Anxietas dan Therapy CBT

Jikalau manusia telah mencoba dan membiasakan diri untuk bersikap realistik, diskriminatif, dan berobjektivasi diri, maka seringkali ia dapat memperoleh kekuatan tambahan daripada sikap –sikap yang demikian itu. Manusia yang sakit pada prinsipnya sanggup untuk berdiri sendiri
Sering expectasi yang tak realistic dapat menyebabkan pasien sakit atau menderita. Seorang pasien seorang artis, merasa bersalah dan tak bisa tidur, hanya karena waktu konser dia salah satu not.
Selanjut dapat dilihat di:https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/12/26/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-45/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006-2009. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.

Oleh sebab itu, maka ilmu psikiatri modern menganggap penting dan sentral fenomena anxietas itu. Karena fenomena itu memberitahukan tentang adanya segi-segi ketidakpastian yang harus diatasi oleh manusia itu atas kekuatan-kekuatan sendiri yang realistik.
Jikalau manusia telah mencoba dan membiasakan diri untuk bersikap realistik, diskriminatif, dan berobjektivasi diri, maka seringkali ia dapat memperoleh kekuatan tambahan daripada sikap –sikap yang demikian itu. Manusia yang sakit pada prinsipnya sanggup untuk berdiri sendiri. Dan dalam usahanya untuk berdiri sendiri itulah, maka seorang ahli kedokteran harus mengerti penderitaan pasiennya. Ia harus memahami bahwa pasiennnya tidak hanya dicoba oleh kuman-kuman penyakit, tetapi bahwa penderitaannya itu juga dicoba secara sama beratnya oleh hal-hal tertentu yang timbul sebagai faktor-faktor menentukan dalam existensi individualnya.
Dalam ilmu psikiatri, dan pada priinsipnya hal ini tidak ubahnya dengan cabang-cabang klinik ilmu kedokteran lainnya, kita dapati pelbagai keadaan sakit yang bertingkat-tingkat: mulai dari pada tingkat yang ringan sampai tingkat yang paling berat. Hanya ada satu hal yang penting kita pastikan, yaitu faktor kesadaran manusia yang bersangkutan itu. Sebab, soal faktor kesadaran itu, sejak semula telah ditunjukkan sebagai salah satu faktor yang terpenting dalam seluruh struktur ilmu psikiatri modern.
(Kusumanto, disertasi 1966)

CBT (Cognitive Behaviour Therapie)
Combining pharmacological treatment with psychotherapy, especially those following a standardised procedure or manual, e.g. cog¬nitive-behavioural therapy (CBT), or interpersonal psychotherapy (IPT), is always an option, especially in mildly ill patients. Beneficial effects may include better compliance and adherence to pharmacological treatment as well as avoidance of a stress-inducing lifestyle.
Psychotherapies, although they may be initiated while acutely depressed, are aiming for intermediate and long-term changes; thus, they cannot be compared to medication or physical treatments which primarily focus on short-term improvement.

Sering expectasi yang tak realistic dapat menyebabkan pasien sakit atau menderita. Seorang pasien saya, seorang artis terkenal, merasa bersalah dan tak bisa tidur, hanya karena waktu konser dia salah satu not.
Seorang mahasiswa sudah tak bisa tidur 3 hari karena nilai ujiannya A-. Inilah type-type perfectsionist yang harus dianalisa C nya yang mengakibatkan tingkah laku (B) nya buruk. Dia akan selalu merasa bahwa dia gagal dari kehidupannya. Tidak jarang mereka begitu depresinya, hanya disebabkan kegagalan sepele. Disini peranan terpist adalah mencari dan merubah C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8.
Bisa juga seorang agora-phobia akan berexpectasi bahwa bila saya pergi kesana pasti saya akan cemas. Atau kalau saya menderita cemas, saya harus pergi dari tempat itu secepatnya, dan bagaimana bila serangan agoraphobianya terjadi di kapal terbang.
(Yul Iskandar, 2006)

Dalam ilmu itu penting kita perhatikan, dalam lapisan kehidupan manakah keadaan sakit itu terjadi : vegetatif organik, animal organik ataukah kehidupan human? dan selanjutnya penting pula diperhatikan apakah keadaan sakit itu terjadi jauh atau dekat dari pada apa yang dapat disebutkan sebagai inti eksistensi individual manusia itu ? Dalam hubungan ini, maka penting sekali diperhatikan pula sikap intensional dan eksentrisitas dari pada manusia yang bersangkutan itu terhadap kepada keadaan sakitnya sendiri.
Kehidupan vegetatif (tumbuh-tumbuhan) disebut sebagai suatu kehidupan yang berorganisasi terbuka. Artinya ialah bahwa semua penjelmaan atau expresi hidup-nya langsung masuk atau dimasukkan serta terserap oleh dunia sekelilingnya, sehingga dengan demikian sifat kebebasannya sangat minimal.
Kehidupan animal ialah suatu organisasi kehidupan yang bersifat tertutup (closed form of organization). Ia dapat dianggap memiliki suatu dunia lingkungan yang tersendiri, suatu “Umwelt”. Kehidupan vegetatif tidak memilliki dunia lingkungan tersendiri. Kehidupan ini nyata bersatu dengan dunia lingkungan itu, sehingga oleh karena itu banyak yang terjadi dalam lingkungan vegetatif itu bersifat tidak sadar atau dilangsungkan secara ’tidur’. Akan tetapi sebaliknya dalam kehidupan animal, tidak terjadi hal-hal secara tidur. Banyak kejadian dalam kehidupan animal, didasarkan atas sikap-sikap yang bersifat lebih sadar. Semakin sadar kehidupan animal semakin sangggup ia dalam membedakan antara apa yang terjadi atau terdapat dipusat (centre) dan apa yang terdapat didaerah ujung (perifer) dengan demikian maka semakin jelaslah perbedaan antara kepala, badan dan anggauta badan, sehingga kehidupan animal semakin jelas pulalah kemungkinannya untuk menyelenggarakan suatu sikap tidak tidur dan sikap lebih sadar . Se-olah-olah ia berada dalam keadaan progresif meninggalkan keadaan gelap, dan menuju kearah keadaan yang sifatnya lebih terang.
(Kusumanto, disertasi 1966)

Cognitive Behaviour Therapie (CBT)
Pasien lain selalu dalam ketegangan dan kemarahan yang terus menerus, karena pekerjanya bekerja kurang rasional menurut pendapat dia. Padahal pekerjanya sudah berpikir bahwa yang dikerjakan sudah rasional. Yang sulit adalah penderita cemas yang depresi, sehingga expectasi dia ialah bahwa tak seorangpun dapat membantu dia.
Jadi dalam banyak hal seorang pasien yang menemui event , masalah (A), dia akan mendapat banyak sekali expectasi (C), yang membuat dia melihat A adalah baik atau buruk, sukses atau gagal dsb. Dalam terapi sebenarnya A tidak begitu penting yang penting adalah C, sehingga akibatnya dapat mengatakan dan merasakan bahwa segala sesuatu adalah sukses. Walaupun tak sukses, bisa dikatakan adalah sesuatu keadaan kesuksesan yang tertunda.
(Yul Iskandar, 2006)

Oleh sebab itu, maka kehidupan animal bersikap menghadapi dunianya atau lingkungannya. Sikap menghadapi ini seringkali disebut sebagai sikap frontal. Memang sesungguhnyalah demikian kehidupan animal selalu secara langsung dan secara frontal menghadapi dunianya baik dengan landasan insting-instingnya, maupun berlandaskan kebutuhan-kebutuhannya. Apabila seekor ular berhadapan dengan seekor kodok, maka ular itu selalu menghadapi kodok sebagai mangsanya. Ular itu tidak pernah berpikir atau bersiasat tentang kemungkinan untuk menghadapi kodok itu secara lain dari pada sebagai mangsanya. Demikianlah antara lain yang dapat dipetik dari tulisan Plessner yang ada relevansinya dengan pendapat-pendapat mengenai hakekat sakit yang akan selanjutnya dibicarakan disini.
Lain halnya dalam taraf kehidupan human. Disini, kecuali frontalitas, pada prinsipnya kita menjumpai kesanggupan untuk bersikap secara eksentrisitas. Manusia pada prinsipnya ada kemampuan untuk berada dalam relasi terhadap dirinya sendiri. Oleh sebab itu, maka manusia diperlengkapi dengan kemampuan-kemampuan yang berada pada taraf intelek dan intelegensi : ingatan disatu pihak dan antisipasi dipihak lain ; reflexi automatik disatu pihak ; integrasi kreatif dipihak lain ; dan selanjutnya.

