Kasus Indri ( Bagian 2)

Kasus Indri ( Bagian 2)

” Mari kita masuk kegudang saja “, dia kembali berbisik, maksudnya kamar dibelakang pintu yang dinamakannya gudang. Aku tahu apa yang bakal terjadi dan yang dia inginkan, ternyata nalurikupun memang menginginkan hal itu. Namun aku tak mampu menjawab. Suaraku hilang. Tenggorokanku terasa kering.
Cognitive Behaviour Therapie (CBT)

Pas= Pasien.
Pas: Saya mempunyai banyak problem.
Dokter: Saya bukan polisi, yang menyelidiki masalah, bukan pula jaksa yang mencari bukti-bukti, dan bukan pula hakim yang menentukan bahwa baik atau buruk, salah atau benar .
Pas: Untuk memecahkan masalah kita harus tahu, apa penyebab masalahnya.
Dokter: Kadang-kadang tidak mudah anda mencari penyebab masalah (penyakit), mungkin akan sampai pada kesimpulan yang salah.
Pas: Misalnya. Seterusnya baca dii blog :
https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/12/03/kasus-indri-bagian-2/

Kasus ini adalah kasus pasien yang benar-benar berobat pada psikiater Dr Yul Iskandar, nama , tempat dan identitas lain disamarkan, tanpa menghilangkan substansi. Pasien menuliskan riwayat penyakitnya, gejala-gejala yang dirasakan, perasaan dia dalam bentuk tulisan. Pada saat ini pasien dalam keadaan baik, tapi masih mengkonsumsi obat.

Tentu sangat sensasional melakukan adegan yang tak terduga, bisa meraba dan meremas daerah daerah sensitive dan terlarang, tetapi kami masih memakai baju. Karena kami duduk dibawah tak seorangpun yang melihat perbuatan kami. Aku heran mengapa aku menjadi agresif, padahal dengan suami sendiri kalau dia tak memulai, aku akan diam saja. Aku meremasi barang-barangnya yang terletak di balik celananya itu sambil mendesis menahan hasrat syahwatku yang menggelegak. Aku tersiksa dalam badai birahiku.

” Mari kita masuk kegudang saja “, dia kembali berbisik, maksudnya kamar dibelakang pintu yang dinamakannya gudang. Aku tahu apa yang bakal terjadi dan yang dia inginkan, ternyata nalurikupun memang menginginkan hal itu. Namun aku tak mampu menjawab. Suaraku hilang. Tenggorokanku terasa kering. Aku merasa sangat haus. Aku luluh. Tulang-tulangku serasa lolos dari dagingnya. Dan aku lunglai saat lelaki itu menuntun aku kekamar gudang dibelakang. Dia nyalakan AC-nya. Seketika udara sejuk memenuhi ruangan gudang itu . Kini aku merasa sangat nyaman, berdua dengan pemuda itu.

Sepertinya dia juga sangat dahaga dan ingin selekasnya menghapus dahaganya, dia rentangkan kursinya ke belakang dan telentang.Tangannya cepat mencopoti kancing celananya Dia menegok ke arahku sambil tersenyum. Kemudian dia raih tanganku yang gemetar untuk dipegangkan dan diremas-remaskan ke daerah terlarangnya. Ternyata tanganku secara reflex mulai mengelus barangnya. Aku terjerat dalam nikmat yang sangat sensasional, dan sama sekali tak mempunyai rasa salah atau malu, dengan apa yang aku perbuat. Anak muda itu menawarkan berbagai hal dan dengan berbicara vulgar dan tak senonoh. Kemudian tangan kirinya meraih rambutku dan menekannya untuk merunduk.

Aku memang sudah terobsesi. Aku sudah tak mampu menghindari situasi nikmat ini. Aku telah larut dan tenggelam dalam hasrat birahiku. Merasa telah berhasil membalas kejahatan suamiku. Aku merunduk mengikuti tuntunan tangannya sambil membuka mulutku. Seketika aku mendengar lenguh anak muda itu dan Dia mulai meracau, mulai kemasukan, ada jeritan, yang agaknya tak terdengar keluar, juga karena suara bising dari AC.

Keadaan menjadi hening. AC mulai terasa sejuknya. Aku masih ingin menciumi tubuhnya yang putih penuh bulu itu. Aku ingin mendengar racaunya saat melumati puting susunya. Namun nampaknya selera seksual anak muda ini telah lenyap bersamaan dengan keluarnya cairan kenikmatan kita berdua.

Dengan menyelinap kami keluar, dan supaya ada yang dibawa aku minta contoh potongan kain-kain, dan aku bawa keluar melewati beberapa pembeli, seperti ora ng yang tak bersalah apa-apa. Aku menengok kebelakang kulihat si Anak muda sedang membereskan kain-kain, serta melipat potongan potongan kain, dan bekerja seperti tidak melakukan apa-apa.

Sampai dirumah aku baru ingat, aku lupa nama toko textile dan nama si anak muda , walaupun aku tahu tempatnya. Aku jadi ceria, dan ketika suami datang, aku masak masakan kesukaannya. Biasanya kami jarang makan bersama, kalau aku lapar aku makan duluan, dan dia kadang kadang makan diluar mungkin dengan selingkuhannya.
Melihat aku ceria, suamiku bertanya, ada kabar apa hari ini, apakah aku menang lotere. Mulai hari itu mukaku bersinar-sinar, dan jarang marah-marah lagi.

Seminggu telah berlalu, aku mulai kangen untuk berpetualang lagi. Tapi aku lupa nama tokonya dan lupa nama anak muda itu. Untung aku ingat contoh kain, dan aku buka dan terpampang nama toko itu, serta ternyata ada kartu nama anak muda (Deny). Aku telepon toko itu, diangkat oleh orang lain, dan aku minta bicara dengan anak muda itu. Anak muda mulanya lupa, aku katakan Aku Indri, yang mau membeli kain, dan pernah kegudang tokonya, dia baru ingat, rupanya mungkin banyak ibu –ibu lain yang dilayaninya sehingga dia lupa padaku, dan mungkin saja karena memang aku juga tidak mengenalkan diriku padanya. Dia katakan apa sudah ada pilihan, dan aku jawab sudah dan aku akan ambil beberapa gulungan kain. Aku mau datang hari ini. Soalnya aku sebenarnya tak perlu berunding dengan siapapun, toh aku yang membayarnya. Si anak muda bilang jangan hari, besok saja karena kain yang aku mau persedian hari ini tidak cukup. Aku agak jengkel juga, dia tak mau menerima aku hari ini dan harus menunggu 24 jam lagi. Apa benar kain textile jenis itu tidak ada, padahal minggu yang lalu aku lihat sendiri di gudang cukup banyak. Apa dia punya janji dengan perempuan lain. Tapi pantaskah aku marah, aku bukan siapa-siapanya, hanya pelanggan kain biasa. Dalam menunggu 1 hari, rasanya cukup lama, seperti seminggu, tak ada yang bisa kulakukan hari itu, dan semua pekerjaan jadi serba salah.

Keesokan harinya, aku telepon lagi, kini dia yang menerima, dan dia minta maaf, karena kemarin harus mengambil kain yang aku maksud. Dia bilang supaya gampang keluarnya dari pasar yang selalu macet, dia anjurkan aku untuk parkir disuatu tempat, yang aku tahu tempat itu agak sepi. Aku masuk ketoko itu, dan ada kira-kira 5 orang sedang berbelanja, dan dia sedang melayani pelanggan. Melihat aku datang dia memanggil saudaranya untuk melayani pelanggan lain, dan dia melayani aku. Aku terus berjalan ketempat belakang, Deny, nama anak muda itu mengikuti aku. Aku masih pura-pura melihat-lihat kain, dan dia mengikuti aku. Ketika melipat kain, tangannya meremas-remas tanganku, dan dia berkata sudah kangen ya. Lalu aku katakan ya, tapi sebenarnya sudah dari kemarin aku kangen sama dia. Kami jauh dibelakang, dan dengan kain direntangkan keatas, dia mulai memeluk dan mencium saya dengan gemas. Akhirnya dia berkata “Mau ke mobil bu, lebih baik kita main di mobil lebih aman kalau ibu parkir ditempat yang sudah saya tunjukkan “, dia kembali berbisik.

Aku tahu apa yang dia inginkan, dan yang juga aku inginkan, kami sudah tahu apa-apa yang kami inginkan, dan sebenarnya hal ini sudah aku inginkan sejak dari kemarin. Suaraku hilang. Tenggorokanku terasa kering. Aku teringat permainannya digudang itu, dan sangat luar biasa. Aku merasa sangat haus akan hal itu kembali. Aku luluh. Tak berdaya dilanda gelombang syahwat dan berahi. Tulang-tulangku serasa lolos dari dagingnya. Dan aku lunglai saat lelaki Indo itu menuntun aku keluar toko sambil membawa kain yang aku pesan untuk seragam para among tamu perkawinan adikku. Dengan membawa kain itu memberikan kesan bahwa dia akan mengantar aku menuju kendaraanku kepada pelanggan-pelanggan lain.

Dia membawa aku ke tempat dimana mobil ku parkir diantara ratusan mobil yang lain. Sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya, lokasi mobilnya ada di paling ujung dan menyendiri, dan dikanannya ada tembok, sehingga mobil itu terisolasi dengan baik. Dia membukakan pintu mobilku, setelah kunci kuberikan kepadanya. Dia menuntun aku duduk di jok. Melihat tingkahnya dia sudah berpengalaman, dengan permainan ini, lalu aku Tanya berapa wanita yang telah dia mainkan. Dia menjawab pertanyaan itu tak perlu dijawab, kalaupun benar atau bohong toh ibu tak akan tahu. Benar juga pikirku apa urusannya aku dengan wanita-wanita lain, kalau dia bisa memuaskan aku, toh segalanya beres. Dia toh bukan pacar, teman atau suami, kita Cuma suka sama suka, meraih berahi, melakukan hal terlarang, tapi sangat menyenangkan. Memang hal-hal terlarang banyaknya yang menyenangkan. Lantas dia berputar ke depan membuka pintu dan duduk di belakang kemudi. Dia nyalakan mesin dan AC-nya. Seketika udara sejuk memenuhi ruangan mobil . AKu merasa sangat nyaman dengan pemuda ini, karena dia tahu betul apa yang aku butuhkan, aku tak perlu bicara ba-bi bu dia sudah mengerti semengertinya.

Sepertinya dia juga tahu dan sudah mulai naik keotak syahwatnya, dan ingin selekasnya melepaskan keinginan dan rayuan iblis, untuk berbuat sesuatu yang sangat dilarang agama. Dia ingin menghapus dahaganya, dia rentangkan kursinya ke belakang dan telentang.Tangannya cepat mencopoti kancing celananya . Dia menegok ke arahku yang masih bengong, tak tahu apa yang harus kukerjakan. Akhirnya Aku tak tahan lagi untuk sekedar melihatinya. Mungkin dia memang seorang ‘exhibitionist’. Namun kuakui bahwa
Dia sangat expert dalam hal ini.

Kemudian dia raih tanganku yang gemetar untuk dipegangkan dan diremas-remas dan dielus-elus. Deny adalah tipe orang yang bisa romantis, kemudian bisa kasar, kemudian bisa halus, dan kita terlarut dalam permainannya. Tanganku juga mengelus dadanya dan dengan agresif aku mencurahkan semua hasratku pada si Deny ini.

Aku terjerat dalam nikmat yang sangat sensasional. Aku melihat betapa mukanya memancarkan dan berkilat karena tegangnya serta desakan birahinya. Dia bicara vulgar, tapi justru itu merangsang berahiku melonjak-lonjak. Kemudian tangan kirinya meraih rambutku dan menekannya untuk merunduk menaruh didaerah terlarangnya. Aku sepeerti kerbau yang dicocok hidung, menuruti saja apa perintahnya, yang nyatanya memuaskan dahagaku.

Aku memang sudah terobsesi. Aku sudah tak mampu menghindari situasi nikmat ini. Aku telah larut dan tenggelam dalam hasrat birahiku. Dengan tangan kananku menggenggam dan tangan kiriku mengelusi dan meremas-remas kami bersebadan di mobil itu yang untungnya kacanya gelap, sehingga tak seorangpun melihat apa kami yang kerjakan.
Suaranya mulai parau dan tersendat-sendat, begitu juga aku berdesah desah tak karuan, karena terpaan nikmat mendongkrak hasrat birahiku.

Keadaan menjadi hening. AC mobil mulai terasa sejuknya. Aku masih ingin menciumi tubuhnya yang putih penuh bulu itu. Aku ingin mendengar racaunya saat melumati badannya. Namun nampaknya dia sudah kelelahan, selera seksual anak muda ini telah lenyap bersama dengan ‘gempa bumi’ sembilan sekala Richter, dan gelombang Tsunami, serta gunung meletus yang memompakan magma yang berlimpah tadi. Dia membetulkan kancing celana dan bajunya. Dia berkata kapan-kapan kita ketemu lagi, tapi telepon dahulu, dan jangan datang ketokonya, kita ketemu ditempat lain saja, supaya jangan ada yang curiga pada kami. Saya mengiyakan, dan kami berpisah sebagai dua orang kekasih.

Dalam keadaan normal seharusnya aku tersinggung karena dia tak mau didatangi ditokonya, namun entah bagaimana, perkataannya itu ada benarnya juga. Jika sering sering datang kesana pastilah banyak orang tahu, dan ini membuat reputasi kami berdua jadi buruk. Jadi sebaiknya aku tak boleh datang-datang lagi ketokonya, tetapi bila mau bertemu, tentu dengan diam-diam, dapat terjadi dimana saja.

Dua minggu telah lewat, lama-lama aku jadi seperti penderita narkotik, permainannya luar biasa membuat aku ketagihan. Suatu hari aku jalan-jalan di pasar M, dan bertemu dengan kawan-kawan ibu-ibu dari anaknya yang satu sekolah dengan anak-ku. Dia menanya aku mau kemana, lalu aku jawab mau membeli buah, dan kawan-kawan ku mengajak ngobrol di Restoran yang jualan mie pangsit dan Baso. Restoran itu boleh juga dan agak bersih, kami duduk dan ternyata ada 10 tamu lainnya. Karena dekat dengan toko Deny, aku permisi pinjam telepon pada kasir, sengaja aku tak menelopon dari HP, dan meneon Deny aku ada di Restoran, dan apakah dia bisa datang. Dia janji 5 menit lagi dia akan datang. Sebelum dia datang aku permisi kepada kawan-kawan untuk ke belakang, aku bilang aku sakit perut, mungkin karena makan cabai sangat pedas. Kamar kecil termasuk bersih, terletak dibelakang, dan disebelah kanan untuk wanita, disebelah kiri untuk pria. WC nya masing-masing Cuma satu, jadi bila ada orang maka orang lain tak mungkin bisa masuk. Deny kemudian datang dan dia pesan kopi dan nasi goreng. Aku mengintip, dia kemudian pergi WC laki-laki, begitu dia masuk, aku ketuk dan dia bukakan pintu. Begitu bertemu kami berpelukan dan berciuman seperti orang kelaparan, yang sudah dua tahun tak bertemu. Kita melakukan Sanggama kilat, aku menganggkat kaki, malahan bajupun tak terbuka, dia hanya menurunkan celana panjangnya. Hanya 7 menit hal itu terjadi, tapi rasanya sudah sampai nirwana. Aku tak tahu, apakah aku bersuara mendesah-desah, tapi pasti aku tak berteriak.

Setelah 7 menit aku keluar, dan mengobrol dengan kawan-kawanku, dan menanyakan apakah aku masih sakit perut. Aku bilang sudah hilang semuanya telah aku keluar kan, tak ada lagi yang mengganjal. Kami bisa ngobrol lama, dan Deny minum kopinya serta nasi gorengnya, kemudia dia keluar sambil memberikan tanda telunjuk dan jari tengah disilangkan, suatu tanda kita akan bertemu lagi dalam waktu singkat.

Berselang dua minggu, aku sudah ada di pasar M lagi. Aku melihat ada bioskop disitu yang akan diputar lima belas menit lagi. Saya sudah berjanji tak akan ketokonya tapi akan menghubungi dia melalui telepon biasa. Dia menganjurkan jangan ada SMS dan jangan pakai hand phone, jadi pakai telepon biasa saja. Kebetulan di Biokop itu, siang itu tak begitu ramai dan ada telepon umum. Saya menelepon Dany, bahwa aku ada dibioskop itu, dan dia bilang dia akan datang, belikan saja karcis, dan tinggalkan pada penjaga, nanti dia akan mengambilnya. Seperi yang dia katakan saya membeli dua karcis, dan memlih tempat di ray paling belakang dan ditengah. Bioskop itu pada siang itu agak kosong, dan memang bioskop itu sedikit kurang terurus. AC nya tak begitu dingin, dan film India yang penuh Nyanyi dan Tari, tak jelas jalan ceritanya. Saya telah masuk duluan, saya agak gelisah karena Deny dalam waktu lima menit belum datang juga. Setelah sepuluh menit berlalu baru dia datang, begitu dia datang aku tarik mukanya aku ciumi dia dibibir dan ditelinganya, dan kami saling pagut. Aku Tanya kenapa dia telat, lalu dia katakan ada pembeli rewel yang minta tukar bahan, tapi dia bilang jangan takut, film India ini sangat panjang, bisa 3 jam pertunjukkannya. Pemisah meltangan dari kursi kami angkat sehingga kita bisa duduk berdempetan. Kita seperti anak belasan tahun yang lagi pacaran, saling pegang dan saling remas. Dan akhirnya aku duduk dipangkuannya, dimana kancing celananya telah terbuka. Aku melihat kekiri dan kekanan, tiada orang, didedepan ada kira 10 rang yang duduk tersebar. Aku duduk dipangkuan Deny, dan calana dalam telah aku lorotkan, begitu pula Deny celananya telah terbuka kancingnya. Aku kurang yakin apakah tak ada orang yang memperhatikan aku, ternyata memang semua sibuk dengan urusannya.
Betul kata Deny, bahwa film India diputar berlama-lama, sehingga kita juga bisa berlama-lama dengan berbagai posisi yang mungkin tanpa terlihat oleh orang. Diakhir cerita kita juga telah selesai, dan Deny berbisik, bahwa sebaiknya dia keluar dulu sebelum film berakhir, dan aku keluar sampai semua orang telah keluar.
Sebelum keluar dia berbisik minggu depan kita bertemu di tempat pemijatan di daerah pasar M, pemijatan itu bertuliskan “bersih dan sehat”, dan anda minta tempat VIP untuk pemijatan keluarga.

Belum satu minggu, aku mencoba ke tempat pemijatan itu, karena akau sendiri, aku tak dizinkan memakai tempat VIP untuk keluarga. Ditempat itu sangat keras, para pemijat tidak boleh mengadakan hubungan dengan cliennya baik ditempat itu maupun ditempat lain. Bila ketahuan pasti dikeluarkan dan didenda pula, yaitu semua penghasilan pada bulan itu tidak akan dibayarkan, dan bila si pemijat keberatan, maka si pengelola siap untuk mengadukan ke polisi atas perbuatannya. Panti itu jadi ramai, karena tak ada hal-hal yang negative didengar dari panti itu. Aku bingung juga dengan si Deny yang mengajak kencan ditempat seperti itu. Tapi setelah hari yang ditetapkan aku telepon Deny, dan Deny menyuruh sewa tempat VIP untuk keluarga. Kalau ditanya bilang saja suaminya 10 menit akan menyusul, dan sewa tempat itu 3 Jam, 1 jam untuk dipijat dan 2 jam untuk istirahat (tidur setelah dipijat).
Aku lakukan perintah Deny, ternyata memang ada tempat VIP, dan tempat itu suatu kamar, dengan dua tempat pemijatan, dengan fasilitas yang agak mewah, ada Ac, ada kamar mandi didalam dan ada aroma terapi.

Aku masuk duluan sesuai dengan instruksi Deny, dan aku dipijat oleh pemijat wanita yang berpengalaman. Aku tanyakan apakah para pemijat itu pernah melakukan perbuatan mesum disitu. Dia bilang tak ada, disini ada pemantau CCTV, yang akan memantau kegitan klien dan pemijatnya. Jadi pasti itu tak mungkin terjadi, dan para pemijatpun tak berani main-main, selain dipotong gaji, harus bayar denda dan diadukan ke polisi, sehingga hal itu tak mungkin terjadi antara client dan Pemijat.
Dalam waktu setengah Jam, aku sudah mulai mengantuk, dan mulai tertidur, mungkin karena pijatan, mungkin karena aroma therapy diiringi musik yang menurunkan stress.
Ketika dalam tidur itu, aku merasa ada rabaan lain, dari tangan mungil, tetapi ini tangan lelaki yang kasar, pada awalnya aku pura- pura tidur saja, menikmati tangan yang mengerayangi tubuhku yang separuh telanjang, yang hanya memakai celana dalam.
Tapi aku ingat ada CCTV yang merekam gambar, aktivitasku. Aku bangun dan kulihat Deny yang sedang menggerayangiku. Aku berbisik kepada Deny, ada CCTV yang memperhatikan aktivitas kita. Dia bilang jangan takut, cctv itu akan merekam gambar orang lain yang ditaruh oleh Deny dekat CCTV. Aku tak bertanya lagi kapan dia datang, bagaimana dia datang, langsung aku memeluknya dan menciumnya dengan penuh hasrat birahi. Memang bila jarang bertemu, hubungan sex akan bertambah nikmat, apa lagi ditambah dengan rasa dendam, rasa takut, emosi marah, dan rasa kangen. Semua bumbu itu ditambah lagi dengan variasi keterbukaan, kevulgaran, membuat bermain dengan suami seperti makan nasi dengan kecap, sedang dengan Deny seperti makan nasi dengan sayur kegemaranku seperti nasi padang, ditambah dengan sop kaki. Jadi selain kenyang juga ada rasa puas yang sulit dikatakan. Pada awalnya kita melakuakn quicki, yaitu persebadanan dengan cepat 5-7 menit. Kemudian kita istirahat dan kekamar mandi, disana kita melakukan lagi. Dan kita kembali ketempat pijat, Deny berbaring, dan akau seperti wanita pemijat, dan sambil melakukan berbagai adegan dan akhirnya akau naik, dan Deny tetap ditempat tidur, dan aku yang active, merangsang syahwat Deny supaya cepat naik kekepala. Begitulah kegitan yang berlangsung 3 jam, dan akhirnya karena waktu sudah habis, aku disuruh pulang duluan, sambil membayar sewa kamar itu, dan Deny entah apa yang dikerjakannya untuk supaya CCTV di kamar itu kembali normal. Ja semua kegiatan biasanya aku yang bayar, malahan bila aku disuruh bayarpun aku mau.

Dua minggu kemudian, ketika aku mau menghubungi Deny, ternyata akau mendapat berita bahwa suamiku terbunuh. Lebih menyedihkan yang membunuh adalah Deny, jadi mereka saling bunuh. Aku takut aku akan terbawa dengan masalah itu, ternyata Mas Adit memergoki Deny sedang bermesraan dengan Inul, di kamar gudang, yang akupun pernah melakukannya disitu. Mas Adyt mata gelap, dengan membeli pisau dia menyerang Deny, deny kena perutnya, tapi pisau itu juga kemudian membalik sehingga mengorok leher Mas Adyt. Dalam pemeriksaan ternyata Inul secara teratur menemui Deny di toko itu, dan dapat dilihat dari faktur pembelian kain, yang tiap minggu dia memesan kain. Indri juga ditanya, karena ada fakur yang menunjukkan pernah kesana, tapi untungnya dia hanya sekali itu saja kesana dan jelas membeli pakaian untuk seragam panitia perkawinan adiknya.

Sejak kejadian itu Indri, jadi pemurung dan mengeluh tak bisa tidur dan ini sudah hampir sebulan. Kawannya Rike menyangka bahwa Indri murung karena suaminya terbunuh, tetapi yang paling disesalkan Indri sebenarnya adalah kematian Deny yang telah menghiburnya hampir 3 bulan.

Begitulah cerita Indri, saya sebagai dokter hanya mendengarkan tanpa komentar, sambila berkata segala sesuatu kehilangan itu menbuat kita sedih, akan tetapi dibalik itu ada hikmahnya, yaitu kita diharuskan oleh yang maha kuasa untuk berhenti melakukan
hal-hal yang dilarang.

Untunglah bahwa Indri tidak terbawa- dan terseret dalam kasus ini, dan beruntunglah bahwa dia masih bisa membesarkan anak, begitu kataku sambil memberikan obat, dan meminta dia datang dua minggu lagi untuk control. Kasus Insomnia Indri sangat menonjol dan akan tetapi dalam dua minggu control, dia sudah bisa tidur dengan baik.

Cognitive Behaviour Therapie (CBT).

CBT merupakan dialog antara therapist dan pasien.
Pada umumnya pasien akan mengemukakan adanya masalah.

Pas= Pasien.
Pas: Saya mempunyai banyak problem.
Dokter: Saya bukan polisi, yang menyelidiki masalah, bukan pula jaksa yang mencari bukti-bukti, dan bukan pula hakim yang menentukan bahwa baik atau buruk, salah atau benar .
Pas: Untuk memecahkan masalah kita harus tahu, apa penyebab masalahnya.
Dokter: Kadang-kadang tidak mudah anda mencari penyebab masalah (penyakit), mungkin akan sampai pada kesimpulan yang salah.
Pas: Misalnya.
Dokter : ada beberapa kemungkinan, kemungkinan pertama adalah mencari penyebab dengan cara magik dan mistik, penyebab kedua mencari kambing hitam orang lain sebagai penyabab, yang ketika anda mencari penyebab, sampai lelah dan kolaps dan sampailah pada kesimpulan bahwa masalah ini tidak mungkin dipecahkan.
Pas: Itulah yang terjadi pada saya, yang terakhir, sehingga saya sakit.
Dokter: Sebenarnya ada dua problem, cognitive ( thinking) problem dan emosional problem. Pada umumnya anda tidak dapat mengindentifikasi emosional problem dan menganggap bahwa adalah cognitive problem.
Contohnya: Bila anda berhutang, dan kemudian menutup hutang dengan mencari hutang baru, anda menganggap bahwa itu adalah cognitive problem. Padahal mungkin lebih banyak emosional problem, misalnya rasa takut (disita), dipermalukan (didepan khalayak ramai) dan berbagai emosi yang menyertainya. Jadi bukan hutang itu benar yang menjadi masalah, tetapi emosi yang menyertainya yang sering membawa penyakit.
Pasien: Jadi bagaimana saya mengetahui penyebab masalah.
Dokter: Baik kita lihat suatu permasalahan A. Permasalahan A bisa suatu tingkah laku, situasi yang sedang dihadapi, musibah yang datang tiba-tiba, atau apa saja yang membuat anda harus bereaksi. Reaksi yang terjadi katakanlah B. B adalah reaksi emosional yang terjadi sebagai konsekwensi adanya A, B bisa berupa emosi (menangis, takut, gembira, merasa bersalah dll) atau suatu suatu tindakan tingkah laku, memukul, menendang, lari, senang, gugup, bersembunyi dll.

Anda menganggap bahwa adanya A adalah wajar kalau lalu ada B.

Aku pandangi dia. Matanya benar-benar menyorot tajam, memandangi dan menelanjangi tubuhku. Tentu saja hatiku bangga ada orang terkagum melihat keindahan badan saya. Si Pemuda itu tak lepas-lepasnya memandangi aku. Aku mulai risih. Pandangannya semakin lama semakin lain , semakin nakal. Naluriku berkata, dia tertarik secara seksual padaku, dan barangkali ini kesempatan untukku untuk mencoba berpetualang, membalas petualang suamiku. (kasus Indri 1 )

Dalam situasi itu Indri merasa anxietas, perasaan takut dan cemas akan apa yang akan terjadi benar-benar realistic, membuat anda benar-benar terganggu. Anda menganggap reaksi B adalah wajar, rasa risih, bercampur dengan deg-deg-an, nafasnya mulai agak tidak teratur, membuat Indri harus berpikir, apakah ia keluar dan pergi dari situ, atau menunggu saja apa yang terjadi. Jadi B adalah suatu moment dimana segala keputusan yang harus diambil. Pertanyaan pada Indri adalah, mengapa, mengapa saya punya perasaan dan emosi demikian.

Bila dalam keadaan normal, artinya Indri tak menaruh dendam pada suaminya, dan hubungan dengan suaminya baik-baik saja, maka dia akan melihat orang secara normal-normal saja. Artinya setelah ada kejadian A sebenarnya ada C, dimana keadaan anda, pemikiran anda, emosi anda akan bermain, C adalah keyakinan, situasi, pikiran, imaginasi, dan interpretasi yang membuat A menjadi B. Contoh bila di Toko itu sangat ramai (situasi tak memungkinkan) , Indri tak punya dendam pada suaminya ( pikiran), melihat si anak muda tidak muda lagi (imaginasi), atau perbuatan itu akan mengakibatkan dosa (kepercayaan), maka B tidak akan terjadi.

Pasien perlu diberi tahu bahwa dengan berpikir positif, melihat positif, dan berkata positif, maka tak akan mungkin terjadi tindakan negative.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: