Penilaian Awal Pertengkaran.

Tetapi, sebaliknya jika stimulus itu sudah hapus dari ruang persepsi kita, maka hilang pulalah penilaian yang pernah kita berikan. Akan tetapi, jika situasi yang dihadapkan kepada kita itu benar-benar merupakan suatu penghayatan, maka cenderung hal itu akan menetap terus dalam sistem penilaian kita. Jika hal ini terjadi, maka seringkali orang mengingat peristiwa tertentu itu selama hidupnya, walaupun jika diperhatikan benar, peristiwa itu mungkin hanya merupakan hal-hal yang hanya kecil saja. Seterusnya baca di https://dryuliskandar.wordpress.com/2009/07/26/psikiatri-kusumanto-yul-iskandar-32/

Empat Dasa Warsa Pendekatan Eklektik-Holistik di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri) (1966-2006), dan Terapi Gangguan Skizofrenia.

R. Kusumanto Setyonegoro.,MD.,SpKJ., PhD
psikiater,
Guru besar (emeritus) psikiatri FKUI, Jkt
mantan Direktur Kesehatan Jiwa, Depkes RI
dan
Yul Iskandar,MD., SpKJ., PhD
Direktur Institute for Cognitive Research.

Catatan.
Tulisan adalah diambil dari Disertasi Kusumanto Setyonegoro (1966), dan pendapat Yul Iskandar terhadap tesis itu, naskah ini telah dipersiapkan selama lebih kurang 10 tahun, baru bisa selesai tahun 2006 dan akan di- bukukan atas persetujuan Prof. Kusumanto pada tahun 2006, dengan judul diatas. Abstrak tulisan ini pernah dibacakan dalam kongress Indonesian Society for Psychopharmacology, Biological Psychiatry, Sleep Medicines. Tulisan ini untuk sementara diterbitkan dalam bentuk seperti ini.Tulisan ini bisa diperbanyak tanpa izin asal menyebut sumbernya.
>

Bidang lain yang erat hubungannya dengan apa yang dikemukakan sebelum ini ialah soal nilai dan sistem penilaian. Dalam pengalaman rutin sehari-hari, manusia menilai semua pengalaman itu dengan kualifikasi tertentu : baik atau bagus; buruk atau jelek; menakutkan atau mengkhawatirkan; dan sebagainya.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Penilaian inilah pangkal pertengakaran manusia, karena baik atau buruk adalah tergantung manusia satu dengan yang lain. Begitu juga bagus dab jelek(buruk) bergantung tempat dan waktu. Misalnya di Eropah dan amerika wanita yang dinamakan baik adalah wanita yang kurus dan langsing, akan tetapi di Mauritania maka wanita yang dianggap bagus adalah wanita yang gemuk. Perbuatan baik dan buruk juga tergantung pada sistem nilai disuatu tempat. Dinegara skandinavia dan di dinegara Eropah, Film-Film Porno, tersebar diberbagai tempat secara legal dan dapat ditonton oleh orang yang telah berumur 18tahun. Akan tetapi mereka tak mentoleransi, atau sekurangnya membuat sulit orang untuk korupsi. Di Indonesia keadaan adalah sebaliknya, film-film Porno dihajar oleh masa dengan semangat yang tinggi, akan tetapi pemberantasan korupsi, bukanlah agenda para pemuda yang militan. Mencuri merupakan hal yang buruk, tetapi tak membayar hutang bukalah perbuatan yang aib. Mengantri dinegara barat atau negara yang teratur merupakan hal yang biasa, di Indonesia budaya mengantri masih tertinggal jauh.
(Yul Iskandar, 2006)

Semua pernyataan rutin itu memberikan niali-nilai pada sifat pengalaman kita segera sesudah stimulus yang menimbulkan penilaian itu sampai kepada kita. Tetapi, sebaliknya jika stimulus itu sudah hapus dari ruang persepsi kita, maka hilang pulalah penilaian yang pernah kita berikan. Akan tetapi, jika situasi yang dihadapkan kepada kita itu benar-benar merupakan suatu penghayatan, maka cenderung hal itu akan menetap terus dalam sistem penilaian kita. Jika hal ini terjadi, maka seringkali orang mengingat peristiwa tertentu itu selama hidupnya, walaupun jika diperhatikan benar, peristiwa itu mungkin hanya merupakan hal-hal yang hanya kecil saja.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Pengalaman yang buruk terutama terjadi pada masa kanak-kanak. Banyak dari bangsa kita masa kanak-kanaknya bukanlah hal yang menyenangkan, malahan cenderung susah dan perjuangan yang tak habis-habisnya. Bila mereka sampai pada suatu keadaan yang berubah maka mereka cenderung akan mempertahankan habis-habisan, karena mereka tak mau miskin lagi. Sayangnya keadaan itu dilakukan dengan segala cara, jadi tujuan menghalalkan cara. Ini yang sering membuat mereka sakit, karena kenyatan dan impian dia tak sama.
(Yul Iskandar, 2006)

Semua penghayatan yang semacam itu telah berhasil mengenai sasarannya, yaitu “inti existensi human” dari manusia. Peristiwa yang secara obyektif mungkin merupakan peristiwa kecil saja, karena telah menjelma menjadi penghayatan, mengalami “fixasi” dalam existensi individual orang itu. Fixasi existensial ini merupakan sendi utama apakah peristiwa itu sekedar dialami (yaitu melalui alat-alat sensorik kita dan kemudian dicatat secara temporer dalam ingatan); ataukah benar-benar dihayati (yaitu dipilih dalam kebebasan dan difixasi permanen dalam existensi).
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Ditinjau dari segi biologik, maka pengalam itu mungkin hanya merupakan sesuatu yang terlintas saja di kortex serebri, sebagai pusankomputasi utama, tetapi ingatan jangka panjang akan disimpat ditempat khusus di otak.
(Yul Iskandar, 2006)

Ditinjau dari sudut psikoanalissa maka kita pastilah akan sampai kepada suatu jawaban tentang apa yang terjadi sebab dari fixasi itu. Antara lain jawaban itu dapat didapati dengan meneliti gangguan-gangguan dalam perkembangan libido. Jawaban ini dapat diterima sebagai petunjuk, tetapi patut ditolak sebagai pernyataan seolah-olah sebab psikoanalistik itu merupakan satu-satunya sebab.
Demikian pula maka kami menolak jawaban tentang satu-satunya sebab yang dianjurkan oleh psikologi individual dalam rangka kompleks inferioritas dan dorongan superioritas dalam berkuasa; atau yang sering juga dianjurkan oleh psikologi analitik yang cenderung mencari satu-satunya sebab dalam rangka pikir konsep-konsep archetypus.
Kami cenderung untuk meninjaunya dari sudut kebebasan memilih individual, yang pada pokoknya mengakui adanya intensionalitas individu yang berarah dan bermaksud, dan yang akhirnya sampai pada suatu pilihan unik individual untuk menganggap peristiwa itu sebagai penghayatan.
Sikap yang demikian itu mungkin akan lebih luas dan lebih jelas memberikan penerangan (iluminasi) tentang apa yang menjadi maksud dan tujuan intensional manusia itu. Dalam jalan ini pula, maka kita mungkin akan lebih paham secara lebih halus, dan oleh karena itu akan lebih mampu untuk menturutrasakan (Einfuhlung) apa yang menjadi asas-asas pokok dari pada exixtensi orang itu, terutama dalam hubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi disekitarnya, khususnya yang bersifat simbolik.
(Kusumanto Setyonegoro, Disertasi 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s