Biological psychiatry, neuropsychiatry or simply psychiatry.

Dengan perumusan lain itu berarti bahwa apa yang dibicarakan mengenai persoalan sakit atau penyakit hingga sekarang, seolah-olah dapat kita tinjau lepas daripada manusia yang mengandung atau yang menderita penyakit itu.
It is important to differentiate between DP for clinical purposes and DP for research. It must not be forgotten that the current therapeutic approach in psychiatry has been developed on the basis of conventional DP. Seterusnya di
https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/10/03/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-37/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini. Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Jadi secara fundamental lain dengan seorang penderita yang dihinggapi penyakit typhus abdominalis yang nyata-nyata memperlihatkan keadaan sakit atau penyakit yang didalamnya mengandung aspek-aspek perjoangan defensif dan agresif, jadi suatu perjongan aktif.

Semua proses-proses dan keadaan-keadaan yang tergambar diatas merupakan lukisan-lukisan atas dasar rangka organobiologi, yang menyangkut proses-proses bio-fisika-kimia. Proses-proses itu merupakan proses-proses yang bersifat melawan atau bersifat menjawab stimulus atas dasar reaksi defensif atau agresif. Dengan perumusan lain itu berarti bahwa apa yang dibicarakan mengenai persoalan sakit atau penyakit hingga sekarang, seolah-olah dapat kita tinjau lepas daripada manusia yang mengandung atau yang menderita penyakit itu.

Interviewing a Colleague: Prof. Germán E. Berrios*
On psychopathology, nosology and neurobiology.
*Prof. G.E. Berrios
BA (Oxford); DPhilSci (Oxford); MD; Dr. Med. honoris causa [Heidelberg; San Marcos]; FRCPsych; FBPsS; FMedSci
Consultant Neuropsychiatrist, Head, Neuropsychiatry Services.
Reader in the Epistemology of Psychiatry, University of Cambridge.
Addenbrooke’s Hospital, Cambridge. United Kingdom
This section is aimed at discussing controversial and up-to- date topics in biological psychiatry or related disciplines by means of a short interview with an expert. Personalities of Psychiatry and related fields will share their opinions, concepts and critical points of view about our subject of interest: The Human Brain and the Human Mind. (4)
JOD
In the same vein, how to develop a fruitful research program in psychopathology?
GEB
Over they years, the work of successive members of my Cambridge group has shown that it is possible to do original DP research. They have, inter alia, redefined old symptoms, developed new instruments to capture them, identified new ones, established correlations between symptoms and neurobiological variables, and most importantly, developed a model for symptom formation. All this with a proviso. It is important to differentiate between DP for clinical purposes and DP for research. It must not be forgotten that the current therapeutic approach in psychiatry has been developed on the basis of conventional DP. We are not advocating premature changes that may do patients more harm than good. We are running research programmes in parallel with conventional ones so that it can be gradually shown that the new way of looking at symptoms has more predictive (clinical and therapeutic) value than the conventional one. This is the acid test. We have also developed models for symptom-formation which try and blend neurobiological and social representations. At the moment we are busy designing an instrument to predict whether a given mental symptom is susceptible to being captured by neuroimaging or whether it may need modification and refinement
JOD
A terminological (and conceptual) debate: biological psychiatry, neuropsychiatry or simply psychiatry? Are these distinctions really needed?
GEB
They are fashionable and meaningless terms which originate in specific social conjunctures in specific countries and then get exported to other countries where they stick out like a sore thumb. There is one discipline called psychiatry and it is a hybrid one in that for various historical reasons needs to partake both from the natural and social sciences. Changing names is irrelevant to this. Psychiatrists need to be conceptual polyglots and speak both languages.
JOD
There is the idea that replacing psychopathological language with a neurobiological one will be the final and best outcome of scientific research in psychiatry. Do you think that this is really feasible?
GEB
In view of what I have said already I think that this is pie in the sky and shows an utter misunderstanding of what psychiatry is. It hides a deeper and more disturbing problem however. This has to do with the sinister movement of ‘naturalizing’ everything, including the mind and psychiatry with it. The question at the end of the day is one which concerns our duty to patients. Psychiatry is as much about causes and reasons, about explaining and understanding. Knowing about the cause of disease is only have the story. Reasons for becoming mad are equally important and accounts for reasons inhabit a different conceptual space. The same concerns explaining and understanding. Explaining according to some ongoing set of correlations may not be sufficient for a patient and his/her clinician. They may want to ‘understand’ what has happened within a shared semantic, emotional and aesthetic frame of reference. The latter cannot be naturalized for it inhabits a space of meaning. The crucial point here is that reasons and understanding are as central to the meaning of mental disorder as knowing that frontal lobe networks may be implicated. Reasons for going mad are not just a late side effect of a dysexecutive syndrome. Indeed, they may be the trigger that let do the decompensation of the frontal network in the first place.
(Yul Iskandar, dikutip dariThe worl Jounal of Biological Psychiatry, 2006)

Apakah hal demikian itu yang banyak contoh-contohnya dalam pekerjaan kita sebagai dokter sehari-hari , dapat kita pertanggung jawabkan. Menurut hemat kami hal ini memang benar dapat dipertanggung jawabakan selama paham atau konsep penyakit itu dapat kita pertanggungjawabkan pula lepas terjadi dari pada “sentrum atau inti kemanusiaan” dari pada manusia yang menjadi penderita. Hal yang demikian itu dapat terjadi, selama kita memandang paham penyakit itu semata-mata sebagai sutau kumpulan dari pada gejala-gejala deskriptif, atau sebagai suatu kumpulan dari pada sindrom-sindrom deskriptif.

Tinjauan demikian itu mendasarkan pikirannya atas filsafat bahwa penyakit adalah equivalent dengan suatu “Ding an sich” dan bahwa penyakit harus ditinjau tidak lain dari pada secara “Naturwissenschaftlich”. Jadi konsekwen dengan itu, maka yang diperiksa dan yang diobati oleh dokter ialah justru memang “penyakit” dan bukan manusia yang menderita.

Yang dijadikan sasaran pengobatan ialah gejala-gejala yang menjadi manifestasi dari pada salah satu sistem faali yang dianggap tterganggu. Secara sangat logic dan konsekwen pula, maka ilmu kedokteran dianggap hanya dpat dipertahankan atas dasar pikiran, bahwa ilmu ini terutama sekali merupakan suatu kumpulan teknik-teknik tertentu yang bertujuan mengobati manifestasi- manifestasi tertentu dari pada suatu sistem faal tertentu yang mengalami gangguan tertentu pula.

Oleh sebab itu, maka dalam rangka pikir itu salah satu sikap yang sangat terpuji, ialah sikap seorang dokter yang dapat memeriksa penderita hanya mengenai manifestasi- manifestasi gangguan faali itu (jadi simptomatologi faali) dan tidak menurut sertakan dirinya sebagai manusia dalam proses penyakit itu (non involvement attitude as a human in the process of the patients disease or illness).

Sekalipun kita menerima asas bahwa penyakit dapat dilepaskan dari pada manusia yang menderita, maka perlu kita perhatikan dengan seksama beberapa patokan yang justru kita peroleh dalam penelitian paham ini berdasarkan praktek kita sehari-hari sebagai dokter, serta yang secara pengalaman pribadi berdasarkan cara pendekatan fenomenologi (phenomenological approach). Kami yakin bahwa hal-hal yang akan dikemukakan dibawah ini dapat dipastikan pula secara individual oleh tiap-tiap dokter yang menaruh minat secukupnya terhadap materi yang dibicarakan.
(Kusumanto Setyonegoro, 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: