Kasus Decy

Kasus ini adalah kasus pasien yang benar-benar berobat pada psikiater Dr Yul Iskandar, nama , tempat dan identitas lain disamarkan, tanpa menghilangkan substansi. Pasien menuliskan riwayat penyakitnya, gejala-gejala yang dirasakan, perasaan dia dalam bentuk tulisan. Pada saat ini pasien dalam keadaan baik, tapi masih mengkonsumsi obat dosis rendah, dan konsultasi tiap 3 bulan

Saya menyangka akibat berbagai tekanan, di kantor, financial, keluarga, pada awalnya saya menjadi sakit yang menyerang fisik saja. Saya mengalami gejala-gejala tidak bisa tidur, gelisah, otot kaki lemah, tidak nafsu makan dan kemudian kejang beberapa kali. Pernah pada waktu kerja, saya kejang dikantor, saya dikirim ke Rumah sakit dimasukkan ke ICU, disuntik, sehingga saya tertidur .

Penyakit saya dimulai pertengahan tahun sembilah puluhan, ketika itu saya sudah berumur 30-an. Saat itu pekerjaan saya sedang sangat baik, tetapi gaji tak besar. Sebagai Sekretaris Direktur Utama perusaan produk makanan saya sudah bekerja di perusahaan itu selama beberapa tahun., saya sebagai sekertaris fasih berbahasa Inggris, Perancis, Italia dan Spanyol.
.
Tetapi ada seorang senior saya (HRD) yang akhir-akhir itu tidak senang pada saya. Dugaan saya, wanita itu cemburu sama saya dan dia ingin lebih dekat dengan Pak Direktur, sedangkan saya merupakan staf kepercayaan beliau, jadi kalau tak ada hal yang penting untuk disampaikan, saya dilarang untuk mengizinkan seseorang masuk kantor Bos saya, termasuk Direktur HRD tersebut. Dirumah juga saya juga sedang memiliki masalah dengan ibu mertua saya yang ingin ikut mengatur kehidupan keluaga dan anak-anak saya (cucu-cucunya), yang selalu menyalahkan saya karena terlalu sering meninggalkan anak-anak, dan hanya mempercayakan anak pada pengasuh saja.

Saya menyangka akibat berbagai tekanan, di kantor, financial, keluarga, pada awalnya saya menjadi sakit yang menyerang fisik saja. Saya mengalami gejala-gejala tidak bisa tidur, gelisah, otot kaki lemah, tidak nafsu makan dan kemudian kejang beberapa kali. Pernah pada waktu kerja, saya kejang dikantor, saya dikirim ke Rumah sakit dimasukkan ke ICU, disuntik, sehingga saya tertidur. Setelah berbagai pemeriksaan oleh dokter neurology, saya diharuskan istirahat di RS itu 3 hari. Saya jadi gelisah karena saya memikirkan keadaan di rumah, ditambah lagi penyakit saya tak jelas karena dari hasil pemeriksaan tak ditemukan apa-apa. Akhirnya saya hanya sehari saja di Rumah sakit dan pulang, tentu dengan pulang paksa dan menandatangani akan menanggung resiko sendiri, tak akan menyalahkan Rumah Sakit bila terjadi seuatu dirumah.

Jika sedang gelisah, saya suka mondar mandir tanpa tujuan, tidak bisa berkonsentrasi dalam hal apa pun: membaca, menonton TV, apalagi dalam melakukan pekerjaan. Saya juga pernah masuk rumah sakit dengan keluhan penyakit lambung. Dilakukan berbagai pemeriksaan dan kembali saya harus dirawat inap 3 hari. Kali ini saya menurut, karena dirumah sakit penyakit lambungnya berkurang atau hilang. Tapi dokter dan rumah sakit tidak menemukan penyakit apapun.

Kalau saya bekerja maka sakit lambung saya tetap mengganggu walaupun dengan berbagai tindakan dan pengobatan. Karena penyakit saya yang bermacam-macam, saya dianjurkan ke psikiater barangkali saya punya problem.

Saya berkonsultasi kepada beberapa psikiater A, B, C dan D. Psychiater A tanpa banyak Tanya, saya diberi berbagai obat dan dirawat di RS. Semua itu tidak membuat kondisi saya membaik. Obat-obat yang diberikan membuat saya ‘teler’ – saya tak bisa tidur, tapi mata saya terpejam sepanjang hari, dan sangat sulit untuk dibuka, dan tidak dapat menjalankan aktifitas dengan baik karena badan saya sangat lemas. Psychiater B banyak bicara, dan berkhotbah seperti rohaniawan, padahal saya tak seiman dengannya. Obatnya suatu racikan yang bukan main mahal harganya dan hanya bisa dibeli ditempatnya. Psychiater C banyak bertanya, pertanyaan yang mengarah ingin tahu malahan menanyakan pertanyaan sangat detil, yang tentu saja kalau saya ceritakan akan sangat memalukan saya. Psychiater D menyuruh masuk RS psikiatri untuk observasi selama 20 hari, yang tentu saja saya tolak. Saya tak percaya lagi pada para psikiater.

Kini saya pergi ke singsei (ahli obat Cina, yang sering muncul di TV swasta) dan diberi ramuan jamu kering yang harus direbus dan diminum selama 3 bulan. Sebelum jamu habis, dua kali minum obat badan saya gatal-gatal, kondisi saya justru semakin memburuk. Kejang beberapa kali dan gelisah terus menerus.

Demikianlah keadaan saya, sampai saya membaca suatu Koran yang isinya menceritakan seminar Anxietas Panic Disorder. Penceramah seminar itu adalah Dr Yul Iskandar, dan Dr G B dari Australia, dan seorang wanita bernama Nancy yang pernah mengalami gangguan yang mirip seperti penyakit saya dan dia telah sembuh.
Nancy menceritakan bahwa dia adalah Director keuangan suatu perusahaan Nutrisi. Akan tetapi beberapa kali dia masuk rumah sakit, beberapa kali masuk ICU, dan Nyaris dioperasi karena disangka penyakit Ulcus Pepticum, atau disebut penyakit IBS (Irritable Bowel Syndrome), menderita kejang dikira epilepsy, malahan oleh dokter kebidanan dia dinyakan menderita endometrosis. Tapi hasil pemeriksaan lab, dan pemeriksaan lain tak ada yang menyokong, dan nyatanya penyakitnya berpindah-pindah terus.
Kemudian setelah membaca Koran itu, kami mendengar di Radio dan TV Swasta yang membahas tentang masalah anxietas-Panic Disorder dengan pembicara Dr. Y.. Setelah itu saya mantap untuk berobat kembali ke psikiater tapi hanya pada Dr.Y, dan diantar oleh suami saya. Oleh Dr. Y, saya diberi obat S sekali sehari, obat X, 3 kali 2 tablet. Apoteker dari apotek itu dua kali konfirmasi dosis obat itu, dan Dr.Y telah menulis resep itu, menandatangani dan merekonfirmasi bahwa dosis yang diberikan adalah 3 kali 2 tablet obat X. Ternyata memang dalam 3 hari semua gejala telah hilang, kecuali saya agak mengantuk, yang dapat diatasi dengan minum kopi. Setelah 3 bulan dosis diturunkan dan kini hanya memakai 3 kali ½ tablet, dan tak pernah ada masalah.

Dr Y hanya mendengarkan saya, kalau saya menanyakan apa kah saya salah atas berbagai perbuatan saya, dia berkata bahwa dia psikiater, bukan polisi, jaksa atau hakim. Jadi dia tak akan menanyakan sesuatu kalau pasien tak ingin menceritakan masalah itu, juga tak akan menanyakan suatu masalah lebih dalam, bila tak penting benar yang berhubungan dengan penyakitnya, dia juga tak akan menyelidiki kebenaran apa yang saya katakan, dan dia tak akan memberikan Judgment atas perbuatan saya, dia hanya mengatakan apa yang anda perbuat, hanya hakim dan Tuhan yang tahu apakah itu benar atau salah. Setiap suatu tindakan pastilah ada sebabnya. Dengan pengobatan itu saya mulai merasa tambah sehat, dan saya pikir dikantor saya sekarang suasana tak menguntungkan untuk kesehatan saya dan finasial juga tak begitu besar, maka saya kemudian keluar dari tempat kerja dan dalam waktu 2 bulan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik Saya bekerja sebagai Deputy Director dari organisasi kemanusiaan Internasional, yang berpusat di Kanada, dengan gaji dalam dollar Amerika Serikat.

Secara bertahap sampai tahun 1998 dosis obat S dihentikan dan X dikurangi sampai sama sekali saya tidak mengkonsumsi obat lagi. Tahun 2002 ada benjolan di paha saya dan saya sangat kuatir bahwa benjolan itu semacam tumor. Saya segera berkonsultasi dengan dokter bedah, dan dalam proses beberapa minggu itu saya kembali merasakan kegelisahan dan harus minum obat X lagi (atas saran Dr.Y), meskipun hanya dengan dosis 1 mg sekali sehari. Ternyata benjolan itu tidak berbahaya dan bukan tumor. Saya merasa lega dan secara bertahap saya mengurangi konsumsi obat X sampai tidak minum obat lagi,

Tahun 2000 saya bertemu dengan Fernando, orang Filipina warganegara Kanada, berkelurga dengan 3 anak yang sudah mandiri. Ternyata kami bekerja di suatu organisasi kemanusiaan internasional yang sama, saya di Indonesia, dia di Kanada di kantor pusat.
Pada waktu itu organisasi kami mengadakan konperensi yang diikuti dari 20 negara, dimana ada cabang organisasi itu. Pertemuan itu dilakukan di Quebek, Kanada. Disitulah kami berkenalan, dan dia terkesan karena saya bisa berbahasa Spanyol dan Perancis seperti dia.

Pertemuan II, dengan Fernando adalah di Bali. Ketika itu ada konferensi internasional dari organisasi itu. Saya salah seorang yang mewakili Indonesia, Fernando mewakili Kanada. Pertemuan itu akan memakan waktu 9 hari dan 8 mlam, dimana selama 5 hari melakukan kegiatan lapangan. Yang ikut dalam pertemuan Bali ada 120 orang dari 30 negara, dan kami dibagi dalam 20 group, yang terdiri dari 6 orang. Saya dan Fernando termasuk satu group. Tugas Group itu selama 5 hari pergi kedesa –desa di Kabupaten Bangli, di Bali, untuk memperkenalkan masalah KB, masalah Gizi, dan perlunya pemakaian ASI bagi Bayi. Pekerjaannya ringan dan pukul 12 kami telah selesai sambil membagikan susu formula bagi balita, dan makanan sehat bagi anak yang kekurangan Gizi. Besoknya kita mencari desa lain dan melakukan hal yang sama selama seminggu. Komunikasi saya dengan Fernando dalam bahasa Spanyol, dan dari 6 orang itu tak satupun yang bisa berbahasa Spanyol, kecuali kami berdua. Setelah itu saya dan Fernando berkeliling di Danau kecil, dan yang lain entah kemana, masing masing dengan kesibukan sendiri. Karena iseng saya dan Fernando terlibat dalam affair, hanya sebatas Kissing dan necking, seperti remaja yang sedang pacaran. Tapi kissing dia memang luar biasa, dan kami tidak melakukan hal yang terlalu jauh, karena kami telah punya keluarga dan punya anak.

Ditahun 2006 dia kembali ke Indonesia untuk tugas kemanusiaan – membantu masyarakat Nias yang terkena dampak tsunami. Saya juga ditugaskan pergi ke Nias dan membantu dia dalam urusan logistik, administrasi, dsb. dan tentunya kami menjadi semakin dekat, malahan kami tinggal serumah selama dua bulan. Orang Nias melihat saya dan Fernando seperti suami istri, dan menganggap saya seperti Fernando orang Filipina. Kulit kami memang putih, jadi bila saya ke Manila pastilah dianggap orang mereka.

Saat itu hubungan saya dengan suami sedang bermasalah, komunikasi tidak berjalan dengan baik disertai berbagai masalah anak yang sudah mulai dewasa dan berpacaran, sikapnya dalam menangani permasalahan itu, ditambah dengan masalah pekerjaan suami yang tidak memberi penghasilan cukup untuk kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anak semakin memperburuk hubungan kami. Keadaan itu menyuburkan hubungan saya dengan Fernando, kini didaerah terpencil di Nias, kami melakukan apa saja sepuas-puasnya . Ternyata dia selain kissing nya yang hebat, dia juga hebat di tempat tidur, walaupun kita sudah tak muda lagi.

Bulan Maret 2006 Fernando menyatakan perasaannya pada saya, dan menginginkan saya sebagai istrinya. Ternyata sejak pertemuan kami pertama kali di Quebeck, kanada tahun 2000 dia sudah menaruh hati pada saya, tetapi tidak berlanjut karena dia menyadari bahwa kami masing-masing terikat pernikahan. Hubungan kami semakit erat, tapi tidak ada niat untuk melanjutkan hubungan ke tingkat lebih lanjut. Akan tetapi hubungan di Bali, dan di Nias
Merubah pikirannya.

Tahun 2006 itu secara kebetulan anaknya menemukan foto Fernando bersama saya sedang berpelukan dipantai Nias, dan isterinya memutuskan untuk berpisah dengannya, walaupun dia bermaksud mempertahankan pernikahannya (hanya pisah rumah). Hubungan kami tetap berlanjut, baik melalui Fax, E-mail, atau cara Internet lain. Kalau sudah rindu maka saya akan pergi ke Hong Kong dari Indonesia (dengan biaya dari kantor untuk urusan yang kami buat-buat , yang tentunya akan disetujui oleh kantor pusat, karena ada Fernando di kantor pusat. Kanada. Di Hongkong kami biasanya tinggal seminggu atau 10 hari, dan berlaku seperti pengantin baru lagi, walaupun kami tidak semuda dulu.. Dalam pergumulan ini saya kembali mengkonsumsi X, karena merasa bersalah, merasa berdosa, cemas bahwa Tuhan akan marah pada saya. Ketika pada suatu malam mata saya merah dan sakit, saya berobat ke dokter mata dan diberi obat ternyata obat mata tidak membatu. Saya mengkonsumsi obat X lagi dan mata saya kembali normal, ternyata obat X yang diberi Dr.Y bisa untuk segala penyakit.

Sementara itu sejak 2006 karir saya terus menanjak dan penghasilan saya naik jauh di atas penghasilan suami yang bekerja di percetakan. Aktifitas kerja saya meningkat, sedangkan pekerjaan suami tidak berkembang dan bahkan bermasalah. Hubungan kami juga semakin memburuk. Hal ini membuat saya semakin dekat dengan Fernando, pertemuan yang dulunya setahun sekali, sekarang setahun bisa 3-4 kali, dan berlanjut sampai saat ini (2009). Saya tetap minum obat X sekali sehari dengan dosis 1 mg pagi hari.. Namun ada saat-saat tertentu di mana saya perlu menambah X ,1 tablet lagi waktu sore hari ketika saya mau pulang merasa sangat gelisah atau otot leher saya terasa tegang, kalau akan bertemu dengan suami.

Awal tahun ini hubungan saya dan suami semakin memburuk, tapi hubungan suami istri masih ada, dan anehnya dengan membayangkan Fernando hubungan badan dengan suami sangat menyenangkan. Setiap saya kangen pada Fernando, maka suami saya menjadi sasaran. Dalam hubungan badan suami istri agaknya kini jauh lebih baik, walaupun badan suami saya saya anggap adalah Fernando, tapi diluar itu hubungan saya dengan suami sangat buruk..

Tapi akhirnya saya sampai pada keinginan untuk berpisah. Suami saya tidak ingin kami berpisah, tetapi sampai saat ini saya bertahan hanya demi anak-anak kami, karena saya tahu tanpa penghasilan saya anak saya tidak akan dapat melanjutkan kuliahnya. Anak pertama saat ini sudah bekerja, yang kedua masih kuliah dan akan selesai tahun 2010. Saya tidak ingin melanjutkan pernikahan saya karena ketika kami bersitegang, dan frekwensi bertengkar jadi bertambah, ditambah lagi ada beberapa pernyataannya yang menyakitkan, walaupun dia tidak tahu hubungan saya dengan Fernando, tapi dia menduga saya ada affair di kantor, yang sulit dia buktikan. Saya merasa percuma melanjutkan hubungan kami, karena sudah tak saling percaya lagi, dan anak-anak pun sudah besar. Tidak ada lagi rasa cinta saya padanya dan saya menyesalkan dia tidak pernah menghargai kerja keras saya. Dia hanya mengatakan bahwa kalau dia tak sabar mengantar saya berobat pada Dr. Y, saya tak akan semaju ini. Selama ini hampir 10 tahun, seluruh penghasilannya habis untuk kebutuhan pribadinya, sedangkan saya menanggung seluruh beban kebutuhan keluarga. Saya juga selalu melakukan tugas rumah tangga saya dengan baik, di antara tugas-tugas saya yang semakin menyita waktu.

Rencana saya akan pensiun tahun 2010, setelah anak saya yang kecil selesai kuliahnya, saya akan mencari kerja di luar negeri (kalau bisa di Kanada atau AS, bahkan mungkin Mexiko) untuk membuka jalan bagi anak kedua saya yang ingin melanjutkan S2-nya di luar negeri. Dan jika Tuhan berkenan, mungkin ini jalan bagi saya untuk berpisah dengan baik-baik dengan suami saya dan jika memang sudah menjadi takdir saya, mungkin Tuhan akan mempersatukan saya dengan Fernando dalam ikatan perkawinan, bukan seperti sekarang, suatu hubungan terlarang.. Sebenarnya Fernando hanya berpisah (tak serumah) saja dengan istrinya dan mereka belum bercerai secara resmi. Dia akan bercerai secara resmi bila saya juga sudah bercerai dengan suami saya.

Saya terus menjalani hidup ini seperti air yang mengalir, seperti yang dianjurkan oleh Dr.Y. Menurut beliau every person has one destiny, but he/ she must control their faith ( setiap orang punya satu takdir, tapi harus memperjuangkan nasib atau kalau perlu merubah nasib itu). Menurut Dr. Y, takdir (destiny) tidak sama dengan nasib. Takdir adalah sepenuhnya milik Tuhan, sedangkan nasib bisa berobah kalau saya mau mengubahnya. Saya hanya mengandalkan belas kasihan dan kemurahan Tuhan, bahwa perbuatan saya dapat dimaafkan. Saya tak tahu entah ke mana nanti Dia menuntun saya di masa depan.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Dr. Y yang telah membantu saya dalam melawan masalah penyakit saya. Saya setuju bahwa obat X, hanya mengatasi masalah Anxietas Panic Disorder, dan obat S mengatasi depresi saya, dan obat-obat itu tidak punya peranan apa-apa dalam merubah nasib saya , kecuali tidak adanya penyakit panic disorder dan depresi, saya bisa berpikir logis, tidak emosional, dan berpikir positif. Tanpa obat X, mungkin saya hanya merasakan penderitaan (fisik) saya tanpa saya menyadari bahwa sebenarnya problem mental saya adalah penyebabnya,. Saya sendiri yang harus mengambil keputusan apa yang saya anggap baik, dan pengambilan keputusan ini hendaklah pada waktu kita tenang, dan jauh dari penyakit. Saya bersyukur kepada Tuhan YME karena telah mempertemukan saya dengan Dr. Y dan tentunya memakai Dr. Y sebagai alat-Nya untuk menolong orang yang mengalami anxietas-Panic Disorder atau depresi seperti saya.

Catatan, dibawah ini ada dialog dalam rangka CBT (Cognitive Behaviour Therapy) dari Ny.Decy. Wawancara dan CBT ini dilakukan setelah Ny. Decy lebih tenang dan frekwensi kena serangan PD (Panic Disorder) mulai jarang.
Tujuan CBT adalah merubah persepsi proses pikir, dan tingkah laku mereka menjadi lebih postif dan harmonis.

Ny. Decy: Ketika SMP beberapa anak tak suka pada saya. Saya kurang suka dengan keadaan itu.
Dr.Y:. Kalau kawan-kawan-mu tidak suka apa masalahnya pada-mu. Mengapa hal itu menjadi masalah besar.
Ny. Decy :Apa masalahnya, mungkin dokter tahu, kalau kita tidak disukai teman-teman kita, dalam masa kanak-kanak adalah sangat menyebalkan.
Dr.Y: Mengapa.
Ny. Decy : Tentu dokter tahu, semua anak-anak ingin diterima dan diakui dalam lingkungannya, apabila tidak hal itu menjadi neraka, dan saya sangat teringat hal itu sampai sekarang.
Dr.Y: Apa yang menyakitkan bahwa anda tak populer diantara anak-anak. Apakah anak-anak itu memukul anda, meludahi anda, melempar anda, atau apa.
Ny. Decy : Tidak, tidak sampai sebegitu, saya hanya ingin teman-teman saya menerima kehadiran saya.
Dr.Y: Ya, tentu tak menyenangkan tidak punya banyak teman, tapi pasti ada beberapa orang yang mau berteman dengan anda. Jadi apa yang membuat anda menderita bahwa anda tak sepopuler kawan-kawan anda.
Ny. Decy : Karena saya merasa berbeda dengan mereka.
Dr.Y: Berbeda, berbeda dalam hal apa.
Ny. Decy : Saya merasa bahwa mereka tak menghargai saya karena saya pulang pakai kendaraan umum, sedangkan mereka pada umumnya dijemput dengan mobil.
Dr.Y: Apa ada anak lain yang naik kendaraan umum.
Ny. Decy : Ada sih, tapi mereka juga semua tak suka bergaul dengan anak-anak itu.
Dr.Y: Anda berkali-kali mengatakan bahwa anda merasa berbeda dengan kawan-kawan anda. Mungkin anda berbeda. Tapi berbeda bukanlah sesuatu yang buruk, naik kendaraan umum bukanlah sesuatu perbuatan kriminal. Tapi anda menganggap bahwa berbeda adalah sangat buruk bagi perkembangan anda. Anda berbeda dan kemudian merasa rendah diri. Tapi anda mengatakan bahwa anda selalu rangking disekolah. Mengapa berbeda menjadi kan inferior, pada hal dalam beberapa hal anda adalah superior, misalnya anda lebih cantik dari kawan-kawan anda..
Ny. Decy : Kalau saya superior, pastilah saya akan sangat populer saat itu. Bukankah begitu dokter.
Dr.Y: Tidak, tidak benar, pada umumnya orang tak suka kalau kita berbeda dengan yang lain, baik sangat kaya, sangat kurang kaya, sangat pintar atau sangat bodoh. Tapi orang akan lebih tidak suka dengan orang yang lebih pintar. Apalagi anak-anak. Einstein, Mozart, Edison adalah anak-anak yang tak populer waktu kecil. Anak-anak pintar kurang disukai, mungkin karena dia merasa superior, atau seperti anda malahan merasa inferior. Seseorang tak mungkin superior dalam segala keadaan, atau sebaliknya inferior diberbagai keadaan.
Ny. Decy :Ya tapi saya bukan Einstein.
Dr.Y: Memang anda bukan Mozart atau Einstein, akan tetapi kemampuan anda berbahasa, dan anda bisa berbagai bahasa menunjukkan perbedaan dengan kawan-kawan anda. Anak-anak tak suka dengan orang yang punya kelebihan, bukan yang punya kekurangan. Anak yang kekurangan mudah diolok-olok, tapi yang punya kelebihan biasanya dicemburui.
Ny. Decy : Ya walau bagaimanapun, saya berbeda dengan mereka, ketika mereka main kasti, karena mereka tak mengajak saya, saya les bahasa Spanyol. Bukankah artinya saya berbeda dengan mereka walaupun dalam artian yang ‘positive’ sekalipun.
Dr.Y: Anda telah mengatakan bahwa anda lebih pintar dari mereka-mereka, ketika anak-anak bermain kasti anda belajar bahasa dsb. Anda suka musik klasik, dia suka musik ‘ngak-ngik ngok ( istilah zaman Sukarno). Dia suka baca komik, anda membaca tulisan Iliad karya Homerus, tentunya semuanya jadi tak nyambung. Tapi perbedaan ini membawa anda menjadi inferior, pikiran anda menjadi negatif. Anda menjadi rendah diri seperti si Itik Buruk Rupa karangan Hans Anderson. Anda membawa masalah pada kehidupan ini, dan melihat perbedaan – perbedaan dan anda mulai menilai hal itu sebagai hal yang inferior, mengapa anda tak sama dengan mereka, bukan malahan anda mensukuri bahwa anda berbeda dengan mereka.
Ny. Decy : Saya tak pernah berpikir bahwa saya berbeda dengan mereka, adalah hal yang positif, saya menganggap semua perbedaan adalah suatu tanda keanehan, suatu tanda inferior.
Dr.Y: Mungkin mereka menganggap begitu, tapi apakah anda pernah berpikir untuk mengevaluasi dengan cara lain, anda harus jalan sendiri, walaupun dengan genderang yang berbeda dengan musik mereka. Anda harus membiarkan jalan hidup ini mengalir seperti air dan tak perlu mencari beban tambahan. Don’t carry the world on your shoulder- kata Beatels.
00000000.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: