Azas eklektik dan CBT

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (48)

Yang pertama ialah prinsip atau asas eklektik yang bermaksud meninjau secara selektif segi-segi tertentu; sedangkan yang kedua ialah prinsip atau asas holistik yang berujuan menjunjung tinggi, bahwa tiap-tiap manusia baik dalam keadaan sehat maupun sakit, harus sebagai suatu keseluruhan yang paripurna dan tidak dapat ditafsirkan hanya sebagai hasil jumlah resultante unsur-unsur yang tersendiri.
Tujuan utama dalam proses CBT adalah menghilangkan tingkah laku laku yang maladaptive. Kemuadian terapis merubah dengan tingkah laku yang appropriate dan dapat diterima dengan norma-norma masyarakatnya. Tugas therapist adalah mengindentifikasi dimana terjadi maladaptifnya. Tentu tugas ini memerlukan wawancara yang mendalam dan malahan mungkin kita meminta riwayat hidupnya secara detail.

Selanjutnya dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/01/23/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-48/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini, dan disebar luaskan melalui blog
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/01/23/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-48/
Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Yang pertama ialah prinsip atau asas eklektik yang bermaksud meninjau secara selektif segi-segi tertentu; sedangkan yang kedua ialah prinsip atau asas holistik yang berujuan menjunjung tinggi, bahwa tiap-tiap manusia baik dalam keadaan sehat maupun sakit, harus sebagai suatu keseluruhan yang paripurna dan tidak dapat ditafsirkan hanya sebagai hasil jumlah resultante unsur-unsur yang tersendiri.

(Kusumanto Setyonegoro, 1966)

CBT pada penderita depresi.
Pada CBT pasien di minta untuk memakai aspek cognitive di otaknya untuk menghadapi tekanan-tekanan dari pusat emosi (limbic system). Biasanya bagi orang depresi dunia ini penuh dengan hal-hal yang menakutkan, dan berpikir bahwa dia tak mampu merubahnya. Walaupun dalam keadaan demikian ketika perubahan dalam cognitive dan emosinya diperkirakan sangat sulit, pasien depresi selalu mempunyai potensial untuk mengkontrol paling kurang satu hal yaitu tingkah lakunya (behaviour) sebagai bagian dari respons personal.
Pada CBT pasien depresi diharuskan untuk meningkatkan atau untuk menguatkan jalur (pathway ) lobus frontalis, jaitu jalur dipakai untuk berpikir.
Disini pasien depresi diharuskan belajar untuk mengerti Adan C, yang menyebabkan dia depresi (B).

Suatu contoh banyak pasien yang berkata bahwa ‘saya selalu merusak suasana”, maka therapist mencoba untuk mengubahnya menjadi ‘saya kadang-kadang merusak suasana” kemudian diubah lagi menjadi , saya sekali-sekali merusak suasana” dan terakhir diubah menjadi saya tidak pernah merusak suasana”
Dengan proses perlahan-lahan, dalam waktu relative pendek (dalam beberapa minggu) maka proses piker yang negative diubah menjadi positif. Jadi tugas therapist adalah mengubah pikiran negative yang menginduce negative feeling, menjadi berpikiran positif yang menginduse perasaan positif.
(Yul Iskandar 2006)

Asas Eklektik (Detail Princip)

Adapun prinsip elektik dipahami sebagai suatu prinsip yang mendasari suatu sistem fikir teoretik yang bermaksud untuk mengadakan pilihan selektif dan kombinasi sistematik, daripada unsur – unsur atau bahan-bahan yang berasaldaripada berbagai sumber ilmiah tetapi yang satu unsur dengan unsur lainnya merupakan kombinasi yang sesuai dan mencocoki. Dengan demikian maka sistematika berfikir yang ditujuakhirnya akan terdiri daripada unsur-unsur yang diakui kebenarannya dalam masing-masing sumber ilmiahnya. Hal ini akan menjadi landasan yang c ukup kuat bagi suatu penyusunan sistem fikir teoretik yang lebih integratif dan yang lebih harmonik. Dengan sendirinya maka suatu cara fikir eklektik demikian itu , tetap bersikap ilmiah dalam artikata bahwa dia bersedia terus menerima revisi-revisi atau tinjauan-tinjauan kembaliyang dianggapnya cukup meyakinkan dan yang bertujuan menyempurnakan sistem fikir itu . Dengan demikian pula maka prinsip elektik itu hendak menjauhkan diri daripada tiap-tiap formalisma yang bersifat kaku atau rigid.
Prinsip elektik harus dibedakan ilmu yang mau mencampurkan secara sembrono untuk menghimpun dan mencampur sesuatu yang tak ada hubungannya, dan dilakukan tanpa kritik ilmiah yang jelas. Sikap ini banyak pada sikap non-ilmiah yang dinamakan synkretisma, akan tetapi dalam ilmu psikiatri kita akan banyak bertemu dengan psikiater-psikiater yang mempraktekkkan sinkretisme.

Yang dimaksud dengan synkretisme adalah terjadinya penghimpunan fakta, konsep dan gagasan tanpa ichtiar yang serius kearah kritik dan kearah untukmencari kebanaran, kecocockan-kecocokan dan analisis dari kontradiksi. Bisa jadi juga istilah untuk suatu keadaan naif, dan ilmu yang masih tanggung, yang sering dijumpai pada anak-anak muda. Mereka menyangka bahwa event, objek atau pristiwa disangkanya adanya relasi antara satu dengan yang lain.

Keyakinan yang demikian itu mereka tegakkkan tanpa mengadakan analisa, kritik yang mendalam, dan tanpa menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang muncul Yang berhubungan dengan koordinat waktu (time), ruang (spasial) atau ada hubungan kausal. Sering pula orang tidaka tahu mana yang menjadi sebab dan mana yang akibat. Contohnya seorang yang bercerai karena salah satu menderita psikotik, sering dikatakan dia menjadi psikotik karena diceraikan, padahal sebalinya yang terjadi spouse tidak tahan dengan partner yang psikotik, maka dia lalu menceraikan partnernya.
(Kusumanto Setyonegoro, 1966)

Tujuan utama dalam proses CBT adalah menghilangkan tingkah laku laku yang maladaptive. Kemuadian terapis merubah dengan tingkah laku yang appropriate dan dapat diterima dengan norma-norma masyarakatnya. Tugas therapist adalah mengindentifikasi dimana terjadi maladaptifnya. Tentu tugas ini memerlukan wawancara yang mendalam dan malahan mungkin kita meminta riwayat hidupnya secara detail.
Beberapa teknik dikembangkan dari CBT adalah desinsitasi invivo exposure pada umumnya untuk penyakit phobia, teknik relaxasi, yoga, Tai-Chi, reinforcement, modelling, social skills, coaching. Assessment dan diagnosis dilakukan sekaligus dalam wawancara dan sekaligus membuat diagnosa pada saat itu. Diagnosis dapat menjadi sangat dinamis tergantung psikopatologi yang masih ada.

Bersama dengan pasien dan keluarganya kita membuat rencana yang masuk akal untuk nelakukan rencana pengobatan, berapa lama, interval pengobatan barapa kali seminggu, disertai dengan diskusi ‘What’, pengakit pasien, ‘How’ sampai berapa jauh atau sampai berapa hebat penyakitnya, kalau perlu dilakukan assessment klinis seperti pemeriksaan HAM-D, HAM A, MADRS, KSPBJ Insomnia Rating Scale dsb. Dan yang penting pula adalah kapan (‘When’) penyakit ini bermula, dan apakah dahulu dan sekarang ge jalanya sama. Yang tak perlu didiskusikan adalah ‘Why”, karena masalah ini tidak produktif. Pasien (keluarga pasien )selalu ingin tahu penyebabnya, dia mengatakan bahwa kalau kita tak tahu penyebab penyakit malaria, bagaimana kita akan mengobati penyakit itu.
Jawaban kita jelas bahwa penyakit seperti kebakaran, apapun penyebabnya yang penting api harus dipadamkan.
(Yul Iskandar 2006)

Berdasarkan atas ini maka manusia dalam tinjauan ilmu kedokteran jiwa patut diperiksa secara terperinci sehalus-halusnya menurut pola yang membeda-bedakan masing-masing dunia kehidupan atau alam kehidupan.
Yang pertama ialah dunia atau alam kehidupannya yang terikat pada relasi-relasi dan unsur-unsur organobiologi. Alam kehidupan ini agaknya erat hubungannya dengan struktur-struktur cerebral neurofisiologik dengan pelbagai macam mekanisme-mekanisme organismik.
Segala masalah kehidupan manusia dapat ditinjau dari sudut kehidupan vegetatif dan animal termasuk juga masalah kesadaran. Dengan sendirinya maka juga penjelasan kualitatif dan kuantitatif dapat dinyatakan dalam unsur-unsur yang terakui dibidang ilmu hayat dan ilmu fisika . Dalam alamkehidupan ini maka peristiwa hidup dapat tercakup oleh pendekatanyang mendasarkan diri atas Natur- wissen-schaft–sliche Psychiatrie

Yang kedua ialah dunia atau alam psikodinamika. Alam kehidupan psikodinamika ini dapat pula memberikan keterangan keterangan mengenai pelbagai peristiwa-peristiwa hidup manusia, termasuk pulaa masalah kesadaran. Unsur-unsur yang lazimnya dipergunakan dalam penjelasan-penjelasannya seringkali terikat pada konsep-konsep struktural yang berdasarkan mekanisme-mekanisme dorongan atau kekuatan yang berasal dari pada sumber instinktual yang terorganisasi bio psikologi.
(Kusumanto Setyonegoro, 1966)

Apa yang dikatakan diatas, adalah seseuatu yang juga disukai pasien, keluarga dan dalam pengobatan CBT apapun penyakitnya bukanlah menjadi soal. Tujuan yang akan kita capai adalah jelas perubahan tingkah laku yang kongkrit, yang dilihat baik oleh pasien, keluarga maupun terapisnya. Selain itu perubahan itu dapat diukur dan dimonitor oleh yang berkepentingan.

Dalam proses CBT maka kita harus mempunya data-data psikopatologi awal, dan perkembangannya yang dimonitor, dan kemajuan-kemajuan yang sesuai dengan rencana kita. Dalam proses terapi assessment, pengukuran rating scale, serta diagnosis dilakukan serentak. Dalam proses ini, kita mengatakan pasien bahwa pasienlah yang menjadi titik sentral, tergantung dia kemajuan terapi, dokter hanya membantu melalui petunjuk jalan yang harus dilalui.

Goal dari terapi bukanlah menghilangkan segala problem yang ada pada pasien, suatu hal yang juga tak akan mungkin terjadi. Tetapi kita mencoba untuk melihat beberapa isu penting seperti level dari stress, kemampuan mengatasi stress, ketegangan, insomnia, depresi, agitated, ini memmerlukan tindakan segera, dengan psikofarmakologi dan teknik relaxasi.
(Yul Iskandar 2006)

Yang ketiga ialah dunia atau alam eksistensi individual manusia. Alam kehidupan ini mengikatkan diri pada pelbagai asas dan pola kehidupan manusia yang dianggap khas bagi kehidupan human, termasuk pula masalah kesadarannya. Hal-hal seperti eksentrisitas, intensionalitas, historisitas, dan paham-paham lain yang segolongan dengan itu menandakan bahwa manusia dinyatakan memiliki segi-segi eksistensial yang spesifik.
Dengan menerima ketiga-tiga alam kehidupan manusia itu, maka bagi psikiater sekarang ada pegangan yang lebih kokoh untuk menilik dan menyelidiki kesehatan atau gangguan kesehatan manusia yang dihadapinya dalam konsultasi yang dimintakan padanya. Psikiater dapat memberikan penilaian dan perumusan tentang hal ikhwal yang didapati dan yang hendak dijelaskannya dengan menggunakan unsur-unsur yang berlaku dalam masing-masing akan kehidupan manusia itu.
(Kusumanto Setyonegoro, 1966)

Satu Tanggapan to “Azas eklektik dan CBT”

  1. Sendera Siegit Says:

    REBT rational emotive behaviour thingking Albert Ellis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: