Naturwissenschaftliches dan Geisteswissenschaftliches dan psikoimmunoendokrinologi.

Seorang dokter umum atau seorang dokter ahli cabang kedokteran lain, tidak selalu ingin atau berminat terhadap aspek-aspek itu, sebaliknya seorang psikiater akan senantiasa ada urusan resmi dengannya. Ini menandaskan sekali lagi corak Naturwissenschaftliches dan Geisteswissenschaftliches dari pada ilmu psikiatri modern.
Penelitian di tahun 1980-1990 –an banyak bukti bahwa skizofrenia mungkin disebabkan oleh faktor maternal-virus, pada waktu hamil atau anak berumur kurang dari 1 tahun. Penelitian ini membawa penelitian pada sistem imunologi. Adler & Cohen membawa para peneliti kepada kesatuan antara sistem psychology, sistem neuronal, sistem endocrin dan sistem immun.
Selanjut dapat dilihat di:
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/01/06/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-46/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.

Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini, dan disebar luaskan melalui blog
https://dryuliskandar.wordpress.com/2010/01/06/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-46/

Secara singkat dapat dikemukakan sekarang, bahwa suatu keadaan sakit pada hakekatnya merupakan suatu keadaan dimana organisme terpadu dan diarahkan karena keadaan sakit itu pada segala sesuatu yang dipahaminya sebagai penyakit.
Menurut hemat kami, maka bagi suatu ilmu psikiatri modern, penting artinya bahwa kita tetap memahami adanya aspek kedokteran dari pada keadaan sakit, yang dalam keadaan-keadaan tertentu dapat kita berikan batasan circum scripsi sesutau penyakit nosologik. Dipihak lain, perlu suatu ilmu psikiatri modern, juga memperhatikan dan mendalami aspek-aspek lain dari pada keadaan sakit, yang dalam pasal ini dikemukakan sebagai hakekat sakit. Seorang dokter umum atau seorang dokter ahli cabang kedokteran lain, tidak selalu ingin atau berminat terhadap aspek-aspek itu, sebaliknya seorang psikiater akan senantiasa ada urusan resmi dengannya. Ini menandaskan sekali lagi corak Naturwissenschaftliches dan Geisteswissenschaftliches dari pada ilmu psikiatri modern.
Keadaan sakit selalu –sampai suatu taraf tertentu- melibatkan eksistensi individual manusia yang bersangkutan. Juga dalam keadaan pilek atau timbulnya bisul, manusia akan disempitkan ‘ lebensraum’ =ruang hidupnya. Situasi akan berobah, sikap excentricitasnya juga akan berobah dan dipertajam, dan dalam keadaan-keadaan tertentu juga tanggung jawabnya terhadap dirinya sendiri.
(Kusumanto, Disertasi 1966)

(Pendekatan Psikoneuroimunnoendrokrinology 1 )
Penelitian pada hewan dari berbagai zat yang mempunyai potensi anti psikotik di lakukan oleh Yul Iskandar dan Denis Wade (1977) di Department Physiology dan Pharmacology, University of New South wales. Hasil penelitian itu dikemukakan pada pertemuan para ahli pharmacologist dari Asia –Pacific di Sydney Australia tahun 1977. Salah satu hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak anti psikotik diantaranya Haloperidol dan Chlorpromazine (HLP dan CPZ) bekerja sebagai anti dopamine pada dopamine drug induce-behaviour (DDIB) pada tikus. Obat anti histamin (non-anti psikotik) seperti prometazine (PMZ) dan obat anti depresan (non anti psikotik) mianserine (MIA) tidak mempunyai efek anti dopamine pada DDIB. Akan tetapi ada beberapa obat diantaranya Clozapine (CLZ) dan Sulpiride (SUL) dalam dosis terapeutik tidak menunjukkan adanya anti dopamine pada DDIB. Tetapi ada pula obat anti-histamin Perlapin (PER) dan obat anti nausea dan vomiting seperti metoclopramide (MET) yang merupakan anti dopamine pada DDIB ternyata bukan anti psikotik. Kesimpulan saat itu efek anti dopamine bukan satu-satunya mekanisme anti psikotik, dan mungkin ada mekanisme lain dalam kerja sebagai anti psikotik.
Penelitian di tahun 1980-1990 –an banyak bukti bahwa skizofrenia mungkin disebabkan oleh faktor maternal-virus, pada waktu hamil atau anak berumur kurang dari 1 tahun. Penelitian ini membawa penelitian pada sistem imunologi. Adler & Cohen membawa para peneliti kepada kesatuan antara sistem neuronal, sistem endocrin dan sistem immun.
Sistem ini mulai bekerja sejak 100 hari didalam kandungan, dan bekerja setelah lahir dimana dominasi pada awalnya adalah pada sistem immun. Sistem immun adalah sistem yang menjaga dan memberi tahu siapa kawan dan siapa lawan. Ada dua sistem dalam sistem immun ini, yaitu sistem sel (lymphocyt) dan sistem homural (anti-bodies). Sistem ini menjaga dan berinteraksi dengan sistem endocrine seperti adrenalin dan insulin, yang bekerja pada sistem neuronal di otak.
Sistem yang pertama kali siap adalah sistem immun, baru sistem endocrin, dan akhirnya sistem dari neuron di Brain (otak). Pada bayi dan binatang rendah maka hanya berkembang yang dinamakan reptilian brain (yaitu adanya emosi primitif). Pada ular kalau melihat kodok, maka dia hanya bisa menganggap kodok itu adalah mangsanya, dan tak akan pernah untuk bersiasat dengan kodok itu supaya dia mendapat kodok-kodok lain yang lebih banyak, sedangkan kodok melihat ular adalah predatornya, dan itu akan berlangsung seumur hidupnya, dan tak akan ada pemikiran untuk bekerja sama dengan ular untuk menghadapi musuhnya yang lain. Bagi manusia tidak ada musuh abadi, tidak ada teman abadi, musuh yang harus dilenyapkan, mungkin besok akan berubah menjadi teman untuk menghadapi musuh lain bersama.
Pada bayi yang baru lahir hanya bisa menangis dan tidur. Perkembangan lebih lanjut bayi bisa berperasaan (tertawa, senang, marah dsb), berpikir mengingat dsb, yang fungsi ini dinamakan fungsi mental (atau psyche), yaitu proses cognitive dan mood. Sistem lebih tinggi dari sistem sistem mental (atau psyche), yaitu adanya love, understanding, transendental, will, dsb dinamakan sistem spiritual yang tak akan dibahas di dalam tulisan ini, karena pendekatannya tidak mungkin secara ilmiah kedokteran (yang berhubungan dengan peranan fisiologi, farmakologi dan biokimia).
System Sel immun terdiri dari dua bagian yaitu yang berkembang dari Thymus (T-sel) anti body dan Bone marrow (B-sel) anti-body. Thymus merupakan organ yang paling penting dan telah menjadi dewasa pada 100 hari dalam kandungan. Menurut George (1996) Setelah bayi lahir kelenjar Thymus akan berkurang setiap tahun sebanyak 3%. Setelah dewasa kecepatan berkurangnya menurun sampai 1%, dan kelenjar ini tetap ada walaupun peranannya menjadi sangat berkurang setelah berumur 50 tahun. Tugas utama dari kelenjar Thymus adalah memproduksi neuropeptide, yang menstimulasi kematangan dari lymphocyt.
Lymphocyt adalah sel-sel immun, yang tidak banyak berubah semenjak lahir sampai dewasa. Hal ini sama dengan sel neuron. Lymphocyt sendiri akan mengeluarkan dan memproduksi berbagai neurohormon diantaranya TSH (Thyrotropin Stimulating Hormon), LSH (Luteinizing Stimulating Hormon), GH (Growth Hormon) dan mungkin DSH (Dopamin Stimulating Hormon).
Lymphocyt juga akan memproduksi zat kimia yang dinamakan cytokines. Tergantung pada stimulus cytokines akan dikeluarkan. Lymphocyt dapat membedakan 10 pangkat 6 sampai 10 pangkat 10 molekul zat kimia. Zat-zat dikeluarkan oleh lymphocyt yang telah dikenal baik diantaranya cytokines interleukin 1,2, 3, 4, 5, 6, sampai 13 (IL-1, IL2,IL3, IL4 , IL5 dan IL6 sampai IL13). Serangan infeksi bakteri akan meningkatkan IL1 dan IL6 yang berperan besar pada fungsi fisiologis otak diantaranya menyebabkan delta sleep, dan meningkatkan suhu tubuh dengan mempengaruhi Chemo Triger Reseptor yang mengkontrol suhu tubuh. Selain itu cytokines dapat mempengaruhi, berbagai organ diantaranya glandula pinealis (yang mengeluarkan hormon melatonin), dan glandula adrenal (yang mengeluarkan hormon adrenalin).
Interferon adalah salah satu type dari cytokines, yang mempunyai efek anti-viral. Interferon mampu melakukan aktivitas sebagai neuromudulator. Felten (1991) dan kawan-kawan menunjukan bahwa ada kemungkinan besar pada pasien-pasien dengan psikotik kadar interferonnya meningkat. Pada awal abad ini Hatiegan (1917) dan Friedberg (1920) menunjukkan bahwa pemberian adrenalin pada orang normal akan meningkatkan jumlah lymphocy dalam darah. Adler dan Cohen (1981) yang pertama kali menunjukkan adanya interaksi antara sistem immun, sistem endocrin dan sistem neuron dan sistem psyche.
(Yul Iskandar 2006)

Boleh dikatakan bahwa sampai taraf tertentu tiap-tiap keadaan sakit ada pelbagai pergeseran-pergeseran, baik yang halus-halus maupun secara besar-besaran dalam bidang-bidang yang bersifat spesifik human, seperti antara lain yang tersebut sebelumnya.
Jadi bagi psikiater paham penyakit tetap mengandung makna yang hidup dan dinamik ; ini adalah aspek eklektik dari pada pendekatannya. Ia dapat memandang penyakit itu sebagai suatu obyek penelitian ilmiah diantara pelbagai obyek-obyek penelitian ilmiah lainnya yang mungkin terdapat dalam jasad organismik manusia. Tetapi perlu perhatian pula, bahwa tinjauan hakekat sakit yang tercurah pada penyakit semata-mata juga mengandung premis, bahwa eksistensi individual manusia (dengan segala implikasi dan konsekwensinya) tidak terganggu karenanya.
Akan tetapi, bersamaan dengan adanya paham penyakit seperti digambarkan diatas, psikiater juga beranggapan bahwa ada terjadi pergeseran-pergeseran dibidang yang spesifik human itu, yang banyak sedikit menyangkut eksistensi individual manusia yang sama itu, dan ada yang mungkin tidak semata-mata terletak dibidang jasad organismik. Ini adalah aspek holistik dari pada pendekatannya terhadap problema hakekat sakit.
(Kusumanto, Disertasi 1966)

(Pendekatan Psikoneuroimunnoendrokrinology 2 )
Pendekatan psikiatri biologik mengarah bahwa gangguan itu disebabkan karena adanya kelainan baik secara fungsional maupun secara anatomik pada otak pasien. Dari berbagai penelitian terdapat indikasi bahwa pada pasien skizofrenia telah terjadi infeksi sejenis virus. Virus yang dimaksud mungkin retro virus ( famili Retroviridae) yang mempunyai enzym reverse transkriptase. Virus ini mempunyai kemampuan berintegrasi dengan DNA dan gen manusia. Infeksi ini mungkin terjadi pada masa “pre implantation embrio”.
Cytokines agaknya memegang peranan yang besar pada proses pathofisiology dari gangguan skizofrenia (Y.K.Kim 2004) , utamanya pada saat neurodevelopment, dekompensasi psikotik, dan proses neurodegenaratif. Kemungkinan besar terjadinya pada masa kehamilan atau tahun pertama masa bayi dimana terjadi infeksi virus (mungkin virus dari famili Retroviridae) , yang merusak sistem cytokines dan akhirnya mengganggu sistem neuronal. Seperti diketahui beberapa cytokines mempengaruhi aktivitas neurotransmitter monoamine di otak. Aktivitas ini memodulasi gejala psikotik pada skizofrenia. Berbagai pengaruh cytokines juga terjadi baik sebagai mediator atau inhibitor pada neurodegeneration. .

Seperti diketahui pharmacotherapy dari skizofrenia adalah dengan obat anti psikotik.

Dalam berbagai penelitian klinis, pengobatan dengan antipsychotic akan menormalisasi system imun (lymphocyt). Sayangnya saat ini belum dapat ditentukan fungsi mana yang menyebabkan perbaikan gangguan psikotik. Ada beberapa peneliti yang melihat efek obat antipsikotik pada ’mitogen stimulated lymphocyt cultures’. Pada saat ini masih terlalu dini untuk memberi gambaran yang jelas, disebabkan akan adanya keterbatasan dalam penentuan diagnosis, jumlah sample, metode dalam pemeriksaan pasient, dan metode assessment immune parameters. Salah satu bukti adalah mebuat hewan percobaan terganggu cytokinesnya dengan cara perlakuan sepsis sampai shock. Ternyata anti psikotik dapat menormalisasi profile cytokinesnya (Rapaport 2004). Penelitian Muller (2004) dkk menunjukkan bahwa selective cyclooxigenase -2 inhibitor (celecoxib) mempunyai efek yang baik pada penderita penderita skizofrenia. Efek ini lebih baik atau sama dengan anti psikotik Resperidon. Cyclooxigenase-2 (COX-2) terdapat di semua jaringan CNS, dan mempunyai fungsi penting di CNS. COX-2 ternyata mempunyai interaksi dengan neurotransmitter asetil-kholin, serotonin dan glutamat. Selain itu ternyata COX-2 mempunyai peran penting dalam sistem imunologis di CNS melalui efeknya terhadap prostaglandin, khususnya prostaglandin-E2. Ternyata kini mulai diselidiki obat-obat anti psikotik generasi selective COX-2 inhibitors.

Hubungan antara aotoimmun dan skizoprenia mulai banyak diselidiki. B.E Leonard. (2004), membuat hipotesis bahwa skizoprenia mungkin disebabkan adanya dopamine reseptor stimulating aotoantibodies (DRSA). DRSA ini mungkin distimulasi dengan adanya infeksi virus.
Beberapa penelitian dengan clozapines menujukkan bahwa obat itu meningkatkan IL-2R sedangkan konsentrasi IL-6 kembali ke normal. Baik clozapine maupun haloperidol meningkatkan serum IL-1R-antagonist. Disamping itu pemberian anti –psikotik meningkatkan persentase T-sel di dalam sel darah perifer.
Penelitian lebih lanjut masih diperlukan, karena manusia bukan subjek untuk penelitian, penelitian in vitro memakai obat obat dengan dosis yang tinggi, metode diagnosis masih belum universal.
(Yul Iskandar 2006)

Seorang yang menderita penyakit typhus abdominalis yang disertai suhu badan yang meninggi secara maksimal, dan dibawa kepada dokter oleh anggota-anggota keluarganya, merupakan manifestasi ketidakmampuannya untuk bertindak sesuai dengan kebebasan memilih itu. Demikian pula seorang penderita neurosa yang demikian hebatnya, sehingga menanggung inkapasitas dan ineffesiensi kerja yang maksimal pula. Dan lebih jelas lagi situasinya, apabila yang kita hadapi itu seorang penderita schizophrenia atau psikosis major lainnya.
(Kusumanto, Disertasi 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: