RELASI MANUSIA DAN PERISTIWA1

Ada orang yang menilai peristiwa-peristiwa atau objek-objek sesuai dengan sifat senang-tidaknya peristiwa atau objek itu yang telah dialaminya. Apa yang senang adalah baik, sebaliknya sesuatu yang menimbulkan rasa nyeri atau sakit (painful) dianggapnya buruk atau segolongan yang negative kualifikasinya.
Traditionally, bipolar depression is considered to be more refractory than unipolar depression. Even subsyndromal depression is characterised by a significant loss of functionality and is associated with an increased risk of relapse into major affective episodes. Thus, patients recovering, but still having residual affective symptoms, experience subsequent major affective episodes more than three times faster than asymptomatic recoverers. Further goals of treatment in bipolar depression are to diminish the risk of suicidal acts and avoid subsequent episodes. Selanjut dapat dilihat di: https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/11/15/relasi-manusia-dan-peristiwa/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.

Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

ASAS-ASAS RELASI MANUSIA DAN PERISTIWA

Pada umumnya dapat dikatakan, bahwa manusia menilai peristiwa- peristiwa yang terjadi disekelilingnya itu secara sangat individual, dan bahwa penilaiannya itu sangat terikat pada sistem peniliannya yang telah ditegakkannya selama hidupnya sebelumnya, berdasarkan pelbagai fakta pengalaman dan penghayatannya.

Ada orang yang menilai peristiwa-peristiwa atau objek-objek sesuai dengan sifat senang-tidaknya peristiwa atau objek itu yang telah dialaminya. Apa yang senang adalah baik, sebaliknya sesuatu yang menimbulkan rasa nyeri atau sakit (painful) dianggapnya buruk atau segolongan yang negative kualifikasinya.

Dengan demikian maka juga seluruh pola hidupnya kemudian dapat ditunjukkan sebagai pola yang berazazkan prinsip senang (pleasure principle). Apa yang senang itu dapat dinyatakan dengan unsur-unsur estetika atau dapat pula dinyatakan dengan unsur spiritual.

Kusumanto setyonegoro (1966) Disertasi.

Dalam hubungan pengobatan akan kami kemukakan adanya konsesnsus pengobatan dalam bidang psikiatri yaitu pengobatan Bipolar depression.

Abbreviations guideline WFSBP (1)
This paragraph is Abbreviations from guideline for the biological, pharmacological treatment of acute bipolar depression. We omitted, (Yul Iskandar) the length of discussion, and the name of reference , for full version please see the original manuscript..

This practice guideline for the biological, mainly pharmacological treatment of acute bipolar depression was developed by an international Task Force of the World Federation of Societies of Biological Psychiatry (WFSBP) and is part of a series covering the acute treatment of mania, bipolar depression and maintenance treatment of bipolar disorder. The preparation of these guidelines has not been financially supported by any commercial organization.
Introduction
Traditionally, bipolar depression is considered to be more refractory than unipolar depression. Even subsyndromal depression is characterised by a significant loss of functionality and is associated with an increased risk of relapse into major affective episodes. Thus, patients recovering, but still having residual affective symptoms, experience subsequent major affective episodes more than three times faster than asymptomatic recoverers. Further goals of treatment in bipolar depression are to diminish the risk of suicidal acts and avoid subsequent episodes.
Diagnosis of Bipolar depression

The diagnostic criteria, both in DSM IV (American Psychiatric Association 1994) and ICD 10 (World Health Organization 1992), for a major depressive episode (MDE) as part of bipolar disorder are not different from those for MDE in unipolar depression.
Other variables such as earlier onset of illness or family history of Bipolar Disorder may point towards an underlying bipolar course. Looking at differing symptomatology in two large study cohorts of unipolar and bipolar depressed patients,: Inner tension, pessimistic thoughts, suicidal thoughts and fear were more frequent symptoms in bipolar subjects, whereas apparent sadness, reduced sleep and cognitive and several somatic symptoms of anxiety were more frequent in unipolars.
The bipolar nature of major depressive episode is evident for everybody if the patient has had a past manic episode, it has been widely assumed that evidence from the treatment of unipolar depression can be extrapolated to the bipolar syndrome. This has seemed justified by an acute symptomatology that is virtually undistinguishable. However, since the available evidence for different medications in bipolar depression has markedly increased, and differences are being proposed.
Methods

The guidelines are initially divided into the classi¬cal categories of acute treatments for bipolar depression and mania and prophylaxis. This article will concentrate on the treatment of bipolar depression in adults. We are also not able to differentiate on an evidence base between the treatment of bipolar depression with or without psychotic symptoms.

In order to achieve uniform and, in the opinion of this taskforce, appropriate ranking of evidence we adopted the same hierarchy of evidence based rigor and level of recommendation as recently used in other WFSBP guidelines. Ideally, a drug must have shown its efficacy in double-blind placebo-controlled studies in order to be recommended with substantial confidence (Categories of evidence (CE) A or B, recommendation grades 1-3); however, as detailed later, these strict criteria may be not suitable in bipolar depression due to a lack of conclusive evidence. A distinction was also made between “lack of evidence” (i.e., studies proving efficacy or non-efficacy do not exist) and “negative evidence” (i.e. the majority of controlled studies shows non-superiority to placebo or inferiority to a comparator drug).
When there is lack of evidence, a drug with a potentially positive mechanism of action could still reasonably be tried in a patient unresponsive to standard treatment. Recommendations were then derived from the category of evidence for efficacy (CE) and from additional aspects as safety, tolerability and interaction potential. The grades of recommendation do not fully resemble what is generally understood as “effectiveness”. Clinical effectiveness is composed of efficacy, safety/tolerability and treatment adherence and persistence. As we do not have reliable data on treatment adherence for most of the medications dealt with in this chapter, any statement on clinical effectiveness must be partially based on assumptions.
Finally, the value of any guideline is defined by the limitations of evidence. It is a particular additional problem that placebo trials in depression have become harder to conduct, and that those that have been conducted relatively recently tend to have higher placebo response rates.
(Dr Yul Iskandar, 2009)

Orang lain menganggap yang baik itu sama dengan yang berguna. Ada pula yang menganggap baik dan buruk itu ditinjau dari sudut sosisal kemasyrakatan. Dan ada pula yang ingin meninjau baik dan buruk itu dari segi religi atau keagamaan. Dan ada pula yang hendak meninjau segala sesuatu itu dalam artikata sehat atau tidak sehat sebagai ekwivalen dengan baik atau buruk untuk organisma biologic dan psikologik.

Itu berarti bahwa sebetulnya relasi “manusia dan peristiwa” itu harus diformulasikan dari dalam diri existensi individual manusia itu secara tersendiri-sendiri. Kita seolah-olah harus mencari postulat-postulat existensi individual, yang telah dijadikan landasan utama bagi menegakkan penilaian dan melihat atau menafsirkan hubungan itu.
Dalam garis besarnya mungkin dapat dikemukakan beberapa jenis atau pola yang dijumpai dalam meninjau relasi- manusi dengan peristiwa itu dengan masing-masing variasinya daripada pola atau jenis tersebut.

Pertama : manusia dan peristiwa terlepas satu dari lainnya.
Menurut keyakinan ini, maka baik manusia maupun peristiwa berjalan lepas satu dari pada lainnya, karena berada dibawah suatu sistem dalil-dalil yang tersendiri-sendiri. Baik secara struktur dasar, maupun dalam dalil-dalil fisika yang berpengaruh pada pelaksanaan masing-masing existensi, maka manusia dan peristiwa itu adalah berlainan.

Dalil-dalil fisika (juga sebab –akibat) dianggap tidak berlaku untuk organisasi psikologik. Karena mereka menuruti jalan-jalan yang sangat berbeda. Jadi bila pertemuan atau bentrokan maka kejadian itu dianggap sebagai suatu keadaan kebetulan saja.
Dalam hal demikian maka manusia dianggap terserang oleh peristiwa itu. Manusia dianggap ada dalam alam atau dunia, ia dianggap tidak memiliki pengertian inisial daripada dunia atau alam itu karena dia dianggap terlempar atau terdampar dalam dunia ini.
Ia tak ada kontak dalam bentuk ataupun arti sesuatupun juga. Ia merasa dirinya dilepaskan dan mungkin juga disesatkan atau tersesat dalam alam yang penuh peristiwa-peristiwa yang ia tak dapat pahami dan karena itu merasa dirinya terisolasi dari dunia atau alam itu. Gambaran yang demikian banyak sedikit mengandung aspek-aspek filsafat existialismus modern.

Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966.

Abbreviations guideline WFSBP (2)
This paragraph is Abbreviations from guideline for the biological, pharmacological treatment of acute bipolar depression. We omitted, (Yul Iskandar) the length of discussion, and the name of reference , for full version please see the original manuscript..
This practice guideline for the biological, mainly pharmacological treatment of acute bipolar depression was developed by an international Task Force of the World Federation of Societies of Biological Psychiatry (WFSBP) and is part of a series covering the acute treatment of mania, bipolar depression and maintenance treatment of bipolar disorder. The preparation of these guidelines has not been financially supported by any commercial organization.
Overview
When initiating treatment for bipolar Depression, some general principles apply as outlined in the Canadian Guidelines and its most recent update:
 Assess safety/functioning
 Establish treatment setting
 Rule out medical causes
 Discontinue caffeine, alcohol and illicit substances
 Consider behavioural strategies/rhythms, psychoeducation

The Canadian guidelines also recommend as a basic principle to discontinue antidepressants; however, the role of antidepressants in the treatment of bipolar depression remains controversial and will be discussed in more detail in the related chapter. Clinically, the use of antidepressants especially in combination treatment remains common, perhaps reflecting this ongoing controversy.

The use of lithium rests on old unconvincing trials of small scale and idiosyncratic design. The latest controlled evidence in a large cohort study could not show separation of low-serum level lithium from placebo (CE D, RG 5). Nevertheless, a generally recommended approach in a patient with bipolar depression who is already on treatment with lithium is to increase the dosage to the maximum tolerated level while remaining within the established therapeutic range. On the other hand, this strategy is to some extend contradicted by a recent analysis suggesting that high lithium serum levels are associated with an increased rate of relapse into bipolar depression.
Only a few studies have examined the role of combination pharmacotherapy when monotherapy is unsuccessful. Based on the results of one such study lamotrigine might be initiated when lithium optimisation is unsuccessful (CE B, RG 3). Other options with lower grades of evidence include the addition of an atypical antipsychotic to lithium or some augmentation strategies. The use of anticonvulsants also remains an important option, which will be reviewed in detail below.
Of the different non-medication treatments, ECT is also a reasonable choice (CE C1, RG4) particularly in patients with very severe depression, severe suicide risk, catatonic features, or psychosis. ECT may also be used for severe depression during pregnancy. Repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS) and vagus nerve stimulation (VNS) has, to date, shown only modest benefits (CE F).
Certain psychotherapy modalities may also be helpful as adjuncts to pharmacotherapy. Results of the Systematic Treatment Evaluation Program for Bipolar Disorder study indicate that interpersonal and social rhythms therapy, CBT, and family-focused therapy may also speed recovery when added to pharmacotherapy during depressive episodes in patients with either bipolar I or bipolar II disorder. (CE A, RG 1).
In conclusion, there is no choice of first step in treating bipolar depression that shows unequivocal benefits. We are obliged to review the options as just that, without an overwhelming preference for any single treatment based on careful comparisons of head to head efficacy and acceptability.
(Dr. Yul Iskandar, 2009)

Kedua : manusia mempengaruhi peristiwa ; dan sebaliknya.

Berpikir menurut keyakinan ini, maka manusia daapat menciptakan suatu organisasi dan suatu tata cara serta tata tertib tertentu, yang didasarkannya atas kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang telah ditangkapnya dan dialaminya sebelumnya.
Oleh karena itu maka manusia sekarang berhasil menegakkan dan menegaskan dalil-dalil. Ia dapat mengatur setajam-tajamnya dan ia dapat lmenduga secara seksama segala makna dan arti daripada peristiwa-peristiwa masa lampau ,sekarang dan yang akan datang. Konsekwen dengan itu maka manusia sekarang berada dalam posisi untuk menjalankan usaha-usaha yang serious untuk mencari ‘sebab-akibat’ tentang dasar dari dalil-dalil itu.
Sebagian dari pada ahli pemikir yang mengikuti jalan fikir dan mempunyai keyakinan tentang hal itu. Mereka membuat sangkaan atau thesis bahwa sebab-sebab itu akan tersimpul dalam suatu bagian dari alam tak sadar, seperti Freud dan lain – lain yang mengangggap bahwa alam tak sadar itu benar-benar ada. Sebagian ahli lain tetapberpendapat bahwa justru alam tak sadar itu yang mampu mencatat dan mengukur dalil-dalil itu, dan karena itu bagi yang percaya alam tak itu ada, maka alam tak-sadar merupakan bagian yang penting.

Ini berarti bahwa semua peristiwa yang terjadi, pada asasnya menjadi cerminan refleksi dan proyeksi dari hal-hal kausatif yang lebih mendalam. Lebih lanjut itu berarti, bahwa apa yang dijumpai dalam dunia (yaitu peristiwa-peristiwa) ialah tidak lain dari pada dirinya sendiri (the personal “I” atau “kepribadian”) dan “diri pribadinya” (the selfi). Ini berarti juga, bahwa apa yang disebut sebagai realitas yang obyektif mungkin tidak benar. Yang ada hanya realitas buatan diri sendiri.

Demikian pula maka peristiwa-peristiwa dapat dianggap sebagai pola-pola external dari susunan-susunan(arrangements) yang banyak sedikit berasal dan bersemayam dalam alam tak sadar. Dan akhirnya hal demikian itu juga dapat ditafsirkan bahwa ruang keluluasaan bagi diri sendiri (the personal I atau kepribadian) dan diri pribadi (the self) kemudian berubah menjadi kurungan terbatas tempat manusia itu dapat menentukan nasibnya sendiri.

Kebalikan dari pada keyakinan yang dibicarakan diatas ialah pendapat, bahwa peristiwa mempengaruhi manusia. Pendapat ini bersumber pada thesis bahwa semua manusia itu dilahirkan di dunia ini sama bersih dan sama putihnya. Menurut kepercayaan ini, maka sejak permulaan yang putih bersih itu, manusia dalam perjalanan hidupnya mengalami pelbagai peristiwa yang masing-masing mengandung pengaruh-pengaruh spesifik.

Pengaruh lingkungan itu meninggalkan kesan-kesan dan menggoreskan garis-garis mengenai arah hidup dan arah tujuan yang khasbagi perjalanan hidupnya kemudian.

Keyakinan ini juga berarti, bahwa pengaruh lingkungan adalah sedemikian kuatnya, sehingga manusia sebetulnya seolah-olah hanya bergantung pada rangsang-rangsang lingkungan itu saja. Ia sekedar menjadi sasaran atau obyek dari pada pengaruh-pengaruh yang terjadi dalam lingkungannya. Kondisi dan situasi akan sama sekali menentukan manusia. Suatu sikap yang mengandung segi-segi fatalistic yang tak dapat diabaikan.
Jugaseolah-olahdikecilkan atau dihapukannya arti kehendak atau kemauanorisinil sendiri pun mengurangi kemungkinan realistik bagi manusia untuk menegakkan sistem penilaian sendiri.

Dalam keadaan ekstern maka manusia menjadi sekedar “reflex automaton” , tanpa kemauan atau kehendak, suatu mesin hidup yang terorganisasi dan yang dapat diawasi dan dikemudikan dengan mengirimkan isyarat atau rangsang-rangsang kepadanya, walaupun dari jarak jauh (remotely controlled organic system).

Dengan demikian, maka keyakinan bahwa manusia mempengaruhi peristiwa; atau yang sebaliknya, kedua-duanya merupakan keyakinan-keyakinan deterministik dan karena itu pasti meninggalkan kesan yang depresif.

Ketiga : manusia daan peristiwa saling pengaruh mempengaruhi. Menurut keyakinan ini, baik manusia maupun peristiwa merupakan ‘kekuatan-kekuatan” tersendiri yang dapat menimbulkan aktivitas-aktivitas tertentu. Manusia dapat mengerjakan hal-hal tertentu, sehingga terjadi suatu provokasi yang mengakibatkan terjadinya sesuatu peristiwa. Peristiwa itu dapat bersifat demikian eksplosif sehingga ia juga dapat mempengaruhi secara amat khas pada diri manusia itu.
Kemudian dari pada itu manusia terpacu untuk melaksanakan salah satu aktivitas lagi yang kembali mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa, yang juga berpengaruh pada manusia itu dan selanjutnya.

Karena sangat bersimpang-siurnya sebab akibat, yang pada taraf kemudian menjadi sebab baru, dan kemudian menimbulkan akibat lagi; dan seterusnya, maka dunia manusia berubah menjadi suatu struktur atau sistem yang amat ruwet, penuh dengan pelbagai sebab dan akibat, pelbagai sebab dan akibat sekunder, dan selanjutnya.
Akibat umum yang dapat dinyatakan ialah terjelmanya suatu ketegangan umum yang terus menerus. Kadang-kadang keadaan ketegangan itu dapat menciptakan semacam equilibrum untuk kemudian tergoncang lagi kemudian reda lagi dan seterusnya.

Keempat : manusia dan peristiwa merupakan kesatuan.

Menurut paham atau keyakinan ini, maka manusia dan peristiwa tidak dapat ditinjau secara terpisah. Jadi, faham ini tidak membedakan secara tegas antara makrokosmos (dunia luar yang luas) dan mikrosmos (dunia dalam manusia yang terbatas).
Hubungan kosmik itu dianggap meyakini adanya suatusistem yang tersusun rapih yang meliputi seluruh universum.

Oleh karena itu maka tiap-tiap perubahan di dunia makrokosmos akan juga berarti terjadinya perubahan di dunia mikrosmos; dan sebaliknya, sehingga perubahan konfigurasi sosial akan merubah pula konfigurasi psikologik pada taraf pribadi atau perorangan. Secara demikian pula maka manusia dianggap dapat merubah peristiwa atau terjadinya peristiwa dengan mengihtiarkan perubahan pada diri sendiri khususnya dalam dunia-dalam nya atau kepribadiannya . Inilah merupakan salah satu dasar yang kuat untuk timbulnya rasa atau keyakinan kebatinan, mediatasi dan mistik.
Kusumanto setyonegoro (1966) Disertasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: