanya dalam waktu 2-3 jam seluruh pasien telah tertangani). Honor yang saya terima sama dengan gaji sopir saya.

Bagaimana saya bisa bekerja dan apa saja yang saya lakukan di CKN, ada cerita di bab tersendiri . Secara ringkas saya masuk kesana satu bulan setelah lulus jadi dokter. Jaman itu yang jadi dokter tidak banyak, mengerjakan pekerjaan poliklinik dengan jumlah pasien sekian dan honor sekian sukar dicari. Tapi saya mau saja diminta menggantikan dokter Prabu Ganesya senior saya di bagian psikiatri FKUI. Pada waktu itu saya masih bekerja sebagai dosen Full Timer di bagian psikiatri. Ternyata ajudan ketua CKN adalah kapten Surip, bekas teman saya satu kelas waktu SMA dari kota Bogor. Dengan adanya kapten Surip akhirnya saya dijadikan dokter tetap, bukan dokter pengganti , tapi tetap dokter part timer CKN (3 kali seminggu) Karena saya jadi dokter tetap, maka jadilah saya anggauta CKN sehingga mendapat kartu tanda anggauta CKN. Sekali anda menjadi anggauta CKN akan tetap menjadi anggauta CKN, walaupun anda tak akan mendapat gaji, kecuali memberikan informasi dan analisis keadaan.

Tentu saja saya bekerja sebagai dokter di CKN dengan persetujuan FKUI, dan FKG Trisakti. Selain di FKUI saya juga mengajar dan menjadi kepala Bagian Biokimia FKG Trisakti pekerjaan saya sebagai pengajar dan kepala Bagian Biokimia FKG Trisakti waktu itu diketahui oleh Prof. Kusumanto Setyonegoro, kepala Bagian Psikiatri FKUI dan Prof. Asri Rasad, kepala bagian Biokimia FKUI , pertengahan tahun 1980-an saya mengundurkan diri dari Trisakti, karena tak punya waktu lagi, (dan masalah menjadi Dosen di FKG Trisakti akan dibicarakan dalam bab tersendiri). Dengan adanya Kapten Surip pula saya dekat dengan Letnan Jendral Marwoto ketua CKN.

Dari segi gaji, orang – orang CKN tidaklah cukup besar, tapi kalau dilihat mobil-mobil yang mereka parkir, maka kantor CKN seperti perusahaan Multi Nasional. Saya pernah Tanya dari mana uang mereka.

– Kantor ini seperti kantor pabrik MNC (Multi Nasional Corporation), kata saya
– Kenapa ,-kata kawan di CKN
– Mereka seperti orang kaya saja, lihat mobilnya, bagus-bagus dan mewah.
– Kamu punya kartu anggauta
– Ya,- kataku.
– Nah, itu kartu itu sama seperti kredit Card, bedanya tak ada tagihan pada akhir bulan. Dan tak ada limitnya. Kamu bisa minta apa saja, berbuat apa saja, asal hati-hati, , kartu itu bila dipergunakan dalam waktu yang tepat, ditempat yang tepat, akan sangat menguntungkan, tapi hati-hati pada beberapa instansi, lembaga, atau perusahaan yang punya beking yang lebih tinggi dari kita, kamu bisa konyol.
-Kamu punya mobil
– Ya kataku mobilnya keren Mercedes tapi buatan puluhan tahun yang lalu.
– Tidak apa, tapi yang pertama kamu ganti nomornya, kamu datang ke kantor polisi, berikan kartu kamu pada polisi yang mengeluarkan SIM, STNK, dsb , maka minta nomor Pelat mobil kamu minta diganti dengan nomor RHS (rahasia) k(husus) CKN dengan pelat nomor didepan 81 xx- aa, pelat hitam, maka tak satu polisi pun akan berani menilang kamu, karena nomor itu nomor RHS –CKN. Kalau kamu mau mengisi bensin, isi full , tempatnya di simprug, tak perlu bayar, dan jangan lupa lihatkan kartu anggauta kamu sebelum mengisi bensin. Tempat itu kini (tahun 2009) sudah ditutup, tempat itu sudah menjadi semak-semak, tapi masih terlihat bekas pengisisan bensin.
– Saya belum punya SIM, karena saya tak bisa stir mobil.
– Sekalian SIM nya juga kamu minta, tak perlu kasi uang, diapun tak berani menerima uang dari kamu.
– Mobil ini sering mogok.
– Kamu pergi ke Bengkel, yang paling baik, tapi ingat, bosnya yang punya harus orang Cina, suruh betulkan semuanya, kalau perlu diganti bagian –bagian yang hampir rusak.
– Wah pasti mahal harganya.
– Waktu ditagih, kamu berikan kartu kamu, dan katakan padanya supaya datang menagih kekantor CKN, dibagian cindiv (Cina division ). Pasti penagih tidak akan datang. Kartu CKN mu jangan dilihatkan dahulu sebelum mobil betul-betul baik.

Besoknya saya pergi kekantor polisi, yang mengeluarkan SIM, STNK , dan benar dalam waktu 2 jam, Nomor Plat Mobil saya telah diganti, STNK , malahan BPKB pun telah dibalik nama atas nama saya, (pada hal waktu itu sering bermasalah karena belum bayar pajak memasukkan mobil mewah build –up) dan pula saya diberi SIM, tanpa perlu ujian. Saya mengucapkan terima kasih dan polisi itu hormatnya bukan main.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: