Mystik yang bercorak ekstase.

Bagi seorang seniman timbulnya rasa turut mengambil peranan dan mengambil bagian aktif dan kreatif dalam suatu penyatuan mystik yang bercorak ekstase, seringkali dapat menjelma menjadi hal-hal yang bersifat inspirasional, sehingga sedemikian rupa sampai-sampai kontrol teknologi dan kontrol kesadaran kadang-kadang mulai mengabur. Manusia seolah-olah berfusi secara mystik dengan gelombang-gelombang yang memperoleh aktivasi dari pada alam tak sadar, yang mengarus dan mengarah sampai hampir tiada mengenal batasan. . . . When the routinely recorded clinician rating scales and the length of stay in hospital were com¬pared, no difference could be detected between unipolar and bipolar depressed patients. Other open studies are also in line with similar antidepressant efficacy of antidepressants in unipolar and bipolar depressed patients
Selanjut dapat dilihat di:https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/11/25/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-41/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006-2009. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini. Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Dunia dalam dan dunia luar sekarang berubah menjadi satu unitas yang tak terpisah-pisahkan. Semua dalil dan hukum yang berlaku di dunia dalam tidak mengalami perubahan dan tetap berlaku untuk dunia luar. Bersatunya mystik merupakan salah satu contoh realistic yang kita semua dapat saksikan. Demikian pula, dalam alam kehidupan manusia yang belum terpengaruh dan terbelah karena teori-teori dan praktek-praktek teknologi, maka alam budaya, alam pikiran serta suasana perasaan semuanya menjadi satu dan tidak terpisah-pisahkan dengnan alam sekitarnya.
Keadaan yang semacam itu walaupun tidak seluruhnya sama, kita pernah mengalaminya apabila berada dalam keadaan bermimpi atau dalam keadaan hypnoidal. Dan mungkin juga yang semacam itu terjadi dalam psikotiker (penderita psikotik) dengan penghayatan yang jelas selama psikotiknya.
Bagi seorang seniman timbulnya rasa turut mengambil peranan dan mengambil bagian aktif dan kreatif dalam suatu penyatuan mystik yang bercorak ekstase, seringkali dapat menjelma menjadi hal-hal yang bersifat inspirasional, sehingga sedemikian rupa sampai-sampai kontrol teknologi dan kontrol kesadaran kadang-kadang mulai mengabur. Manusia seolah-olah berfusi secara mystik dengan gelombang-gelombang yang memperoleh aktivasi dari pada alam tak sadar, yang mengarus dan mengarah sampai hampir tiada mengenal batasan.
Banyak cerita-cerita kuno (legenda) yang dijumpai dalam tiap-tiap kebudayaan yang mengisahkan bahwa pada suatu waktu zaman dahulu kala manusia dan dunia itu menjadi kesatuan integral. Manusia dan peristiwa menjadi satu . Masing –masing perubahan pada manusia akan merubah dunia sekelilingnya demikian pula sebaliknya.
Semua benda, timbuhan, dan hewan paham yang terdapat dalam satu masyarakat yang demikian itu, diberikan makna dan arti kekuatan yang ada masing-masing taraf dan nilainya. Demikian pula maka tiap-tiap bentuk representasi dewa-kecilnya msing-masing benda, tumbuh-tumbuhan ataupun paham-paham semuanya memiliki nilai-nilainya masing-masing menurut suatu hierarchi tertentu. Oleh sebab itu maka manusia dan peristiwa serta masyarakat dimana manusia-manusia itu terdapat semuanya sama-sama turut bertanggung jawab atas masing-masing keselamatan dan kesejahteraannya. Seluruh kebudayaan semua faham-paham dan konsep-konsep hidup dalam masyarakat , dan semua jenis atau bentuk lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat semuanya menjadi tanggung jawab moral dan mutlak secara bersama-sama dari pada semua manusia yang hidup dalam masyarakat itu.
Manusia dan dunia sekelilingnya dianggap meerlukan masing-masing pihak secara mutlak. Seolah-olah manusia sekarang menjelma menjadi sebuah pelita yang semakin lama, semakin menyala dan semakin menerangi dunia yang gelap tetapi penuh kekayaan terpendam. Nyala pelita itu adalah aktivitas dari manusia, tetapi aktivitas itu akan hampa jika tidak ditujukan kepada dunia. Jadi dunia merupakan bahan yang disatu pihak memerlukan nyala pelita yang terang itu, tetapi dipihak lain juga memberi hidup dan zat bakar bagi nyala pelita itu . Jadi jika tak ada nyala api pelita itu maka dunia itu akan musnah. Tetapi tanpa dunia yang gelap gulitapun nyla atau api pelita ituakan tak berarti atau hanya hampa saja.
Oleh karena itu, maka proses hidup hayati oleh manusia sebagai suatu proses yang bertujuan memberikan sinar yang terang, suatu proses menerangi. Sebaliknya, maka proses sakit dihayatinya sebagai suatu proses berjuang untuk menang, ataupun untuk surut. Jadi, untuk maju sampai kepada kemenangan yang gemilang, ataupun untuk surut sampai kematian yang membawa manusia itu sampai kepada keadaan permulaan hidupnya lagi, yaitu kegelapan dan ketiadaan. Proses hidup dan proses berjuang menjadi identik. Dan masa hidup manusia dipahami untuk menjalankan ikhtiar yang bermaksud mengerahkan segala aktivitas yang secara menyala-nyala. Manusia dan peristiwa menjadi bersatu dalam dunia yang nyata : sama-sama hidup, sama-sama bergolak, sama-sama berjuang, dan sama-sama mati.

Pengaruh kemajuan teknologi

Teknologi adalah suatu pengetahuan yang sistimatik tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip yang berhubungan atau yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang ada manfaat praktek yang diakui oleh kebanyakan orang.
Istilah teknologi yang digunakan demiian itu tidak hanya mengenai bidang-bidang industri atau teknik saja, tetapi juga meliputi bidang-bidang lain, misalnya bidang teknik-teknik pendidikan, sehingga maknanya lebih umum dari pada apa yang seringkali disebutkan sebagai ilmu yang diaplikasikan (applied sciense).
Dengan sendirinya, maka banyak fakta-fakta dan prinsip-prinsip yang perkembangkan dalam teknologi dilakukan demikian menurut asas-asas ilmiah. Adapun yang dimaksud dengan ilmu atau asas-asas ilmiah ialah penelitian dari pada fenomena-fenomena yang dijumpai dalam alam ataupun yang dapat diprovokasikan, dengan metoda-metoda yang pada prinsipnya berasal dari pada ilmu-ilmu fisika dan ilmu-ilmu biologi, tetapi juga dapat digunakan, atau setidak-tidaknya dianggap demikian, dalam ilmu-ilmu lain, tetapi senantiasa dengan mengumpulkan fakta-fakta empirik serta menyusun pelbagai paham-paham struktural, sehingga fenomena-fenomena itu dapat diinterpretasikan.
Berdasarkan pendapat-pendapat yang demikian itu, maka penyelidikan-penyelidikan ilmiah yang bagaimana macam ragamnya pun ada disiplin dasar yang mereka semua junjung tinggi. Salah satu corak khas dari pada ilmu, dan dengan sendirinya juga mengenai pengetahuan teknologi, ialah apa yang disebut metoda empirik. Dalam metode ini, maka yang dianggap sah ialah hal ikhwal yang berdasarkan pengalaman yang nyata. Adapun pengalaman-pengalaman nyata (faktual) itu merupakan sumbangan penting, oleh karena di satu pihak mereka kemudian dapat menjadi landasan dari pada pelbagai teori-teori atau keyakinan-keyakinan; dan dipihak lain mereka itu dapat bersifat bertentangan atau memperkuat teori-teori itu. Dengan sendirinya, maka tiap-tiap hasil yang dikumpulkan atas dasar metoda empirik, secara implicit menghendaki dikumpulkannya lebih banyak lagi kenyataan-kenyataan, sehingga ikhtiar ilmiah pada prinsipnya tidak mengenal suatu titik berhenti.
Jadi, lain dari pada apa yang seringkali kita yakini, dan karena itu kita pandang sebagai kebenaran, dalam disiplin penyelidikan ilmiah kita harus terus mencari dan mengumpulkan fakta-fakta untuk membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran keyakinan itu. Dalam ilmu dan dalam cara berpikir secara ilmiah, tidak satu keyakinan atau teori pun dapat diterima sebagai aksebtabel dan kebenaran, tanpa adanya bukti-bukti yang cukup yang dihasilkan atas dasar metoda empirik tadi.
Dorongan untuk mencari fakta-fakta yang dimaksudkan itu, secara sadar dan secara terus menerus, dapat menghasilkan suatu formulasi ilmiah yang dapat memuaskan penelitian atau tinjauan secara ilmiah pula. Dalam disiplin ilmiah yang setajam-tajamnya, maka pada prinsipnya semua fenomena yang berhubungan dengan apa yang hendak diperiksa harus pula diselidiki.
Demikian pula, maka semua pendapat hypotetik dan teoritik harus pula diformulasikan secara terinci jelas, demikian pula perkiraan-perkiraan yang berhubungan dengan pendapat-pendapat itu. Dengan sendirinya maka konsekwensi-konsekwensi yang menjadi akibat dari pada masing-masing pendapat itu juga diuraikan secara jelas dan eksplisit, dan akhirnya haruslah didapati suatu pendapat terakhir yang didalamnya menyebut semua kemungkinan dan semua fakta yang diketahui.
Disamping itu maka ada keharusan untuk sanggup mengulangi prosedur itu secara berulang-ualng dan dihadapan umum, dengan memperoleh hasil yang dpat dipastikan sebelumnya dan yang harus cocok dengan observasi-observasi yang telah dijalankan selama ikhtiar ilmiah, yaitu metoda empirik telah dijalankan.
Kusumanto setyonegoro (1966) Disertasi.

Abbreviations guideline WFSBP (2)
This paragraph is Abbreviations from guideline for the biological, pharmacological treatment of acute bipolar depression. We omitted, (Yul Iskandar) the length of discussion, and the name of reference , for full version please see the original manuscript..
This practice guideline for the biological, mainly pharmacological treatment of acute bipolar depression was developed by an international Task Force of the World Federation of Societies of Biological Psychiatry (WFSBP) and is part of a series covering the acute treatment of mania, bipolar depression and maintenance treatment of bipolar disorder. The preparation of these guidelines has not been financially supported by any commercial organization.
Antidepressants
Efficacy
Open studies suggest that what is true about efficacy for acute treatment of unipolar depression seems very likely to be true also for bipolar depression. Some evidence for comparable efficacy of tricyclics in unipolar and bipolar depressed patients.
When the routinely recorded clinician rating scales and the length of stay in hospital were com¬pared, no difference could be detected between unipolar and bipolar depressed patients. Other open studies are also in line with similar antidepressant efficacy of antidepressants in unipolar and bipolar depressed patients
Several small controlled studies support the use of imipramine and fluoxetine. Together with a study examining the effect of olanzapine-fluoxetine combination (OFC), The particular problem has been the inadequate size and small number of monotherapy trials in bipolar depression. Such trials may be negative when considered alone and positive when part of an attempt to synthesize all the available data. It is widely agreed that the evidence is inadequate, and interpretation is accordingly subject to fewer constraints than if the evidence was very clear.
The use of imipramine has not been supported by a failed add-on study to lithium when lithium levels are higher; however, with lower lithium levels imipramine may add some benefit. Paroxetine has shown no benefit in the treatment of bipolar depression when compared to placebo in one monotherapy study, paroxetine was superior to placebo in subjects with lower lithium levels, and potential efficacy in two add-on comparator studies. Citalopram appeared effective in a small comparative study, but the choice of the comparator (lamotrigine, ) makes the study finally inconclusive. One large blinded study did find that a subset of patients benefited from addition of sertraline, bupropion or venlafaxine, but the absence of a placebo comparator means that the extent of benefit cannot be finally estimated.
What can we conclude from these latest studies? What we can say with some confidence is that paroxetine (20 mg/d) alone has failed to show efficacy in a controlled bipolar depression trial. Add-on paroxetine and or bupropion to mood stabilizers also failed to show effectiveness; however, there are several methodological concerns about this study. It appears that escitalopram, venlafaxine, sertraline and mirtazapine are among those with a relatively stronger action, whereas in another analysis, again venlafaxine and escitalopram, but also clomipramine were judged superior to other antidepressants. Unfortunately, none of them has been tested in bipolar depression in placebo-controlled designs. For two of them, venlafaxine and sertraline, there are less rigorous data in bipolar disorder suggestive of efficacy. But given the large variety of depressive manifestations, it would be somehow naïve to assume that each given antidepressant shows similar efficacy in all conditions. Therefore, it may be more appropriate in the future not to look at antidepressants as a group but on the individual agents (and their dosing) when making statements on efficacy and TEAS rates in bipolar patients.
Safety,Tolerability and Practicability
. It has no significant advantage for SSRI compared to TCA when looking at drop¬out rates in clinical trials in unipolar patients. A warning concerning the use of antidepressants especially in children and adolescents but also in all age groups has been issued by the FDA. This was due to emerging data suggesting a possible link between suicidiality (thinking and behaviour but not completed suicide) and antidepressant use. Both a more thorough view on the available evidence and newer, larger population based studies seem not to support this claim, and as a matter of fact, suicide rates have increased in adolescents with a drop in antidepressant use.

Treatment emergent affective switches (TEAS)
However, more concerns are clearly associated with the introduction of antidepressants into a treatment regimen. A recent systematic review found no strong association between antidepressant use and switch events, and the evidence from observational studies and retrospective self-reports is divergent
The natural risk of a switch into mania during recovery from a bipolar depression has been esti¬mated to be between 4 and 8 %, and mood stabiliser monotherapy show either similar rates of switches or appear to be preventive, especially lithium. Bipolar I patients appear to be more prone to switch events into manic/ hypomanic states than Bipolar II patients (Bond et al 2008). Manic symptoms, especially increased motor activity, speech, and language-thought disorder while depressed have been shown to be predictive for an increased risk of TEAS with antidepressants (Frye et al 2009).
Recommendations
This may change in the future with emerging data on biological differences, e.g. BDNF serum levels As to the TEAS into mania with antidepressant use, all the larger studies suggest that this risk is quite modest, at least when combined with a mood-stabilizing medication, and seem to be generally lower in Bipolar II than in Bipolar I patients.
Lithium
Efficacy
There is very limited evidence that lithium may be more effective in bipolar compared to unipolar depression. However, lithium plasma levels in this study were rather low (mean 0.61 mEq/l). In addition, the reported time to onset of antidepressant action of lithium is 6–8 weeks, which is slower than that observed for other antidepressant interventions. This may also explain the failure of lithium in the Young et al. study, as there was a non-significant tendency for separation of lithium from placebo just towards study end at week 8. It remains speculative whether a significant outcome may have been achieved with higher lithium levels and/or longer study duration.
Lithium is frequently used as an augmentation strategy in refractory unipolar depression. However, data for lithium augmentation in in bipolar depression are scarce and restricted to open studies. When some antidepressants are combined with lithium, their efficacy may be greater than in monotherapy.
Safety,Tolerability and Practicability
Although not absolutely contraindicated, lithium is rarely suitable in certain medical conditions, which therefore should be excluded before treatment initiation, e.g., renal problems or thyroid dysfunction. In these instances, regular medical checkups are mandatory.
Recommendation
Based on the available studies, lithium monotherapy falls into CE for acute antidepressive efficacy “D”, and the RG is “5”. A positive impression from individually less compelling studies is currently contradicted by a well conducted, negative, large randomized study. If considerations of maintenance treatment or suicidal risks play an additional role at the time of acute treatment initiation, lithium should, however, still be considered as part of a combination or augmentation treatment approach.
Valproate
Efficacy
Valproate or lithium plus a selective serotonin-reuptake inhibitor (SSRI) provided longer time in study without discontinuation for depression than did placebo plus a SSRI. Fewer patients discontinued prematurely among valproate plus SSRI-treated patients than among placebo-treated patients. These results indirectly suggest that the combination of valproate and an SSRI in acute bipolar depression is more effective than SSRI monotherapy.
Safety,Tolerability and Practicability
The tolerability of valproate appears fair across trials. Gastointestinal discomfort, sedation and tremor are in most trials more regularly seen with valproate .For rare, but severe complications such as thrombocytopenia, hepatic failure, pancreatitis or hyperammonaemic coma and precaution measures we refer to the pertinent reviews. When valproate is started during acute bipolar depression, it is mostly not meant as the primary antidepressive agent, but as an augmentation and antimanic cover. Neurocognitive effects in neonates mean it is now strongly contra-indicated in women of child bearing potential.
Recommendation

Three out of four small sized, but placebo controlled studies support antidepressant efficacy of valproate in acute bipolar depression. Thus, the CE is “B” and the RG “3”; however, in special groups as women of child bearing age valproate cannot be recommended due to safety issues.

(Yul Iskandar, 2009)

Dengan demikian, maka keyakinan yang kita junjung karena kita percaya akan kebenaran, diberi isi dan bukti, guna kepercayaan yang lebih mendalam terhadap terhadap keyakinan itu. Tetapi, lain dari pada apa yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari, dalam rutin dan disiplin ilmiah, semuanya harus menurut sistematisasi dan terarah pada suatu tujuan yang jelas tergambar.

Jelas kiranya, bahwa kemajuan-kemajuan yang diperoleh oleh pelbagai ilmu, juga terdapat kemajuan-kemajuan yang amat pesat dan mengagumkan dibidang teknologi.

Salah satu akibat dari pada kemajuan-kemajuan teknologi itu ialah bahwa manusia sekarang secara sadar ataupun tidak begitu sadar, telah belajar dan membiasakan diri untuk tidak lagi merasakan diri sama dan bersatu secara fusi mystik dengan peristiwa-peristiwa dan dunia sekelilingnya. Tegasnya, persatuan mystik antara manusia dan alam sekitarnya tegasnya peristiwa-peristiwa sekelilingnya sekarang terbelah.
Ada beberapa keadaan yang dapat ditunjukkan secara khas, antara lain :
(i) Kebanyakan manusia modern sekarang merasakan bahwa dunia, peristiwa dan dirinya itu bertindak dan bergerak sebagai hal-hal atau unsure-unsur tersendiri-tersendiri; mereka dapat pengaruh mempengaruhi satu dengan lainnya; atau mereka dapat bersifat subordinat satu terhadap lainnya. Jarang didapati keadaan, dan hampir-hampir tidak pernah lagi, bahwa manusia, peristiwa dan dunia itu merasakan dirinya bersatu secara fusi mystik.
(ii) Sebagian masih dapat memahami situasi demikian itu, dan pada suatu saat dalam perjalanan hidup mereka, itu berikhtiar secara sungguh-sungguh untuk mengembalikan kebenaran existensi kesatuan mystik ini. Mereka akan mengalami suatu krisis. Krisis yang timbul itu mungkin dapat mengalami suatu krisis keadaan sakit atau penyakit, akan tetapi karena adanya proses berjuangnya, krisis itu juga dapat menghasilkan kreativitas yang baru kepada manusia. Seolah-olah manusia itu akan mengalami suatu kelahiran baru ke dalam suatu dunia yang baru.
(iii) Sebagian manusia lagi juga mengalami krisis seperti dalam (ii), tetapi mereka itu seolah-olah tenggelam dalam perjuangan itu. Krisis yang mereka alami terasa oleh mereka semakin lama semakin hebat semakin mendalam. Dalam keadaan yang gawat demikian itu mereka harus ditolong, setidak-tidaknya patut ditawari kemungkinan untuk pertolongan, agar supaya krisis kehidupan mereka itu jangan menjelma menjadi sesuatu yang menahun (chronik), tanpa kemungkinan akan penyelesaiannya.
(iv) Sebagian manusia lain lagi yang juga mengalami krisis dalam kehidupan terjerumus dalam keadaan yang menahun untuk waktu yang tidak dapat ditentukan (chronicity). Mereka ini mungkin ada menderita suatu kekurangan tertentu dan semakin hari kelihatan semakin kalah dalam perjuangan yang harus mereka lakukan itu. Akhirnya mereka terjerumuslah dalam keadaan menahun yang digambarkan diatas.

Kusumanto setyonegoro (1966) Disertasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: