Psikiatri dan Psikoimmunoendrokrinologi

Psikiatri Kusumanto-Yul Iskandar (47)

psikiater, perlu diadakan orientasi dan re-orientasi kedalam alam fikir ilmu kedokteran umum dan ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) khususnya sebelum dapat diharapkan adanya suatu tradisi yang cukup kokoh menghadapi perubahan-perubahan dan pergolakan-pergolakan di bidang ilmu kedokteran dan ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) di masa yang akan datang.
Terdapat hubungan antara pikiran (thought) dengan fungsi sel kekebalan ditubuh kita. Jadi ada hubungan antara pikiran yang ada diotak kita dan aktivitas limposit. Penelitan lanjutan ternyata bahwa banyak sekali kondisi stress yang dialami seseorang menimbulkan gangguan dalam system immune. Stres yang berlangsung sementara seperti ujian pada mahasiswa dapat menyebabkan gangguan tidur, sakit flue, serta
Selanjutnya dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/01/15/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-47/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini, dan disebar luaskan melalui blog
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/01/15/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-47/

Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Oleh karena itu, maka pada prinsipnya seorang ahli kedokteran, dan khususnya seorang psikiater wajib memahami bahwa antara aspek fenomenal penyakit dan aspek eksistensial manusia ada suatu hubungan timbal balik atau interaksional yang halus dan terperinci. Intuisi dan bakat dapat membantu, tetapi yang menentukan suatu pendapat yang bertanggungjawab secara ilmiah, agaknya hanyalah suatu latihan disipliner dalam suatu rangka pikir yang juga memperhatikan ilmu-ilmu lain daripada ilmu kedokteran saja tetapi yang ada pengaruh dan hubungannya dengan ilmu itu.

FORMULASI MENGENAI PENDEKATAN (Approach) EKLEKTIK HOLISTIK

Disertasi ini dimulai dengan tinjauan-tinjauan yang diberikan judul “penegasan-penegasan pribadi dan maksud tujuan disertasi”, karena berlainan dengan disertasi-disertasi lain dibidang ilmu kedokteran, disertasi ini terlebih dahulu hendak memberikan penegasan tentang landasan-landasan utama yang digunakan dalam membangun dan membina suatu aliran ilmu psikiatri yang khusus di Indonesia, yang spesifik berlaku bagi lingkungan Falkutas Kedokteran, Universitas Indonesia di Jakarta.
Hal ini dianggap penting oleh penulis oleh karena berdasarkan pengalamannya sebagai dokter maupun sebagai psikiater, perlu diadakan orientasi dan re-orientasi kedalam alam fikir ilmu kedokteran umum dan ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) khususnya sebelum dapat diharapkan adanya suatu tradisi yang cukup kokoh menghadapi perubahan-perubahan dan pergolakan-pergolakan di bidang ilmu kedokteran dan ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) di masa yang akan datang.
(Kusumanto Setyonegoro, 1966)

Psikoneuroimunnoendrokrinologi (3)
Miron (1978) mengatakan bahwa ada hubungan antara pikiran (thought) dengan fungsi sel kekebalan ditubuh kita. Jadi ada hubungan antara pikiran yang ada diotak kita dan aktivitas limposit. Penelitan lanjutan ternyata bahwa banyak sekali kondisi stress yang dialami seseorang menimbulkan gangguan dalam system immune. Stres yang berlangsung sementara seperti ujian pada mahasiswa dapat menyebabkan gangguan tidur, sakit flue, serta berkurangnya interferon, zat yang menjaga kekebalan tubuh, serta memakan benda-benda asing, seperti virus, bakteri dan sel-sel kanker.

Pada manusia yang menderita stress, ternyata terjadi peningkatan radical bebas, adrenalin dan cortisol, semua ini adalah dikendalikan oleh system endokrin. Penelitian Hans Selye (1936) malahan menunjukkan bahwa tikus yang dibuat stress kronis maka kelenjar thymus (yang membuat sel lympocyt -T) menjadi kecil. Dalam jangka pendek radical bebas, adrenalin dan cortisol sangat berguna misalnya dalam peningkatan tekanan darah, peningkatan gula darah dan penekanan pengeluaran lympocyt, ketiga zat itu dapat dikatakan immunosupresan. Tetapi dalam jangka panjang maka ketiga zat kimia itu ternyata mempunyai daya rusak pada organ dan menjadi toxic.

Pada pengalaman pribadi dari Hans Selye, pernah dia dikatakan menderita mesothelioma, suatu kanker yang ganas, yang bila diagnosa ditegakkan, maka prognosanya adalah kematian dalam beberapa bulan setelah diagnosa ditegakkan.

Ketika Hans Selye diberi tahu keadaanya, maka dia berusaha mengisi waktu yang sempit itu dengan menulis autobiographynya. Ketika dia membaca kembali semua tulisan dan pekerjaan yang dilakukannya waktu lampau, terlihatlah oleh Hans Selye, bahwa dia dihianati oleh kawan seperjuangannya, anak buahnya, anak didiknya, dengan cara mereka bekerja sama dengan openen Hans Selye. Disamping itu berbagai penemuannya dan pemikirannya dicuri oleh anak buahnya tanpa malu. Ternyata emosi negative inilah yang membuat dia menderita tumor ganas. Karena dia sudah dikatakan bahwa hidupnya tinggal beberapa bulan, maka dia merubah seluruh proses fikirnya dengan pikiran-pikiran positif terhadap ketidak adilan yang dia terima. Ternyata setelah satu tahun, Hans Selye malahan bertambah sehat, dan hasil pemeriksaan dokternya ternyata kanker yang diderita Hans Selye telah hilang.
Stress khronis menurut Hans Selye bisa berupa penyesalan-penyesalan, dendam-dendam yang tersimpan lama, berbagai perasaan putus asa dan perasaan tak berdaya. Sedangakan Miron dan Borysenko mengatakan bahwa stress adalah persepsi atas ancaman fisik atau emosional disertai perasaan dan persepsi bahwa respon-respon kita tidak memadai untuk mengatasinya.
Menurut Sussane Kobasa, seseorang yang terampil mengatasi kesulitan disebut manusia tahan stress (atau stress hardy), orang itu mempunya 3 C, yaitu Challenge (tantangan), Commitment (kebulatan tekad) dan Control (pengendalian). Seseorang yang mempunyai 3 C hebat, dalam keadaan kritis melihat situasi itu adalah tantangan bukan ancaman.
Orang-orang dengan stress hardy sering kali dapat mencapai tingkatan tinggi serta dapat maju mengalahkan orang lain meskipun dia dalam penderitaan atau keadaan yang sangat sulit. Mereka ini adalah orang-orang mempunyai kebulatan tekad, dan menempatkan krisis dan kesulitan dalam acuan yang positif, dan penderitaan dan kesulitan tidaklah menjadikan dia berputus asa.
(Yul Iskandar 2006)

Juga bagi generasi-generasi dokter Indonesia yang akan datang dan generasi-generasi psikiatri Indonesia nanti, mungkin penegasan-penegasan pribadi dan maksud tujuan disertasi itu dapat dijadikan pedoman atau pegangan relatif serta komparatif, dalam menyusun dan mengarahkan langkah gerak ilmu-ilmu yang mereka pelajari dan amalkan masing-masing.

Dalam exkursi- exkursi orientatif sebelumnya telah diusahakan untuk menggambarkan ilmu psikiatri modern sebagai ilmu cabang kedokteran umum yang telah terjelma karena keseimbangan yang harmonik dan optimal antara segi-segi Naturwissenschaftliche dan Geistwissenschaftliche psikiatri dan yang mengkhususkan diri meninjau dan menyoroti segi-segi spesifik human dalam diri manusia yang menderita.

Oleh karena itu secara berulang-ulang dan secara bersegi banyak telah dibicarakan spesifitas-spesifitas human itu human itu dalam keadaan manusia sehat dan dalam keadaan sakit dengan maksud penilaian dan perbandingan secara kualitatif dan kuantitatif serta kualifikasi disamping menyoroti pula aspek-aspek teknologi kedokteran khusus menganai faham penyakit dan artinya bagi ilmu psikiatri modern.

Melalui hal-hal yang dapat dipastikan dalam sejarah umum ilmu psikiatri di Indonesia dan patokan-patokan umum dalam ilmu itu, maka ditinjau prinsip prinsip fungsional human seperti ternyata dalampenilaian fungsi kesadaran, hidup emosi, dan keadaan afektif, simbolik, masalah norma dan nilai sehingga dengan titik-titik orientasi itu dapat diambil posisi –posisi tertentu mengenai masalah asas-asas kesehatan dan asas-asas kesehatan jiwa.

Oleh karena itu penulis (KS) berpendapat bahwa manusia, lingkungan keluarga dan kebudayaan kelompok tempat manusia itu dibesarkan, tidak dapat dipisah-pisahkan, maka secara konsekwen pula tinjauan asas-asas itu dihubungkan dengan matrix kemasyarakatan baik dalam arti kata sempit maupun dalam arti kata yang lebih luas. Khusus dalam hubungan masyarakat di negeri kita Indonesia maka hal-hal yang dibicarakan itu, oleh penulis dianggap ada relasi-relasinya yang tak dapat diabaikan.

Dengan sendirinya, maka sebahagian dari pada ikhtiar-ikhtiar ilmu psikiatri akademik harus disediakan bagi penelitian dibidang kemasyarakatan. Hal ini seringkali diberikan nama ilmu psikiatri sosial (social psychiatry) atau ilmu psikiatri epidemiologik (epidemiological psychiatry) yang kedua-duanya berasal dari negara-negara tempat ilmu psikiatri dianggap penting dalam harmonisasi unsur-unsur keluarga dan unsur-unsur masyarakat atas dasar pengakuan terhadap kepada eksistensi individual manusia yang hidup dan bekerja dalam masyarakat itu. Secara umum, maka juga dipergunakan istilah usaha kesehatan jiwa atau mental health atau mental hygiene efforts.
(Kusumanto Setyonegoro, 1966)

Psikoneuroimmunoendrokrinnologi (4)
Selain Hans Selye yang berbicara mengenai psikoneuroimmunoendrokrinnologi, adalah Victor Frankl seorang psikiater Yahudi yang dibuang ke kamp konsentrasi Auschwitz (Victor Frankl adalah salah satu yang selamat dari kamp konsentrasi, dan dia bisa selamat menurut pendapatnya karena dia selalu berpikir bebas berpikir baik, tidak mengambil punya orang, ,tidak dengki, tidak menyakiti orang, dengan kata lain berbuat baik dan berpikir positif) oleh Nazi Hitler, mengatakan pada manusia terdapat hubungan yang erat antara pikiran manusia dan system kekebalan tubuh.
Didalam otak pikiran-pikiran dari kortex cerebri seperti keberanian, tipu day,a serta harapan, atau ketidak beranian serta ketak ada harapannya dll yang dibuat dikortex serebri, diubah di limbic system menjadi masalah emosional dan terjadilah reaksi emosional, seperti senang gembira, atau kesusahan dan kesedihan.
Dalam penelitian McClelland ditunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara antibody serum Imunoglobulin A (SIgA) didalam saliva dan keadaan stress. SIgA adalah anti bodi berupa cairan yang ada dalam darah dan Saliva, tugasnya adalah sebagai lini pertama pencegahan invasi bacteri, virus atau sel sel jahat lainnya termasuk fungi dan kanker. Kekurangan SIgA dalam mulut yang disebabkan stress bisa menunjukkan adanya gangguan yang disebut sariawan, kerusakan gigi, gusi dan bisa sampai infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) atau terjadi penyakit flue.
Itulah sebabnya pasien dari psikiater akan merasa nyaman, setelah berbicara dengan psikiater yang dapat memahami masalah pasien, dan mungkin pula telah mengalami penderitaan yang sama baik bisa mengatasi atau belum bisa mengatasi, karena dengan demikian maka SIgA si pasien akan meningkat setelah bertemu dengan si psikiater yang memberikan perasaan empathi dan sympati pada pasiennnya.
(Yul Iskandar 2006)

Selanjutnya, telah dicoba untuk lebih mendalami lagi beberapa prinsip penting dari pada hidup eksistensi individual manusia, khususnya yang berpangkal pada pola-pola daya kreasi, aktivitas reflektorik dan integratif, persoalan simbol dan nilai serta hal-hal yang berhubungan dengan posisionalitas yang bercorak eksentrisitas dan intensionalitas.

Pembahasan-pembahasan yang demikian itu dianggap penting untuk lebih menjelaskan lagi kedudukan dari pada manusia dengan segala perikemanusiaannya dalam keseluruhan tinjauan ilmu psikiatri modern. Dengan demikian, maka dianggap bahwa pembahasan-pembahasan itu dapat memberikan titik-titik pegangan lebih lanjut lagi dalam menyusun suatu struktur ilmu psikiatri modern yang lebih terperinci.

Dalam hubungan itu pula harus dilihat usaha untuk menyoroti masalah mengenai kausalitas dan relasi kausatif, yang dengan sendirinya menyangkut pula sendi-sendi tertentu dalam pemikiran filsafat. Agar supaya pemikiran itu dapat lebih dipertajam, maka introduksi perubahan yang dibawa oleh abad teknologi (yang secara singkat diberi nama perubahan karena pengaruh teknologi), dimasukkan sebagai salah satu pasal kecil untuk ditinjau seperlunya.

Demikianlah, berdasarkan penegasan-penegasan pribadi yang pada beberapa pokok-pokok khusus seperti yang disebutkan diatas secara singkat, dan yang telah diuraikan dalam pasal-pasal sebelumnya secara lebih luas, maka sampailah penulis dalam mengemukakan maksud dan tujuan disertasi ini, yaitu mengemukakan formulasi tentang suatu cara pendekatan psikiatri tertentu, yaitu pendekatan eklektik holistik.

Rangka pikir organismik yang mengkhususkan segi-segi organobiologik, tinjauan berasaskan pendapat-pendapat hubungan antara manusia secara psikodinamika, dan pemandangan-pemandangan yang berlandaskan fenomenologi; semuanya tidak dianggap bertentangan, melainkan dapat memberikan pengertian-pengertian yang lebih mendalam mengenai asas-asas yang ada dalam derita, serta hubungan inter relatifnya dengan masyarakat sekelilingnya.

Pekatan eklektik holistik dalam ilmu psikiatri Indonesia mendasarkan diri atas adanya dua prinsip yang tidak terpisahkan, dan harus berjalan sejajar, bersamaan, interaktif dan integratif.
(Kusumanto Setyonegoro, 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s