Tindakan Kreatif.


Apakah kita bermaksud untuk belajar dari padanya, ataukah untuk maksud memperoleh pengaruh atau kekuasaan dari padanya, atau untuk maksud-maksud lain lagi ? Teranglah, bahwa maksud-maksud dan tujuan-tujuan itu tidak dapat dilepaskan pula dari pada pengertian orang tentang dirinya sendiri sebelumnya, misalnya saja dalam hubungan apakah dirinya itu dianggap penting atau kurang penting , seterusnya baca
https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/08/23/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-33/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
psikiater,
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, baru bisa selesai tahun 2006 dan akan di- bukukan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry, Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini, Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.

Secara ringkas, maka tiap-tiap tindakan kreatif memberitahukan tentang :
a). Apa arti dan maknanya benda, situasi atau manusia yang dihadapinya itu dalam hubungan keseluruhan existensi individualnya
b). Apa sebabnya dipilihnya benda itu, situasi atau manusia itu; hal ini menandakan adanya motivasi intensional
c). Apa tujuan yang hendak segera dicapai, dan apa maksud jangka jauh dari pada benda itu, situasi atau manusia itu; hal ini menandakan apa tujuan dan maksud yang akhirnya hendak dicapai (purposive goal)

Mengenai hal yang pertama (yaitu tentang arti dan makna) dapat dikatakan, bahwa hal ini erat hubungannya dengan hal-hal ketentuan yang terdapat disekeliling seperti usia, didikan dan situasi sosial di lingkungannya.
Mengenai hal yang kedua (yaitu tentang sebab dipilihnya bendaa, dan lain-lain), sangat bergantu pada kekuatan-kekuatan motivasional yang ada pada diri orang yang bersangkutan itu, terutama dalam hubungan dengan pengalaman-pengalamannya terdahulu. Hal ini biasanya dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar pengertian-pengertian psikodinamika.
Dan yang terakhir (yaitu mengenai tujuan segera dan maksud jangka jauh) biasanya berhubungan erat dengan apa yang menjadi maksud dan tujuan kita secara umum, yang tersimpul dalam seluruh hidup kita. Jadi, apakah kita mau mengadakan hubungan dengan seseorang individu, sangatlah bergantung antara lain, dari hal-hal berikut ini. Apakah kita bermaksud untuk belajar dari padanya, ataukah untuk maksud memperoleh pengaruh atau kekuasaan dari padanya, atau untuk maksud-maksud lain lagi ? Teranglah, bahwa maksud-maksud dan tujuan-tujuan itu tidak dapat dilepaskan pula dari pada pengertian orang tentang dirinya sendiri sebelumnya, misalnya saja dalam hubungan apakah dirinya itu dianggap penting atau kurang penting. Demikianlah, maka permainan atau pergolakan dari pengaruh-pengaruh dan kekuatan-kekuatan itu akhirnya akan menentukan apakah sesuatu relasi dengan seseorang kemudian dapat menjelma menjadi hubungan yang penting atau kurang penting, yang semuanya ada hubungannya lagi dengan sistem penilaian individual orang itu.

Yang dimaksud sebagai “intensi” atau “intensionalitas” ialah adanya sesuatu maksud yang tertuju atau terarah, terutama dalam hubungan tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan mental. Sifat “intensi” atau “intensionalitas” itu kita jumpai pada semua perbuatan dan tindakan manusia, sehingga dapat dikatakan bahwa tak ada gerak atau aktivitas manusia yang tidak tertuju atau terarah.
Faktor “intensionalitas” ini juga penting dalam menentukan nilai dan apresiasi manusia terhadap sesuatu yang nampak padanya di sekitarnya itu. Jadi situasi dimana manusia berada itu bukanlah sekedaar suatu “wadah” dimana hanya terdapat subyek saja, tetapi dimana manusia terdapat dalam segala “gerak hidup” dan “gerak tindakannya” di dalam situasinya. Dengan demikian, maka corak existensi individual lebih ditandaskan lagi, apabila kita menerima asas intensionalitas ini dalam existensi individual itu.
Paham excentrisitas berarti adanya kemungkinan bagi existensi individual manusia untuk selalu berada dalam suatu relasi terhadap dirinya sendiri baik menjadi tingkah lakunya, hidup perasaannya maupun pengalaman-pengalamannya. Seolah-olah manusia itu dapat melihat “cerminan dirinya” dalam bentuk yang dobel.
Demikianlah, maka manusia dapat mengalami peristiwa yang dobel itu. Disatu pihak ia dapat menerjukan diri dalam suatu perbuatan atau pengalaman, di pihak lain ia dapat bersikap merenungkan terhadap perbuatan dan pengalaman itu.
Itulah yang menjadi dasar dari pada suatu kesadaran yang sepenuhnya, dan yang kemudian dapat menjelma menjadi apa yang disebutkan “pengertian diri (self insight; self knowledge)”.
Excentrisitas itu mempunyai konsekwensi tertentu bagi existensi individual manusia. Yang pertama ialah, bahwa karena fungsi kesadaran itu maka manusia dapat mengusahakan semacam ikhtiar penelitian tentang apa yang menjadi pergolakan “alam kalbunya (inner life)”, dan apa yang menjadi fakta dan fenomena luar.
Yang kedua ialah konsekwensi, bahwa justru segi “alam kalbu” yang seolah oleh “tercela” itu kemudian merubah menjadi salah satu unsur utama dari pada pembinaan suatu budaya (culture). Dan juga suatu budaya tertentu pun senantiasa memperlihatkan segi-segi atau membuat kesan-kesan “artificialis” tertentu. Tetapi, andai kata pun ada kehidupan human yang tidak berbudaya atau tidak berkebudayaan, maka penampakan kehidupan yang demikian itu pasti bercorak atau memberikan kesan yang sifatnya non human atau malahan animal. Kehidupan yang demikian itu kita sebutkan “merendahkan humanitas”, atau malahan dapat disebut bersifat “infra human”.
Memang harus diakui, bahwa syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan etika dan moral itu merupakan suatu keharusan instriksik bagi kehidupan human untuk menetapkan norma-norma dan nilai-nilai. Sebab, norma-norma daan nilai-niali itu hanya dapat timbul jika ada keharusan-keharusan, tanggung jawab- tanggung jawab dan larangan-larangan yang semuanya hanya mungkin timbul dan dipertahankan atau dijunjung tinggi, jika manusia mulai menempuh hidup berkelompok.
Dengan demikian, maka akibat yang lebih lanjut lagi ialah keharusan manusia untuk disatu pihak mampu mengadakan “jarak antara (distansi)”; dan dipihak lain untuk dapat mengikhtiarkan suatu keadaan “kemesraan” dan “kehangatan” (warm and emotionality) dalam kehidupan antar manusia (interpersonal relations). Hidup berkeluarga yang menitik beratkan sifat-sifat pribadi (personal privacy) dan hidup bermasyarakat yang mengehendaki sifat-sifat organisatorik (organizational structurization), adalah dua sifat yang boleh diusut sumbernya pada asas dasar excentrisitas existensi individual manusia.

(a) Penggunaan prinsip existensial dalam ilmu psikiatri

Ilmu psikiatri, sebagai suatu cabang ilmu kedokteran, sampai suatu taraf tertentu meneliti dan menilai tingkah laku manusia. Berdasarkan penelitian dan penilaian itu, maka psikiater kemudian menyusun status psikiatrikumnya untuk menegakkan pemastian atau diagnosa, dan akhirnya menjalankan terapi dan menduga prognosanya.
Oleh sebab itu, maka dalam tiap-tiap penelitian psikitrik kita harus memasukkan pula faktor-faktor yang terdapat dalam existensi individual manusia yang bersangkutan, agar supaya penelitian itu dapat dikerjakan dengan seksama.
Jika kita, misalnya hendak mendekati paham seperti kasih sayang (love), suatu sifat yang penting dalam kehidupan tiap-tiap individu, maka haruslah kita terlebih dahulu pastikan secara mendaalam skala penilian apakah yang oleh individu itu hendak dikemukakan sebagai dasar yang khas berlaku untuknya. Tidaklah mustahil pula, bahwa kecerobohan kita sendiri, kita akan dapat terjerumus dalam suatu salah paham yang sungguh-sungguh tidak menguntungkan, jika kita misalnya tidak dapat melihat pengaruh atau corak heteroseksualitas atau homoseksualitas dalam konsep kasih sayang itu. Demikian pula halnya dengan paham-paham seperti sadismus. Dan demikian juga halnya jika kita mau memperlihatkan secara lebih mendalam soal atau peristiwa promiskus (promiscuity) dan prostitusi. Antara lain boleh dikemukakan, dalam hubungan ini, bahwa telah diketahui bahwa dalam masa-masa tertentu dalam sejarah hidup umat manusia, memang ada terdapat kultus-kultus yang tertentu pula yang bercorak pemujaan, dimana justru prostitusi itu merupakan suatu bagian integral dari pada kultus itu. Mungkin mereka itu beranggapan, bahwa orang yang menjalankan prostitusi dalam kultus itu harus dan wajib sampai kepada membawa diri sesempurna-sempurnanya, seolah-olah badan jasmaniyahnya dapat “dilepaskan atau dipisahkan” dari pada kehidupan lainnya.
Oleh karena itu, maka penilaian terhadap sesuatu benda, peristiwa atau individu, bagi setiap orang diantara kita dapat amat berlainan. Semuanya itu sangat bergantung kepada bagaimana kita masing-masing telah menegakkan sistem penilaian kita sendiri-sendiri berlandaskan pada keyakinan etika dan moral.
Segi penting lainnya ialah kebebasan manusia untuk memilih aktivitas kreatifnya, dan dipihak lain keharusan manusia itu untuk mempertanggungjawabkannya. Dengan mengemukakan pernyataan ini maka sekaligus telah dinyatakan pula, bahwa apa yang disebutkan sebagai kebebasan manusia itu adalah sutau kebebasan yang relatif. Kebebasan relatif ini dimungkinkan oleh keadaan struktural dari pihak lingkungan, dan dari pihak kejiwaannya sendiri.
Salah satu fakta yang penting kita gunakan sebagai landasan berpikir ialah waktu, atau lebih tepat tinjauan dari sudut waktu (temporal). Kita harus mengakui bahwa tentang hal-hal yang sudah terjadi di waktu yang lampau sudah diambil keputusan tentang sikap dan aktivitas, yang tidak bisa ditinjau kembali.
Lagi pula, pada hakekatnya juga memberitahukan kepada individu itu, bahwa sebetulnya manusia telah mengambil satu keputusan atau satu pilihan untuk berbuat atau bersikap, diantara demikian banyak kemungkinan-kemungkinan untuk berbuat dan bersikap. Dengan perkataan lain, hal ini berarti, bahwa hal-hal tertentu, rupa-rupanya pada waktu yang lampau manusia itu telah bergerak untuk mempersempit skala variasi yang sebenarnya cukup luas itu, sampai kepada satu kemungkinan yang pasti dan tajam.
Sebaliknya, hal itu berarti pula bahwa adanya suatu skala variasi yang demikian luasnya itu memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk terjadinya suatu pilihan yang kurang tepat, atau malahan yang salah. Tetapi, manusia juga sangat cenderung untuk berlaku secara konsekwen. Artinya, sekali salah satu garis kebijaksanaan telah dipilihnya, sukar ia melepaskannya begitu saja, justru karena sukar mempertanggungjawabkannya, terutama kepada dirinya sendiri. Sikap yang konsekwen itu, dan yang bergaris kebijaksanaan yang konsekwen pula, biasanya dianggap sikap yang tegas dan kuat, karena mencerminkan semacam kekuatan dan enthousiasme hidup. Sikap reorientatif yang sebenarnya juga bersifat sangat human dan logik, biasanya dianggap suatu sikap yang ragu-ragu, lemah dan tak bersemangat. Terutama sekali apabila tingkah laku dan aktivitas selanjutnya bertentangan, atau setidak-tidaknya menyimpang dari pada garis kebijaksanaan bertindak sebelumnya.
Oleh karena itu maka suatu “titik pandang mundur (point of no return)” atau suatu “titik balik mundur (point of return)”, kedua-duanya dapat dipahami atas dasar sifat-sifat kemanusiaan (human nature) dari pada manusia (human being). Dan sebab itu semua, maka riwayat manusia dan hari kemudiannya tertumpah kemungkinannya pada saat sekarang.
Dalam praktek seorang psikiater hal yang demikian itu terjadi setiap saat. Oleh sebab itulah, maka kami cenderung untuk menganggap bahwa fakta waktu (temporal) penting sekali untuk dijadikan salah satu “koordinat” dalam segala tindak tanduk manusia. Secara populer orang sering berkata tentang adanya “saat-saat yang oportun” atau “saat-saat psikologi”. Ditinjau dari sudut ilmu psikiatri maka tepat kiranya untuk berkata bahwa tindakan –tindakan verbal atau “gestural” (gerakan tanpa berkata) harus ditinjau dalam koordinat ke masa depan atau koordinat ke muka (futuristic temporality), dan dalam koordinat ke masa lampau atau koordinat ke belakang (historic temporality), yang kedua-duanya bertemu dalam saat sekarang. Bagi manusia, maka masa depan, masa lampau atau sejarah dan saat ini, tidak terlepas satu dari pada lainnya. Semua masa itu bersatu padu dan menentukan arah dan maksud tujuan dari pada existensi individualnya.
Faktor lain lagi ialah faktor situasi dimana individu ada. Situasi ini memberikan kemungkinan bergerak baginya, dan oleh sebab itu maka situasi itu merupakan suatu ruang keleluasaan tertentu.
Oleh karena itu, maka manusia dalam waktu sekarang wajib mengambil sikap terhadap historisitasnya, agar supaya ia akan lebih memahami :
a). Apakah yang menjadi fakta-fakta yang beku itu
b). Apakah yang menjadi dirinya sendiri yang sedang berjuang dan bergolak itu
c). Apakah yang menurut istilah kami, mempunyai “kebebasan bergerak dan memilih”

Berdasarkan hal-hal yang disebutkan diatas, maka boleh diambil kesimpulan bahwa sifat manusia dalam relasinya terhadap situasi itu beraspek dua buah : pertama, ia terikat secara tidak terlepas dalam situasi historik (historisch situatiegebonden), dan kedua, ia bebas dan tidak terikat terhadap kemungkinan-kemungkinan futuristik (futuristisch mogelijkheidsvij).
Jadi, apa yang disebutkan “kebebasan” individu itu pada asasnya merupakan suatu kemungkinan untuk kebebasan. Individu diharuskan untuk setiap detik melakukan suatu perbuatan yang bertujuan mereduksi atau mengurangkan kebebasan itu, oleh karena setiap detik pula ia didesak untuk melakukan pilihan yang sesaat kemudian lagi sudah menjadi fakta yang beku. Demikianlah tugas yang menunggu manusia dalam relasinya terhadap kebebasan. Kebebasannya itu adalah existensinya yang berada dalam lingkungan tertentu. Lingkuangan itu dapat bersifat suatu kelompok atau golongan, suatu keluarga atau clan, pendeknya suatu lingkungan sosial yang memberikan kesempatan atau keleluasaan baginya untuk “berjuang, bermain dan berdendang” menurut pembawaan, kecenderungan dan pengalaman-pengalamannya yang dibawanya sejak kecil mula. Hanya, jika manusia terjepit maka ruang keleluasaannya itu menjelma menjadi suatu ruang yang sangat sempit dan menyesakkan seperti “seekor tikus yang terjepit”.
Kebebasan individu mengalami proses reduksi yang sangat progresif, dan dapat merubah menjadi nihilnya kebebasan sama sekali. Manusia tidak lagi dapat bertindak secara kreatif. Ia hanya dapat bergerak dan bertindak secara reflektorik automatik saja. Ia hanya bisa melawan mati-matian atau melarikan diri mati-matian (fight or flight), tetapi ia tidak pernah akan dapat bertindak secara berexistensi induvidual human. Dengan demikian, maka ruang keleluasaan dalam diri manusia itu selalu bergerak antara dua pola: fakta yang terbeku dan kebebasan berpengharapan (between freezed factuality and promising freedom).
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: