Penyakit dan Guideline Therapy gangguan Psikiatri.

Oleh karena itu, maka para ahli kedokteran itu menganggap bahwa apa yang disebutkan keaadan sakit, yang dianggapnya equivalent dengan penyakit, merupakan suatu kumpulan gejala (kompleks gejala). . . . Dalam CBT maka formula utama adalah adanya masalah (event =A) akan menimbulkan reaksi perbuhan tingkah laku atau symptom penyakit (B), akan tetapi secara kenyataannya adalah bahwa A dirubah dahulu oleh C (aktivitas mental) yang bisa berupa histori, persepsi dan khayalan dsb. Jadi sangat mudah dalam mengubah pasien dengan CBT, yang sulit pada kenyataannya adalah C yang mana yang dipakai oleh pasien bila ada A untuk menjadi B.
Selanjut dapat dilihat di:https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/12/14/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-44/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006-2009. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini

Sesudah meninjau pelbagai soal yang dapat dianggap preliminer atau pendahuluan, maka sekarang sampailah kita pada tinjauan masalah hakekat keadaan sakit ditilik dari sudut ilmu psikiatri sendiri.
Sebagaimana diketahui, maka sebagian ilmu kedokteran cenderung untuk melihat pada keadan sakit itu hanya sebagai adanya suatu penyakit nosologik yang tersendiri. Oleh karena itu, maka para ahli kedokteran itu menganggap bahwa apa yang disebutkan keaadan sakit, yang dianggapnya equivalent dengan penyakit, merupakan suatu kumpulan gejala (kompleks gejala). Secara konsekwen, maka ilmu kedokteran oleh mereka itu juga dianggap sebagai suatu kumpulan tindakan teknik yang bertujuan untuk menghilangkan gejala-gejala itu.

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

CBT (Cognitive Behaviour Therapie)

Dalam CBT maka formula utama adalah adanya masalah (event =A) akan menimbulkan reaksi perbuhan tingkah laku atau symptom penyakit (B), akan tetapi secara kenyataannya adalah bahwa A dirubah dahulu oleh C (aktivitas mental) yang bisa berupa histori, persepsi dan khayalan dsb. Jadi sangat mudah dalam mengubah pasien dengan CBT, yang sulit pada kenyataannya adalah C yang mana yang dipakai oleh pasien bila ada A untuk menjadi B.
Kebanyakan pasien mencari mudahnya saja, mengambil secara random C, dan tugas dari dokter adalah memperbaiki atau mengoreksinya. Sering kita melihat pasien dengan sepenuh energinya merubah cognisinya dengan sesuatu yang salah dan energi habis untuk kesalahan itu.

Disini peranan dokter untuk supaya pasien mengambil C yang benar, dan dia harus tahu bahwa C adalah sutu proses internal di otak atau mental.C tidak demikian mudah didapat tanpa kerja keras.

(Dr. Yul Iskandar,2006)

Jelas kiranya, bahwa sikap yang demikian itu hendak menjauhkan diri, secara sengaja, dari pada segala sikap turut campur mengenai sifat-sifat kemanusiaan itu. Eksistensi manusia secra singkat dan tegas tidak menjadi soal kedokteran. Yang menjadi soal dan yang menjadi sasaran ialah penyakit, suatu paham yang secara sama dan sebangun dapat terjadi pula pada seekor hewan atau pada tumbuh-tumbuhan.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, maka pendapat yang demikian itu memang ada benarnya dan kamipun dapat menghargainya sampai taraf tertentu.
Bagi golongan ahli-ahli kedokteran ini, maka segala hal yang berhubungan dengan penyakit atau keadaan sakit harus dinilai dan diukur menurut terminologi “quad vitam”, yaitu tertuju apakah keadaan itu bersifat ancaman terhadap kelangsungan hidup fisik serta harapan untuk melangsungkan hidup itu. Karena itu, maka gawat tidaknya suatu keadaan sakit atau penyakit selalu diberikan kualifikasi-kualifikasi yang mengutamakan hal-hal dalam hubungan hidup fisik semata-mata.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Abbreviations guideline WFSBP (5)

This paragraph is Abbreviations from guideline for the biological, pharmacological treatment of acute bipolar depression. We omitted, (Yul Iskandar 2009 ) the length of discussion, and the name of reference , for full version please see the original manuscript..
This practice guideline for the biological, mainly pharmacological treatment of acute bipolar depression was developed by an international Task Force of the World Federation of Societies of Biological Psychiatry (WFSBP) and is part of a series covering the acute treatment of mania, bipolar depression and maintenance treatment of bipolar disorder. The preparation of these guidelines has not been financially supported by any commercial organization.

Psychotherapy
Combining pharmacological treatment with psychotherapy, especially those following a standardised procedure or manual, e.g. cog¬nitive-behavioural therapy (CBT, or interpersonal psychotherapy (IPT), is always an option, especially in mildly ill patients. Beneficial effects may include better compliance and adherence to pharmacological treatment as well as avoidance of a stress-inducing lifestyle.
For more detailed information on psychotherapies used in bipolar depression, we refer the reader to comprehensive reviews. Psychotherapies, although they may be initiated while acutely depressed, are aiming for intermediate and long-term changes; thus, they cannot be compared to medication or physical treatments which primarily focus on short-term improvement. Therefore, we do not grade their evidence in this chapter, but will pay more attention to them in the upcoming maintenance guidelines.
Specific consideration in Bipolar II depression
Bipolar II disorder is sufficiently different from bipolar I to deserve particular attention. The best available evidence for the acute treatment of bipolar II depression exists for quetiapine..
There is some, but less rigorous evidence for antidepressant monotherapy (e.g., fluoxetine, venlafaxine and citalopram (all CE1, RG 4). All these studies have also in common that they suggest a low rate of TEAS with antidepressant monotherapy in Bipolar II patients.
Conclusions
Until recently, treatment of bipolar depression meant either monotherapy with antidepressants, preferably in combination with lithium or an antipsychotic or an anticonvulsant such as oxcarbamazepine or valproate or lamotrigine. The evidence for these options was, at its best, moderate, and a relatively slow onset of action is common to all of these. Antidepressants, have a substantial delay until they show full beneficial action, so additional symptomatic treatment with tranquilizers, e.g. lorazepam or alprazolam, is frequently needed.
(Dr. Yul Iskandar,2006)

Sebaliknya, dalam diri penderita memang penting juga untuk mengetahui apakah hidupnya itu terancam. Tetapi yang terlebih penting bagi penderita itu ialah apakah hidupnya itu dapat dilangsungkannya untuk selanjutnya secara cukup produktif dan bermanfaat. Jadi, yang kita jumpai ialah fakta bahwa bagi penderita yang terpenting ialah bukan soal hidup atau mati (prognosa quad vitam), tetapi justru hanya soal hidup saja, sedangkan soal mati secara relatif tidak begitu penting. Secara formulasi lain dapat disebutkan bahwa bagi penderita yang penting apakah ia dapat melanjutkan hidup secara realisasi diri (self realization), secara daya kreasi dan secara produktivitas yang sebaik-baiknya.
Lagipula suatu tinjauan yang menjauhkan diri dari pada segi-segi filsafat perikemanusiaan, akan nyata terasa seperti hampa yang hanya memiliki suatu daya kompensatoir dibidang teknik-teknik yang bersifat detailistik yang kita ketahui dapat bersifat sebagai suatu hutan belukar yang amat menarik tetapi yang amat menyesatkan pula.

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

CBT (Cognitive Behaviour Therapie)

Dalam hal ini dokter dapat menerangkan pada pasiennya dari A ke B maka ada proses C 1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9, jadi sebelum pasien mengambil keputusan B maka ada suatu proses berantai dari C1 sampai C9, seperti kartu domino. Setelah itu baru pasien mengambil emosi, atau tingkah laku tertentu.
Pasien biasanya punya expektasi (B) terhadap stimulus A, malahan punya harapan yang berlebihan, tanpa memikirkan akan proses C. Pasien sering akan merasa bahwa dia akan sukses atau gagal. Pasien juga punya expektasi yang besar atau sangat kecil dari A.
Yang sering terjadi adalah expektasi yang tak realistic dari pasien.

Kadang-kadang C telah timbul sebelum terjadi A. Misalnya Asumsi ( C ) si pasien bahwa ujian akan sukar dan tak lulus, padahal A (ujiannya) belum terjadi yang terjadi adalah si Pasien menderita Insomnia atau cemas waktu mau ujian (B).
Pasien-pasien yang mempunyai pikiran negative, kurang percaya diri sering masuk dalam perangkap B, walaupun A belum terjadi.

Sebenarnya expectasi adalah apa yang pasien perlukan , dan keadaan disekitarnya. Contoh tadi pasien yang mau ujian, yang diperlukan adalah Konsep diri yang benar, menghilangkan mithos pribadi yang salah, dan melihat disekitar kita. Apakah kawan-kawan kita lebih pandai atau ebih bodoh dari kita.

Pasien dalam melakukan sesuatu, baik dia gagal atau sukses, harus melakukan pilihan C ( C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 ) dimana dia akan mendapat performa yang optimal dalam menghadapi A.
Cuatu contoh pasien punya uang 100.000 US $, dan harga dollar saat itu Rp 12.000 rupiah. Apakah dia akan menjaualnya (A) dan akan untung dan senang (B) kalau dollar US kemudian turun , atau sebaliknya. Banyak yang melakukan tindakan A tanpa menganalisa C, yaitu situasi dan expectasi dari dia sendiri. Seandainya dia memang butuh uang rupiah, tentu uang dollar dijualnya.
Ada pasien yang datang kepada kami dengan keluhan bahwa dia menyesal, kesal, tidak bisa tidur, karena tak mengexekusi, yaitu menjual dolarnya. ‘ Bayangkan Dok sekarang harga dollar Rp 10.000,- jadi saya sudah rugi 100.000 X 2.000 = Rp. 200.000.000.=
Memang masuk akal bila rugi Rp 200.000.000, kita akan kesal dan menyesal, tetapi saya tanyakan anda punya uang dulu berapa $100.000,=, Sekarang yang anda punya berapa US100.000,- dimana letak kerugian anda, karena anda toch tak membutuh kan uang rupiah pada saat ini. Pasien baru sadar bahwa dia sebenarnya tidak punya kerugian apa-apa (hanya potensial loss kalau dijual saat ini). Jadi kalau tak dijual dia tak ada kerugian apa- apa. Hanya dengan berbicara demikian saja, segala keluhannya menjadi hilang, karena expectasi C dia yang salah dikoreksi.

Sering expectasi yang tak realistic dapat menyebabkan pasien sakit atau menderita. Seorang pasien saya seorang artis, merasa bersalah dan tak bisa tidur, hanya karena waktu konser dia salah satu not. Seorang mahasiswa sudah tak bisa tidur 3 hari karena nilai ujiannya A-. Inilah type-type perfectsionist yang harus dianalisa C nya yang mengakibatkan tingkah laku (B) nya buruk. Dia akan selalu merasa bahwa dia gagal dari kehidupannya. Tidak jarang mereka begitu depresinya, hanya disebabkan kegagalan sepele. Disini peranan terpist adalah mencari dan merubah C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8.
Bisa juga seorang agora-phobia akan berexpectasi bahwa bila saya pergi kesana pasti saya akan cemas. Atau kalau saya menderita cemas, saya harus pergi dari tempat itu secepatnya, dan bagaimana bisa terjadi bila serangan agoraphobianya terjadi kapal terbang.
Pasien lain selalu dalam ketegangan dan kemarahan yang terus menerus, karena pekerjanya bekerja kurang rasional menurut pendapat dia. Padahal pekerjanya sudah berpikir bahwa yang dikerjakan sudah rasional. Yang sulit adalah penderita cemas yang depresi, sehingga expectasi dia ialah bahwa tak seorangpun dapat membantu dia.
Jadi dalam banyak hal seorang pasien yang menemui event , masalah (A), dia akan mendapat banyak sekali expectasi (C), yang membuat dia melihat A adalah baik atau buruk, sukses atau gagal dsb. Dalam terapi sebenarnya A tidak begitu penting yang penting adalah C, sehingga akibatnya dapat merasakan bahwa segala sesuatu adalah sukses. Walaupun tak sukses, bisa dikatakan adalah sesuatu keadaan kesuksesan yang tertunda.

(Dr. Yul Iskandar,2006)

Dan disamping itu semua perlu kita perhatikan bahwa ada beberapa penyakit atau keadaan gangguan yang dapat diberikan kualifikasi yang terdengar ilmiah, tetapi yang pada dasarnya bukanlah penyakit dalam arti kata yang sebenarnya. Yang dimaksud ialag golongan gangguan kesehatan yang banyak bersifat “dapat membatasi diri (selfimiting disorders)”.

Salah satu contoh ialah antara lain keadaan graviditas, keadaan batuk pilek influenza ringan, dan mungkin juga pelbagai reaksi psikosomatik atau lebih tepat psikofisiologi yang komponen-komponen psikotraumatiknya jelas dan terbatas (circum script).
Golongan penyakit-penyakit ini amat potensial untuk menimbulkan pelbagai keadaan sakit, tetapi dipihak lain organisme sendiri juga sangat kuat dalam mengadakan mobilisasi kekuatan-kekuatan cadangan, sehingga gangguan-gangguan kesehatan itu hampir selalu dapat diatasi olehnya sendiri. Para ahli kedokteran dalam hal-hal yang demikian itu sekedar bersifat sebagai “pembantu” dan tidak sebagai “pengobat”.

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Abbreviations guideline WFSBP (5)

This paragraph is Abbreviations from guideline for the biological, pharmacological treatment of acute bipolar depression. We omitted, (Yul Iskandar 2009 ) the length of discussion, and the name of reference , for full version please see the original manuscript..
This practice guideline for the biological, mainly pharmacological treatment of acute bipolar depression was developed by an international Task Force of the World Federation of Societies of Biological Psychiatry (WFSBP) and is part of a series covering the acute treatment of mania, bipolar depression and maintenance treatment of bipolar disorder. The preparation of these guidelines has not been financially supported by any commercial organization.

Recently, quetiapine and OFC have broadened our treatment options, and both showed moderate to high effect sizes in controlled studies, together with an early separation from placebo, which may hint to a more rapid onset of action. Given the inherent danger of suicide in acute bipolar depression, this can be considered as a major step forward.
For many treatment options, the evidence is not straight forward but generated and extrapolated from several trials, most of them inconclusive by themselves. However, with reasonable caution, we can summarize some key findings:
• There is clear evidence of the efficacy of quetiapine monotherapy at 300 mg per day for the treatment of both Bipolar I and II depression, although there are both short-term tolerability issues and long-term safety issues which should be considered by the clinician and patient
• There is strong evidence for the efficacy of olanzapine/ fluoxetine combination. There are tolerability and safety issues with regard to this treatment as well which the clinician and patient must deal with.
• There is also fair evidence for the efficacy of fluoxetine and to some degree also for other antidepressants when used in combination with an antimanic agent, e.g., tranylcypromine, bupropion, sertraline, venlafaxine and imipramine. The issue of TEAS seems to be under control with the combined use of an antimanic agent, at least with SSRIs.
• Lamotrigine monotherapy in more severely depressed patients has been shown in a post-hoc pooled analysis to have efficacy. Lamotrigine as add-on to lithium in non- or partially-responding patients should be considered.
• Although the evidence is not as good, add-on modafinil and add- on pramipexole ( the latter in Bipolar II patients) should be considered.

Of the non- pharmacological treatments of bipolar depression, adjunctive psychological therapies such as CBT, IPT and social rhythm therapy can add to improved outcomes, although their main evidence base is in the prophylaxis of new episodes. As far as physical treatments are concerned, results for rTMS or VNS in bipolar depression are so far not encouraging or non-existing. ECT remains an effective option especially in treatment resistant bipolar depression.
The task force agrees that, although major advances have been made since the first edition of this guideline there are many areas which still need more intense research to optimize treatment as also outlined in Kasper et al: Bipolar II depression, psychotic bipolar depression, treatment of children, adolescents and the elderly with bipolar depression, treatment of patients with comorbid conditions, treatment of patients with suicidal risk, treatment of mixed depression, treatment of patients not responding to first or second step treatments and finally comparative studies between the different treatment options and identification of patient subgroups who may do best on a given medication or combination of medications. It is also mandatory to spend more thoughts on trial methodology given the continuous rise in placebo-response rates and, consecutively, failed studies. Clearly defined diagnostic groups and study entry criteria, together with careful site selection, are essential to achieve the best available evidence.
(Dr. Yul Iskandar,2006)

Demikianlah maka kita lihat sekarang betapa terbatas dan pincangnya faham-faham penyakit yang hanya hendak mendasarkan diri atas pertimbangan organobiologik semata-mata dan kemudian hendak mengadakan transplantasi faham itu kedalam rangka fikir dan rangka praktek dari pada ilmu kedokteran klinik modern.
Apa yang disebutkan penyakit adalah salah satu abstraksi ilmiah yang disandarkan atas konsep-konsep organobiologi yang seringkali amat detailistik. Sebaliknya, penyakit bagi kondisi human yang kita dapati dalam diri tiap-tiap penderita kedokteran,selalu membawa serta pelbagai konsekwensi-konsekwensi dari kondisi human yang kita dari pada eksistensi individual manusia itu.
Dan hal-hal yang tersebut terakhir ini hanya bisa dipahami dan diinterpretasikan apabila kita justru tidak menjauhkan diri dari pada filsafat-filsafat yang menjunjung tinggi kemanusiaan individual penderita yang bersangkutan.
Jadi, walaupun disatu pihak, ilmu psikiatri dapat menghargai ikhtiar-ikhtiar penggolongan dan deskripsi penyakit-penyakit dalam suatu sistematisasi nosologik, dipihak lain ilmu psikiatri menganggap perlu untuk juga mendalami soal hakekat sakit ini dari sudut-sudut lain dari pada sudut yang bersifat orgaanobiologik saja.
Oleh karena itu maka ilmu psikiatri patut memandang secara kritik,tiap-tiap usaha dibidang ilmu kedokteran klinik untuk mengarahkan tinjauannya hanya kesudut organobiologik semata, apabila ikhtiar tertentu yang bersifat menjerumuskan kita kearah sikap memutlakkan segi-segi organobiologik itu.
Jikalau kita sekarang meninjau soal hakekat sakit ini dari sudut penderita sendiri, maka kita akan senantiasa dihadapkan kepada suatu fenomena yang amat sentral sekali dan yang biasanya disebutkan dengan istilah anxietas. Adapun yang disebut anxietas (anxiety) itu ialah suatu kekhawatiran yang tidak memiliki obyek yang tertentu, sedangkan yang disebut ketakutan (fear) biasanya jelas-jelas tertuju pada suatu obyek yang sudah sungguh-sungguh menakutkan.

Apakah yang menjadi obyek kekhawatiran atau ketakutan dari pada seorang penderita ? Bukan soal mati atau kematian, sebab hal itu sudah pasti diketahui oleh semua orang, juga sebelum mereka jatuh sakit sekalipun. Semua orang tahu bahwa semua orang pada suatu saat akan mati.
. Oleh karena itu, maka soal mati dan kematian itu jarang akan mengherankan orang, orang sudah siap sedia untuk mati setiap saat. Tentu ada orang –orang yang akan gelisah bahwa dia diberitahukan akan mati. Tetapi secara statistik, golongan ini merupakan suatu minoritas.
Lagipula bila ketakutan itu memang ada , maka ketakutan (fear) itu bisa diredakan secara relatif mudah. Akan tetapi yang menjadi anxietas justru bukanlah mati atau kematian melainkan berapa lama dan betapa berat serta mendalamnya penderitaan yang harus ditanggungnya.

Sebab, walaupun semua orang tahu bahwa ia akan mati semuanya, tak seorang pun tahu secara bagaimana ia akan menemui mautnya. Inilah yang menyebabkan anxietas, karena takada ketentuan, kepastian atau gambaran sesuatu pun yang ada dapat dipegang oleh manusia yang sakit. Ketidakpastian dan ketidaktentuan jadi tidak adanya obyek itulah yang menimbulkan anxietas.

(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Satu Tanggapan to “Penyakit dan Guideline Therapy gangguan Psikiatri.”

  1. Pharmb588 Says:

    Very nice site! [url=http://ypxoiea.com/qyrayq/2.html]cheap cialis[/url]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: