Sakit dan Penyakit

. . . akan ditinjau sekarang ialah persoalan sakit dan penyakit dalam relasinya dengan manusia. Persoalan ini bukanlah masalah yang sederhana. Ada manusia yang berada dalam keadaan derita yang berat sekali, tetapi dipihak lain penyakitnya tidak seberapa. Ada pula manusia yang tetap bersikap tabah dan gagah berani dalam menanggung penyakit , dan seterusnya https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/09/16/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-34/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.
R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, dan baru bisa selesai tahun 2006. Naskah ini sedianya akan diterbitkan menjadi buku atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry and Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya
.

Yang akan ditinjau sekarang ialah persoalan sakit dan penyakit dalam relasinya dengan manusia. Persoalan ini bukanlah masalah yang sederhana. Ada manusia yang berada dalam keadaan derita yang berat sekali, tetapi dipihak lain penyakitnya tidak seberapa. Ada pula manusia yang tetap bersikap tabah dan gagah berani dalam menanggung penyakit yang prognosanya infaustum.
(Kusumanto Setyonegoro , Disertasi 1966)

Bahasa membedakan antara sakit dan penyakit, dan antara menderita serta penderitaan, antara kepribadian atau sifat.
Manusia yang ada didunia ini akan banyak mengalami penderitaan. Kelahiran, menjadi tua, sakit dan kematian orang yang dicintai akan menyebabkan penderitaan. Tidak semua penderitaan akan menjadi penyakit. Sakit dan penyakit dapat datang dari Kuasa (heriditer), atau dari dunia (external factor). Dalam bahasa Inggris misalnya Depression, dapat merupakan suatu penyakit, suatu reaksi atas stress atau masalah,atau suatu existensial dilema (Sir Denis Hill, 1968)
Yul Iskandar, 2006

Sungguhbesar variasi daripada keadaanpersoalan sakit dalam relasi dengan manusia yang kita jumpai. Oleh sebab itu, maka kesulitan yang segera nampak ialah ketidak sesuaian para ahli tentang penyakit, untuk dapat sampai pada suatu formulasi yang uniform. Bahkan apabila yang hendak dilukiskan itu suatu keadaan sakit somatik-pun masih sangat kabur deskripsi nya itu. Dan dapatlah kiranya dibayangkan bagaimana sulitnya , apabila kita juga memasukkan unsur-unsur psikologik, unsur existensi individual dalam pengertian keadaan sakit dan penyakit itu.
Kusumanto Setyonegoro , Disertasi 1966

Dalam DSM III, tahun 1980-an dikenal suatu penyakit yang dinamakan endogenous depression, sebagai suatu penyakit depresi klinis. Pasien-pasien ini penuh dengan fenomena yang sesuai dengan clinical depression, yang pada umumnya akan mengunjungi psikiater. Pada waktu diadakan penelitian prevalensi depresi dengan memakai kriteria itu ternyata prevalensi nya sangat rendah, bahkan begitu rendahnya sehingga Ciba-Geigy yang mengeluarkan imipramin ragu-ragu untuk memasarkannya karena pasarnya sangat sedikit. Sedangkan pasien dengan depresi tapi non-endogenous atau reaktif, dengan gejala yang tidak sebanyak endogenous depression, akan tetapi beberapa gejala bisa cukup hebat yang membuat pasien menderita.
Yul Iskandar, 2006

Oleh sebab itu, maka pada tempat kiranya jika menganggap bahwa mungkin pada asasnya hal-hal yang tersebut itu menyangkut pula rangka pikir dasar ilmu kedokteran seluruhnya (basic medical philoshopy).
Kusumanto Setyonegoro , Disertasi 1966


Yang terpenting dalam basic medical philoshopy adalah bahwa pada umumnya setiap penyakit itu ada dasar biokimia, serta setiap penyakit selalu dinamis, ada gejala prodormal, gejala akut, gejala kronik, atau penyembuhan. Disamping itu maka setiap penyakit biasanya mempunyai ‘marker’ biologik. Untuk depresi marker itu bisa dengan pengukuran Latensi REM, pada penelitian dengan Sleep polygraphik, atau response Cortisol pada pemberian dexametazone.
Yul Iskandar, 2006

Bagi sebagian ahli, maka penyakit itu dianggap hanya sekedar bersifat jasmaniah saja. Akan tetapi jika demikian halnya, apakah setiap gangguan jiwa atau mental itu harus dikualifikasikan hanyalah merupakan sesuatu yang tidak benar ataupun yang digunakan dalam istilah kiasan atau figuratif saja.

Lebih benar kiranya, apabila kita tetapkan untuk sementara, bahwa semua keadaan sakit dan penyakit itu hanya dapat terjadi pada sesuatu organisme yang hidup. Antara lain kita jumpai keadaan sakit atau penyakit itu pada tumbuh-tumbuhan, pada seekor hewan ataupun pada seorang manusia. Keadaan sakit atau penyakit tidak dapat terjadi pada sepotong besi, sebatang balok, ataupun segumpal lempung.
Kusumanto Setyonegoro , Disertasi 1966

Penyakit fisik dapat menghinggapi semua mahluk hidup, sehingga misalnya virus dengue dapat menginfeksi nyamuk, pohon-pohon dan manusia. Akan tetapi pohon dan nyamuk tidak menjadi sakit karena mereka bisa membuat anti bodinya , malahan nyamuk dapat menularkan virus itu pada manusia. Jadi pemberian makanan , buah atau sayur-sayuran yang dianjurkan ada benarnya untuk pengobatan dengue, asalkan buah dan sayur-sayuran itu diambil dari yang ditanam dipekarangan rumah. Sebenarnya pembuatan anti body secara besar-besaran dapat dilakukan dengan rekayasa genetik dengan menginfeksi tumbuhan, yang tentunya teknik untuk itu perlu dikembangkan.
Lain halnya dengan gangguan psikiatri, yang hanya ada pada manusia (specific human disease), jadi apapun yang dilakukan pada hewan untuk meniru gangguan psikiatri pada manusia tidak akan pernah akan sesuai. Walaupun demikian keresahan, dapat dibuat pada tikus dengan melihat bahwa tikus itu bergerak kesana kemari tanpa tujuan.
Yul Iskandar, 2006

Hal lain yang penting pula dipastikan ialah fakta, bahwa dalam membicarakan keadaan sakit dan penyakit, pikiran kita terarah pada hal ikhwal mengenai sesuatu ukuran atau norma, yang secara empirik dan rata-rata dianggap mempunyai nilai normal dalam arti kata konvensional atau statistik.
Dan jika keadaan yang dipertunjukkan oleh sesuatu makhluk yang hidup itu ternyata menyimpang dari pada variasi yang dapat diizinkan, maka keadaan yang demikian itu disebutkan penyakit atau keadaan sakit. Disini kita berjumpa dengan factor norma toleransi.
Kusumanto Setyonegoro , Disertasi 1966

Hal ini jelas misalnya pada penyakit anemia (pemeriksaan darah pasien, bila kurang dari batas 12 g%, akan dinamakan anemia), begitu juga pada penyakit demam dengue, maka hitung zat pembeku darah trmbosit akan menentukan penyakit itu. Begitu pula pada penyakit diabetes, maka kadar gula yang tinggi dalam darah menunjukkan beratnya penyakit.
Dibidang psikiatri sejalk tahun 1960-an diperkembangkan ukuran-ukuran untuk menilai berat ringannya penyakit yang dinamakan Rating-Scale. Misalnya Rating –scale yang dibuat oleh Hamilton. Perlu dicatat bahwa pembuatan rating scale ini pada umumnya berdasarkan pertimbangan praktis, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kaidah teoritis.
Yul Iskandar, 2006

Akan tetapi apa yang disebut hidup itu merupakan sesuatu hal yang terjadi dalam ukuran waktu. Oleh sebab itu, maka haruslah penyakit atau keadaan sakit tadi juga terjadi dalam ukuran waktu. Keadaan itu harus merupakan suatu kelainan dalam arti kata “suatu penyimpangan dari pada kelaziman” dan oleh karena terjadi dalam “pelangsungan menurut ukuran waktu”, maka oleh sebab itu merupakan suatu proses.
Suatu furunkel yang sedang timbul, membesar dan kemudian menimbulkan keadaan “functiolaesa” cenderung kita namakan suatu keadaan sakit. Manusia yang jasmaninya terserang timbulnya bisul tadi itu, dianggap mempunyai penyakit. Jika bisul itu diinsisi dan kemudian terjadi suatu parut, yang juga menimbulkan pembatasan pergerakan secara tertentu pada anggota badan yang bersangkutan, tidak lagi disebut suatu keadaan sakit. Kita sekarang lebih cenderung untuk menamakannya suatu keadaan cacat. Oleh karena itu sebagian orang, hanya mau meninjau penyakit dari sudut kejasmaniannya, seperti Virchow. Ia mengemukakan bahwa yang ada hanyalah “penyakit-penyakit local (Lokalkrankheiten)”, dan bukan penyakit-penyakit umum.
Sebagian orang lain hendak meninjau persoalan ini dari sudut fungsional dan keseluruhannya fungsi manusia. Diantaranya ada yang orientasinya fisiodinamik dan berpendapat bahwa keadaan sakit itu pada hakekatnya merupakan keadaan berfungsi dan menunjukkkan kelainan. Pendapat pendapat yang berorientasi fisiodinamik agaknya semakin lama semakin tampil kemuka.
Kusumanto Setyonegoro , Disertasi 1966

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s