Manusia adalah makhluk yang memiliki suatu historitas, sedangkan kepada dunia sekelilingnya pun ia dapat memberikan arti makna sesuai dengan historisitasnya itu. Manusia dapat menganggap dunia sekelilingnya itu sebagai bidang usahanya (Wirkwelt) tetapi pada waktu yang bersamaan pula ia berjumpa dengan manusia-manusia lain dengan siapa ia bermaksud mengadakan komunikasi yang bersifat timbal balik, suatu “Mitwelt”. Dan akhirnya dengan dirinya sendiri pun ia dapat mengadakan komunikasi dan obyektivitas, berdasarkan daya kemampuannya untuk bereksentrisitas.

Jadi, manusia dalam keadaan sakit itu dapat dipastikan lebih lanjut hingga ia dapat menciptakan “Eigenwelt” atau “dunia pribadinya” sendiri, hakekat sakitnya apabila kita memperhatikan dimanakah faktor sakit itu merajalela. Sebab, dapat dibayangkan kiranya, bahwa sifatnya itu agak berlainan apabila hal itu terdapat di dunia kehidupan atau lapisan kehidupan yang bersifat vegetatif, ataukah animal ataukah berada di dunia kehidupan humannya.
Demikian pula maka taraf kegawatan sakitnya itu dapat pula ditinjau apakah keadaan sakit itu terjadi jauh daripada inti existensial-nya jadi lebih dekat ke ferifer ataukan sebaliknya. Jika distansi dari pada inti existensial itu besar , maka berdasarkan fungsi kesadaran manusia ( yang antara lain dijelma-kan karena sifat excentrisitas kehidupan human) maka keadaan sakit yang terjelma demikian itu kurang gawatnya daripada suatu keadaan sakit yang timbul lebih dekat daripada inti existensial itu.
(Kusumanto, disertasi 1966)

CBT pada penderita depresi.
Pada CBT pasien di minta untuk memakai aspek cognitive di otaknya untuk menghadapi tekanan-tekanan dari pusat emosi (limbic system). Biasanya bagi orang depresi dunia ini penuh dengan hal-hal yang menakutkan, dan berpikir bahwa dia tak mampu merubahnya. Walaupun dalam keadaan demikian ketika perubahan dalam cognitive dan emosinya diperkirakan sangat sulit, pasien depresi selalu mempunyai potensial untuk mengkontrol paling kurang satu hal yaitu tingkah lakunya (behaviour) sebagai bagian dari respons personal.
Pada CBT pasien depresi diharuskan untuk meningkatkan atau untuk menguatkan jalur (pathway ) lobus frontalis, jaitu jalur yang dipakai untuk berpikir. Disini pasien depresi diharuskan belajar untuk mengerti A dan C, yang menyebabkan dia depresi (B).
(Yul Iskandar, 2006)

Berdasarkan dua pola orientasi itu, yang pertama berdasarkan “dunia kehidupan” yang berlapis-lapis, dan yang kedua yang berdasarkan paham “inti eksistensial” yang meluas ke arah “periferi”, kita dapat mengadakan patokan yang lebih rasional untuk menetapkan koordinat-koordinat tentang kegawatan hakekat sakit, ditinjau dari sudut psikiatri. Manusia dapat merasa sakit dan merasa dirinya terganggu berat dan gawat jika kemungkinan untuk mengusahakan ikhtiar-ikhtiar reflexi automatik dilumpuhkan, seperti halnya dalam febris typhoidea atau malaria tropica, atau pun dalam hal infarkt jantung. Sampai taraf tertentu maka inti eksistensial tidak tersangkut dengan langsung, walaupun faktor kesadaran terutama yang disandarkan atas unsur-unsur somatik dan neurofisiologik dapat turut terkena karenanya.
Dipihak lain, manusia dapat merasa dirinya terganggu secara amat mendalam, dan merasa dirinya amat sakit, apabila ia terlibat secara langsung oleh hal ikhwal yang menyangkut inti eksistensialnya seperti dalam neurosis kompulsif obsessif atau neurosis anxietas (existensial). Tetapi, yang terberat dan tergawat manusia terserang oleh keadaan sakit, apabila ia menderita keadaan psikosis major. Dalam semua hal dimana kualifikasi berat dan gawat tentang keadaan sakit dapat dikemukakan maka manusia tidak mampu lagi bertindak, berpikir dan berintegrasi secara kehidupan human yang berkewibawaan dan bereksentrisitas.
Distansi terhadap apa yang menimbulkan keadaan sakit amat minimal atau malahan hapus. Daya kemampuan untuk mengikhtiarkan fungsi kesadaran terganggu, dan seringkali terganggu secara serius, sehingga usaha-usaha untuk mengadakan relasi dan limitasi terhadap dunia sekelilingnya hapus atau rusak parah. Kehidupan organisme seringkali merosot dan hanya mampu berlangsung pada suatu taraf kehidupan yang bersifat vegetatif, animal instinktif, serta selalu dalam keadaan yang banyak sedikit bersifat non kesadaran.

Secara kesimpulan, dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut. Bagi manusia soal keadaan sakit seringkali tercurah pada apa yang menurut hematnya sendiri telah berhasil menyebabkan atau mencetuskan penyakitnya. Bagi manusia maka keadaan sakit itu tidak perlu merupakan suatu paham yang ada subdivisi-subdivisi dalam aspek fisik ataupun mental, baginya keadaan holistik. Memang benar, jika dikatakan bahwa manusia itu dapat jatuh sakit secara beraneka warna jalan ; kuman infeksi, trauma, dan lain-lain sebagainya. Tetapi rupa-rupanya hal-hal yang demikian itu tidak selalu penting bagi manusia yang bersangkutan. Baginya jauh lebih sering, keadaan sakitnya itu ditafsirkannya sebagai suatu keadaan darurat kesehatan, dan oleh karena sifat kedaruratan itu, maka manusia seringkali terjerumus dalam suatu keadaan anxietas.
(Kusumanto, disertasi 1966)

CBT (Cognitive Behaviour Therapie)
Suatu contoh banyak pasien yang berkata bahwa ‘saya selalu merusak suasana”, maka therapist mencoba untuk mengubahnya menjadi ‘saya kadang-kadang merusak suasana” kemudian diubah lagi menjadi , saya sekali-sekali merusak suasana” dan terakhir diubah menjadi saya tidak pernah merusak suasana”
Dengan proses perlahan-lahan, dalam waktu relative pendek (dalam beberapa minggu) maka proses pikir yang negative diubah menjadi positif. Jadi tugas therapist adalah mengubah pikiran negative yang menginduce negative feeling, menjadi berpikiran positif yang menginduce perasaan positif.
(Yul Iskandar, 2006)

Untunglah bagi manusia , juga dalam keadaan dimana ia jatuh sakit dan semakin hari semakin merasa dirinya sakit, tetap terbuka kemungkinan untuk mengusahakan suatu objektivitas . Pelbagai keadaan dan faktor dapat dikemukakan sebagai hal-hal yang ada relevansinya dengan kemampuan objektivasi atau faktor kesadaran adalah suatu hal yang penting demikian pula kemampuan untuk melihat historisitas sendiri dan menduduki posisi yang bersifat exentricitas.

Malanglah bagi manusia jika keadaan sakit itu semakin hari semakin gawat, bahwa pada sesuatu saat suatu ambang kritik dari pada daya obyektivasi itu akan terlampaui. Pengertian tentang penyakit dan pengertian diri ataupun orientasi diri menjadi tipis beubah menjadi minimal ataupun hapus. Suatu keadaan yang gawat sekarang terjadi in optima forma.
(Kusumanto, disertasi 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: