Kasus Indri ( Bagian 1)

Kasus Indri ( Bagian 1)

Pada awalnya aku sangat marah dan rasanya dunia ini menjadi gelap, seakan akan mau runtuh, saat mendengar cerita teman, suamiku selingkuh. Begitu Indri, mulai menceritakan kepada kami keluhan dia mulai menderita depresi, insomnia dan stress. Hal yang menyakitkan yang membuat dia tak bisa tidur berhari-hari. Karena suaminya selingkuh dengan bawahan suaminya. Inul nama selingkuhannya sebenarnya tidak cantik-cantik benar, dan kalau Indri menilai dirinya dengan angka 8, maka Inul paling-paling mendapat angka 5,5.
Cognitive Behaviour Therapie (CBT)
Pertama perlu diberi pengertian pada pasien bahwa ada dua pendapat yang kontras untuk menerangkan mengapa seseorang menjadi emosional dan bertingkah laku demikian terhadat rangsangan perkataan kita. Misalnya maksudnya seseorang

Seterusnya baca dii blog https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/11/26/kasus-indri-bagian-1/

Kasus ini adalah kasus pasien yang benar-benar berobat pada psikiater Dr Yul Iskandar, nama , tempat dan identitas lain disamarkan, tanpa menghilangkan substansi. Pasien menuliskan riwayat penyakitnya, gejala-gejala yang dirasakan, perasaan dia dalam bentuk tulisan. Pada saat ini pasien dalam keadaan baik, tapi masih mengkonsumsi obat.

Indri datang diantar oleh Rike, yang kebetulan pasien saya juga. Setelah konsultasi sebentar dengan Rike, dan dia mendapat obat untuk insomnianya, dan membawa Indri kawan baiknya. Menurut keterangan Rike, Indri tak bisa tidur sudah 3 bulan, semenjak suaminya (Adytia) terbunuh dalam suatu perkelahian dengan Pelayan Toko (R ) yang berselingkuh dengan selingkuhan (Inul) suaminya. Keduanya meninggal, pelayan Toko (Deny) dan suaminya (Adytia), dan beritanya ada dikoran PK yang tak pernah saya baca. Itulah introduksi dari Rike tentang kasus Indri, dan kemudian Indri saya suruh masuk.

Pada awalnya aku sangat marah dan rasanya dunia ini menjadi gelap, seakan akan mau runtuh, saat mendengar cerita teman, suamiku selingkuh. Begitu Indri, mulai menceritakan kepada kami keluhan dia mulai menderita depresi, insomnia dan stress. Hal yang menyakitkan yang membuat dia tak bisa tidur berhari-hari. Karena suaminya selingkuh dengan bawahan suaminya. Inul nama selingkuhannya sebenarnya tidak cantik-cantik benar, dan kalau Indri menilai dirinya dengan angka 8, maka Inul paling-paling mendapat angka 5,5.

Dia pernah kekantor suaminya dan melihat sendiri Inul, tak ada yang menonjol di-dirinya, yang bisa lebih dari Indri, Indri seorang wanita sarjana S2, orang tuanya berharta, umur masih muda, baru berumur 34 tahun, dan baru punya satu anak berumur 8 tahun, perawatan badan teratur , kulit bersih, dan banyak orang mengatakan dia sexy dan menawan.

Bagi Indri kejadian ini tak masuk akal. Suaminya yang berpendidikan tinggi, punya jabatan bagus, mau bermain api dengan bawahannya, yang mungkin hanya ingin mengejar uang atau pangkat. Dan memang Inul mendapat posisi yang baik serta naik pangkat berkat bantuan suaminya.

Suatu hari Indri melamun bahwa dia pergi ke pasar M. yang katanya banyak pelayan-pelayan ganteng , ditoko-toko klontong maupun toko textile, yang mau melayani ibu-ibu kesepian. “Apa yang kamu lihat cantik?”, bisikan itu seakan melayang dan langsung hilang dibawah tumpukan kain-kain. Sebagai gantinya sebuah bibir hangat memagut kemudian melumat dengan sangat lembut pada leher tengkuk Indri. Indri tergetar hebat dan menggeliat. Sanubarinya bak diterpa gelombang ‘tsunami’ terlambung tinggi melanda pucuk-pucuk syahwatnya. Ternyata itu hanya mimpiya saja. Nyatanya dia masih dirumah. Dia terlena dengan masukan – masukan kawan-kawannya, ibu-ibu yang sering nongkrong menunggui anaknya di SD swasta yang terkenal. Ibu-ibu itu yang pada umumnya kesepian karena suaminya sedang semangat-semangatnya kerja keras, dan melupakan istri-istri mereka (deperate hause wife) sering cerita-cerita bahwa dipasar dan pertokoan kelas menengah M, adalah surga bagi mereka.

“Kalau mau ber-petualangan sex cari orang seumur 30-an, jangan anak-anak muda belasan tahun, karena mereka sering jadi tukang palak. Tapi jangan cari yang tua sebab mereka tak mempunyai stamina yang bagus, begitu kawan-kawan nya bercerita. Mencari juga tak susah, pergi saja ke Toko-toko di pasar Senen, Mayestik atau Tanah Abang, Mangga Dua, disana banyak pemuda ganteng yang menjadi pelayan toko. Pura-pura saja beli kain sarung atau batik, atau bahan baju, atau barang kelontong.

Walaupun Indri kesal sama Mas Adit , suaminya , karena sering dengar cerita dari mulut ke mulut tentang pacarnya Inul, Indri tak berani untuk minta cerai atau melakukan hal-hal drastic lainnya, atau balas melakukan selingkuh, Cuma saja dia sekarang sering sulit tidur dan kurang bahagia. Malahan bila dia bersebadan dengan Mas Adit, dia menjadi hambar karena, dia merasa Jijik bahwa dia didua-kan oleh Inul yang tak jelas statusnya. Janda bukan, gadis bukan, tapi punya anak.

Dalam rangka persiapan perkawinan adiknya Indri menyempatkan diri nyari kain untuk berbagai keperluan upacara. Seperi biasa kalau ada perkawinan maka ada baju seragam yang akan diberikan pada para among tamu, atau pada panitia. Indri menjadi panitia pernikahan adik bungsunya. Dari teman- tetangga indri memberi informasi bahwa di Pasar M. banyak dijual bermacam-macam kain sesuai keperluan seperti itu. Iseng-iseng pagi itu , Indri pergi sendiri ke Pasar M.

Ternyata benar. Indri yang biasanya ke Mal, dan pertokoan modern, baru tahu bahwa ada toko dan kios-kios di Pasar M, yang menjual berbagai macam kain, dengan harga relative miring dibandingkan dengan toko-toko modern. Kios kios itu lebarnya 6 -8 meter dan panjangnya antara 20-30 meter. Rencananya Indri hari ini hanyalah sekedar melihat-lihat bahan-bahan lebih dulu. Indri memasuki sebuah toko yang agak sepi . Toko dengan ukuran 6 X 30 meter. Di etalasenya nampak teksil brokat, dan kain yang cocok untuk dipakai seragam para among tamu. Mata Indri mencari –cari bahan yang baik, memandangi koleksi toko ini hingga tanpa disadarinya ada seseorang yang mengikuti Indri,

“Pilih yang mana Bu?” Apa untuk sendiri, atau untuk dipakai seragam. Apa seragam pegawai, atau seragam perkawinan, rupanya orang ini telah tahu kebiasaan orang yang datang ketokonya. Kulihat siapa yang bicara, ternyata seorang muda, aku taksir belum 30 tahun, tapi telah lebih dari umur 25 tahun. Dari sosoknya yang tinggi jangkung, mukanya putih bersih, tampan , dada bidang, dengan wajah seperti orang indo, atau chinese, dia tersenyum padaku sambil menawarkan barang dagangannya.

” Belum dik, . Aku baru melihat-lihat, kain mana yang cocok untuk seragam perkawinan adikku . Mungkin saya akan minta contoh, beberapa kain, dan nanti aku akan kembali membeli untuk acara perkawinan adikku”, Aku pandangi dia. Matanya benar-benar menyorot tajam, memandangi dan menelanjangi tubuhku. Tentu saja hatiku bangga ada orang terkagum melihat keindahan badan saya. Si Pemuda itu tak lepas-lepasnya memandangi aku. Aku mulai risih. Pandangannya semakin lama semakin lain , semakin nakal. Naluriku berkata, dia tertarik secara seksual padaku, dan barangkali ini kesempatan untukku untuk mencoba berpetualang, membalas petualang suamiku.

Aku pernah dengar banyak lelaki muda yang lebih bergairah tidur dengan perempuan yang lebih tua. Tapi dari penampilanku, orang menyangka aku berumur masih 20-an. Tadi dia sudah mendengar usiaku . Dia juga terheran akan panampilanku yang jauh lebih muda. Mungkin orang-orang muda macam itu sering mengkhayal, perempuan seumurku akan lebih ‘hot’ kalau berhadapan dengan lelaki seumurnya. Aku jadi pengin tahu. Seberapa jauh hasratnya tertarik pada diriku. Aku melangkah ke etalase berikutnya, yang makin lama makin kebelakang, yang semakin masuk ke bagian dalam tokonya. Aku berpura-pura tertarik dengan salah satu kain yang terpampang.

“Biar saya ambil katanya, sambil berdiri dan naik keatas lemari, tempat bahan yang saya tunjuk, nanti ibu bisa meraba-raba punyaku”, Apa maksudnya meraba-raba punyaku, berani benar anak muda ini. Ditoko itu ada 2-3 orang pelayan, yang satu umurnya sangat muda mungkin belasan tahun, dan yang satu lebih tua mungkin sudah limapuluh tahun, aku pikir mereka bersaudara, karena rupanya agak mirip. Aku kaget akan kata-katanya, ‘nanti ibu bisa meraba-raba punyaku” Apa yang dia maksud, apakah kain yang aku mau beli, atau barang lain, barang pribadi dia, yang dihadiahkan untuk diraba. Ataukah telingaku mulai kacau, dan otakkku mulai tidak beres, persepsiku yang mulai kacau dan menyimpang? Aku jadi penasaran.

Setelah gulungan kain itu dia taruh di meja, memang tanganku langsung merasakan lembutnya kain itu, dan agaknya cocok untuk pakaian seragam. Kain yang lembut. Mungkin berbahan sutra campuran kata si anak Muda.

“Bagaimana Bu? Halus ya? Sepertinya kain ini se halus kulit dan Tangan ibu . Halus sekali tangan ibu”, dengan beraninya dia meraba tanganku. Bahkan kemudian memegang dan meramas. Aku terdiam. Dan melihat sekeliling, didepan ada beberapa pelanggan yang sedang dilayani oleh kedua pelayan itu, dibelakang ternyata ada pintu gudang tempat menyimpan kain-kain lain. Aku agak kaget.,aku merasa seperti kena stroom listrik ribuan watt. Sudah beberapa bulan suamiku tidak pernah menyentuh apalagi membelai tangan dan tubuhku. Aku menjadi terangsang secara seksual. Kini ada pria asing menyentuh tanganku dan meremasnya.

Ada semacam kebanggaan yang menyelinap di hatiku, bahwa ada pria asing berusia muda yang masih tertarik dengan aku. Darahku langsung naik kekepala. Mataku nanar kemerahan menahannya. Jantungku berdetak keras. Aku tak berani memandang pria Indo/ Chinese itu. Dan yang sungguh-sungguh tak kusengaja, tiba-tiba tanganku bergerak membalas remasannya. Tangan kanannya meremas tangan kiriku, kami saling meremas, dia mencubit tangan saya, saya balas mencubit badannya. Aku jadi blingsatan dan bingung. Pasti dia memastikan bahwa aku menyambut hasrat syahwatnya. Yang tadinya aku hanya iseng saja, tapi kini mulai jadi sungguhan. Untung kedua pelayan temannya jauh didepan dan asik melayani 2-3 orang yang berbelanja. Aku masih terheran, kenapa tanganku balik meremas tangannya, mengapa aku mengikuti kenakalan anak muda itu, mengapa keisengan mereka aku ikuti, tapi dibalik keisengan itu syahwatku mulai naik. Adakah itu naluri dari hatiku yang paling dalam, atau hanya pelampiasan kemarahanku pada suamiku.

“Ibu boleh meraba-raba punyaku..”, bisiknya sambil menarik tanganku turun dari meja untuk ditaruh didaerah terlarang kepunyaannya. Aku seakan hendak kelenger. Lelaki ini kelewat berani. Dengan menggunakan gulungan kain sebagai tirai, tanganku ditariknya dan dia mulai mencumbuku dibalik tirai itu, dan kami duduk dibawah. ( bersambung)

Cognitive Behaviour Therapie (CBT)
Pada umumnya dalam pertemuan dengan pasien, maka kita harus menyamakan pengertian kita dan kata-kata kita dengan pengertian pasien.
Pertama perlu diberi pengertian pada pasien bahwa ada dua pendapat yang kontras untuk menerangkan mengapa seseorang menjadi emosional dan bertingkah laku demikian terhadat rangsangan perkataan kita. Misalnya maksudnya seseorang adalah baik untuk memberi pelajaran dan pendidikan yang berguna bagi diriya, tetapi mungkin ditangkap adalah suatu perintah yang tak masuk akal karena orang itu tidak suka pada dirinya.
Emosi dan tingkah laku terjadi karena adanya keadaan lingkungan yang memungkinkan. Biasanya pasien setuju pada hal tersebut.
Biasanya kita berpikir tentang sesuatu, sebenarnya sesuatu itu (tingkah laku atau ucapan) adalah netral, kitalah yang memberi warna emosi pada hal itu, dan kita juga yang bisa merubah warna emosi itu.
Dalam banyak hal, suatu kejadian adalah interpretasi kita pada suatu kasus, interpretasi yang salah akan menyebabkan pikiran yang salah. Misalnya seseorang yang berteriak-teriak, interpretasi kita dia galak, tapi sebenarnya dia orangnya penakut. Banyak dosen yang bodoh menjadi galak, supaya orang takut dan hormat padanya, padahal dosen yang cemerlang tidak pernah galak, karena dia tahu bahwa dia pintar.
Untuk memecahkan masalah maka kita perlu tahu penyebab suatu masalah itu. Tapi harus diingat bahwa penyebab itu hanya 70% saja sebagai sebab yang sebenarnya ada 30% penyebab yang tak disadari. Ini perlu untuk pemecahan masalah, jangan mengakibatkan memecahkan masalah dengan membuat masalah baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: